Against Blessing

Against Blessing
Part 4



Pov Abinaf Fahri Ulum


"Kita ke mall yang lain aja". Ajak Abinaf kepada Bella sembari bergegas jalan meninggalkan Nana dan Robbi


"Tettapi kan..". Ucap Bella yang saat ini bingung dengan apa yang terjadi.


"Udah jalan aja". Ucap Abinaf yang nampak pucat dan melow.


Abinaf berjalan lebih dulu meninggalkan Bella. Didalam lift Abinaf hanya diam, mukanya nampak cemas dan seperti orang yang sangat bersalah. Bella yang melihat Abinaf berperilaku seperti itu dia enggan membuka percakapan, Bella takut sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.


"Bel, maaf ya atas kejadian tadi di sana". Ucap Abinaf membuka percakapan dan kecanggungan diantara mereka.


"Iya Mas Abi gapapa kok". Ujar Bella


"Kita lupain aja kejadian hari ini disini, anggap aja semua kejadian tadi tidak pernah terjadi". Ucap Abinaf sedikit memohon namu tatapannya tetap lurus ke depan pintu lift


"Iya mas". Jawab Bella.


Sepanjang perjalanan mereka habisin dengan saling diam, Bella dengan pikirannya sendiri dan Abinaf pun demikian. Bella sempat mencuri-curi pandang ke arah Abinaf, namun lagi-lagi ekspresi Abinaf membuat Bella ciut dan enggan untuk memulai percakapan. Bella juga melihat Abinaf nampak begitu serius melihat kejalanan, itu juga yang membuatnya mengurungkan niatnya dalam-dalam untuk mengajak Abinaf ngobrol.


"Alhamdulillah sampai..". Ucap Abinaf yang sedari tadi hanya diam saja.


"Alhamdulillah". Ucap Bella.


Mereka turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki mall.


Selang berapa menit mereka mengelilingi mall akhirnya Abinaf memutuskan untuk singgah di Caffe Starbuck yang berada didalam mall tersebut.


"Disini aja deh Bell". Ajak Abinaf


"Oke Mas boleh". Setuju Bella


Mereka memilih meja yang berada diluar ruangan (Aut door) karena menurut mereka di sana mereka bisa melihat secara langsung lalu-lalang kendaran dijalan raya.


"Silahkan mbak, mas mau pesen apa?". Tanya waiters


"Aku Ice Caffe Americano ditambah Vanilla Cream Frappuccino dan makannya Spicy Tuna Bread, dah itu aja". Ucap Abinaf membacakan pesanannya


"Nih, menunya. Pesan aja apa yang kamu mau". Sambung Abinaf sembari memberikan buku menu kepada Bella


"Oke. Mmm.. Aku pesen Iced Shaken Hibiscus Tea with Lemonade satu dan makanannya Red Velvet Roll Cake Satu. Terimakasih". Sembari tersenyum dan memberikan kembali menu yang tadi dilihatnya.


"Baik Kak, ditunggu ya pesanannya". Ujar Waiters


"Mas". Panggil Bella kepada Abinaf yang sedari tadi hanya main gawai saja sepeninggalan waiters.


"Iya. Ada apa Bell?". Tanya Abinaf kaget


"Main Hp mulu ihh, kan mas Abinaf gk sendirian kesininya". Rengek Bella


"Eh iya..". Ucap Abinaf merasa tak enak hati


"Mas Abinaf katanya mau cerita, ya udah mendingan mas Abinaf cerita aja daripada nyuekin Bella gini". Ucap Bella


"oh iya, jangan deh udah gak mood aku buat cerita". Jawab Abinaf malas-malasan


"Aelah mas, jauh-jauh kesini cuma makan aja dong ceritanya". Ucap Bella kesal


"Udah lah gapapa, kapan-kapan aja kan bisa". Jawab Abinaf menegaskan


"Iya deh, terserah Mas Abinaf aja". Jawab Bella mengalah


Mereka berbincang sembari menunggu pesanan yang mereka pesan datang. Sekitar kurang lebih 10 menit pesanan mereka pun akhirnya datang. Sesekali juga Abniaf bercanda untuk mencairkan suasana. FYI (For You're Infomation) sebenarnya Abinaf tahu kalo wanita yang sedang bersamanya ini menyukainya. Namun karena Abinaf hanya menganggapnya teman dan adik jadi Abinaf tidak memperdulikan kelakuan Bella yang suka tiba-tiba aneh menurutnya. Bahkan sering kali Bella berlagak seolah-olah Abinaf kekasihnya dan setiap kali Bella kepergok oleh Abinaf memperlakukannya seperti itu, dia selalu bersembunyi dibalik kata "Aku menjaga perasaan Aldera,". Padahal sendirinya lah yang menyakiti Aldera dengan sengaja.


...


"Berbincang dan dekat dengan mu seperti ini yang aku mau mas, memilikimu seutuhnya yang aku inginkan, dan dicintai kamu sedalam kamu mencintai Aldera yang aku Impikan. Coba mengerti dan pahami hal itu Mas Abinaf Fahri Ulum". Ucap batin Bella dalam hatinya, saat memperhatikan dengan dalam Abinfaf yang saat itu tertawa lepas.


Tanpa sengaja saat Bella memperhatikan jalanan, dia melihat Aldera dan sahabatnya yang sedang memperhatikannya dari sebrang jalan. Bella yang menyadari hal itu langsung mengajak Abinaf ngobrol untuk mengalihkan perhatian Abinaf. Karena Bella tidak mau waktunya dengan Abinaf diambil alih oleh Aldera, wanita yang dicintai oleh Abinaf.


"Emm,, Mas Abi kapan Balik ke Londonnya?". Tanya Bella mengecoh perhatian Abinaf.


Bella tidak mau Laki-laki yang ada didepannya saat ini mengejar Perempuan yang berada diseberang sana. Bella yakin pasti Abinaf lebih memilih mengejar Perempuan itu dan akan mengabaikannya. Bella tidak mau rasa sakit hati yang selama ini masih dirasakannya akan semakin terasa sakit olehnya. Dan Bella rela lakukan apapun demi mendapatkan Abinaf, sekalipun dia harus mengorbankan hidupnya. Rasa cinta dan ingin memiliki Abinaf yang membuat Bella menjadi wanita jahat. Yaa, jahat karena dia tidak mau Laki-laki didepannya ini jatuh ke tangan wanita lain.


"Kalo gak minggu ini ya minggu depan. Aku mau temui Aldera dulu. Mau pamit ke dia, mau kelarin masalah kesalah pahaman kita. Kasian dia, aku udah egois ke dia". Ucap Abinaf yang sedikit melankolis karena sembari mengingat kesalahan yang pernah diperbuatnya.


"Kenapa sih mas Abi ngotot banget mau ketemu Aldera, kan mas Abi tau sendiri gimana responnya dia ke mas Abi". Kesal Bella yang merasa cinta dan kehadirannya ga dianggap.


"Tapi aku yakin Bell kalo dia sebenarnya masih sayang, masih cinta ke aku. Aku tau banget dia itu gimana orangnya". Tegas Abinaf


"Tapi kan mas Abi tau, kalo hubungan kalian ini gak akan pernah dapet restu dari keluarga. Mas Abinaf paham itu kan". Jelas Bella kesal.


"Aku bakal perjuangin Bell, aku yakin ini cuma masalah waktu". Ujar Abinaf penuh yakin


"Terserah mas Abinaf aja deh. Suka ngeyel kalo dibilangin". Jawab Bella kesal


"Makasih ya Bell sudah mau dengerin curhatanku, karena sekarang harapan ku satu-satunya cuma kamu Bell. Aku yakin kamu pasti bisa yakinin dia". Ucap Abinaf penuh keyakinan.


"Iya mas Abi, Bella coba yaa". Ujar Bella kesal namun tidak ia tampakkan


Mereka melanjutkan makan sembari kembali dengan kesibukan masing-masing. Bella sibuk dengan hati dan pikirannya sedangkan Abinaf sibuk mencari cara untuk mengembalikan wanita yang dicintainya kembali dalam pelukannya. Masing-masing dari mereka mencoba menutupi hal tersebut dengan bermain gawainya.


"Bell, udah kan, pulang yuk". Ajak Abinaf sembari memastikan bahwa semuanya sudah selesai


"Eh, udah kok mas Abi. Ayok". Jawab Bella.


...


"Mas Abi makasih ya traktiran makannya". Ucap Bella yang masih duduk didalam mobil Abinaf.


"Iya Bell, santai aja". Ujar Abinaf


"Assalamualaikum mas Abi, dadaah". Pamit Bell dan hendak keluar dari mobil, namun mengurungkan niatnya itu dan menutup kembali pintu mobil yang sudah dibukakannya tadi


"waalaikum.. Ehh kenapa Bell". Tanya Abinaf yang bingung kenapa Bella tidak jadi keluar dan malah memandangnya dengan tatapan penuh harapan.


"Mas Abi, Bella boleh tidak salim ke mas Abi". Ucap Bella pelan.


"Apaa.. Gila kamu. Enggak lah". Serkah Abinaf.


"Denger ya Bella, telapak tangan ini hanya boleh aku sentuhkan ke wanita yang menjadi Istriku kelak, dan itu Aldera Sarale. Ha..ha..ha Kamu tau itu dong". Sambung Abinaf menegaskan.


"Ih tapi kan aku udah dianggap adik sama mas Abi dan juga Mamanya mas Abi". Rengek Bella sembari memelas.


"Udah deh Bell jangan aneh-aneh. Buruan turun keburu hujan loh, gk ada payung aku dimobil". Serka Abinaf yang mulai tidak nyamanan dengan sikap Bella. Dan Abinaf berbohong perihal payung. Dia cuma mau Bella segera turun dari dalam mobilnya saat ini.


"Iya mas Abi.. Pelit banget sih". Ucap Bella kesal dengan perlakuan Abinaf terhadapnya


"Daa Bell, Waalaikumsalam". Melambaikan tangannya dan bergegas menghidupkan mesin mobilnya kembali. Dan sesegera mungkin Abinaf harus meninggalkan rumah Bella.


"Bella kenapa jadi aneh gini sih, apa yang sebenarnya terjadi dengan dia. Apa iya yang dikatakan oleh Aldera selama ini itu benar, bahwa sebenarnya Bella menyukaiku dan dia berencana ingin memisahkan aku denga dirinya. Sedangkan kenyataan selama ini yang aku rasakan Bella dan keluarganya baik sama aku. Guh gusti sampai kapan ujian ini akan berakhir, aku sudah sangat merindukan Aldera". Kalimat yang keluar dari batin Abinaf.


Sepenjang perjalanan, Abinaf hanya merenung dan memikirkan kejadian demi kejadian setiap harinya. Dia sangat bingung karena dirundung dilema besar saat ini. Dia dihadapkan dengan pilihan, dia harus memilih "percaya sama Bella dan keluarganya atau Aldera kekasihnya sendiri".


...Bersambung...