
Tim sar menyusur setiap hutan dan mencari keberadaan Naura. Turut serta dokter Farhan, Prof. Daniel dan dosen pria lainnya.Naura meringkuk ketakutan dengan bersandar di sebuah batu besar.Sementara Raka berkeliling mencari keberadaan gadis itu. Tiba-tiba ia mendengar isak tangis seseorang. Dengan bercahayakan lampu senter Raka mendapati Naura yang meringkuk dengan wajah pucat dan pakaian lusuh.
"Naura...," ucap Raka.
Naura hanya diam tak menanggapi seseorang yang berada di hadapannya. Beberapa tim sar dan anggota panitia yang turut mencari pun menemukan Raka yang juga baru saja menemukan Naura.
"Naura, ini aku...," ucap Raka sembari mendekati Naura perlahan demi perlahan. Anggota tim sar dan yang lainnya hanya mengamati.
Raka mengulurkan tangannya hingga menyentuh pergelangan tangan gadis itu.Naura yang sudah mengenal betul siapa pemiliki tangan itu pun merubah posisi tubuhnya dan melihat seseorang yang mengulurkan tangan itu.
"Raka................," desahnya.
"Iya, ini aku...Raka.....," ucap Raka.
Kemudian Naura pun segera memeluk Raka yang kini berada di depannya dengan mensejajari posisinya yang duduk.
"Raka aku takut. Aku tak bisa melihat apa-apa.....," isaknya dalam pelukan Raka.
"Naura kau tidak apa-apa....," tanya Prof. Daniel yang sontak membuat Naura menyembunyikan dirinya dalam pelukan Raka karena mendengar suara itu. Mendapati hal itu Prof. Daniel keheranan dengan sikap Naura yang seolah tidak mengenalnya."Naura ini saya, Professormu.Professor Daniel....," ucapnya lagi.
"Raka aku takut.Siapa dia, jangan biarkan dia mendekatiku Raka......," ucap Naura dengan suara lemah.
Prof. Daniel tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Naura tidak ingin dia mendekatinya.Bukan hanya dia, Naura tidak ingin di dekati oleh siapapun yang ada di tempat itu kecuali Raka.
"Taka apa Ra, mereka orang-orang yang baik kok," jelas Raka.
"Nggak mau pokoknya aku gak mau sama mereka Ka," ucap Naura yang tentu saja masih dengan isak tangisnya seperti anak usia lima tahunan.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali pulang," ucap Raka pada Naura. "Kau bisa jalan..," tanya Raka kemudian yang membantu Naura berdiri dari posisi duduknya. Naura tak menjawab pertanyaan Raka.Dia hanya menggelengkan kepalanya.Raka tahu alasan Naura tak bisa berjalan.Rasa takut yang berlebihan pada kegelapan itu membuatnya begitu lemas hingga tak bisa menopang tubuhnya sendiri."Baiklah aku akan menggendongmu," ucap raka.Sembari membungkukkan badan dan meminta Naura untuk naik di punggungnya.Naura naik di punggung Raka dan menenggelamkan wajahnya hingga tak satupun yang dapat melihat raut wajahnya.Yang mereka tahu tentang keadaan Naura hanya satu, isak tangis gadis itu berhenti.
Tim sar kembali ke tempat mereka dan semua pun kembali ke kamar masing-masing. Acara pengumuman pemenang akan ditunda besok mengingat kondisi Naura yang tidak begitu baik. Sifa menangis tak henti melihat kondisi Naura yang terkulai lemas di tempat tidur.Raka yang telah membaringkan Naura di tempat tidur meminta Sifa untuk menyiapkan air hangat untuk membersihkan beberapa sisa-sisa tanah liat yang menempel di wajah Naura. Prof. Daniel, dr. Farhan, dr. Melisa dan lainnya melihat kondisi Naura di ambang pintu kamar tidur Naura. Raka pun beranjak pergi ketika Sifa bersiap tengah membersihkan badan Naura.
"Tolong jaga dia ya...," ucap Naura pada Sifa.
"Baik dok...," ucap Sifa
"Dia baik-baik saja sekarang....," ucap Raka.
"Tapi, kenapa dia begitu ketakutan...," tanya dr. Melisa.
"Nyctophobia..............," ucap dr. Farhan, dokter senior diantara mereka.
"Ya, dokter benar.Nyctophobia, Naura menderita penyakit itu...," ucap Raka.
"Apa Nyctophobia itu? Dan kenapa dia bisa menderita penyakit itu?" tanya Prof. Daniel yang tengah dipenuhi berbagai rasa penasaran.
"Nyctopobhia adalah penyakit dimana seseorang takut akan kegelapan. Ketika dia tidak melihat cahaya sedikitpun dia akan merasa ketakutan setengah mati dan tubuhnya akan terasa lemas perlahan-lahan akibat ketakutannya yang berlebiha itu.Itulah yang terjadi padanya," jelas Raka.
"Itukah kenapa dia sangat ketakutan. Tapi kenapa dia bahkan tidak mau di dekati oleh orang lain? Dan tunggu, kenapa kau bisa tahu dia mempunyai penyakit itu?" tanya Prof. Daniel dengan penuh selidik.
"Professor haruskah kau bertanya terlalu jauh...," ucap dr. Melisa.
"Kenapa, apa aku tidak boleh bertanya tentang hal itu..?" tanya Prof. Daniel.
"Ya, boleh tapi....tapi....itukan terlalu..........,"ucap dr. Melisa yang tak selesai karena di potong oleh Raka.
"Kami pernah tumbuh bersama...," ucap Raka yang tentu saja membuat Prof. Daniel terkejut bukan main. Tapi ia masih diam mendengar penjelasan Raka lebih lanjut. Raka pun menceritakan semuanya :
"Sewaktu kecil ada kawanan perampok yang berusaha untuk masuk rumah kami pada malam hari. Perampok itu berjumlah 2 orang dari yang dapat kami lihat. Dia mengenakan baju serba hitam dan topeng serba hitam, mereka menyandera Naura dengan meletakkan sebuah golok panjang di depan lehernya. Naura menangis ketakutan bukan kepalang.Aku hanya bisa berdiam diri dalam pelukan mamaku.Dan papaku mencoba untuk bernegosiasi dengan perampok itu.Meminta untuk melepaskan Naura dan mereka bebas mengambil apapun seisi rumah kami.Tapi perampok itu tak juga melepaskan Naura meski kawanannya telah mengosongkan semua benda berharga dari rumah kami. Kemudian tiba-tiba lampu padam seketika, bukan hanya mereka yang panic tapi kami sekeluarga juga panik karena tak bisa melihat apapun. Naura pun menjerit dan berusaha untuk melepaskan diri dari perampok itu.Terdengar terikan yang hebat dari seseorang malam itu.Dan ketika lampu menyala kembali salah satu teman perampok itupun sudah tergeletak bersimbah darah di lantai rumah kami.Golok yang sedari tadi dipegangnya mengenai tubuh temannya sendiri.Dan melihat semua kejadian itu Naura pun jatuh pingsan tak sadarkan diri hingga beberapa hari dia begitu ketakutan. Setelah kejadian itupun tiap lampu padam dia akan meringkuk memeluk lututnya dan tidak berani bergerak sedikitpun dari tempatnya berada. Dia bahkan tak mau siapapun mendekatinya termasuk mama dan papa.Hanya aku yang bisa mendekatinya.Hal ini karna sebelum pingsan selama beberapa hari akibat kejadian tragis waktu itu akulah orang terakhir yang dilihatnya.Dan ketika dia sadar nanti dia tidak akan lagi mengingat kejadian yang terjadi semalam, itu adalah bentuk perlindungan dirinya," jelas Raka.
"Itukah alasan kenapa dia tak mau aku mendekatinya...," desah Prof. Daniel.
Raka tak harus menjawab semua dugaan Prof. Daniel juga semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin masih saja bersarang di kepalanya.Raka meninggalkan semua dokter, dosen dan panitia-panitia lainnya di ruang tamu.Dia beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.Pasalnya tenaganya rasanya terkuras habis, bukan karena kelelahan mencari Naura tapi lebih karena dia terlalu mencemaskan gadis itu.
"Kenapa kau masih belum bisa sembuh dari traumamu itu Naura....," gumam Raka dalam hati.
*****