
Raka tak bisa memejamkan matanya.Dia masih kepikiran Naura.Malam ini Naura pasti merasa sangat kesakitan.Dan dia tak bisa membayangkan seberapa menderitanya gadis itu sendirian.Dari meja kerjanya dia berjalan kembali ke ruang pasien nomor 205.Di bukanya kamar itu dan tak ditemukannya gadis yang tadi.Sementara itu, Naura terkejut bukan main melihat dokter muda yang datang itu.
"Kakak..," ucapnya.
Raka menolehkan pandangannya tepat ke arah Naura."Mana temanmu?" tanyanya.
"Ah, aku menyuruhnya pulang,"
"Kenapa?"
"Dia itu ceroboh.Saking cemasnya saat membawaku ke rumah sakit tadi dia lupa menutup pintu rumah.Lagi pula besok dia ada observasi ke luar kota jadi aku menyuruhnya pulang," jelas Naura dengan riang meskipun dia harus mencoba menahan rasa sakitnya."Kau sedang berjaga malam ini?" Tanya Naura.
Raka hanya tak menanggapi senyuman ataupun pertanyaan Naura.Dia memalingkan pandangannya dari Naura yang terbaring lemas itu.Kemudian dia berucap kecil."Apakah itu sakit..," tanyanya.
Naura tak menjawab, dia tak mampu untuk melontarkan lagi seuntai katapun karena kesakitan tiba-tiba menderanya.Raka yang hendak berjalan pergi itu kini membalikkan punggungnya dan kembali memandang ke arah Naura.Naura memegangi perutnya yang melilit sakit.Keringat dingin kini kembali membasahi keningnya.Raka kini mendekat dan berada di samping ranjang Naura."Apakah itu sakit..?" tanyanya lagi.
"Hmm...," ucap Naura dengan anggukan.Mata Raka berkaca-kaca melihat gadis itu melilit kesakitan.Dilepaskannya jas dokter yang dikenakannya kemudian dia berbaring di samping gadis itu.
"Pasti sangat sakit," desahnya.Di raihnya Naura dalam pelukannya dan disandarkannya kepala gadis itu pada dadanya yang bidang.Naura menerima pelukan itu dan melingkarkan tangannya ke punggung Raka yang kini berbaring tepat di hadapannya yang tidur menyamping.Dipereratnya lingkar tangannya itu dan berbisik kecil."Ya, ini sakit.Tapi tak sesakit luka yang pernah ku buat untukmu," ucap Naura. Raka dapat merasakan beberapa tetes air mata Naura kini menetes di dadanya. "Terima kasih, kak Raka," ucap Naura sembari menenggelamkan kepalanya di dada Raka.Raka mempererat pelukannya pada gadis itu.Dagunya menyentuh lembut rambut Naura yang berurai."Tidurlah, aku akan berada disampingmu malam ini..," bisik Raka. Dan akhirnya keduanya pun memejamkan mata meskipun dalam perasaan yang masih tak karuan namun satu hal yang membuat Naura bahagia, karena di saat dia sakit ada Raka yang setidaknya dapat mengurangi rasa sakit yang dideritanya dan dia sangat bersyukur untuk itu.
*****
Sebelum ke kantor, Daniel langsung bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat Naura setelah Randy memberitahunya bahwa Naura sedang di rawat di rumah sakit dan akan menjalani operasi pagi ini. Dengan menjinjing tas hitamnya Daniel bertanya pada resepsionist dimana pasien bernama Naura di rawat. Setelah mendapat jawaban dia langsung bergegas menuju kamar dengan nomor 205 itu.Di bukanya pintu ruang kamar itu dan bertapa terkejutnya ketika dia melihat pemandangan di depannya.
"Apa yang kalian lakukan?" pekiknya.
Raka dan Naura mendengar suara itu dan terbangun dari tidurnya.Di lepaskannya pelukannya pada Naura dan begitu pula sebaliknya dengan Naura.Raka melihat seseorang berdiri dengan wajah geram ke arahnya.Ia pun bangun dan terkejut sama terkejutnya dengan Naura yang juga melihat siapa gerangan yang membangunkan tidurnya.
"Professor..," ucapnya.
Raka bangun dan turun dari ranjang sementara Naura tetap berada di ranjangnya dan kini terduduk diam melihat professornya marah.Berbagai caci dan maki di lontarkan oleh Daniel kepada Raka tanpa memandang Naura sedikitpun.
"Dokter Raka, apa yang anda lakukan? Apa ini yang dilakukan oleh seorang dokter? Apa anda memperlakukan semua pasien anda seperti itu? Apakah anda dokter yang amoral seperti ini?" ucapnya panjang lebar.Sementara Raka tak menanggapi sedikitpun pertanyaan ataupun bahkan hinaan dari professor Daniel. Di sisi lain Naura juga tak dapat member pembelaan pada lelaki yang di cintainya itu. Dia hanya meneteskan air mata yang tak kunjung berhenti.
Seseorang memasuki ruangan dan menatap geram semua orang yang berada di sana. Di jatuhkannya tas yang berisi beberapa pakaian di dalamnya. Melihat professor Daniel memaki-maki lelaki di samping Naura membuatnya kesal.
"Lalu bagaimana dengan anda?" ucapnya.
Professor Daniel berbalik mencari suara itu.Dan tepat di balik punggungnya berdiri David yang tengah menatapnya dengan geram.Tas biru yang semula berada di genggaman David kin berangsut turun ke lantai.
"Lalu bagaimana dengan anda?Apakah wajar seorang dosen mengunjungi mahasiswinya di rumah sakit pagi-pagi buta begini?" ucapnya.
Daniel terdiam, tak sepatah katapun dapat di ucapkannya dari mulutnya yang sejak tadi tak henti-hentinya melontarkan hinaan pada Raka.
"Operasinya dilaksanakan jam 08.00 nanti. Jadi, tak ada alasan bagi anda untuk disini pagi-pagi begini..," ucap David.
Professor Daniel yang tak mampu berkata-kata apa-apa pun akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan perasaan tidak puas.Ditutupnya pintu kamar rawat Naura itu dengan keras.Dan beberapa detik kemudian tak terlihat lagi batang hidung professor Danie.
"Dav, gue...," Naura mencoba menjelaskan tapi David tak menanggapinya.Sebalinya dia hanya menatap Raka yang masih berdiri di samping ranjang Naura.
"Sebaiknya anda pergi.Bukankah anda harus menyiapkan opersi?" ucap David pada Raka.
David duduk dengan lemas di samping ranjang Naura.Dia terdiam dan tak berkata apa-apa.Sementara Naura merasa sangat bersalah pada lelaki itu.Meskipun tidak ada hubungan yang special di antara mereka berdua Naura tahu betul bahwa David menyukainya dan dia telah melukai hati lelaki yang sudah sangat baik terhadapnya itu.
"Dav, ma'afin gue...,"
"Kenapa?Kenapa harus minta ma'af?"
"Karena.....," ucap Naura yang terputus karena pertanyaan David yang dilontarkannya bersamaan dengan perkataan dirinya sendiri.
"Apa dia orangnya?" Tanya David.
"Mak...maksudmu...?"
"Apa karena laki-laki itu, kau tidak mau menerimaku.Atau bahkan menolak untuk menerima laki-laki lainnya?"
"Dav, itu....,"
"Sudahlah, beristirahatlah sebentar.Beberapa jam lagi kau harus bersiap untuk menjalani operasi," ucap David yang kemudian meninggalkan ruangan setelah memasangkan selimut di tubuh Naura.
*****
David mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Dibukanya flip ponsel itu dan dicarinya nama yang tertera di kontaknya. Setelah ditemukannya dilakukannya panggilan pada tulisan Sohibku yang tertera di wallpaper ponsel itu.
"Loe dimana?"
"Perjalanan pulang,"
"Loe gak mau nemenin dia sampai operasinya selesai?"
"Nggak, bukankah sudah ada loe. Dia akan baik-baik saja meskipun tanpa gue,"
"Baiklah," ucap David sembari hendak mengakhiri panggilan tapi seseorang di seberang sana membuatnya mengurungkan niatnya beberapa detik.
"Dav..,"
"Ada apa?"
"Sorry..,"
"Untuk apa?"
"Untuk yang tadi,"
"Seharusnya loe bisa lebih berhati-hati. Bukankah sudah pernah gue bilang bahwa saingan loe nggak hanya gue aja,"
"Ya, gue bener-bener minta ma'af. Dan..thanks, karna loe setidaknya gue tak mendengar penghinaan yang lebih menyakitkan dari yang tadi..,"
"Loe nggak harus ngucapin itu.Meskipun kita bersaing loe masih sohib gue. Dan gue nggak mau sohib gue di hina tanpa alasan yang jelas,"
*****