
Back to reality
"Woooiii Aaaaal". Teriak Nana mengagetkan Aldera
"Astaghfirulloh... Apaan sih Naa bawel banget sih, kaget nih". Jawab Aldera kesal karena kaget dengan teriakan Nana
"Ya lu sih, dipanggilin dari tadi diem aja. Lagi ngelamunin apaan sih neeng". Ledek Nana
"Ih, kepo.. ". Jawab Aldera kesal.
"Yee gajelas lu". Ledek Nana sembari melempar mukena kearah Aldera
"Tuh, sholat gih, aku udah". Sambung Nana
"Tadi, tiba-tiba saja aku ngelamunin kejadian dulu saat mas Abi deket banget sama Bella, kamu masih inget gak". Ucap Aldera pelan sembari berjalan menghampiri sahabatnya itu
"yang mana sih, cowokmu tu deket sama perempuan gatal itu udah lama banget. Mana mau aku ingat-ingat". Kesal Nana bila mengingat-ngingat kejadian yang pernah dialami oleh sahabatnya itu
"Ih, yang ituloh, yang awal-awal dulu kita semua kejebak nginap dirumah Bella. Inget gak". Jelas Aldera sembari memberikan
"Iya iya aku ingat, memang apa yang ngebuat lu keinget lagi kejadian itu". Tanya Nana heran
"Gak ada sih, cuma tadi tbtb ngelamunin hal itu aja, dan rasanya sekarang aku merasa bete lagi". Jelas Aldera
"Ah udah lah. Lagi sampai sekarang si Abinaf itu belum juga percayai kamu kan. Lebih baik lu lupain tu bocah sembelum kamu yang didepak sama dia. Lebih sakit lagi Al, percaya deh". Jelas Nana yang kesal
"Lu ih, kalau ngomong ati-ati deh Na, takut gua". Jawab Aldera menakut-nakuti Nana
"Gila lu ya, orang gua yang mau nakutin lu, malah kamu yang balik nankutin aku. Aneh lu". Balas Nana kesal
"Hahahaha.. Udah ah aku mau sholat dulu". Jelas Aldera sembari tertawa lepas karena merasa menang sudah membuat sahabatnya itu merasa takut.
"Huu dasar lu ya".
...
"Na, Al.. Kalian sudah selesai belum sholatnya. Ayo keluar kita makan malam dulu". Ajak tante Ninda sedikit teriak
"Iya Tan bentar lagi nunggu Aldera". Sahut Nana dari dalam kamar Aldera
"Yaudah yuk Al, udah kan sholatnya?". Ajak Nana
"Udah, hayuk keluar". Jawab Aldera
"Hmmmm. Bau masakan tante Ninda memang best deh, dari Bau masakannya aja udah enak apa lagi rasanya, waaaahh pasti mantap banget nih". Serkah Nana yang datang ditempat meja
"Haha.. Nana bisa aja ngerayunya. Yasudah nunggu apa lagi, sok ambil tu piringnya". Kata tante Ninda sembari menyodorkan nasi kepada Nana
Ada Nana, Aldera, Faris dan tante Ninda dimeja makan. Suasana hangat yang mereka ciptakan begitu terasa disana. Mereka sembari menghabiskan makanan masing-masing juga kadang saling lempar cerita dan pertanyaan seputar kegiatan dari masing-masing orang yang berada dimeja makan itu. Dan tak ketinggalan juga mereka menyalakan televisi yang berada di ruang tv keluarga untuk meramaikan suasana dimeja makan.
"Eh cing, tau kabar Mas Abinaf gak". Celetuk Faris ditengah-tengah perbincangan mereka dimeja makan yang ia peruntukkan ke pada Aldera
"Engga, kenapa emangnya". Jawab Aldera gugup karena merasa ditembak pertanyaan yang sulit oleh Faris
"Mmm, engga,,, lagi ada event game ML dan aku butuh personil tambahan tapi WA ku belum juga dibales sama mas Abinaf. Aku mau mengajaknya". Jelas Faris
"Baru-baru aja sih, ha ha ha". Jawab Faris sembari ketawa terbahak-bahak karena merasa geli sendiri dengan jawabannya.
"Yaelah Risss. Kek cewek ditinggal pacarnya lama aja lu". Ejek Nana setelah tau jawaban Faris yang tidak sesuai dengan ekspektasinya
"Ha ha ha". Tawa Faris
Mereka melanjutkan makanan masing-masing. Dan yaa, seperti biasa Faris yang lebih dulu menyelesaikan makanannya.
"Langsung dicuci ya sayang". Ucap tante Ninda
"Iya Buu,,,". Jawab Faris singkat
"Pintar". Jawab Tante Ninda.
"Na, Al ayo nambah sayang". Tawar tante Ninda kepada mereka berdua
"Iya tan, Nana udah nambah tadikan. Hehe". Jawab Nana
"Hahaha, siapa tahu mau nambah lagi kan". Ucap tante Ninda hangat.
Nana dan Aldera melanjutkan makan dan menyelesaikannya sesegera mungkin. Agar bisa segera masuk kamar dan berbincang berdua secara intimate, layaknya pertemanan cewek-cewek diluaran sana mereka akan memghabiskan malam ini dengan cerita dari hati ke hati.
"Kamu masih nyimpen barang ini Al?". Tanya Nana setelah dia memgetahui barang pemberian dari Abinaf masih bertengger anteng dan menjadi hiasan dikamar Aldera
"Masih lah, aku aja masih sayang ke dia". Jawab Aldera singkat
"Gila emang lu mah". Serkah Nana kesal
"Aku gak bisa buat gak sayang sama dia, buat gak cinta dan ngelupain dia itu aku gak bisa, kamu ngertikan maksud aku Naa". Ucap Aldera greget dengan dirinya sendiri
"Ya Lu belajar dong dodol". Jawab Nana semabari menoyor pelan kepala Aldera
"Gua uda coba Na, hasilnya apa coba. Kan kamu tau aku udah gonta-ganti pasangan kebanyak laki-laki ujung-ujungnya apa,, balik lagi balik lagi". Jelas Aldera capek
"Ya gimana, orang kamu kalau setiap buka hati buat tu para cowok-cowok. Lu hanya nganggep mereka tamu dihati lu. Gak kayak si Kutukupret itu yang lu jadiin tuan rumah disini". Serkah Nana sembari nunjuk dada kiri Aldera karena kesal.
"Ya karena memang dia tuan rumahnya Na. Dan harusnya tu dia juga yang nutup dan menjual rumah itu. Agar aku bisa terima orang lain untuk tinggal dan menua disini". Ucap Aldera yang mulai menunjukkan kalau dirinya sidikit lagi akan menjatuhkan bulir air mata.
Terdengar jelas setiap kata yang Aldera ucapkan dengan gemetaran saat ia membicarakan Abinaf. Eksistensi itu yang hanya bisa mengekspresikan lebam hati yang tak kunjung sembuh. Ya di belum berani menunjukkan apapun dan kesiapapun perihal hati yang masih sakit.
"Maaf Al,, aku gk maksud buat kamu nangis kayak gini. Aku cuma mau kamu tau kenyataan yang sebenarnya tu kayak gimana. and this is the real truth". Jelas Nana sembari memeluk hangat tubuh Aldera yang sedang mendekap lutunya.
"Aku sayang dia Na, aku cinta.. Tapi aku juga gak bisa kalau gini terus. I am sick and I am also suffering. Aku maunya dia tapi dunia aku menolak dan melarang itu. Aku harus apa Naa". Jawab Aldera dan semakin memanas wajah didalam pelukan Nana.
Aldera tahu semua sedang tidak baik-baik saja. Dia juga tahu kalau semua kejadian ini hanya perlu adanya komunikasi antara dirinya dan Abinaf. Tapi, layaknya perempuan yang lain, dia sangat sulit untuk menerima Abinaf disaat yang seperti ini.
"Aku capek Na. Pengen tidur. Tidur yuk,,". Ajak Aldera setelah merasa dirinya sudah sedikit membaik
"Yaudah Ayok". Jawab Nana singkat mengiyakan. Karena Nana tahu yang saat ini diinginkan oleh Aldera hanya berdamai dengan dirinya sendiri sebelum besok pagi dia harus kembali menerima kenyataan hubungannya dengan laki-laki yang dicintainya.
...Bersambung ...