Against Blessing

Against Blessing
Part 1



Mungkinkah aku meminta


Kisah kita selamanya?


Tak terlintas dalam benakku


Bila hariku tanpamu


S'gala cara t'lah kucoba


Pertahankan cinta kita


S'lalu kutitipkan dalam doaku


Tapi ku tak mampu melawan restu


Ho-ho-wo-oh


Ho-oh-oh..


Melawan restu


Mahalini


"Derrr..." panggil Nana sedikit teriak karena memang posisi kita agak jauhan, dia depan pintu kelas dan aku sudah didalam kelas, lebih tepatnya sudah berada dibangku kita.


Aku menoleh dengan malas kearahnya dan melambaikan tanganku yang mengisyaratkan bahwa aku mendengar panggilannya.


"Gimana??" tanyanya setelah sampai dan mendudukkan tubuhnya di bangku sebelahku.


"Apaan yang gimana?"


"Hati.. (hehe)". Puasnya.


"Aneh lu.." jawabku. Pernyataan kata Hati yang diucapkan oleh Nana bukanya hanya satu kali tapi udah ke sekian kalinya, dan kali ini merupakan kata Hati yang ke 1075 kali diucapkannya untukku dipagi hari yang membosankan ini.


Selesai sudah matkul pertama ku dihari senin ini. Yaa, seperti yang kita tahu hari senin adalah hari yang paling tidak disukai oleh banyak orang termasuk aku Aldera Sarale. Aku dan Nana mutusin buat balik kekosanya dulu karena memang jam matkul kedua kita masih jauh jaraknya. Dan syukurnya Nana memilih kosan yang tidak jauh dari sekitaran kampus.


"Mau beli lauk pakai nasinya apa lauknya aja nih".


"Terserah aja aku mah, ngikut".


"Ihh ke cewek alay lu. Ditanya apa jawabnya apa". Serangnya.


Aku diam namun tersenyum jail kepadanya dan tetap terus berjalan sambil dengerin musik melalui earphone yang terpasang santai ditelingaku. Btw, aku mau kenalin dulu tentang sahabatku yang bernama Nana ke kalian. Nana Atmaja begitulah nama lengkapnya. Kita berteman dan menjadi 2 anak yang bersahabat sejak kita berada disekolah menengah pertama sampai kita sama-sama kuliah dikampus ini sekarang. Dan yaa, itu menjadi salah satu alasan kenapa kita bisa seakrab ini dan bisa sedekat ini. Hampir seluruh jalan cerita kehidupan ku dia tahu dan begitupun aku kedia.


...


"Bu, belii". Panggilnya sedikit berteriak.


"Eh neng Nana, beli apa Nduk cah ayu?". Sahutnya dengan logat jawanya.


"eheh (senyum).. Mau lauk Ayam rica-ricanya 2 ya bu".


"Ayam rica-rica aja Nduk, gk pakai nasinya tah?". Tanyanya.


"Iya Bu, ayamnya aja". Balasnya.


"Oh nggih cah Ayu".


Kita menunggu tidak begitu lama karena memang warungnya tidak begitu ramai pembeli.


"Yuk..". Ajak Nana dengan menepuk bahuku.


"Eh, udah?". Tanyaku yang sedang asik skroll IG.


"Udah, nih". Tunjuknya.


Aku berdiri lalu berjalan dengan mengekor dibelakang Nana. Aku berjalan cepat agar mensejajari langkah Nana.


"Cepet bener Neng jalannya". Godaku sambil mencolek dagunya".


"Ihhh. Geli tau". Jawabnya sambil mengusap dagunya bekas colekanku.


"ha..ha.. Ya abis jalan gk nungguin aku sih lu" serkahku.


"Lah suruh siapa kamu jalannya lambat yee".


"Iya deh iya. Maaf ya Nana cantik". Goda ku lagi. Namu kali ini dengan berlari kecil menjauhinya.


"Iiii deraaaa, awas lu ya. Bener-bener deh nih anak". Sebelnya dan mengejarku.


...


"Eh Na, mau nanya deh". Suaraku memecahkan keheningan diantara kita.


"Hmmm, Apaan?". Tanyanya.


"Kira-kira kalo menurut Mu, sekarang Abi gimana ya kabarnya ?".


"Mati kali". Sergahnya dengan nada sinis.


"Ih kok mati sih. Trs hatiku gimana dong".Rengekku bercanda ke dia.


Namun kali ini respon Nana berbeda. Dia memilih diam tidak merespon tanggapanku dan terus berjalan tanpa menoleh kearahku. Sesampainya kita didepan kamar Nana memintaku untuk membukakan kamarnya karena ada yang perlu diambil didapur umum kosnya.


"Tolong buka pintunya dong der. Kuncinya ada dirak sepatu tu". Serkahnya memberiku petunjuk mengenai kunci kamarnya.


"Oke, bawa air dingin buat minum ya der sekalian. Gerah nih". Jawabku.


"Oke-oke". Singkatnya menyetujui ku.


Ku dudukan pantatku didekat ranjang tempat tidur Nana, membuka hijab yang menutupi kepalaku lalu kembali ku memainkan gawaiku dan mendengarkan musik yang tersedia dilaman youtube, namun kali ini aku tidak lagi menggunakan earphone untuk mendengarkan musiknya tetapi kusambungkan pada Mp3. Melawan restu yang dipolerkan oleh Mahalini. Lagu itu lagi yang aku putar dan ku dengarkan diruangan ini.


"S'gala cara tlah ku coba, pertahankan cinta kita..". Sahut Nana mengikuti alunan lagu yang ku dengar.


"hahaha..". Ku tertawa melihat Nana yang menjadikan sendok dan garbu manjadi mic.


"haha. Sampai hafal tau aku lagu ini". Serkahnya sedikit mengomel karena memang sesering itu dia mendengarkan ku memutar lagu ini berulang-ulang kali.


"eheh.. Udah yukk makan aja. Bosen aku denger kamu marah-marah mulu". Omelku.


"he'eleh...". Tangkisnya.


...


"Der, coba liat grub WA deh". Mengagetkanku.


"hmm.. Ada apa? Bacain aja ada info apa digrubnya, mager nih mau ambil hp, kejauhan kan". Jawabku.


"Kenapa katanya". Tanyaku.


"Beliau ada raker dengan rektor katanya (senyum yang menandakan ke-excited-nya mendengar kabar tersebut), berati matkul kita tinggal satu aja dong,".


"mmm. Iya. Nanti jam 15.50.an". Jawabku membenarkan.


"Kemana ya enaknya". Sambung dia.


"Kemana gimana nih maksudnya". Tanyaku penuh curiga.


"Ke mall yuk". Ajaknya.


"Ih ngk ah, males bgt aku. Mager tau Naa,, bentar lagi juga palingan hujannya bakalan turun, buktinya mendung tuh diluar. Enggak ah males-males". Serkahku.


"Ihh derra ih... Yaudah kalo gitu aku jalan aja sama Robi, kamu sendirian disini sama kenyakinanmu tentang Abinaf Mu itu". Serangnya. Kalimat Nana yang menunjukkan kekesalannya itu membuatku kembali memikirkan Abinaf yang aku sendiri pu tidak tahu sekarang dia ada dimana.


"Naa,, kok kamu gitu". Sedihku. Nana menghampiriku dan memelukku.


"Maaf derr, tapi apa kamu gak capek gini terus". Ucapnya sambil mengelus-elus ujung kepalaku dengan nada yang direndahkan.


"Gak tau Na,". Jawabku sambil ku tundukkan kepalaku dilipatan tangan yang kujadikan tumpuannya.


"Yaudah, kamu tidur aja disini. Tenangin pikiranmu. Me-time dengan dirimu sendiri. Dan tanya ke hatimu, apa dia masih sanggup bertahan untuk Abinaf atau tidak." ...


"Kalaupun memang masih sanggup, ku harap hati mu tidak lelah dengan kenyataan ini". Sambungnya.


Setiap kata yang diucapkan Nana sangat tergambar jelas diotakku, bahwa dia begitu mengkhawatirkanku.


"Abinaf Fahri Ulum, kamu dimana sih" teriak batiku dalam isakan tangis yang sekarangkan membuat suasana menjadi sunyi diantara Aku dan Nana.


"Udah ih, jangan nangis". Sambung Nana yang sadar akan suara tangisanku.


Drrrt.. Drrrt.. Drrrt..


Efek gentaran dari gawai Nana terdengar, yang menandakan ada panggilan masuk.


"Robi der". Ucap Nana menginfokan. Aku mengangguk meresponnya.


"hallo Robb" sapanya dari sebrang gawai miliknya.


"Aku udah dibawa Na". Ucap robi.


"Iya, Bentar ya, aku siap² dulu". Kata Nana merespon.


"oke". Akhir perbincangan mereka.


Sembari bersiap-siap tidak lupa Nana menghampiriku untuk memastikan keadaanku.


"Der, bangun yuk. Pindah keatas kasur aja yuk biar kamu bisa langsung tidur". Ajaknya


Aku menurutinya dan langsung bergegas memindahkan tubuh ku diatas tempat tidur milik Nana.


"Aku jalan dulu ya, robbi udah dateng". Pamitnya sambil mengelus-elus lenganku. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala tanda mengiyakan.


"yaudah, Assalamu'aikum der". Salamnya dan terus berjalan meninggalkanku.


"Waalaikumsalam". Jawabku dengan lirih yang mungkin hampir tak didengarnya.


.


.


Pov Nana Atmaja


Setelah pamit dan ucap salam ke Derra, Nana menutup pintu dengan pelan dan kembali melihat punggung Derra yang tidak ada respon apapun dari anak itu.


"Hai". Sapa nana ke Robbi yang saat itu sedang menunggunya diluar gerbang kosan.


"Hai,, gimana?". Sembari menyerahkan helm yang dibawanya untuk Nana.


"Ya gitu deh, Aku suruh tdr aja dia". Jawab Nana dengan ekspresi yang tidak semangat menjawab pertanyaan dari Robbi pacarnya.


"Yaudah jangan bahas dulu, jadi kemana mall mana kita?". Sambung robbi.


"Terserah deh robb. Aku ngikut aja". Serkah Nana tak bersemangat".


"Yee, dasar cewek". Kesal robbi.


"ihhh, yaudah sih biii,". Saut Nana yang sedikit kesal dengan respon robbi.


"Ya lagian, mana ada sih nama Mall terserah di daerah Malang ini,". Jawab robii.


"iiihh..". Respon Nana kesal dan mencebit perut robii.


"ha..ha.. Iya-iya maaf". Ampun robbi yang merasa geli karena Nana mencubit perutnya.


Robbi membatu Nana memakaikan helm yang dibawanya.


Menyusuri jalanan yang cukup lama, akhirnya sampailah mereka dimall trasmart.


"foodcurt yuk". Nana memulai percakapn yang sedaritadi hanya bunyi motor yang menemani perjalanan mereka.


"Hayuk deh". Jawab robbi.


Robbi memakirkan motornya dan tidak lupa pula membantu Nana melepaskan helm yang masih bertengger dikapala Nana.


"yuk..". Ajak Robbi sembari menggandeng tangan Nana.


Mereka berjalan menunju lift yang disedikan oleh mall untuk pengunjung yang akan memasuki mall, tanpa harus berjalan keluar parkiran melewati pintu utama masuknya mall. Sesampainya ditempat yang mereka tuju, Mereka melihat dan mengamati sekitar foodcurt mencari tempat kosong yang bisa mereka tempati. Nana dan Robbi sedikit mendongakan kepalanya karena memang foodcurt pada saat ini begitu ramai didatangi oleh pengunjung, mengingat pada saat ini Waktu menunjukkan jam istirahat untuk para pekerja.


"Ramai sekali pemirsa". Celetuk Robbi mengkuti gaya host-host ditelevisi.


"Iya nih". Sahut Nana mengiyakan pernyataan robbi.


"Naaaahhh, itu dia". Ucap Robbi sambil berjalan cepet dan sedikit menarik tangan Nana yang mengisyaratkan bahwa mereka harus cepat-cepat kemeja kosong yang ditemukan Robbi.


Namun tanpa disadari ternyata meja kosong ini juga menjadi meja incaran orang lain. Dan orang lain disini adalah Abinaf. Iya, Abinaf Fahri Ulum orang yang udah bikin sahabat gua menderita karena cintanya yang konyol itu.


"Gua duluan, minggir lu". Serkah Nana dengan mendorong Abinaf hingga dia terdorong agak keras kebelakang oleh Nana dan Nana juga sedikit meninggikan suaranya menandakan ketidak nyamanannya dengan keberadaan Abinaf. Saat ini Abinaf tidak sendiri melainkan dengan wanita lain yang tidak dikenalnya. Dan Nana pun menyakini bahwa Derra juga tidak mengenalnya.


Abinaf yang saat ini tau bahwa Nana sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, dengan berat hati ia memutuskan untuk mengiyakan ucapan Nana agar semua kembali menjadi baik dan tidak menimbulkan keributan ditemapt umum ini.


"Oke Na". Merespon Nana yang saat itu tidak mau menatapnya sama sekali.


"Robb, duluan yaa". Sapanya ke Robbi. Robbi hanya membalas dengan senyum tulusnya, karena Robbi tahu bahwa sekarang keadaan Nana sedang tidak baik-baik saja dan dia tidak mau semakin memperkeruh keadaan dengan tidak merespon Abinaf lebih.


...Bersambung ...