Against Blessing

Against Blessing
Part 9



"Assalamualaikum". Ucap Abinaf


"Mas Abi,,, mas Abi lagi apa?". Tanya Aldera melalui sambungan telpon


"Ini mas Abi lagi dijalan sayang, Ada apa Al". Balas Abinaf yang berada disebarang telpon


"Loh, kok dijalan. Bukannya kita baru aja pulang gedate ya, emang mas Abi mau kemana sih. Udah malam loh ini". Sahut Aldera yang mengkhawatirkan Abinaf


"Ini mau jalan ke rumah tante dewi, kata tante dewi beliau mau minta tolong. Tapi mas Abi kurang tahu sih minta tolong apa". Jawab Abinaf menjelaskan.


"Yaudah deh, mas Abi hati-hati ya dijalan". Ucap Aldera merasa khawatir


"Iya sayang, mas Abi matiin dulu yaa, mas Abi mau fokus nyetir dulu". Pamit Abinaf


"Iya mas, Assalamualaikum, kabar-kabar ya mas". Ujar Aldera


"Iya sayang pasti, Waalaikumsalam"..


Sebenarnya Aldera tidak yakin kalo Abinaf kerumah tante dewi itu hanya bertemu dengan tante dewi saja. Dan Aldera yakin pasti ini adalah rencana Bella karena Bella tahu bahwa Dia dan Abinaf baru saja pulang dari ngedate. Aldera berharap apa yang ada dipikirannya saat ini salah, Aldera juga berharap bahwa tante dewi menyuruhnya datang kerumahnya itu memang bena-benar ada sesuatu yang penting dan urgent.


"Hallo Naaa". Sapa Aldera kepada seseorang disebrang telponnya sembari hatinya gelisah


"Iya der. Kamu kenapa?". Tanyanya


"Naaa,, mas Abi baru saja pulang ngedate bareng aku. Dan tiba-tiba sekarang mas Abinaf langsung jalan menuju rumah Bella, kata dia, tante dewi yang memintanya kesana. Tapi aku yakin banget itu bukan tante dewi yang memintanya, ini pasti akal-akalannya Bella aja. Aku yakin Naa". Ucap Aldera sesegukan karena air mata dan hatinya yang sudah ditahannya sudah tidak terbendung lagi.


"Tenang Der, tenang dulu. Kamu berhenti dulu nangisnya. Kalau kamu seperti ini, kamu bakal kelihatan lemah Der,. Paham kata aku kan". Ucap Nana disebrang telpon yang menenangkan


"Aku kerumahmu sekarang ya, tunggu disana jangan kemana-mana dulu. Aku matiin telponnya. Assalamualaikum". Pamit Nana dari sebrang jalan.


"Waalaikumsalam..". Air mata Aldera sudah benar-benar membasahinya.


Yang bisa dilakukan Aldera saat ini hanya bisa menunggu kabar Abinaf dan pasrah. Sebenarnya Dia tidak akan sekhawatir ini dan gak akan senangis ini jika perempuan yang bernama Bella tidak pernah berucap


"Mas Abinaf cuma milik gua, dan Mas Abinaf hanya cinta dan sayang sama gua. Kamu itu cuma wanita yang dikasihani oleh mas Abinaf karena kisah hidup mu yang malang jadi gk usah berharap lebih. Dan satu hal lagi, kalian gak akan bisa bersama sampe detik ini kalau bukan bantuan dari aku dan keluargaku PAHAM!. Berhenti deketin mas Abinaf atau Aku akan laporin hubungan terlarang kalian ke keluarga besar kalian. Ngerti!!!".


Dia tidak mau apa yang dikatakan Bella waktu itu benar-benar akan terjadi. Dan itu yang membuat Aldera terlihat sepayah ini. Aldera selalu mangalah karena Aldera masih tetap mau bersama Abinaf dan begitupun sebaliknya. Namun Abinaf tidak bisa melihat kejelekan Bella karena memang Bella selalu tulus membantu Abinaf.


"Derr. Gimana". Nana datang dan terus memeluknya".


"Gak tau Naaa". Aldera menangis sejadi-jadinya dipelukan sahabatnya itu


"Derr.. Cup-cup sudah ya. Nanti kita cari jalan keluarnya bareng-bareng". Terang Nana menenangkan dan coba memikirkan cara supaya Aldera tenang


"Gimana kalau kita kerumah tante Dewi sekarang. Kita bilang aja, kalau kita kesana hanya mampir, karena kebetulan kita tadi melewati jalan perumahannya". Sambung Nana memberi tahu idenya.


"Nanti kalau tante Dewi nyadar bahwa semua ini cuma akal-akalan kita aja gimana Naa". Ujar Aldera merasa tidak yakin dengan ide Nana


"Kamu gak sendiri Der kesananya, kamu bareng Aku dan Robbi". Jawab Nana


"Sudah yaa sekarang bersiap-siaplah dan jangan nampakkan muka sedihmu. Cepat sekarang bersiap-siaplah sana". Sambung Nana


Sepanjang perjalanan Aldera hanya diam. Dia hanya takut kalau yang dilakukannya ini akan terlihat berlebihan dimata Abinaf.


"Der, kamu baik-baik aja kan?". Tanya Nana yang mengkhawatirkannya.


"Iya Na i'am oke kok". Jawab Aldera singkat


Robbi mengajak mereka membelah malam yang sebenarnya ramai dengan lalu-lalang namun menjadi sepi dan hening seketika karena kebisuan dari pikiran Aldera yang sedang menyelimuti mereka bertiga disepanjang perjalanan.


....


"Der, kita udah sampai, ayok turun". Ajak Nana


"Iya". Singakat Aldera


"kamu mau..". Tak sempat meneruskan ucapannya, Nana dikagetkan dengan sikap Aldera yang berjalan lebih dulu tanpa mengajak mereka


Nana dan Robbi yang tertinggal tidak terlalu jauh dari Aldera tiba-tiba terhenti seketika karena tubuhnya yang tidak sengaja menabrak punggung Aldera yang berhenti tepat didepan Nana.


"Mas Abiii!!". Teriak Aldera yang melihat Abinaf dan Bella berpelukan.


Abinaf yang tersadar oleh panggilan dari suara yang tidak asing lagi baginya, membuatnya tersentak dan kaget. Mencoba mengejar perempuan pemilik suara itu.


"Al..al mas Abi bisa jelasin Al. Dengerin penjelasan mas Abi dulu". Serka Abinaf yang kebingungan dan takut.


Abinaf mencoba menahan Aldera yang saat itu marah besar kepadanya agar tidak pergi. Namun tetap saja semua itu gagal dilakukan Abinaf, karena Aldera sudah lebih dulu pergi meninggalkannya dan menuju kemobil Robbi saat itu.


"Na, tolong Na. Ini gak seperti yang kalian liat. Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Bella, aku cuma lagi nenangin Bella aja Na. Kamu ngerti kan". Jelas Abinaf


"Pelukan bukan solusi mas Abi, harusnya mas Abi bisa ngerti hal itu. Nana kecewa sama mas Abi". Ujar Nana sembari meninggalkan Abinaf.


"Robbi. Please kamu paham kan posisiku gimana sekarang. Ijinin aku ngobrol dengan Aldera sebentar saja Robb". Pinta Abinaf kepada Robbi sahabatnya.


"Oke, aku bantu sebisaku ya". Ucap Robbi.


Robbi paham betul siapa Abinaf. Karena memang mereka sudah menjadi teman akrab sejak kecil. Hanya saja sekarang Robbi sudah menjadi tunangan dari teman kekasih Abinaf dan itu juga yang menjadikan pertemanan mereka semakin erat. Maka dari itu Robbi percaya, Abinaf dan Aldera hanya butuh bicara saat ini.


"Mas Robbi Ayook". Ajak Nana didalam mobil sembari berteriak menandakan ketidak sukaannya terhadap Abinaf.


"Iya-iya". Ucap Robbi


"Aku masuk dulu. Akan ku bicarakan sama mereka sebentar agar tidak menambah salah paham antara kita. Oke, kamu tunggu sini dulu". Ucap Robbi kepada Abinaf. Abinaf hanya mengangguk menandakan bahwa dia setuju dengan ide Robbi.


"Al. kalian berdua itu butuh bicara sekarang. Masalah tidak akan pernah selesai jika diantara kalian tidak ada yang mau mengalah. Biar Abi menjelaskan dulu maksudnya. Setelah itu kamu bisa menyalahkannya. Setiap orang punya alasan Al, dan kamu harus tau alasannya. Terlepas dari dia berbohong atau tidak. Karena kunci hubungan itu harus saling bicara dari hati ke hati". Nasehat Robbi


"Tapi kan mas Robbi, itu tadi sudah menjelaskan semuanya apa lagi yang mau diperjelas. Pasti mas Abinaf akan mengelak kelakuan buruknya itu". Serkah Nana penuh amarah.


"Nana! Bukan hak mu ikut campur sama masalah orang lain. Tugas mu menenangkan, jika kamu menobatkan dirimu sebagai teman yang baik buat temanmu seharusnya kamu harus bersikap adil dan tidak memihak. Mas Robbi mau kamu paham akan hal itu. Mengerti". Tegas Robbi kepada Nana yang saat itu sudah terlewat batas.


"Al, aku dan Nana akan masuk rumah tante Dewi karena gak enak, kita sudah sampai sini tapi kita tidak jadi berkunjung. Aku dan Nana akan beri waktu kalian berdua bicara, selesaikan apa yg perlu kalian selesaikan". Sambung Robbi dengan bijak kepada Aldera yang saat itu masih menangis sesegukan ditempat duduk belakang


"Yuk Nak". Ajak Robbi


"Sudah masuk gih, beri dia pemahaman sejelas-jelasnya agar masalah kalian lekas kelar. Jangan apa-apain Alder, mengerti!". Ucap Robbi kepada Abinaf.


"oke makasih Robb". Abinaf bergegas membuka pintu mobil yang sejajar dengan Aldera.


"Sayang, aku bisa jelasin Al, Bella lagi broken heart dan tante dewi minta aku temenin dia. Ku kira Aku hanya sekedar menemaninya tetapi aku salah. Bella tiba-tiba saja memeluk ku lalu kamu dan Nana datang melihat kejadian ini". Ucap Abinaf menjelaskan dengan pelan.


"Huhu,hiks..hiks.. Mas abi gak salah, Bela yang salah. Dan harusnya mas Abi peka kalo sebenarnya Bella itu menyukai mas Abi". Tangis Aldera pecah disaat itu juga.


Aldera benar memang bukan salah Abinaf tapi salah perempuan itu. Namun Aldera tidak sanggup memberi tahu Abinaf mengenai kebusukan Bella, karena Aldera tahu bahwa Abinaf tidak akan percaya begitu saja terhadapnya. Aldera memutuskan membungkam semuanya dan luluh kepada Abinaf.


Abinaf memberi Aldera pelukan dan akhirnya Aldera nangis didada laki-laki yang dicintainya ini


"Sayang, mas Abi ngerti kamu cemburu. Tapi Pecayalah cantik, kamu satu-satu perempuan yang aku inginkan dan aku harapkan. Aldera paham akan hal itu kan". Ucap Abinaf sembari mengelus ujung kepala Aldera saat itu.


"Tapi sebenernya bukan hal itu juga yang membuat aku selemah ini Mas Abii". Ucap Alder. " berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang mulai agak melemah


"Tapi ada hal lain juga". Sambungnya.


"Apa Sayang, coba katakan ke mas Abi". Tanya Abinaf dengan lembut, karena wanita yang sedang bersamanya didalam mobil ini sudah mulai melunak.


"Mas Abi gak akan ngerti,". Ucap Aldera sembari memukul dada Abinaf menggunakan tangan kananya


"Oke, oke mas Abi minta maaf ya". Ucap Abinaf sembari meraih tangan Aldera yang digunakan untuk memukulinya yang sebenarnya tidak begitu sakit.


"Mas Abi janji ya, mas Abi harus bisa jaga sikap ke Bella". Rengek Aldera.


"Iya sayang, udah dong nangisnya. Nanti cantiknya luntur lagi". Rayu Abinaf kepada Perempuan yang dicintainya itu.


"Iya". Jawab Aldera sembari membersihkan air mata yang membasahi pipinya.


"Aku malu buat ketemu Tante dewi". Sambung Aldera.


...Bersambung ...