Akai Ito (End)

Akai Ito (End)
Tujuh Part A



"Hanya kamu, kaulah satu-satunya hal yang aku akan lihat selamanya.


Di mataku, dalam kata-kataku dan semua yang kulakukan."


~ West Side Story ~


Pagi menjelang dan waktu sudah menunjukkan jam 08.00 tepat. Acara pengumuman pemenang pencarian harta karun dan outbond yang sempat tertunda kemarin akan dilakukan kali ini. Semua peserta berkumpul di aula selepas sarapan pagi. Naura masih kebingungan mencari-cari barang yang tidak ditemukannya kemarin.


"Kau mencari apa Ra...," tanya Sifa.


"Kalungku Fa, aku ingat aku mencarinya dari kemarin tapi aku tak bisa menemukannya. Bagaimana ini....," ucapnya.


"Apa kalung itu sangat berarti bagimu....,"tanya Sifa lagi.


"Iya.....,"ucapnya sembari tertunduk lemas.


"Ya sudah nanti kita coba cari lagi ya. Sekarang kita sudah di tunggu di aula," ucap Sifa. Dan kemudian mereka pun berjalan menuju aula.


Seseorang melihat dan mendengar samar-samar kejadian itu dari kejauhan.


"Bodoh, kau sampai balik ke hutan hanya untuk mencari ini...," gumam seseorang sembari memegang sebuah liontin dengan inisial "R" ditangannya.


Acara berlangsung dengan lancar hingga waktu tak terasa sudah sore hari. Esok sudah saatnya bagi semuanya untuk kembali ke tempat kerja mereka untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Malam harinya acara barbekyu diadakan untuk menutup serangkaian acara yang ada. Beberapa irisan daging, paprika, nanas dan lainnya sudah berada dalam tusukan sate dan siap untuk di panggang. Beberapa dosen dan dokter sebagai panitia berkumpul dan duduk dalam perkumpulan mereka. Sementara yang lain entah itu asisten atau karyawan rumah sakit saling duduk berhamburan karena sudah terlanjur akrab satu dengan yang lainnya.


Acara pentas seni kecil juga di adakan hanya sebagai hiburan. Mungkin hanya ada satu dua orang yang menyumbang untuk bernyanyi agar suasana menjadi meriah. Kolam renang di tengah aula dihiasi oleh lilin-lilin yang indah menampakkan suasana romantis dan nyaman di hati siapapun yang melihatnya seolah mereka terlepas dari semua beban yang ada. Naura membawa nampan penuh dengan barbekyu yang masih mentah yang siap untuk di panggang. Namun tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Seseorang yang entah dengan sengaja atau tidak tiba-tiba mendorongnya. Naura terhuyung, tubuhnya limbung dan tanpa sadar dia sudah tercebur di dalam kolam renang tersebut.


"Byuuuuuurrrrrrr................," suasana yang ramai kemudian senyap seketika mendengar suara tersebut.


"Ada orang yang jatuh...ada orang jatuh....," ucap yang lain.


Beberapa orang bukan menolong tapi malah penasaran mencari tahu siapa gadis yang tercebur itu. Seseorang segera menceburkan diri ke dalam kolam dari sisi dan sudut yang lain dimana di penuhi oleh banyak orang yang mengitari kolam renang tersebut. Diangkatnya gadis itu dalam pangulannya untuk berusaha menyelamatkannya. Kemudian di telentangkannya gadis itu di tepi kolam yang kini sepi yang sengaja di berikan space kosong oleh para penonton yang melihat kejadian itu.


"Naura....," ucap Prof. Daniel dengan lantangnya dan mimik muka terkejut. Sementara yang lain yang mengenal naura pun langsung mencari jalan untuk mendekat melihat kondisi gadis itu. Lelaki yang menolong Naura itu langsung segera melakukan pertolongan pertama pada gadis itu. Di bukanya mulut gadis itu dan segera dihembuskannya udara ke dalamnya.


"Apa yang kau lakukan..?" Prof. Daniel tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh pria penolong.


"Dia sedang melakukan pertolongan pertama professor,,," jelas dr. Farhan.


"Tapi...kenapa...kenapa harus.....," Prof. Daniel masih tidak setuju dengan metode yang digunakan oleh lelaki penolong itu. Baginya itu bukanlah perbuatan yang patut dilakukan terlebih pada gadis itu, gadis yang diam-diam dicintainya itu.


Gadis itupun akhirnya terbatuk-batuk sembari mengeluarkan beberapa air dari dalam mulutnya. Nafas gadis itu kembali lagi dan normal seperti sedia kala. Rasa sesak yang menghimpit dadanya kini sudah hilang. Perlahan demi perlahan diapun mulai tersadar. Melihat hal itu sang penolong pun segera meninggalkan gadis itu dan orang-orang yang ramai mengelilinginya.


Naura melihat sang lelaki yang menolongnya itu samar-samar. Tapi dia dapat mengenali orang itu meski hanya melihat punggungnya yang kini berjalan semakin menjauh darinya.


"Raka...."desahnya.


Naura segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian di bantu oleh Sifa. Sebelumnya dia sudah membungkukkan badan untuk meminta ma'af pada orang-orang yang memadati tempat itu. Dia berpikir bahwa karenanya acara penutupan jadi terhenti beberapa jam, meskipun sebenarnya bukan sepenuhnya dia yang bersalah tapi Naurea tetap meminta ma'af karena merasa tidak enak.


Digantinya pakaian yang basah dengan pakaian baru. Tapi tak sengaja tangannya menemukan sesuatu tergantung di lehernya.


"Kalung ini....Jangan-jangan Raka.....," gumamnya. Kemudian dia segera menyelesaikan menyisir rambutnya dan bergegas keluar dari kamarnya.


"Loh, kamu sudah selesai Ra....," tanya Sifa. Yang ditanya malah tidak menjawab dan hanya mengangguk saja.


"Aku pergi dulu Fa....," ucapnya dengan tetap meninggalkan Sifa yang masih terbengong di depan pintu.


*****