Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Lima Part B



Raka duduk di sofa dengan sederet buku-buku dan leptop yang masih menyala. Dipelajarinya dan diperhatikannya berkali-kali CT Scan pasien yang akan di operasinya esok hari. Namun perhatiannya teralihkan ketika terdengan pintu terbuka dari luar. David langsung masuk tanpa salam. Direbahkannya tubuhnya di sofa tepat di samping Raka.


"Kenapa loe.Wajah loe pucet banget.Loe sakit?"


"Apa semua dokter begitu?"


"Maksud loe..?"


"Tiap kali loe liat orang dengan wajah pucat apa selalu karna orang itu sakit?"


"Nggak juga sih itu cuman hipotesis gue aja.Emangnya loe kenapa?"


"Gue sudah denger semuanya..,"


"Apa?"


"Tentang loe dan Naura..,"


"Oh..,"


"Hmm.. apa respon loe selalu begitu. Cuman kata "oh"..?"


"Lantas gue harus bilang apa selain "oh".. Apa loe mau gue bilang "wow " gitu?"


"Dasar loe tuh.Awalnya gue gak percaya semua cerita loe. Tapi, ketika dia bercerita sama gue, gue tahu semua yang loe bilang bener. Dia mengakui kalau semua itu karna kesalahannya,"


"Sudahlah gue gak mau bahas soal itu lagi. Semuanya sudah berlalu dan gue gak mau memikirkan hal itu lagi,"


"Jangan mencoba membohongi gue dengan mengatakan hal itu. Kalau loe memang sudah gak ingin mikirin dia lagi, apa alasan loe menyetujui permintaan gue untuk kembali,"


"Itu...,"


"Loe tahu betul bahwa loe masih menyukainya kan?"


"Jangan berkata seolah loe tahu segalanya tentang gue. Ini masalah gue dan hanya gue yang tahu soal itu..,"


"Jika memang loe tahu tentang hal itu, apa loe tahu alasan kenapa dia melakukan hal itu?Apakah loe percaya saat dia mengatakan bahwa dia tidak bisa mempercayaimu lagi dan lebih baik berpisah daripada terluka.Gue yakin loe gak percaya hal itu. Kalian tumbuh bersama dan saling mengetahui satu sama lain. Dan kalian berpisah hanya karna..,"


"Gue memang gak mempercayainya.Dia tahu kalau bukan gue yang ngelakuin hal itu pada Raysa.Tapi, gue gak bisa menghentikannya.Gue gak bisa menghentikan jika dia ingin ninggalin gue. Tidak, tidak,, gue bahkan gak mau buat menghentikannya..,"


"Kenapa?"


"Gue menghargai keinginannya.Kami sudah tumbuh bersama cukup lama dan mungkin ada kebosanan saat dia bersama gue. Jadi, gue melepasnya..,"


"Loe biarkan dia pergi walaupun alasan dia meninggalkan loe belum loe ketahui..,"


"Bulshitt... Loe hanya berpikir dari sisi loe saja. Loe tidak pernah berpikir dari sisinya..,"


"Lantas gue harus bagaimana?Dia menyuruh gue menikahi Raysa. Dan bahkan dia berlutut di hadapan gue....!!!"


"Raka...,"


"Loe gak pernah tau bagaimana gue harus menghadapi semua itu. Wanita yang gue cintai menyuruh gue menikah dengan orang lain dan mengakui perbuatan yang tidak pernah gue lakukan terlebih lagi dia berlutut di hadapan gue. Jika loe jadi gue apa yang loe lakuin. Apa loe akan tetap biarkan wanita yang membuat hidup loe serasa di neraka tetap berada di samping loe...?"


"Hanya ada cinta di dalam kebencian dan begitupun sebaliknya.Loe membencinya karna loe masih menyukainya.Jadi, tidakkah lebih dari loe ingin membecinya seumur hidup loe, bukankah lebih penting buat loe untuk mengetahui alasan dia meninggalkan loe?Dan alasan perceraian loe dengan Raysa, bukankah karna loe masih berharap agar bisa bersama dia kembali?"


"Dav..,"


"Gue tahu loe terluka karna Naura.Tapi, loe juga salah karna tak pernah mau untuk mencari alasan wanita itu meninggalkan loe.Loe tak mau mencarinya hanya karna loe gak mau terluka lebih dalam lagi.Apakah gue salah?"


Raka hanya terdiam mendengar perkataan David.


"Loe memang sahabat gue. Dan gue juga tahu bahwa wanita itu bersalah sama loe. Tapi, satu hal yang perlu loe tahu. Gue akan selalu berada di sampingnya. Sorry, jika gue terlampau egois...," ucap David sembari meninggalkan sofa ruang tamu menuju ke kamar tidurnya.


*****


Raka termenung masih di sofa ruang tamu.Dia tahu bahwa semua yang dikatakan David benar.Dia tak pernah mencari tahu alasan kenapa Naura melakukan semua itu.Dia memang tak ingin mencari tahu hal itu karna tak ingin terluka lebih dalam.Dia tahu sepenuhnya perpisahan saat itu bukan hanya karna kesalahan Naura.Tapi, juga karna kesalahannya sendiri yang membiarkan Naura pergi meninggalkannya tanpa pernah ada usaha untuk mencari tahu alasan sebenarnya gadis itu meninggalkannya.Memikirkan semua itu dia tahu tak mungkin baginya untuk bertanya pada Naura.Hubungan mereka kini tak lebih hanya seperti orang asing. Kini yang terlintas dalam pikirannya hanya satu nama. Di ambilnya ponselnya di meja dan dilakukannya panggilan pada sebuah nama. Tertera nama Raysa di wallpaper ponsel itu.


"Hallo...,"


"Raysa..,"


"Ya. Ada apa Ka? Tumben nelpon..,"


"Ada sesuatu hal yang pingin gue tanyain sama loe..,"


"Tentang apa?"


"Nanti gue kasih tau setelah kita ketemu. Loe lagi ada waktu kan? Atau..,"


"Oh, ya aku lagi gak sibuk kok.Kebetulan Aurora juga sedang di rumah neneknya jadi tak masalah.Dimana kita akan bertemu?"


"Di café tempat biasa..,"


"Baiklah ntar gue kesana...,"


"Tut..tut..tut...


*****