
"Permisi mbak, teh hangat satu dan es jeruknya satu. Sesuai pesanan ya. Apa ada lagi". Ucap pelayan perempuan sembari kembali melempar pertanyaan kepada mereka berdua.
"Oh, enggak mbak sudah cukup. Terimkasih ya mbak". Ucap Aldera ramah kepada pelayana tersebut.
"Baik mbak, selamat menikmati hidangannya". Pamit pelayan sembari melangkah pergi.
"Yaelah mbak, udah mau abis kali makanannya hahah". Celetuk Nana.
"Hahahha". Tawa Aldera pecah karena kerecehan yang dibuat oleh Nana.
Mereka menyelesaikan makanan mereka sembari berbincang ria.
"Alhamdulillah.. Wah gila baksonya enak sih ini. Recommend sih ini mah". Puji Aldera yang selesai dengan makanannya.
"Iya, enak bener ini mah. Kok kamu bisa tahu sih bakso seenak ini disini. Kamu jalan sama siapa woi ketempat ini". Serka Nana curiga
"Yeee.. Kunyuk. Aku aja baru tahu disini ada orang jualan bakso. Suudzon aja lu". Tutur Aldera gemas dengan sikap Nana yang sering curiga terhadapnya.
"Ya terus kenapa bisa pas banget kamu berhentinya di warung ini coba". Tanya Nana mengintrogasi.
"Kan ujan. Awalnya malah mau aku berhentiin dimaajid agung itu. Berhubung yang diajak ngobrol rusak telinganya, ya aku ampirin aja kesini. Eh tau-taunya beli baksonya deh". Sewot Aldera menjelaskan.
"Hahaha... Aelah der. Maaf-maaf, aku beneran gak denger kamu ngomong apa tadi. Eh lebih tepatnya, aku denger tapi gak terdengar jelas kamu ngomong apa haha". Ucap Aldera
"Ya Makanya itu, aku belokin kesini deh berteduhnya gak jadi kemasjid oneng". Jawab Aldera.
"Hahah iya iya, marah-marah mulu deh ibu negara yang satu ini". Rayu Nana.
"Ya elu, pembelaan mulu dari tadi sebel akunya". Serka Aldera
"Ihh. Kan Nana udah minta maaf. Ngambekan lu". Ucap Nana
"Hahahha". Tawa Aldera dan Nana
"Btw, disini aja deh lu jelasinnya. Sekalian nunggu hujannya reda". Sela Nana ditengah-tengah tawa mereka.
"Jelasin perihal apa?". Tanya Aldera
"Ya perihal, kenapa cowok lu,,, eh bukan suami lu bisa ada dirumah tanten Ninda hmm". Ucap Nana sembari mengambil kerupuk yang tersedia dimeja warung bakso.
"Oh, mas Abi.. Gini, kamu pernah nanya kan ke aku. Kenapa aku gak nikah sah secara negara aja, kenapa musti nikah sirih. Terus nanti kalau mas Abi ninggalin aku tiba-tiba gimana, dan apa lah segala macem". Putus Aldera
"Iya pernah, terus-terus". Ucap Nana
"Karena sebenarnya aku sama mas Abi itu sepupuan. Dan itu panjang penejelasnya. kalau kamu tanya sama aku, Mengenai kenapa sepupuan gak bisa nikah bla-bla.. Karena itu panjang dan berhubungan sama adat istiadat aku males nyeritainnya dan pasti kamu gak bakal langsung paham. Right".
"Mmm, gua paham.. Itu sebabnya kenapa dipernikahan siri lu, cuma ada bang juna sama istrinya aja yang jadi saksi dari pihak lu gitu".
"Yapp. Betul". Jawab Aldera lega
"Terus terus lanjut". Ucap Nana
"Ya gitu,, makanya mas Juna mutusin untuk nikahin sirih aku sama mas Abinaf supaya cara pacaran kita gak salah. Tapi semua keluarga besar tidak ada yang tahu. Dan hanya mas Juna sama mbak tasya yang tahu. Karena mas juna sama mbak tasya yang ngerti gimana susahnya ngeluluhin hati dari kedua keluarga besar ini. Ya gitu deh pokoknya". Berhenti sejenak ambil nafas untuk melanjutkan
"Untuk jelasnya mending tanya mas Juna sama mbak Tasya deh. Aku juga takut salah penjelasan ke kamu". Sambung Aldera
"Mmm. Iya iya paham. Bisa dibilang ngelawan restu gak sih hubungan mu sama mas Abinaf". Tanya Aldera
"Mmm, iya bisa dibilang seperti itu.. Nah sekarang ini kita lagi cari cela restu itu. Lagi cari cara ngerobohin tembok besar yang sedang menghadang hubungan kita dan tembok itu dibangun oleh satu adat yang sedang dipercaya oleh sekelompok masyarakat dikalangan Nenekku. Paham kan maksudku". Jelas Aldera
"Iya, iya ngerti. Maaf yaa der kalau tadi pagi aku sempet marah sama kamu, tanpa dengerin penjelasan dari kamu. Maaf banget". Tutur lembut Nana meminta maaf kepada Aldera.
"Iya gak papa, tapi lain kali kontrol yaa, bingung aku". Jawab Aldera
"Iya lain kali aku coba deh buat kontrol emosiku". Ucap Nana pasrah
"Hahaha. Ihh, santai aja deeeh. Udah udah. Yang penting sekarang kamu tahu kan apa yang sedabg terjadi sama hubungan ku dan mas Abinaf". Jelas Aldera
"Siap bu negara sekarang Nana Atmaja mengerti (sembari mengakat tanganya mendekat kepelipis mata ibarat prajurit memberi penghormata kepada komandannya)". Ucap Nana
"Hahahah. Agak jijik ya tsayyy hahah". Jawab Aldera sembari tertawa lepas
"hahahha". Tawa Nana pun memecah
"Eh udah terang belum yaa, jamber sih sekarang". tanya Nana.
"Jam 11.45 udah hampir duhuran. Kalau ujannya, sepertinya sudah terang. Mending cabut aja deh". Ucap Nana memberi saran
"Oke baik lah kalau memang seperti itu". Jawab Aldera
"Baku banget bahasmu. Haha". Serka Nana mengejek.
"Hahahah". Tawa Aldera
Mereka berjalan menuju kasir untuk membayar beberapa pesanan yang sudah mereka pesan tadi.
...Bersambung ...