Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Sepuluh Part C



Naura menyiapkan sarapan suaminya seperti biasanya sebelum dia berangkat kuliah. Suami? Ya, tepatnya sudah satu bulan lebih Naura dan Raka resmi menikah, dan seminggu setelah pernikahannya dulu ia dan Raka langsung kembali ke Jepang untuk menyelesaikan kuliah mereka. Naura mengambil master dan Raka dengan profesi barunya di bidang kedokteran itu. Pernikahan Naura dan Raka yang berlangsung seminggu yang lalu berlangsung cukup sederhana, pasalnya baik Naura dan Raka memang lebih menyukai kesederhanaan. Pernikahan itu di hadiri oleh keluarga dan teman-teman Naura dan Raka, ada Randy, Clara, dokter Farhan, dokter Handy, dokter Melisa dan para teman-teman dokter Raka dan para dosen-dosen Naura dulu, termasuk dosen Daniel yang dulu menyimpan perasaan para Naura.


Raka melingkarkan tangannya di pinggang Naura dari belakang. Naura yang melihat tingkah Raka yang nyaris seperti anak-anak beberapa hari terakhir ini membuat Naura kadang jadi geram sendiri. Tapi, dia tahu bahwa dia harus bersabar menghadapi sikap manja Raka beberapa hari terakhir ini.


"Sayang, aku lagi masak nih, bisakah kamu duduk manis di kursi dan membiarkanku menyelesaikan masakanku?" pinta Naura dengan lebut.


Namun, Raka menggelengkan kepalanya tak menyetujui permintaan Naura. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Naura. Naura pun mendengus kecil dan segera mematikan kompor kemudian berbalik menghadap Raka.


"Ada apa sih?" tanya Naura kemudian dengan lembut. Namun, Raka hanya menggelengkan kepala dan diam tak menjawab. Naura yang sedikit kesal akhirnya mengecup singkat bibir Raka dan akhirnya Raka pun bereaksi. Ia ******* bibir istrinya dengan lembut dan Naura pun membiarkan suaminya itu melakukan keinginannya. Setelah puas mencium Naura, Raka pun akhirnya melepaskan ciumannya.


"Sudah?" tanya Naura yang di jawab anggukan kepala oleh Raka. "Sekarang sudah bisa bicara kan? Katakan padaku ada apa?"tanya Naura untuk kesekian kalinya.


"Apa belum ada kabar bagus?" tanya Raka ambigu.


"Kabar apa maksudmu?" tanya Naura.


"Disana, apa belum ada kabar kalau di sana ada mahluk kecil sebagai penghuninya?" tanya Raka sembari menyentuh perut Naura yang masih datar itu.


Naura yang kemudian mengerti maksud Raka pun menggeleng sebagai jawabannya.


"Belum sayang...Memangnya kenapa sih kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" selidik Naura dengan sikap Raka yang tiba-tiba menjadi aneh.


"Hmmm...Raysa sudah satu bulan perutnya berisi. Dan David menyombongkannya padaku...," jelas Raka dengan bibir mengkerut.


Naura yang mendengar hal itu pun langsung tertawa setelah mengetahui alasan kenapa suaminya itu bertingkah konyol.


"Oh, jadi kamu iri sama David nih ceritanya...?" tanya Naura.


"Ya, iyalah sayang. Kek mana nggak iri, David udah mau punya dua anak, tapi aku masih belum...,"


"Lah, kok dua? Harusnya Aurora nggak masuk hitungan kan?"


"Maksud kamu?"


"Kamu benar, begitu ya...aku akan telpon si kunyuk satu itu...," ucap Raka yang kini dengan wajah yang berbinar bahagia. Wajah kusutnya hilang entah kemana setelah mendengarkan penjelasan Naura.


Ketika Raka berlari menuju kamarnya dan hendak mengambil handphone untuk menelpon David, Naura berteriak.


"Sayang, bilang sama David score saat ini masih 1:1 dan akan menjadi 1:2 dalam waktu dekat...," ucap Naura dengan terkekeh geli mendengar pernyataannya sendiri.


Raka yang semula hendak melangkah menuju kamar kembali berbalik dan bertanya pada Naura.


"Maksud kamu?"


"Kita akan ke rumah sakit setelah sarapan untuk membuktikannya..," jelas Naura yang tentu saja membuat Raka mengerutkan keningnya karena bingung dengan maksud istrinya. "Aku tidak yakin apakah aku sudah hamil atau belum. Hanya saja aku merasakan beberapa tanda-tandanya...," jelas Naura dengan senyum malu.


"Benarkah? Astaga...kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi...,"


"Aku hanya tidak ingin kamu terlalu berharap, nanti kamu kecewa...," ucap Naura.


Raka pun langsung menggendong istrinya itu dengan raut wajah yang bahagia. "Aku tidak akan kecewa sayang, apapun hasilnya aku pasti menerimanya. Hanya saja feelingku mengatakan bahwa kali ini harapanku akan menjadi nyata...," ucap Raka dengan mencium lembut bibir istrinya. "Kalau begitu kita harus cepat-cepat mandi dan sarapan, setelah itu kita harus pergi ke rumah sakit," ujar Raka.


"Loh, bukannya tadi kamu mau menelfon David dulu?"


"Nggak usah nanti saja, setelah kita memastikan ada mahluk kecil yang lucu di perutmu itu, dengan begitu si kunyuk itu akan semakin iri denganku...," ujar Raka yang kemudian pergi menuju ke kamar mandi dengan riangnya. Sementara Naura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi tingkah Raka yang tak ubahnya seperti anak kecil itu.


*****


The End