
Blue's Cafe, di tempat itulah Raka berjanjian untuk bertemu dengan Rasya. Dia datang lebih awal 10 menit dari pada Raka. Dia melambaikan tangannya kepada Rasya yang mengenakan dress warna merah hati dengan rambut sebahunya yang dibiarkan terurai seperti biasa.
"Hai, Ka...," Ucapnya sembari tersenyum dan melambaikan tangan pada Raka yang telah duduk dan menyeruput coffelatte yang telah di pesannya.
"Oh, Hai...," Balas Raka. "Mau pesan apa?" tanyanya.
"Em...cappucinno saja...," ucap Rasya dan beberapa menit kemudian Raysa pun telah dapat menikmati minumannya. "Ada perlu apa, loe ngajak gue ketemuan?"
"Ngomong-ngomong loe gak ngajak Aurora?"
"Oh, gue titipin sama neneknya. Trus loe mau ngomong apa ke gue, ada yang penting kah?"
"Iya ini sangat penting...,"
"Tentang apa?"
"Tentang alasan Naura ninggalin gue dulu....,"
Raysa tersedak mendengar perkataan Raka. Dia terkejut setengah mati dibuatnya.
"It...itu sudah lama berlalu, kenapa loe mengungkit lagi tentang masalah itu sekarang..?"
"Karena...karena gue pingin tahu. Selama ini gue gak pernah nyari tahu alasan dia ninggalin gue. Kalau bener itu karna dia sudah bosen sama gue, gak mungkin sampai sekarang dia bahkan masih belum dapat membuka hatinya untuk orang lain. Raysa jawab gue dengan jujur, apakah loe tahu alasan dia ninggalin gue..?"
"Raka, gue.....gue.....,"
"Gue tahu loe sahabatnya. Loe juga sahabat gue. Jadi loe pasti tahu alasan dia ninggalin gue. Jadi gue mohon beritahu gue apa alasan dia ninggalin gue...?"Ucap Raka dengan mata berkaca-kaca.
Hening seketika.
"Ma'afin gue...,"Ucap Raysa tiba-tiba dengan mata yang juga berkaca-kaca. Dengan air mata yang tlah menetes menuruni pipinya.
"Kenapa? Kenapa loe minta ma'af....,"
"Ma'afin gue. Ini semua karna gue....," Raysa kini tak mampu membendung air matanya yang telah jatuh.
"Gue....gue minta dia relain loe buat gue...,"
"Apa??" ucap Raka dengan kening berkerut karna keterkejutannya.
"Iya Raka. Waktu tahu gue hamil dan pacar gue gak mau tanggung jawab gue gak ada pilihan. Gue takut buat gugurin kandungan gue dan yang terlintas di otak gue adalah loe Raka. Gue butuhin loe, buat ada disisi gue dan buat tanggung jawab atas apa yang tidak loe lakuin. Tapi gue tahu loe gak bakalan mau nikahin gue untuk memberi status bagi anak gue. Karna itu gue memohon pada Naura buat dia relain loe untuk gue dan meminta loe buat nikahin gue. Gue percaya kalau Naura yang meminta pasti loe mau,"
"Raysa loe... Loe tahu kalau Naura gadis yang baik. Loe tahu kalau dia sangat menyayangi loe sebagai sahabatnya dan bahkan dia sudah nganggep loe sebagai saudaranya sendiri. Tapi loe...loe malah.... Loe manfaatin kebaikan dia...," ucap Raka kini dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Bibirnya bergetar tak mampu menahan kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
Ini kedua kalinya Raka menangis. Pertama saat Naura pergi meninggalkannya. Dan kedua sekarang, karna dia tahu alasan sebenarnya kenapa gadis itu meninggalkannya. Dia tahu betapa baiknya hati Naura, dan bahkan terlampau baik. Dia tak segan untuk mengorbankan dirinya untuk orang lain dan dia sudah cukup kenal dengan sifat dan kelakuan Naura yang seperti itu. Tapi, tak dapat dipercaya bahwa dia bahkan meninggalkannya karna hal itu. Karna dia tak bisa membiarkan sahabatnya menderita.
"Raka ma'afin, gue. Gue yang ngerusak hubungan loe dengan Naura. Gue memang bukan sahabat yang baik bagi loe berdua. Gue minta ma'af, gue ngerasa sangat bersalah...,"
"Karena itukah loe minta bercerai dari gue. Karna loe gak bisa hidup terus-menerus dalam rasa bersalah...?"
"Iya. Sebelumnya gue membutuhkan loe. Gue butuh loe untuk memberi status bagi anak gue. Gue membutuhkan loe dan gue mulai mencintai loh. Tapi gue tahu, hati loe gak mungkin untuk gue sampai kapanpun. Karna itu, karna itu gue lepas loe. Supaya loe bisa bebas, dan kembali dengan Naura suatu saat nanti. Gue gak mau sepanjang hidup loe, loe akan nyalahin Naura,"
"Terlambat Raysa, loh sudah terlalu banyak memberi kesakitan pada gue dan Naura. Loe menghancurkan mimpi-mimpi yang telah gue bangun dengan Naura. Loe.... Sudahlah...,"
"Raka, loe sekarang sudah ketemu sama dia. Loe bisa balikan lagi sama dia...,"
"Tidak semudah itu, semuanya tidak semudah yang kau katakan. Kami sudah lama terpisah dan pasti akan sulit untuk kembali..,"
"Tapi bukankah loe dan Naura masih sangat mencintai...,"
"Sekalipun begitu, gue masih tidak bisa mengerti dengan Naura. Sebesar itukah rasa sayangnya ke loe hingga mengorbankan gue. Mengorbankan cintanya sendiri terhadap gue, gue tetap saja masih belom bisa ma'afin Naura atas keputusannya itu,"
"Raka.......,"
"Sudahlah gue pergi dulu...," ucap Raka kemudian sembari meninggalkan Raysa yang masih duduk di cafe tersebut.
*****