Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Sembilan Part A



Saat kulihat wajahmu


Tak satupun yang aku ubah


Karena kau luar biasa


Apa adanya dirimu


Dan saat kau tersenyum


Dunia berhenti dan melihat sejenak


Karena kau luar biasa


~Just The Way You Are, Bruno Mars~


Hari sudah pagi ketika Naura memicingkan mata akibat sinar matahari yang menyilaukan matanya, hingga membuat dirinya terpaksa harus segera bangun dari tidurnya dan bersiap untuk menyiapkan sarapan pagi untuk Raka. Ia kemudian mengenakan jubah tidurnya untuk menutupi baju tidur di dalamnya. Ia berkutat dengan bahan makanan di dapurnya. Ia masih melihat Raka tertidur di sofa ruang tamu beberapa saat lalu, hingga ia tak berani untuk menimbulkan suara-suara yang mengganggu dari kegiatan memasaknya, sehingga dia melakukan semuanya dengan perlahan.


Namun tiba-tiba bel berbunyi dan tentu saja itu membuat Naura hendak bergegas untuk membuka pintu rumah untuk melihat siapa gerangan yang berkunjung pagi-pagi sekali. Ketika Naura membuka pintu rumah Raka, ia terkejut melihat seorang wanita cantik keturunan Jepang sedang berdiri di ambang pintu dengan membawa beberapa kotak yang dapat di duga oleh Naura bahwa kotak itu berisi makanan. Pasalnya, ia dapat mencium aroma masakan di dalamnya. Wanita itu terkejut mendapati Naura dan bukannya Raka yang membukakan pintu rumah itu. Dan kemudian wanita itu pun bertanya.


"Ohayogozaimasu," sapa wanita itu dengan senyum yang mengembang. Namun dia terkejut karena bukan Raka yang membukakan pintu rumahnya melainkan seorang wanita yang berusia kira-kira dua tahun lebih muda darinya yang mengenakan sebuah jubah tidur, dengan wajah yang juga khas bangun tidurnya. "Anata wa daredesuka?" tanya wanita itu kemudian untuk mengatasi rasa penasarannya dengan wanita dihadapannya itu.


"Watashi wa Naura desu, Anata wa daredesuka?" tanya Naura balik.


" A Watashi wa Minna, kono-ka no tonari no rinjin," jelas wanita itu pada Naura.


"Oh, Minna san, hajime mashite," ucap Naura ramah. "Em, watashi wa kono ni anata no tochaku no mokuteki o shitte iru kamo shiremasen?" tanya Naura.


"Ah, tabemono o motte kuruno tame ni Raka desu," ucap Minna dengan canggung.


"Ah, arigato. Shikashi, kare wa mada nemutte iru, watashi wa anata no tame ni kare o mewomasasu hitsuyo ga arimasuka?" ucap Naura pada Minna.


"Oh, kare ni watashi no aisatsu o tsutaeru hitsuyo wa arimasen,"


"Mochido tabemono ni kansha shimasu,"


"Hai, watashi wa jibun jishin o yurusu," ucap Minna yang di jawab anggukan oleh Naura.


Naura kemudian menutup pintu setelah kepergian Minna. Namun ketika dia membalikkan badannya ia sungguh terkejut mendapati Raka tengah berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka sungguh begitu dekat, hingga Raka dapat merasakan hembusan nafas Naura. Ia menatap wanita itu dan menyembunyikan senyumnya karena melihat wajah wanita itu blushing karena ulahnya. Naura pun memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang, sementara Raka yang menyadari tingkah Naura puh hanya terkekeh ketika melihat wanita itu kemudian berjalan melewati dirinya.


"Siapa yang berkunjung pagi-pagi?" tanya Raka.


"Kamu yakin pingin tahu?" ucap Naura.


"Hanya seorang wanita,"


"Ahh, seorang wanita ya, pasti Minna. Dia kesini memberikan kotak sarapan pagi kan?" tanya Raka yang dijawab anggukan oleh Naura. Raka tahu kini raut wajah wanita itu berubah menjadi sedikit kesal. Dan tentu saja hal itu membuat Raka malah merasa senang karena ia punya alasan untuk menggoda wanita itu. "Coba kita lihat, bisa berubah menjadi seagresif apakah dirimu jika dalam kondisi seperti ini?" batin Raka.


Raka pun kemudian berjalan mendekati Naura yang berkutat dengan bahan makanannya. Ia bermaksud untuk menggoda wanita yang kini menunduk dan tak mau memandangnya itu.


"Itukah alasannya kamu tidak membangunkanku?" tanya Raka.


"Apa maksud mu?" tanya Naura dengan masih tidak melihat kearah lelaki yang mengajaknya bicara.


Raka menarik pergelangan tangan Naura, memeluk wanita itu dan kemudian mendudukkan wanita itu di pangkuannya. Naura yang terkejut dengan perlakuan Raka yang seekstrim ini. Dia pun hanya menundukkan kepalanya karena malu memandang wajah lelaki itu. Raka tetap diam sejenak duduk di kursi di ruang makan itu dengan tetap mendudukkan Naura di pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang wanita itu hingga Naura terkunci dan tak bisa pergi.


Setelah puas mengamati wajah wanitanya yang masih tak berani untuk menatap dirinya itu, ia kembali menggoda wanita itu hingga wanita itu akan menyerah dan akhirnya menatap ke arahnya.


"Kamu bukannya tidak tahu kalau aku terbangun karena dering bel itu kan? Kamu pasti mendengar suara aku terbangun perlahan ketika kamu mulai membuka pintu. Tapi, kamu tetap mengatakan pada Minna kalau aku masih tidur, tanpa mengecek apakah aku benar-benar masih tidur atau sudah bangun..," ucap Raka yang tentu saja membuat Naura melotot dan menatap Raka karena terkejutannya.


Selamat pagi


Anda siapa?


Nama saya Naura, anda siapa?"


Oh, nama saya Minna, tetangga sebelah rumah ini.


Oh, nona Minna, salam kenal.


Em, bolehkah saya tahu maksud kedatangan anda ke sini?


Oh saya membawa makanan


Untuk tuan Raka.


Oh, terima kasih. Tapi, dia masih tidur. Apakah saya perlu membangunkannya untuk anda?


Oh, tidak perlu sampaikan saja salam saya untuk dia.


Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih atas makanannya.


Iya, baiklah saya permisi