
Waktunya sholat maghrib pun tiba. Aldera dan Nana segera mengambil wudu lalu bergegas merapatkan barisan dengan jamaah lain. Waktu sholat jamaah dilaksanakan.
"Assalamualaikumwaraohmatulloh, Assalamualaikumwaraohmatulloh". Ucap Imam dan diikuti oleh para jama'ah khususnya Aldera dan Nana.
Setelah kegiatan sholat berjamaah, imam dan makmum dimasjid tersebut melaksanakan dzikir bersama seperti yang biasa dilakukan.
"Alhamdulillah". Ucap Aldera sembari menepuk lengan Nana untuk mengajaknya bersalaman.
Nana dan Aldera berjalan kebelakang lebih dulu. Mereka mutusin buat lepas mukena ditempat mereka beristirahat.
"Kenapa hujannya makin lebat sih, mana dingin lagi..". Gerutu Aldera.
"Huuss, hujan itu rahmat Aldera, gak boleh ngeluh gitu ih". Serkah Nana menenangkan.
"Astaghfirulloh.. Hehe". Sembari tersenyum nyengir karena tindakannya yang tidak bisa ia benarkan.
"Sudah gih telpon mas Abinaf, kasih tau kalau kita udah selesai sholatnya". Ucap Nana.
"Kamu aja deh, gengsi gua". Pinta Aldera.
"Ha!. Gila yaa, udah sana , biar kalian baikan. Denger ya Der.. Kalau ada masalah itu diselesaiin buka malah dibiarin berlarut-larut. Entar yang ada malah makin salah-salahan. Inget yaa, kalian berdua itu udah bukan pasangan yang berstatus pacaran, tapi sudah SUAMI-ISTRI,, paham". Ujar Nana menjelaskan dan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Iyaaa, bawel.. Dan tambahin tu dipenengasanmu SUAMI-ISTRI SIRI". Ralat Aldera membenarkan.
"Diiih, tapi kan tetap aja kalian itu punya ikatan yang sah". Jelas Nana lagi.
"Iya iya Nana, cerewet banget sih neng". Balas Aldera merayu Nana.
"Yaudah gih telpon". Pinta Nana.
"Iya oke,". Jawab Aldera singkat sembari mencari nama Abinaf dikontak telpon genggamnya.
"Yaudah kamu telpon mas Abi, aku balikin dulu mukenanya biar sekali jalan. Oke bentar ya". Ucap Nana.
"Oke, oke". Singkat Aldera.
"Assalamualaikum mas Abi, Ini Aldera". Ucap Aldera.
"Ih, mas abi dimana. Ini Aldera sama nana udahan sholat maghribnya". Jelas Aldera.
"Mas Abi udah nyampe masjid kok, malah ikut jamaah juga. Ayok kalau memang kamu udahan". Jawab Abinaf.
"Hah,, kok mas Abi gak ngabarin kalau udah sampai. Kebiasaan deh mas Abi ini". Serkah Aldera merajuk.
"Ushhh, ngambek nih ceritanya hehe.. Beginu Pikir mas Abi, mending jalan langsung pas disuruh ibu nyusulin kamu kesini, biar bisa lamaan mandangin kamunya aku". Jelas Abinaf sembari menggoda.
"ihh dasar buaya,, yasudah tunggu". Putus Aldera sepihak.
Aldera merasa wajahnya mulai memanas karena rayuan abinaf, dia juga merasa pipinya memerah. Dia berusaha untuk menetralkan perasaan dan tingkahnya, karena dia takut nantinya Nana dan Abinaf bisa membaca sikap dan salah tingkahnya.
"Aiissshh All, inget lu sedang dalam mode ngambek karena mas Abi belum jelasin apapun dan belum jujur tentang dirinya yang sedang jalan dengan Bella, tahan Alderaa, tahaaaan". Ucapnya sembari mengipasi wajahnya agar menetralkan kembali sikapnya.
"Kenapa Lu, kesambet hemm?". Tanya Nana yang tiba-tiba datang dan kebingungan dengan perilaku Aldera.
"Engga, gak papa cuma lagi kegerahan aja". Jelas Aldera sembari kembali kipas-kipas.
"Whaaaat?. Sehat neng?.. Ini hujan dan ini dalam mode dingin banget loh. Wahh gak sehat nih anak". Ucap Nana yang makin bingung, sembari meletakan telapak tangannya ke kening Aldera.
"Iih, beneran kok". Jelas Aldera singkat karena takut ketahuan oleh Nana.
"Waahh bener-bener nih orang sakit". Serka Nana.
"Udah, udah ih.. Mas Abi udah nyampek. Cepet deh beres beres". Ajak Aldera untuk mengakhiri dramanya.
"Hah. Cepet banget.. Perasaan jarak masjid ini sama rumah berribu ribu kilometer deh. Dia ngebut apa gimana". Bingung Nana.
"Males mau jelasin lebar-lebar. Kamu nanya dia aja nanti". Ucap Aldera kesal.
"he'eleh sewot bener neng". Balas Nana.
"Hemmm". Balas Aldera singkat sembari membenarkan kembali kerudungnya.
...BERSAMBUNG ...