Against Blessing

Against Blessing
Part 2



POV Abinaf Fahri Ulum


"Ma, Abi keluar dulu ya". Pamit Abinaf ke mamanya namun sedikit berteriak karena Abinaf tidak melihat sosok ibunya.


"Iya sayang hati-hati dijalan ya Nak". Sahut Mamanya yang ternyata ada di mini kebun belakang rumahnya.


"Assalamualaikum Maaa". Sembari berjalan kearah luar rumah dan telinga kanannya dia angkat untuk mendengarkan sahutan salam dari Mamanya.


"Waalaikumsalam Nak". Sahutnya.


Abinaf menyalakan mesin mobilnya dan mengeluarkannya dari garasi tempat mobilnya ia parkirkan.


"Terimakasih pak Joko". Ucapnya kepada pak Joko yang bertugas sebagai satpam dirumahnya.


"Sama-sama Mas". Ucapnya dan membalas senyum Abinaf dengan tulus


Abinaf menghidupkan musik melalui Mp4 yang memang sudah ada didalam mobilnya.


Alunan lagu-lagu miliknya menemaninya dalam perjalanan, alunan musik menjadi satu-satunya teman perjalanan yang asik baginya.


"Assalamualaikum Bel, sebentar lagi aku sampai depan rumah kamu nih. Aku mager mau masukin mobilnya, aku tunggu diluar aja ya". Ucap Abinaf kepada seseorang yang bernama Bella dari seberang telpon genggamnya.


"Waalaikumsalam Mas, iya boleh. Kalau begitu aku siap-siap dulu yaa. Aku tutup telponnya mas". Jawabnya wanita itu.


Abinaf memarkirkan mobilnya tepat didepan gerbang rumah Bella. Abinaf menunggu sembari memainkan gawainya dan mendengarkan musik yang ada sedari tadi belum ia matikan.


Tok..tok..tok..


Terdengar ketukan dari luar mobilnya yang ternyata itu adalah Bella, wanita yang sedang ia tunggu. Sontak Abinaf membuka jendela pintu mobilnya dan memberikan wanita itu senyuman tanda ia mendengarnya. Abinaf menyuruhnya masuk, namun ada raut tidak suka dari wajah Bella terhadap sikap Abinaf yang tidak pernah mau membukakan pintu mobil untuknya.


"Bissmillah..". Ucap Abinaf berdoa


Beberapa menit setelah perjalanan mereka lalui dengan diam dan sunyi. Bella memberanikan diri untuk mengawali keheningan ini.


"Mmm.. Mas Abi". Sapa Bella kepada Abinaf


"Iya Bell, kenapa?". Tanya Abinaf


"Kita jadi jalan kemana". Balasnya dan tersenyum manis kearah Abinaf Yang dilihatnya sedang fokus menghadap ke jalanan.


"Kita ke Transmart aja gimana? Kita cari makan di sana, aku sengaja gak makan tadi pas di rumah". Sahut Abinaf memberikan argumennya kepada Bella.


"Boleh deh.. Gimana kalo ke foodcurtnya, pasti seru". Pendapatnya


"Iya oke-oke". Sahut Abinaf tanpa menoleh ke arah Bella.


...


Mereka telah sampai ditempat yang mereka tuju. Seperti Biasa Abinaf akan berjalan selangkah lebih maju dari Bella dan itu akan membuat Bella semakin kesal dengannya.


"Kenapa Bell?. Diem aja dari tadi". Ucap Abinaf yang mulai merasakan perubahan sikap dari Bella.


"enggak, gak papa kok". Sahut Bella dengan kesal.


"yee, gak papa gimana. Orang dari tadi dilihatin sama aku bibirmu komat-kamit mulu. Lu gak lagi baca mantra yang aneh-aneh kan Bell ha..ha..ha..". Goda Abinaf mencairkan suasana hati Bella yang dia sendiri sebenarnya tidak tahu ada apa dengan Bella.


"Gak papa mas Abinaf. Bella tidak kenapa-napa". Sahutnya sembari senyum yang melihatkan barisan gigi rapih miliknya.


"Oh yasudah kalo begitu. Syukur deh". Timpal Abinaf dan tersenyum kearah Bella.


Sesampainya mereka pada tempat makan yang dimaksudkan. Abinaf dan Bella nampak kebingungan mencari tempat duduk dan meja yang kosong. Karena hari ini mall Transmart sedang dalam kondisi ramai dengan pengunjung yang beristirahat di foodcurt.


"Mas Abi, gimana nih ramai sekali foodcurtnya". Rengek Bella kepada Abinaf. Bela juga mencoba memanjangkan lehernya untuk melihat-lihat disekitarnya mungkinkah masih ada meja kosong untuknya dan Abinaf


"Iya ih, udah sampai sini pula kita". Kesal Abinaf yang tetap celingukan kesana kemari mencari meja kosong untuk ditempati.


"Apa kit..". Perkataan Bella terpotong oleh Abinaf yang tiba-tiba menarik tangan Bella reflek.


"Nah, itu ada tuh". Ucap Abinaf dengan bergegas jalan namun sedikit berlari dan menarik tangan Bella reflek.


Ternyata tanpa mereka sadari dari arah yang berlawanan ada seseorang yang mengincar meja kosong tersebut. Dan Abinaf tahu siapa yang menginginkan meja kosong ini.


"Gua duluan, minggir lu". Serka orang tersebut yang tak lain adalah sahabat dari wanita yang ia cintai selama ini dia adalah Nana Atmaja. Nana mendorong Abinaf hingga dia terdorong agak keras kebelakang oleh Nana, dia juga sedikit meninggikan suaranya menandakan ketidak nyamannya ada Aku dan Bella disini.


Tanpa pikir panjang, Abinaf memilih mengalah kepada Nana. Abinaf paham betul bagaimana karakter Nana sesungguhnya, ditambah sekarang dia sedang memendam amarah kepadanya karena suatu hal yang pernah dia perbuat kepada sahabatnya itu, dan Abinaf paham bahwa sekarang Nana pasti akan tambah membencinya dan akan membuatnya semakin sulit menemui Alderra yang sekarang entah dimana. Karena bagi Abinaf, Nana adalah satu-satunya kunci yang tau dimana keberadaan Alderra saat ini.


"Robb, duluan ya". Sapa Abinaf kepada Robbi sahabatnya itu. Abinaf sangat mengerti kenapa Robbi hanya tersenyum dan menganggukkan kepala tanda mengiyakannya. Pasti Robbi juga gak mau keadaan semakin memburuk dan akan menimbulkan kegaduhan antara Abinaf dan Nana. Robbi juga mungkin gak mau kalau saat ini dia menanggapi Abinaf membuat Nana beranggapan dirinya telah berpihak pada Abinaf.


...


"Udahan dong ngambeknya Naa". Rayu Robbi kepada Nana yang mendiamkan Robbi semenjak kepergian Abinaf.


"Jadi beli makan kan Na?". Tanya robbi melanjutkan.


"Kamu aja deh Robb, aku udah gak mood nih mau makan". Sahutnya dengan nada yang masih kesal


"lah gimana ceritanya sih Na. Kita kan kesini berdua, ya masak cuma aku yang beli makan". Rengek Robbi kepada Nana


"Ya gimana dong Robb. Masak kamu gk ngerti sih. Ihhh". Kesal Nana


"Yaudah enggak, terus sekarang enaknya kita ngapain sekarang ditempat ini". Tindas Robbi yang menuntut kejelasan kepada Nana yang sedari tadi merasa kesal.


"Pulang aja yuuk". Jawab Nana singkat


"Kok pulang sih, baru sampai loh kita Na". Ucap Robbi kesal.


"Aku udah gk mood Robb". Jawan Nana dengan nada sedikit tinggi karena kekesalannya kepada abinaf, sehingga membuatnya uring-uringan.


"Ya udah deh. Ayok pulang aja". Pasrah Robbi.


Nana yang tersadar akan perbuatannya dia mencoba melihat mata Robbi yang sekarang berdiri tepat dihadapannya.


"Robb.. Maafin aku ya". Pinta Nana


"Gak mau". Godanya


"Ihh Robb, jangan gitu dong". Rengek Nana dengan memasang wajah memelas.


"Haha.. Enggak-enggak. Bercanda kok Neng cantik he.. he.. he..". Robbi tertawa puas melihat Nana kesel.


"Iih kamu ya". Kesel Nana.


Nana mendekati Robbi karena ingin mencubitnya tapi sayang, Robbi sudah tau terlebih dulu niat Nana itu. Robbi berlari dari lebih dulu sebelum dia kena cubitan Nana. Alhasil mereka berlari-larian dan Nana kembali ceria, setidaknya dia melupakan kejadian yang baru terjadi untuk beberapa jam kedepan. Sepanjang perjalanan Nana dan Robbi ngobrol ngalur-ngidul dan kadang bercanda-canda sampe ketawa terbahak-bahak.


"Makasih ya Robb, mau mampir dulu gk?". Tawar Nana kepada Robbi


"Gak usah deh Na, aku langsung cabut aja. Lagian aku juga udah hampir mepet jam matkul ke 2". Jelas Robbi


"Oh gitu ya, oke deh. Hati-hati ya Robb". Ucap Nana


"Yaudah, Assalamualaikum". Pamit Robbi dengan melambaikan tangan dan menghidupkan mesin motornya".


"Iya, Waalaikumsalam". Nana pun demikian, melambaikan tangan ke Robbi.


...


"Assalamualaikum, Derr". Nana membuka pintu kamar dengan sangat pelan. Takut membangunkan Derra yang sedang beristirahat dikamarnya.


"Waalaikumsalam". Dengan nada berat karena tebangun mendengar orang datang dan masuk kamar.


"Gimana, udah enakan belum?". Tanya Nana sembari meletakkan barang-barang yang dia bawa dari luar.


"Udah kok". Jawab Derra sambil mendudukan tubuhnya.


"Sukur deh". Jawab Nana.


"Btw aku yang tidurnya kelamaan apa kamu sih yang datengnya kecepetan. Perasaan aku baru aja tidur deh hehe". Jelasnya.


Ekspresi Nana berubah menjadi kesal dan cemberut, seketika.


"Na, kenapa?". Tanya Aldera yang curiga akan perubahan raut wajah Nana.


"Enggak cuma lagi bete aja sama orang dijalan tadi". Ucap Nana berbohong.


"Oh kirain berantem sama Robi lu". Serkah Aldera


"Enggak kok". Ucap Nana


"Yaudah yuk bangun gih, siap-siap setelah ini kita ada matkul. Aku mau mandi duluan ya". Pamit Nana dan mengambil handuk yang tegantung pada gantungan handuk.


"Iyaa". Jawab Aldera dengan suara berat karena bangun dari tidurnya