Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Enam Part A



Kamu melihatku menangis,


Air mataku bersinar di matahari terbenam.


Bahkan jika aku tidak menginginkan


Hatiku, badanku, mereka mengingat kehangatan dari bahumu...


~Hitomi Wo Tojitte,Ken Hirai~


Pekerjaan dan rutinitas yang sama terkadang membuat orang merasa bosan. Dan hal ini berakibat pada kinerja yang tidak baik. Oleh karena itu, untuk memulihkan semangat para karyawan pihak rumah sakit Citra Medika mengajak beberapa karyawannya untuk loka karya, tak hanya itu pihak fakultas ekonomi juga di ajak turut serta selain sebagai ungkapan terima kasih untuk bantuannya selama ini juga agar untuk merayakan beberapa kemajuan yang dicapai oleh rumah sakit. Bis sudah di penuhi oleh banyak karyawan yang hendak mengikuti lokakarya. Hanya beberapa saja yang belum datang. Seseorang tiba-tiba datang dan membungkukkan badannya, rambut panjangnya yang terurai rapi berjatuhan.


"Ma'af saya terlambat," ucapnya.


Semua orang pun memandang ke arah suara itu.


"Oh, kau Naura.. tak apa untung saja bisnya belum berangkat," ucap Randy. "Tapi karna kau terlambat datang aku sudah terlanjur duduk bersama dengan Sifa. Karna ku pikir kau tidak ikut," tambahnya.


"Oh, ya tak apa. Ngomong-ngomong ada bangku yang masih kosong gak?" tanya Naura.


"Emmm...," gumam Randy sembari memeriksa bangku yang masih kosong. "Ada dua bangku yang masih kosong Ra,"


"Dimana?" tanya Naura antusias dengan menenteng tas punggungnya.


"Di samping bangku profesor Daniel...," ucap Randy.


"Loh, profesor tidak naik mobilnya sendiri?"


"Nggak, tadi dia mesen ke gue suruh bokingin tempat. Kayaknya dia bakalan pergi bareng kita semua,"


"Ahhhh,,,," desah Naura.


"Kenapa? Loe gak mau duduk di samping profesor?"


"Nah, itu loe tahu kenapa masih nanya?"


"Takut gosip menyebar lagi ya...,"ledek Randy.


"Kak Randyyy......!!!!" seru Naura.


"Iya,,iya...ma'af...ma'af....," ucap Randy.


"Gue juga ogah duduk di samping profesor Ra," sela Sifa. "Makanya gue maksa duduk di samping Randy, hehe...,"


"Heehhh...bilang aja kalau loe berdua emang mau berduaan. Iya kan?"


"Nah tuh loe pinter," ucap Randy.


"Sudah deh, bangku yang kosong lagi dimana?" tanya Naura dengan dahi sedikit berkerut karna ledekan teman-temannya tadi.


"Oke deh kalau gitu gue duduk di situ saja," ucap Naura tanpa melihat terlebih dahulu Naura langsung menuju bangku itu. Dia menundukkan kepalanya seraya menyapa orang yang akan duduk di sampingnya itu. Tapi begitu terkejutnya dia melihat lelaki itu, hingga tas yang semula tergenggam rapat dalam cengkeraman tangannya beringsut turun seketika. "Raka....!!!"


"Iya, ini gue. Kenapa loe?" tanya Raka sinis seperti biasanya melihat keterkejutan Naura.


"Oh, ternyata loe yang duduk disini. Gue pikir....,"


"Kenapa loe gak mau duduk di samping gue!" ucap Raka setelah menebak pikiran Naura yang terbesit untuk membatalkan duduk di sampingnya.


"Bukan..bukan begitu. Gue...gue cuman....,"


"Terserah loe mau duduk di sini atau tidak. Gue gak masalah!" tegasnya. "Atau loe mungkin lebih seneng duduk berdua dengan profesor loe yang agak sombong itu...," ucap Raka menunjukkan ketidaksukaannya pada profesor Daniel.


"Nggak!! Siapa bilang gue gak mau duduk disini. Gue akan duduk disini...," ucap Naura sembari meletakkan tas ranselnya di tempatnya. Sementara tas kecilnya masih menggantung di pundak kirinya. Dia pun menghempaskan tubuhnya di tempat duduk disamping Raka.


"Loe yakin duduk sini? Loe gak takut sama gue....," ucap Raka sembari mendekatkatkan wajahnya ke arah Naura hingga dia dapat merasakan ******* nafas Naura dan tubuh Naura yang tiba-tiba menegang.


"Ti...ti..dak.... kenapa gue harus takut sama loe...," ucap Naura terbata-bata.


"Loe harusnya takut sama gue karna loe punya salah yang sangat besar pada gue. Dan gue masih belum membalas apa yang telah loe lakuin ke gue. Jadi loe harus bersiap untuk itu," jelas Raka.


Seketika itu tubuh Naura menegang karna penjelasan Raka. Tubuhnya seolah membeku seketika mendengar ucapan dingin dari lelaki yang pernah di cintainya dan bahkan masih dicintainya itu. Hingga bus melaju pun ia tak tahu bahwa ada sepasang mata dingin yang duduk di bangku terdepan yang mengawasinya dengan tajam lewat cermin yang tergantung di atas depan supir. Meskipun suasana tak begitu hening karena beberapa karyawan lainnya saing berdendang untuk mengisi kebosanan tapi Naura dan Raka sama-sama terdiam seribu bahasa.


"Raka...," ucap Naura sedikit lemah tapi Raka tak mempedulikannya dan tetap memusatkan pandangannya dari pemandangan di luar jendela kaca. "Raka, gue tahu gue emang pernah berbuat salah sama loe. Dan bahkan hidup loe hancur gara-gara gue. Dan gue terima apapun yang akan loe lakuin ke gue," jelasnya tapi yang di ajak bicara tetap tak menggubris perkataannya. "Sudahlah, gue cuman mau bilang... terima kasih...," ucap Naura. Dan kata-kata itu pun mampu untuk mengalihkan pandangan Raka untuk menatap gadis itu. Setelah tahu orang yang diajaknya bicara kini memandangnya untuk menelisik maksud perkataannya dia pun akhirnya mengucapkan kata-kata yang membuat lelaki itu bingung atas ucapan terima kasihnya. "Terima kasih telah memelukku saat itu, hingga aku tak merasakan sakit....," ucap Naura dengan wajah berseri-seri dan tersenyum manis seolah menandakan bahwa kebekuan yang tadi menyegelnya telah hancur, kini gadis itu telah mampu menguasai dirinya sendiri.


Raka tahu maksud perkataan gadis itu dan itu mengingatkannya pada kejadian beberapa minggu lalu dimana dia memeluk gadis itu yang menahan rasa sakitnya sebelum menjalani operasi. Saat itu entah apa yang Raka rasakan, tanpa berpikir dan tanpa memperhatikan rasa sakitnya sendiri akibat ulah gadis itu, tubuhnya secara spontan memeluk gadis itu. Karna melihat gadis itu kesakitan lebih membuatnya kesakitan daripada rasa sakit yang dimilikinya sendiri.


Sudah dua jam lebih bus melaju tapi masih belum membawa mereka ke tempat tujuan. Banyak orang yang sudah lelah berdendang dan mulai tidur untuk memuaskan rasa kantuknya. Dan beberapa ada beberapa orang yang berlalu lalang saling bertukar makanan atau minuman dengan rekannya untuk mengisi perut mereka yang mulai terasa lapar. Dan hal itu tentu saja kadang mengganggu Naura yang tidak duduk di samping jendela kaca, sehingga kepalanya yang terkadang terjatuh ke samping kanan karena ketiduran tersenggol oleh beberapa orang yang lewat hingga dia tak bisa menikmati tidurnya.


"Ma'af...ma'af...," hanya kata-kata itu yang mereka ucapkan ketika mereka tanpa sengaja menyenggol kepala Naura.


Sementara Raka yang memperhatikan kejadian yang berulang itu merasa risih juga. Dan akhirnya dia pun menyuruh Naura untuk bertukar tempat duduk dengannya.


"Loe sebaiknya duduk disini...," ucapnya sembari berdiri untuk bertukar posisi dengan Naura.


"Kenapa? Gak usah...," tolak Naura.


Untuk mencegah perdebatan yang lebih lama dengan gadis itu akhirnya Raka menarik gadis itu, hingga gadis itu bergeser ke tempat duduknya yang semula.


"Loe sebaiknya duduk disitu saja. Dan jangan pernah sekali-kali bantah perintah gue..!" tegas Raka.


Naura hanya senyum-senyum kecil melihat kelakuan Raka itu. Dia tahu bahwa laki-laki itu sedari tadi mengkhawtirkannya karna beberapa orang menyenggol kepalanya dan mengganggu tidurnya.


"Loe ternyata masih peduli sama gue Raka. Bahkan untuk hal sekecil ini," gumamnya. Dan dia pun kembali melanjutkan tidurnya sampai bus itu berhenti di tempat tujuannya.


*****