Against Blessing

Against Blessing
Part 24



"Mana Der mas Abi,". Tanya Nana dengan memanjangkan lehernya untuk mencari Abinaf


"Bentar aku telpon deh". Jawab Aldera


Belum sempat menelpon Abinaf, tiba-tiba ada orang yang menegurnya dari arah belakanh mereka.


"Assalamualaikum sayang". Sapa Abinaf kepada Aldera.


"Waalikumsalam". Jawab Aldera dan Nana berbarengan.


"Loh ada mas Robi juga to aaa.." Teriak Nana karena kaget Ada Robi


"Gak usah teriak teriak Na, gak sopan tau". Serka Aldera malu


"ya Allah maaf maaf kelepasan Al, saking senengnya". Jawab Nana


Nana yang senang melihat ada Robbi juga yang ikut menjemputnya, namun berbeda dengan Aldera semakin bingung dan gak tahu musti bersikap bagaimana dengan kekasihnya itu. Semakin cepat langkah Abinaf menuju kedirinya, semakin cepat pula degub jantung Aldera saat ini.


"Der.. Woii". Nana membangungkan Aldera dari lamunannya


"Hah. Mmm ada apa Na?". Tanya Aldera kaget


"Ada apa gimana sih, disapa mas Abi tu, ngelamun bae nih bocah. Ati-ati kesambet lu". Cerca Nana ke heranan dengan sikap Aldera


"Eh, iya Iya maaf". Jawab Aldera gelagapan


"Hehe. Yasudah yuukk". Ajak Abinaf


"Yuk..". Ucap Nana. Namun terhenti karena Aldera mencegah langkahnya


"Emm, terus sepedanya gimana mas? Masa mau ditinggal disini.. Emang boleh gitu". Ucap Aldera


"Tenang aku sudah hubungin montir langgananku untuk mengambilnya. Tapi pertanyaannya sekarang. Itu mobil mau dibawa pulang ngegunain pick up dengan cara digotong naik keatas pick up nya atau kamu mau kasih ke aku kuncinya. Biar mereka yang bawain pulang". Jelas Abinaf


"Waahh ide bagus tuh". Setuju Nana dengan pendapat Abinaf


"Mmm enggak, enggak.. Nanti sepeda Aldera kalau ilang gimana? Hmm!". Serka Aldera mencari-cari kesalahan


"Lah, terus gimana dong. Oh oke gini saja. Kamu aku bonceng naik sepeda mu dan mobilnya biar dibawa Robi sama Nana aja. Gimana aman kan". Jawab Abinaf memberi solusi


"Hah (Mengaga). Gak begitu juga laaah.. Terus sepedanya Nana gimana. Lu lupa Na??". Ucap Aldera gelapan


"Oh iya, gimana dong". Ingat Nana


"Ya makanya sayang, kita berempat satu mobil saja. Biar sepeda kalian berdua dianterin montir. Kalau gitu kan enak to. Kita nyampe rumah gak ada yang perlu hujan-hujanan. Gak ada yang perlu siapa yang bawain kendaraan siapa". Jelas Abinaf sudah mulai gemas dengan perubahan sikap Aldera kepadanya


"Aku sih setuju dengan mas Abi. Lagian kalau pun maksain buat naik sepeda, nanti yang ada tante ninda curiga loh sama hubungan kalian berdua. Emang mau?". Serka Nana mengingatkan


"Enggak laahh". Ucap Aldera spontan dan hal ith membuat Abinaf semakin berbunga.


"Ya maka nya sayang hayuk deh. Keburu malam ini. Nanti yang ada sampau ikut isya'an juga kita disini". Ajak Abinaf sembari senyum yang menampakkan deratan giginya yang rapih dan menambah kesan kegantengannya.


"Iya iya, bawel ih..". Kesal Aldera karena dia gak sanggup melihat senyum Abinaf, dan rindunya yang numpuk namun rasa cemburu pun ikut serta dalam kekacauan pikirannya saat ini.


Abinaf menggandeng tangan Aldera dengan lembut. Sangat terlihat sekali perlakuan suaminya itu yang menjadikannya ratu. Melindungunya dari rintikan air hujan. Membukakan pitu mobil sampai melindungi kepala Aldera agar tidak terbentur.


"Makasih Mas". Ucap Aldera tanpa sadar


"Sama-sama sayang". Jawab Abinaf


...


"Ih gak usah deh mas, nanti malah kemaleman. Yang ada ibu makin curiga loh sama kita ih. Nanti dicariin sama ibu". Ucap Aldera kesal.


"Sayang, ini itu pesanan ibu, justru mas abi makin gak enak kalau gak dibeliin. Paham kan". Jelas Abinaf


"Oh". Singkat Aldera tersipu malu


"Gini aja deh, Rob, tolong kamu yang pesenin duluan ya, aku mau ngobrol sama Aldera, dia ngambek mulu. Mau tau alasannya aku". Pinta Abinaf kepad Robi


"Ih, siapa sih yang ngambek, orang enggak kok. Dasar aneh". Gerutu Aldera


"Kalau aku sih udah tau mas dia kenapa. Dan aku setuju sih kalau mas Abi punya niatan seperti itu. Karena kalau engga, ngamuknya lama ni orang". Ucap Nana mengerti


"Na, apaan sih lu ih. Yaudah aku ikut turun". Ambek Aldera sembari membuka pintu, namun ditahan oleh Abinaf dari pusat kontrol kunci dari pintu supir


"Yasudah selesaiin deh, udah halal juga kan kalian. Yuk sayang turu". Ucap Robi sembari mengajak Nana.


Nana dan Robbi berhasil turu dan langsung menuju ke dalam kedai yang jualan martabak. Disini ramai sekalai yang membeli jadi mereka berdua harus menunggu giliran dan mengantri. Tempat jual martakbak disini terkenal enak, makanya gak heran setiap harinya pasti mengantri jika mau membelinya. Berbagai macam menu mereka jual. Mulai dari martabak manis, martabak asin sampai ke roti bakar. Begitu dengan isiannya mereka menyediakan berbagai rasa.


"Mas Abi, bukain dong aku mau ikut masuk kedalam". Serka Aldera


"Iya sayang, bentar dulu. Kita musti obrolin dulu apa yang membuatmu sengambek ini sama mas Abi". Tanya Abi


"Gak ada mas, mas Abinya sendiri tu OVT berlebih ke aku. Padahal mah aku biasa aja". Jelas Aldera menutupi


"Please sayang, cerita ke mas abi apa salahnya mas abi. Mas abi kangen mas Aldera. Percaya deh sama mas abi, pasti kamu gak akan mau disuruh pergi ke apart buat ngebahas salahnya mas abi. Ayo sayang udahan dong. Mas abi kangen gandeng tangan Aldera". Jelas Abinaf sembari memegang tangan aldera dan mengelusnya pelan. Agar Aldera tenang dan mau bercerita.


Seketika tangis Aldera pecah dan Abinaf berusaha menenangkan dengan memeluknya.


"Cup-cup sayanh, maafin mas abi". Ucap Abinaf menenangkan.


"Mas Abi bisa gk sih kalau mau jalan sama Bela tu ngomong sama Aldera. Kenapa mas abi selalu bohong kalau mau jalan sama Bela. Iya kalau Aldera gak tau, tapi ini selalu tau dan mas abi ngulangin lagi. Aldera capek ngingetin terus". Jelas Aldera sembari tetep menangis didada Abinaf.


"Suuuttss.. Iya maaf sayang ya. Mas Abi gak ulangin lagi. Oke. Maafin mas Abi ya". Ucap Abinaf.


"Gak mau. Pokoknya aku marah sama mas Abi". Balas Aldera. Namun Abinaf tersenyum karena Abinaf paham betul bahwa jika Kekasihnya sudah menjawabnya seperti itu, tandanya akan selesai.


"Iya boleh sayang, nangis dulu gih". Ucap Abinaf menenangkan sembari mencium puncak kepala Aldera.


Hampir 10 menitan Aldera menangis dalam pelukan Abinaf.


"Mas Abi, Aldera malu". Ucap Aldera sesegukan karena nafasnya dan sudah mulai membaik.


"Malu kenapa sayang". Jawab Abinaf sembari mengelus kepala Aldera.


"Ini mata Aldera gimana dong". Ucap Aldera sembari melepaskan pelukannya dengan Abinaf dan memberi tahu matanya yang bengka karena selesai nangis.


"Kenapa matanya, matanya bagus kok cantik kayak orangnya". Jawab Abinaf sembari tanganya mengelus pipi Aldera.


"Ihh, bukan gituu.. Ini matanya Aldera bengkak mas Abi. Jadi jelek Alderanya". Serka Aldera sebal.


"Hehehe iya sayang, tapi mas Abi gak bohong kamu itu tetep cantik dalam kondisi gimanapun.


"Ihh,, udah ih". Jawab Aldera karena makin malu dirinya dipuji terus sama suaminya itu


" I LOVE YOU Aldera. Tetep sabar sama mas Abi ya sayang". Ucap Abinaf dan mencium kening Aldera.


"Heeem". Jawab Aldera singkat sembari menganggukkan kepalanya.


...Bersambung ...