
Naura menyusuri tiap kolam renang yang masih ramai dipenuhi oleh orang-orang yang masih belum selesai dengan acara penutupan itu. Beberapa orang memanggilnya, menanyakan keadaannya namun ia tak menjawab hanya anggukan kecil yang ia lakukan untuk menjawab semua tanya mereka. Hingga Randy tiba-tiba menghadangnya hingga ia pun akhirnya mau tak mau menghentikan langkahnya.
"Kau celingak celinguk dari tadi. Sedang mencari siapa Ra...," tanya nya.
Naura hanya diam. Sampai dia memang harus mengatakan siapa yang dicarinya kini karena sedari tadi orang itu tak kunjung ditemuinya.
"Raka....," ucapnya.
"Ha....?"
"Maksudku dr. Raka, Kak Randy apa kau melihatnya??"
"Oh dr. Raka. Iya, tadi dia izin pulang ke Prof. Daniel sama dr. Farhan. Katanya sih ada urusan gitu...,"
"Maksudmy dia kembali.....,"
"Iya dia tidak disini. Dia sudah kembali lebih dulu. Paham....,"
"Ya....," jawab Naura dengan disertai anggukan kecil.
Keinginannya untuk mengkonfirmasi tentang kalung itu juga keinginannya untuk mengucapkan terima kasih pada Raka karena telah menolongnya kini sirnah sudah. Lelaki itu sudah kembali lebih dulu.
"Kenapa kau pergi Raka.... ," desah Naura dalam lamunannya di kejauhan dari keramaian yang ada di sekitar kolam renang. Sementara sepasang mata di kejauhan tengah mengamati kesendiriannya dan menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan oleh gadis yang diamatinya tersebut hingga membuat wajah gadis itu menjadi sedikit muram.
*****
Sudah beberapa bulan sejak acara lokakarya itu Naura tak melihat Raka sama sekali. Di rumah sakit, di kampus atau dimanapun, dia tak dapat menemukan Raka. Hingga yang dilakukannya sekarang hanyalah memasang wajah murung dan tak bersemangat. Seseorang menepuk bahunya ketika dia sedang duduk sendiri di kantin kampus dengan tangannya yang masih sibuk mengaduk-ngaduk lemon tea di hadapannya.
"Kenapa melamun gitu...," tanya David.
"Oh...kau...," hanya kata itu yang terlontar dari mulut Naura.
"Kau kenapa? Beberapa hari ini mukamu gitu terus, kayak mayat hidup tau gak...?" ledek David semberi menarik pipi Naura. Tapi Naura tetap diam dan tidak menanggapi kelakuan David. "Kau sedang memikirkan Raka?" ucap David yang tentu saja langsung merubah mata Naura menjadi berkaca-kaca kini.
Naura tak dapat menyembunyikannya kini, dia tak dapat menyembunyikan perasaanya lagi terhadap Raka dari siapapun. Rasa sesak yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun tak dapat ditahannya lagi seolah kini dapat meledak seketika. Air matanya pun menetes kini dan butiran-butiran bak air hujan itu sudah membasahi meja kantin tempatnya duduk. Ia tak peduli lagi dengan orang-orang yang tengah memandangnya. Yang ia inginkan hanyalah mengeluarkan semua rasa sesak yang ada dihatinya.
"Jangan menangis, nanti mereka akan berfikir kalau gue udah ngapa-ngapain loe,,," bisik David sembari menarik Naura dalam pelukannya.
"Dav, gue....gue sudah gak tahan lagi...," ucap Naura lirih yang masih diikuti dengan isak tangisnya.
"Iya gue tahu, ini berat buat loe... Tapi apa loe sadar kalau ini juga berat buat gue Na, ngeliat loe kayak gini terus ini juga nyakitin gue Na...,"
"Ma'af Dav, gue....gue terlalu egois sama loe....,"
"Akhirnya loe sadar...," ucap David sembari menghapus air mata yang masih menggenang di mata gadis itu. "Gue tahu, loe masih mencintai Raka, bahkan sampai sekarang bukan. Sekalipun loe sudah pisah selama bertahun-tahun sama dia, loe masih belum bisa melupakan dia bukan?"
"Dav, gue udah berusaha...gue....,"
"Iya, gue tahu. Tapi usaha loe sia-sia Naura. Pada akhirnya hati loe tetap untuk Raka, bukan gue... Sudah sekarang jangan nangis lagi, loe jelek kalau kayak gini," ledek David yang tentu saja membuat Naura tersenyum simpul. "Gue rela, gue relain loe sama Raka, Ra...," ucap David. "Aduh kenapa gue jadi mellow kayak gini ya, kan kita memang cuman sahabatan dari awal dan gak ada hubungan apa-apa selain itu, tapi kenapa gue berasa seperti ngelepasin cewek gue buat orang lain ya...," ucap David dengan wajah konyolnya dan muka yang dibuatnya seolah berpikir.
Naura tersenyum. "Tapi semua terlambat Dav,,," ucap Naura diantara senyumnya yang dipaksakannya itu.
"Dia sudah pergi Dav, dia pergi ninggalin gue. Dia ngelakuin apa yang pernah gue lakuin dulu terhadapnya. Gue gak tahu kalau rasanya bakal sesakit ini, gue gak tahu kalau dulu gue juga sudah buat dia sesakit ini Dav, ini salah gue,,"
"Ra, berhenti nyalahin diri loe sendiri. Bagaimana Raka bakal mau ma'afin loe kalau loe sendiri belum bisa ma'afin diri loe sendiri," ucap David semberi mengusap puncak kepala Naura.
David mengeluarkan sebuah tiket pesawat beserta paspor dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke Naura.
"Apa ini Dav...?" tanya Naura yang masih tidak mengerti. Naura selama ini tak mempunyai paspor karena untuk apa baginya karna dia tak pernah pergi ke luar negeri sebelumnya.
"Pergilah, susullah cowok brengsek itu...," ucap David.
"Maksud loe...?"
"Raka di Jepang, susullah dia dan bawa dia kembali Ra...,"
"Kok loe...,"
"Gue tau, sekalipun dia gak ngasih tahu gue, gue tahu dimana sahabat gue Ra,"
"Tap..tapi,,,Kenapa dia pergi kesana Dav..?"
"Gue gak tahu. Loe yang harus nyari tahu sendiri alasan dia pergi kesana. Jadi jangan buang waktu lagi. Simpan semua ego loe dan susul dia kesana,"
"Tap..tapi bagaimana dengan kuliah gue, kerjaan gue disini.. Dia gak mungkin bisa dengan mudah mau ikutin mau gue buat balik ke Indonesia Dav, loe tahu kan bagaimana keras kepalanya dia...," jelas Naura.
"Karena itu kami mau kamu yang menjemputnya kesana, Naura," ucap seorang wanita dengan pakaian rapi dan tas jinjing biru tua di tangannya.
Naura terkejut mendengar siapa wanita yang tengah berbicara di tengah-tengah pembicaraannya dengan David itu. Dan dia pun terkejut bukan main ketika melihat wanita itu berjalan ke arah dimana dia dan David duduk bersama.
"Ma...ma..mama....,"
Wanita itu membuka pelukannya lebar-lebar karna tahu bahwa gadis kecil dihadapannya itu akan berhambur memeluknya.
"Anakku, anak gadisku sudah tumbuh sebesar ini...," ucap wanita itu sembari tetap memeluk erat gadis itu.
"Ma...ma'afin Naura, Naura ninggalin mama bertahun-tahun...,"
"Tak apa sayang, kamu tidak perlu minta ma'af, melihat kamu tumbuh menjadi gadis cantik sebesar ini saja mama sudah bahagia.. Tapi mama akan bisa lebih bahagia lagi kalau kamu bisa bersama lagi dengan Raka seperti dulu...,"
"Ma...mama....,"
"Jemput dia sayang, bawa dia kembali. Kamu mau melakukan itu bukan? Lakukan itu bukan untuk mama, atau papa, tapi lakukan itu untuk diri kamu sendiri, juga untuk Raka. Kamu mau kan sayang...?" tanya wanita itu. Naura pun menggangguk sembari masih memeluk erat tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu.
*****
Bandara Narita, setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 7 jam akhirnya Naura tiba di Jepang. Dia masih asing di Negara tersebut pasalnya dia pergi seorang diri tanpa ditemani siapapun. Semua paspor, visa tinggal dan bahkan tempat tinggal serta semua biaya kuliah kepindahannya ke Jepang diselesaikan oleh Ibu Raka beberapa bulan yang lalu dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan Raka. Sebelum kepergiannya ke Jepang tangisan haru terpancar dari wajah kedua orang tua Naura, dan teman-temannya, tapi mereka semua mendukung kepergian Naura. Toh disana Naura juga tetap bisa belajar banyak untuk melanjutkan kuliah S2 nya.
Sebenarnya ada keraguan dibenak Naura beberapa bulan yang lalu untuk menyusul Raka ke Jepang. Dia berat untuk berpisah terlalu jauh dan lama dari kedua orang tuanya. Maklum Naura anak tunggal jadi selepas kepergiaannya nanti perasaan kesepian pastilah hinggap di benak kedua orang tuanya nanti. Selain itu bahasa Jepang nya pun belum begitu fasih, meskipun pernah dia ikut kursus sewaktu di SMA dulu bersama dengan Raka. Ya, keduanya belajar bahasa jepang sewaktu SMA dulu karena impian mereka adalah bisa pergi ke Jepang bersama-sama suatu saat nanti. Mereka termotivasi oleh cerita Ayah Naura yang pernah pergi ke Jepang karena dapat beasiswa dari kantornya dulu ketika Naura masih sangat kecil. Ayah Naura sering bercerita tentang bunga sakura yang indah, salju di musim dingin dan banyak tempat-tempat indah lainnya disana.
Dan akhirnya, kini pun mereka menginjakkan kaki mereka di Negara impian mereka, meskipun mereka tidak pergi bersama-sama. Tapi, dengan tekat yang kuat Naura berusaha untuk menjadikan keberadaannya di Jepang akan selalu bersama-sama dengan Raka walau apapun yag terjadi.