
"Naaa.. Udah nih aku mandinya, gantian gih". Teriak Aldera setelah keluar dari kamar mandi dan dia merasa bahwa dikamar tidak ada sosok yang dicarinya.
"Naa, lu dimana sih". Gumam Aldera.
Nana pun tidak menyahuti panggilan Aldera sehingga Aldera mutusin buat jalan menuju lemari besar miliknya untuk mengambil baju yang akan dikenakannya nanti. Namun belum sampai pada lemari pakaiannya, Aldera terdiam sejenak dan merasakan hawa dingin yang menerpanya. Dia syok melihat lemari baju miliknya terbuka dan bergerak-gerak. Dia mencoba untuk tetap tenang dan segera melihat apa yang ada didalam lemari tersebut.
Pelan-pelan sangat Aldera melangkahkan kakinya. Aldera menggerakkan kakinya perlahan hingga tak terdengar oleh siapapun termasuk dirinya.
"Astaghfirulloh... NaNaaa". Teriak Aldera kaget.
"Heheh.. ". Cengir Nana setelah Aldera tahu bahwa dirinya berada didalam lemari besar milik Aldera.
"Ngapain sih Na.. Ya Allah bikin jantungan aja lu mah. Ngapain sampe nginep didalem lemari kayak gini sih. Lu lagi nyari apaan hmm??". Serkah Aldera kesal dan habis pikir dengan tingkah laku temennya itu.
"Ya abis lu sih punya baju banyak banget. Kan aku musti pilih dan liatin satu-satu jadinya. Bingung tau mau pakai yang mana".
"Ya kan bisa nunggu di luar lemari bege. Gak musti didalem sana kan bisa. Ya Allah gusti...". Ucap Aldera dengan nafas yang perlahan mulai ditatanya.
"Lah kan kamu lagi mandi Alll". Jawab Nana
"Ya tapi kamu gak perlu juga masuk lemari dong bege. Ihh ngeselin banget nih anak ya. Ya sudah kamu mau baju yang kayak gimana, biar aku yang cariin". Ucap Aldera kesal.
"Yang sesuai dengan aku aja. Daaan warnanya senada. Jangan nabrak kayak style lu ya". Jelas Nana.
"Iya bawel. Gih mandi biar ku siapin bajunya. Jangan lama-lama lu. Awas aja yaa". Perintah Aldera.
"Siap 86". Ucap Nana sembari berjalan meninggalkan Aldera namun kali ini jalannya ia serupakan dengan gerakan baris-berbaris layaknya para tentara sedang berlatih.
"Yeeehh... Aneh". Ledek Aldera, sedangkan Nana yang tidak menghiraukannya.
...
"Ada di tempat ganti baju, udah aku gantungin di sana, coba cek". Serkah Aldera yang sedang berada di meja belajarnya sembari memainkan gawainya.
"Sudah, ada ternyata". Teriak Nana memberikan kepastian.
"Oke". Jawab Aldera.
Aldera dan Nana bergegas keluar kamar dikarenakan waktu audah menunjukkan pukul 10. Berniat berpamitan kepada orang yang ada dirumah. Langkah Nana berhenti seketika.
"Mmaa.. MAss Abi..". Ucap Nana kaget dan tidak menyanagka bahwa orang yang berada didepannya sekarang ini adalah laki-laki yang tidak diharapkan kemunculannya.
"Hai. Na..". Sapa Abinaf tenang.
"Ngapain lu disini". Serka Nana sarkas.
"Hah.. Santai dong". Ucap Abinaf menenangkan.
"Permisi mas, kita mau pergi...". Potong Aldera menyudahi percakapan antara Abinaf dan Nana.
Sebenarnya Aldera pun terkejut dengan kedatangan Abinaf yang tiba-tiba berada dihadapannya dan Nana. Namun di hati kecilnya dia merasakan rasa bahagia yang teramat sangat. Walau tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya, Dia sedang memendam rasa cemburu dan sakit hati atas perlakuannya dulu kepadanya. Lagi-lagi, Aldera memahami bahwa sebenarnya yang membuatnya bahagia yaitu cintanya yang begitu besar kepada Abinaf, namun luka yang ia idap selama ini tetap akan terasa meskipun cintanya dengan mudah membalut.
"Sudah ayo pergi". Ajak Aldera sembari menarik lengan Nana.
"Assalamualaikum Mas,". Sambung Aldera berpamitan kepada Abinaf.
...Bersambung ...