Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Satu Part A



...(๑˙❥˙๑)...


...Hai..haii...haiii...👋...


...Back to my story guess. Semoga suka...🙏🙏🙏...


...🎵🎵🎵🎵🎵...


...I took for granted, all the times...


...That I thought would last somehow...


...I hear the laughter, I taste the tears...


...But I can't get near you now...


...~Right Here Waiting, Richard Marx~...


Naura menarik nafas lega. Acara pelatihan para asisten baru pun telah usai. Sungguh menyenangkan rasanya, dia dapat merasakan betapa jerih payahnya selama ini membuahkan hasil. Hari ini adalah hari terakhir dia dan rekan-rekannya berada di camp pelatihan. Dalam kesenggangan waktu dari rutinitasnya dia duduk termenung di atas bukit. Memandang bebas temaran cahaya senja di kaki langit. Sesekali di pejamkannya matanya, untuk menyimpan keindahan itu dalam pikirannya. Di biarkannya beberapa helai rambutnya yang terurai itu terbang kesana kemari di terpa hembusan angin sore yang sejuk.


"Kau suka memandangi langit...," seseorang mengomentari kelakuan Naura tiba-tiba.


Tanpa mencari tahu dari mana asal suara samar-samar itu, Naura hanya menjawab tanpa berbalik dari pandangannya yang masih terpaku pada langit yang menjulang tinggi di atasnya.


"Hm...," ucapnya singkat dan suasana pun menjadi hening. Sosok seseorang yang tengah mengomentari kelakuannya tadi kini duduk di sampingnya.


Naura masih saja tak menghiraukan siapa yang kini tengah bertengger di sampingnya itu. Dia tetap saja tak mengalihkan pandangannya. Namun, dalam keheningan dia pun mengatakan sesuatu pada seseorang di sampingnya.


"Bukankah langit itu sangat indah...?" tanyanya sembari menunjuk langit yang menjulang di atasnya itu.


Tak mencoba untuk mengalihkan pandangan Naura dari objek yang menurutnya indah itu untuk berbalik menatapnya bicara, seseorang yang tengah duduk di samping Naura itupun menanggapi pertanyaan Naura dengan balik bertanya.


"Kenapa kau suka sekali memandang langit..?" tanya orang itu.


Naura tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia menarik nafas panjang dan dalam sebelum menanggapi pertanyaan yang dilontarkan seseorang itu.


"Kenapa ya? Kenapa aku suka memandang langit?" Dia mengulang pertanyaan itu untuk dirinya sendiri. Setelah berhenti sejenak dari pertanyaan yang dilontarkannya sendiri untuk dirinya, dia pun kembali berucap. "Ketika kau merindukan seseorang yang tidak bisa kau temui, kau bisa memandang langit. Karena bisa jadi di suatu tempat yang lain, orang itu juga tengah melakukan hal yang sama denganmu. Sehingga dengan begitulah tatapan mata kalian bisa saling bertemu. Bukankah begitu? Kak... Randy...?"


Naura bertanya balik kepada seseorang di sampingnya. Dia pun kini mengalihkan pandangannya ke arah sesosok lelaki yang tengah duduk di sampingnya itu. Tapi begitu terkejutnya dia, ketika seseorang yang berada disampingnya itu bukanlah orang yang sesuai dengan dugaannya semula. "Professor, anda....?" tanyanya dengan raut wajah terkejut dan bersemu merah karena menahan malu.


"Ya, ini aku...?" ucap seorang lelaki yang berusia lima tahun lebih tua dari Naura itu.


"Memangnya suaraku mirip sama suara Randy ya...?"


"Ah,, itu....,"


"Tak apa, aku tau kau sangat dekat dengannya. Tapi sayang sekali aku bukan Randy seperti dugaanmu. Apa kau kecewa...?"


"Ah, tidak-tidak. Saya tidak kecewa hanya saja saya berbicara sesuatu yang sedikit tidak masuk akal,"


"Hm.. apanya yang tidak masuk akal. Aku ngerti semua maksud dari perkataanmu. Memangnya kau pikir karena aku lebih tua darimu, makanya aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh anak muda?"


"Ah, bukan,bukan begitu maksud saya....," ucap Naura karena merasa bersalah dan menanggung malu karena kecerobohannya yang tak memeriksa dulu siapa yang di ajaknya bicara sendari tadi.


Suasana hening seketika. Daniel tersenyum melihat tingkah Naura yang kikuk menghadapinya. Dia tahu bahwa mahasiswinya itu kini tengah malu menghadapi dirinya bahkan melirik sedikitpun kearahnya saja enggan dilakukannya. Dia dapat mengerti kenapa Naura begitu malu menghadapinya. Tanpa sengaja gadis itu telah mengatakan sesuatu yang seharusnya hanya disimpannya dalam hatinya saja atau bahkan dibaginya untuk orang-orang yang dipercayainya. Tapi tak disangka gadis itu malah melakukan kecerobohan dan membiarkan Daniel tahu sedikit tentang rahasia hatinya.


"Kau sedang merindukan seseorang..?" tanya Daniel pada Naura, memecahkan keheningan yang tercipta.


Naura menatap seseorang yang mengajaknya bicara. Dia ragu harus memberikan jawaban apa tentang pertanyaan yang tiba-tiba di ajukan untuk dirinya itu. Kebimbangan menyelimutinya, haruskah dia menjawab ataukah membiarkan pertanyaan itu berlalu saja tanpa jawaban dengan mengalihkan pembicaraan ke topik yang lainnya. Tapi, dia merasa tidak enak jika tidak memberikan jawaban atas pertanyaan professornya itu. Dalam kecanggungan akhirnya ia pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu.


"Ya," ucapnya singkat.


"Oh...," balas Daniel. "Siapa dia?"


Naura tak menjawab pertanyaan itu kali ini. Dia terkejut dan menatap Daniel yang ternyata masih berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak diduganya.


"Siapa? Siapa orangnya?" tandas Daniel lagi.


Naura tetap saja pada keyakinannya bahwa dia tak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Daniel yang kian meruncing ke arah privasinya. Tapi, Daniel juga masih bersikukuh ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya itu. Entah mengapa, Daniel sangat ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan yang kian hari kian mengganggunya itu.


Naura berdiri dari posisi duduknya. Dia hendak beranjak pergi meninggalkan Daniel yang masih duduk di bukit itu yang masih bersikukuh dengan pertanyaan-pertanyaannya itu.


"Ma'af professor saya harus berkemas," ucap Naura. Dilangkahkannya beberapa langkah kakinya menuruni bukit setelah mengatakan kata-kata itu. Namun, ketika ia membalikkan badannya memunggungi Daniel dan berjalan pergi, Daniel menarik pergelangan tangan kiri Naura hingga mau tak mau Naura pun harus menghentikan langkah kakinya.


"Oh, jadi karena dia. Karena orang itukah kau bahkan tak melihatku selama ini..?" ucap Daniel dengan asumsinya sendiri. Naura lagi-lagi tak mau menjawab pertanyaan itu.


Dalam keheningan itu, terdengar samar-samar suara seseorang meneriakkan nama Naura.


"Ma'af professor, mereka sedang mencariku," ucap Naura. Akhirnya mau tak mau dengan terpaksa Daniel pun melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan kiri Naura. Naura pun berlalu pergi meninggalkan Daniel yang masih duduk terpaku di atas bukit. Dalam perjalanan menuruni bukit, Naura bernapas sedikit lega. Setidaknya dengan adanya suara seseorang yang meneriakkan namanya itu dia tak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Daniel. "Terima kasih, telah menyelamatkanku..," gumannya dalam hati pada suara yang telah meneriakkan namanya itu, yang sesungguhnya tak ia ketahui secara pasti suara siapa itu.


...🎵🎵🎵🎵🎵...