Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Delapan Part A



Gave you the space so you could breathe,


I kept my distance so you would be free,


And hope that you find the missing piece,


To bring you back to me,


~Don't You Remember, Adele~


Sudah tiga bulan lamanya Raka pindah ke Jepang. Ia bekerja di rumah sakit Universitas Tokyo sembari melanjutkan profesi spesialisnya ke sub spesialis yakni dari spesialis bedah menjadi spesialis bedah thorax. Dia berfikir bahwa menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan kuliah lagi akan membuatnya lupa dengan Naura. Tapi, ternyata tidak satupun kenangan tentang Naura terhapus dari ingatannya.


Kini ia menghabiskan waktu ditengah-tengah kesibukannya untuk berjalan-jalan disepanjang Rikugien Garden. Rikugien adalah taman yang sangat luas dan artistik ditengah kota tokyo yang super sibuk dan gedung pencakar langit. Di tempat inilah Raka berharap bisa melepaskan lelahnya akan rutinitasnya serta menjernihkan pikirannya dari memikirkan Naura.


Banyak pasangan berjalan bersama menghabiskan waktu di sepanjang weekend. Tapi, hanya Raka yang sendiri. Menatap hamparan taman yang indah itu harusnya membuat Raka senang, tapi tidak yang ada hanya kehampaan yang dirasakannya. Namun tiba-tiba seseorang berjalan mendekatinya. Dan dia tahu siapa orang itu.


"Ohayo gozaimazu, Raka san...,?" sapa wanita itu.


" Ohayou, Minna san...? Ucap Raka.


"Apa yang anda lakukan disini Raka san? Apa kau sedang jalan-jalan?"


"Ah, ya...,"


"Kau pasti bosan di Daigaku, Byouin atau Ryokan sepanjang waktu bukan?"


"Ah..ya...," ucap Raka singkat.


"Kyou wa ii o tenki desu ne?" ucap Minna yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Raka. Setelah itu yang ada hanyalah kebisuan diantara mereka sampai sore tiba dan langkah kaki mereka tlah membawa mereka kembali ke tempat tinggal mereka.


Minna adalah tentangga Raka. Dia tinggal di samping penginapan (ryokan) Raka. Minna adalah seorang gadis yang berusia sama dengan Naura. Dia seorang gadis yang ceria dan pekerja keras. Dan itu tentu saja membuat Raka kembali teringat dengan Naura. Karena sebelumnya Naura juga tipe gadis seperti Minna sebelum bertubi-tubi masalah menimpa gadis itu.


"Naura, kau apa kabar?" ucap Raka dalam batinnya ketika telah dihempaskannya tubuhnya di atas tempat tidurnya.


*****


Selamat Pagi Raka


Selamat Pagi, Minna


Universitas, Rumah Sakit atau Penginapan


Cuaca hari bagus bukan?


Setelah lelah berkeliling seharian mencari tempat dimana Raka menginap, akhirnya ia sampai juga di sebuah flat tempat Raka. Ia mengetuk pintu rumah kecil itu namun tak dibuka oleh si empunya sampai lima kali ketukan. Kemudian ketika ia mulai melakukan ketukan ke enamnya, akhirnya terdengar derit pintu dibuka oleh si empunya rumah.


Raka bangun dari tidurnya ketika mendengar pintunya diketuk oleh seseorang. Ia membuka pintu rumah penginapannya dan ia melihat gadis yang berdiri di ambang pintu tersebut. Namun, karena tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya Raka kembali menutup pintu rumahnya. Beberapa detik setelah ditutupnya pintu rumah itu, ia kembali mendengar ketukan dan ketika Raka membukanya masih juga gadis itu berdiri di ambang pintu.


"Astaga Raka, dia hanya ilusi. Nggak mungkin Naura ada disini, kamu harus sadar sekarang...," ucap Raka yang lebih pada dirinya sendiri.


Kemudian dia pun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya hendak menutup pintu kembali namun terhalang oleh tangan seseorang.


"Aku bukan ilusi Raka, aku nyata...," ucap gadis yang berdiri di ambang pintu itu.


Raka yang mendengar hal itupun tentu saja terbelalak kaget karena bagaimana mungkin ilusinya bisa berbicara. Namun kemudian ketika dia merasakan sebuah tangan hangat menyentuh pipinya, ia baru sadar bahwa gadis itu adalah nyata dan bukannya ilusi yang dibangunnya seperti sudah-sudah.


"Aku nyata Raka, bukan ilusi...," ucap gadis itu kemudian ia member kecupan ringan di pipi lelaki itu yang tentu saja membuat Raka terkejut untuk kedua kalinya.


Raka mengernyitkan keningnya dan berkata.


"Apa kamu tidak mengizinkan saya masuk?" tanya Naura. Raka pun membuka lebar pintunya karena tersadar bahwa dia masih berdiri menghalangi pintu masuk. Raka kembali dikejutkan oleh kelakuan gadis itu yang diluar nalarnya ketika ia melihat beberapa koper yang di tenteng gadis itu.


"Kam..kamu mau ngapain dengan koper-koper itu?" tanya Raka dengan kening masih berkerut.


"Ya tentu saja membawanya masuk...," ucap Naura singkat.


"Maksudku bukan itu. Kenapa kamu membawa banyak koper dan kenapa kamu ada disini?" tanya Raka.


"Ya tentu saja karena aku akan tinggal di sini," ucap Naura dengan santainya.


"Haaahhhh......?"


"Kenapa Haa... Aku serius dengan pernyataanku bahwa aku akan tinggal disini,"


"Siapa yang mengizinkanmu tinggal disini?" ucap Raka sedikit ketus dengan kelakuan gadis itu yang dirasanya seenaknya. Karena bagaimana mungkin gadis itu bisa datang dan pergi seenaknya saja dan memberikan luka setelahnya.


"Aku tidak perlu izinmu untuk tinggal disini..," ucap Naura tak kalah sinis.


"Heehh...sejak kapan kamu menjadi seperti ini? Kamu salah makan? Atau kepalamu terbentur sesuatu hingga menjadi aneh seperti ini? Dan juga kamu sekarang memanggil namaku langsung tidak disertai Kak...," tanya Raka beruntun sembari menyentuh kening Naura dengan telapak tanggannya.


"Kenapa kamu mengajukan banyak sekali pertanyaan? Huft....," dengus Naura sembari melepaskan tangan Raka dari keningnya. "Pertama, aku nggak lagi salah makan atau kepalaku terbentur sesuatu jadi kamu tidak perlu khawatir jika aku mengalami kerusakan pada otakku. Kedua, David bilang antara sepasang kekasih harus memanggil dengan namanya langsung, dan karena aku bukan adikmu dan aku adalah kekasihmu maka aku tidak akan memanggilmu lagi dengan sebutan kak, tapi aku akan memanggilmu langsung dengan namamu, Raka...," jelas Naura.


"Heh...kamu bercanda, siapa bilang aku kekasih kamu? Hubungan kita bahkan sudah berakhir," ucap Raka.


"Aku yang bilang, apa kamu tidak mendengarnya tadi, kenapa kamu menanyakannya. Ckck..apa pergi terlalu lama dariku bisa merusak otakmu? Dan yang kedua, hubungan kita belum berakhir karena ini baru saja dimulai kembali...," ucap Naura sembari meninggalkan Raka dan menuju ke tempat tidur. Naura menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Raka.


"Heiii...apa yang kamu lakukan di tempat tidurku?" tanya Raka.


"Ya tentu saja tidur, apa kamu tidak bisa melihatnya?" ujar Naura.


"Ish...ini tempat tidurku dan lagi aku belum mengizinkanmu untuk tinggal disini?" ucap Raka sembari memaksa gadis itu bangun dari tidurnya. Namun, bukannya berhasil membuat gadis itu berdiri ia malah terjatuh dan menindih tubuh gadis yang tengah berbaring itu. Raka menatap manik mata gadis yang berada di bawanya, begitu pula dengan Naura. Napas mereka saling beradu.


"Aku lelah berkeliling seharian mencari rumahmu, tidak bisakah kamu biarkan aku tidur?" ucap Naura yang napasnya dapat dirasakan oleh Raka.


"Aku cuman punya satu tempat tidur, jika kamu tidur disini aku harus tidur dimana?" ucap Raka yang tentu saja napasnya juga dapat Naura dengar karena jarak mereka yang sangat dekat.


"Kita bisa tidur bersama," ucap Naura yang tentu saja membuat mata Raka melotot tajam karena dia tak menyangka bahwa gadis sepolos Naura yang dikenalnya dulu bisa bicara seperti itu. Namun kemudian, dia tahu bahwa gadis itu tidak bersungguh-sungguh, ia hanya ingin menggodanya saja.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya Raka yang tentu saja dengan menggerakkan tangannya dan menyentuh kulit halus pipi Naura. Ia dapat melihat bahwa pipi itu kini memerah akibat ulahnya. "Berhasil, menyerahlah kamu tidak akan menang melawanku...," batinnya.


"Tentu saja...,"ucap Naura yang tentu saja membuat Raka kembali terkejut karena apa yang dilakukannya pada gadis itu sama sekali tidak dapat memprovokasi gadis itu.


"Aku bisa berbuat macam-macam kepadamu..," ucap Raka.


"Benarkah....?"


"Iya...kamu tidak percaya...?"


"Em...apa berbuat macam-macam itu contohnya seperti ini...?" ucap Naura sembari mengecup singkat bibir lelaki yang berada tepat dihadapannya itu. Raka terkejut bukan main dengan apa yang dilakukan gadis itu. Dia tidak menyangka bahwa gadis itu bisa berubah menjadi seagresif itu. "Kenapa kamu diam? APa yang seperti itu dinamakan berbuat macam-macam?" tanya Naura.


Raka yang merasa kalah dan tidak mampu lagi bertahan lebih lama di hadapan gadis itu karena takut lepas kendali, akhirnya bangun dari posisinya yang berada di atas tubuh gadis itu. Ia kemudian berucap singkat dan berlalu pergi sembari menutup pintu kamarnya.


"Sudah malam, kamu pasti lelah. Tidurlah...," ucap Raka.


*****