
Naura menatap mata Raka dan mencari kebenaran ucapan David disana. Naura menemukan kebenaran itu dan Raka pun mengangguk sembari berkata.
"Ma'af, sebelumnya aku juga nggak tahu rencana si kunyuk satu itu, sumpah deh..," ucap Raka sembari menghadapkan dua jarinya. "Aku baru tahu ketika aku menelpon mama, dan menanyakan kenapa kamu tiba-tiba datang ke Jepang, awalnya mama enggan untuk menjelaskannya padaku, tapi karena aku mendesak mama akhirnya mama menceritakan semuanya," jelas Raka. "Tapi, sekarang aku pingin denger dari bibir mungil wanitaku ini, apa alasan anda menemui saya ke Jepang?" tanya Raka dengan nada menggoda yang tentu saja membuat Naura bersemu merah karena malu.
"It..itu karena...Aku mencintaimu...," ucap Naura lirih. Sebenarnya Raka mendengar ucapan gadis itu. Namun ia masih menggoda gadis itu dan berpura-pura tak mendengarnya.
"Apa sayang, suaramu kurang kurang keras, aku nggak denger," ucap Raka.
"Aku mencintaimu Raka, Aku mencintai Raka Andana Putra dan aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Makanya aku pergi ke sana buat nyusul kamu," jelas Naura.
Raka langsung mengecup bibir Naura dengan lembut dan Naura masih saja bersemu merah meskipun itu bukan pertama kalinya Raka melakukan itu terhadapnya.
"Makasih sayang, akhirnya kamu mengatakan kata itu...," ucap Raka dengan raut wajah bahagia.
"Kenapa kamu senang sekali. Apa kata itu sangat berarti bagi kamu?" tanya Naura.
"Ya iyalah, tentu saja ini sangat berarti bagiku. Kamu nggak tahu bagaimana aku sudah menunggumu bertahun-tahun untuk mengucap kata-kata itu padaku,"
"Tapi kan Raka aku sudah menerima lamaran kamu di depan rumah kemarin dan bukannya itu sudah membuktikan kalau aku mencintai kamu meskipun aku tidak mengatakannya?"
"Tentu saja sayang, dengan kamu menerima lamaranku itu memang menunjukkan bahwa kamu mencintai saya. Tapi, aku juga ingin dengar kata-kata itu secara langsung darimu...," ucap Raka.
Raysa pun akhirnya datang dan duduk di samping David, ia sempat mendengar percakapan diantara mereka bertiga tadi setelah mengecek keadaan Aurora di kamarnya.
"Aku tadi dengar ada yang bilang kalau dia di lamar di depan pintu rumah?" tanya Raysa yang tentu saja membuat Naura tersenyum malu, karena ia tahu godaan yang Raysa tujukan itu untuknya. "Nggak romantis sekali sih Ra, harusnya kamu nggak menerimanya," ucap Raysa sembari terkekeh. Raka yang mendengar hal itu pun langsung melotot pada Raysa.
"Jangan pelototin istri gue...," ucap David melihat kelakuan Raka.
Naura yang melihat Raka mulai mengerucutkan bibirnya mengecup bibir Raka untuk menghilangkan kekesalan Raka. Dan hal itu tentu saja berhasil hingga membuat Raka yang tadi sebal dan kesel menjadi tersenyum setelah menerima kecupan Naura. Naura menatap tepat di manik mata Raka sembari berkata.
"Aku tidak peduli meskipun lelaki ini melamarku dengan cara yang tidak romantis seperti kebanyakan lelaki lainnya. Bagiku dia punya caranya sendiri yang unik dan itu tentu saja hanya aku dari sekian banyaknya wanita yang menerima lamaran unik nya itu," jelas Naura dan kemudian tersenyum simpul kepada Raysa dan David, sementara Raka senyum-senyum dan menyombongkan diri di hadapan kedua sahabatnya itu.
"Tapi kan, itu berarti Raka nggak ada usaha yang besar buat ngelamar kamu karena dia nggak merencanakan acara lamaran yang romantis itu Ra," cetus David.
"Raka sudah melakukan banyak usaha untuk membuat hatiku tetap untuknya. Ia melakukan banyak hal untuk ku meskipun aku tahu itu sulit baginya. Ia masih tetap bertahan menghadapi aku yang egois, yang terlewat polos hingga aku bahkan tak bisa menunjukkan perasaanku yang sebenarnya untuknya. Tapi, dari sekian banyak lelaki seorang Raka Andana Putralah yang tetap bersedia menjaga cintanya untukku. Bukankah itu sudah menunjukkan betapa besar usahanya untuk memilikiku..?" jelas Naura yang tentu saja membuat David dan Raysa tercenggang mendengar penuturan sahabatnya itu. Mereka pun tersenyum kemudian.
"Kalian memang pasangan yang unik, sejak dulu sampai sekarang...," ujar Raysa. "Ma'af jika dulu aku sempat menjadi penghalang bagi kalian berdua untuk bisa bersatu..," ucap Raysa yang kemudian menjadi sendu karena rasa bersalahnya. Sejak dulu ia memang ingin mengucapkan hal itu secara langsung pada kedua sahabatnya itu. Namun, dirinya tidak mempunyai keberanian. Baru kali ini ia mendapatkan keberanian itu, dengan genggaman tangan David di pergelangan tangannya yang menguatkan dirinya.
Naura dan Raka yang mendengarkan permintaan yang tulus dari sahabat kecilnya itupun tersenyum dan berkata.
"Tidak ada yang salah dan benar Raysa. Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Semua yang terjadi adalah karena takdir. Aku berpisah dengan Raka karena sebuah takdir. Namun, karena takdir itu pulalah kami dapat bertemu kembali dan menjadi satu kesatuan yang utuh," jelas Naura.
Akhirnya Raysa pun berhambur dan memeluk sahabat kecilnya itu sembari berkata.
"Terima kasih Naura, kamu memang sahabat sejatiku. Entah seperti apa hidupku jika aku tidak mengenalmu," ucap Raysa dengan menumpahkan air matanya di bahu Naura.
"Hei, berhentilah menangis, jangan buat hari bahagiaku menjadi kesedihan karena tangismu," ejek Raka pada Raysa, yang tentu saja langsung mendapatkan pelototan dari Naura dan David.
"Raka benar, jangan menangis Sa. Bukankah kamu sudah menjadi seorang ibu? Bagaimana kamu akan menjelaskan jika Aurora melihatmu seperti ini? Aku nggak mau disalahkan seperti tadi oleh Aurora ketika aku mencubit lengan David..," ucap Naura yang tentu saja membuat Raysa, David dan Raka menjadi terkekeh mendengar penuturan Naura.
*****