
Seminar berakhir dengan lancar.Beberapa orang berlalu lalang pergi meninggalkan tempat seminar.Ada beberapa yang masih berbincang-bincang dalam perjalanannya meninggalkan ruangan tersebut dan ada pula yang sempat menjabat tangan beberapa narasumber atau pembicara dalam seminar tersebut.Dari arah tribun deretan belakang seorang gadis kecil menuruni satu persatu anak tangga dan berlari menuju Raka. Gadis itu berusia sekitar lima tahunan dengan rambut lurus panjang yang terurai. Sebuah bandana berwarna pink muda menghiasi rambut gadis kecil itu hingga menjadikan gadis kecil dengan pipi cabi itu tampak semakin lucu dan menggemaskan.
"Ayah...," teriak gadis kecil itu kepada Raka dan berhambur berlari dalam dekapan Raka.Teriakan gadis kecil itu sontak membuat semua orang terbelalak kaget dan melihat kea rah Raka yang kini tengah menggendong gadis kecil itu.
"Kamu sudah menikah..?" Tanya dokter Farhan.Raka mengangguk menanggapi pertanyaan itu.
"Kau masih sangat mudah.Ku piker kau belum menikah..?" dokter Melisa menimpali dengan wajah yang sangat terkejut dan keningnya berkerut tak puas.
"Saya menikah muda," jawab Raka seketika.
"Oh, aku tidak tahu sebelumnya karena saat aku terima rekomendasi kamu dari dokter Sean, dia tak pernah berbicara tentang urusan pribadimu,"
"Ya, saya juga mendengar itu dari dokter Sean..," ucap Raka dengan member senyuman simpul pada dokter Farhan.
Naura tersentak kaget melihat gadis kecil itu meskipun tak sekaget dokter Farhan, dokter Melisa atau bahkan semua orang yang berada di situ karena dia dapat menebak siapa gadis kecil.Yang dia tak tahu hanyalah sudah sebesar inikah anak itu.Beberapa saat kemudian, seorang wanita muda berlari mengejar gadis kecil itu.Kini wanita itu tepat berada di hadapan Raka.Sepintas Naura mendongak refleks melihat wanita itu yang kini hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
"Aurora, sudah ibu bilang jangan lari-lari," ucapnya dengan senyum simpul.
Wanita dengan dress panjang dan rambut menjuntai sebahu itu, sudah akrab dimata Naura. Semua orang yang berada di tempat itu dapat menebak siapa wanita itu.Namun, yang mengejutkan semua orang adalah wanita itu kemudian melihat ke arah Naura.Dia berlari dalam jarak hanya beberapa langkah ke hadapan Naura.
"Naura..," pekiknya."Sudah lama tidak bertemu..," ucapnya sembari memeluk tubuh Naura yang sempat menegang saat diketahuinya wanita itu menghampirinya.
"Ya...," ucap Naura singkat.
"Bagaimana kabarmu?Kau baik?Taukah kau, aku sudah mencarimu ke mana-mana?Kenapa tiba-tiba menghilang...," ucapnya panjang lebar tanpa memberi Naura kesempatan untuk berbicara."Aku merindukanmu...," ucap wanita itu sembari kembali memeluk tubuh Naura yang telah dilepaskannya beberapa detik lalu.Wajah ceria wanita itu kini berubah mendung.Beberapa air mata jatuh membasahi kemeja Naura yang berwarna cream itu."Ma'afkan aku....," bisik wanita itu di telinga Naura.
Setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari wanita itu Naura tak dapat membendung air matanya. Matanya mulai berkaca-kaca dan beberapa tetes air itu membasahi kedua pipinya yang putih. Betapa dia sangat merindukan wanita yang menjadi sahabatnya sebelum perpisahan lima tahun yang lalu itu. Tapi, disisi lain Naura juga merasakan kesakitan yang luar biasa jika dia harus kembali mengingat masa lalu lagi, terlebih mengingat saat dimana dia harus membuat keputusan yang sulit dalam hidupnya.
Beberapa menit kemudian baik Naura ataupun wanita itu bisa menguasai diri mereka masing-masing.Melihat beberapa orang yang berada di tempat itu dilanda penasaran kenapa istri dokter Raka bisa mengenal Naura akhirnya wanita bernama Raysa itupun menjelaskan semuanya.Termasuk tentang persahabatan di antara mereka bertiga dulu sehingga tak heran jika mereka bisa saling mengenal.
"Apa kau sakit hati sekarang?Bukankah kau yang membuat semuanya menjadi begini?" batin Raka.
Sebelum melanjutkan pekerjaan masing-masing mereka berencana untuk makan siang bersama.Tapi, Naura menolak ajakan itu.Dia mencari-cari alasan yang tepat untuk meninggalkan tempat itu dan menolak ajakan itu.Tapi, tak didapatkannya alasan yang cukup untuk membuatnya dapat meninggalkan semua orang-orang itu. Beberapa meter di kejauhan dia melihat David tengah berjalan kerahnya. Semua dosen yang berada di tempat itu dapat mengenali sesosok lelaki dengan kemeja yang tak rapi itu.Ya, siapa yang tidak mengenal pemuda itu. Pasalnya mahasiswa selengekan itu kerap kali merusak perkuliahan mereka dengan tingkahnya yang susah sekali di atur. Yang membikin mereka bingung adalah kenapa seorang Naura dengan kepribadian baik dan otak encer itu bisa mengenal pemuda biang ulah itu.
"Ngapain kamu kesini?" professor Daniel menunjukkan rasa tidak sukanya pada David di depan semua orang yang berada di situ.
"Ah, professor..," ucap David sembari membungkukkan diri untuk menghormat."Ma'af, saya mau meminjam Naura sebentar..," ucapnya meminta izin kepada professor Daniel.
"Ada urusan apalagi dengan Naura?"
"Oh, itu... Bukankah acara seminarnya sudah berakhir prof?"
"Iya.Memangnya kenapa?
"Jadi, kalau saya pinjam Naura sebentar gak ada masalah kan?"
"Memangnya kamu siapa selalu ganggu-ganggu Naura. Kamu pacarnya..?"
David hanya cengar-cengir dihadapan professor Daniel."Bisa dibilang gitu...," ucapnya lirih sembari menundukkan kepalanya.Professor Daniel pun kehabisan kata-kata setelah mendengar jawaban pemuda yang sangat tidak di sukainya itu. Beberapa detik kemudian Naura meminta izin untuk meninggalkan tempat itu untuk menghindari perdebatan sengit yang akan berlanjut antara professor Daniel dan David. Selepas kepergian Naura, mereka pun langsung pergi untuk melanjutkan acara makan bersama sesuai dengan yang direncanakan.Raka mengambil ponsel yang berada disaku celananya dan melakukan panggilan.
"Thaks....,"ucap Raka.
"Gue gak ngelakuin itu buat loe......," jawab orang diseberang sana.
*****