Against Blessing

Against Blessing
Part 3



...


Aldera dan Nana berjalan menyusuri jalan setapak menuju kampus. Selama perjalanan, mereka habiskan dengan bergurau. Ada aja bahan yang mereka bicarakan dan menjadi bahan tertawaan mereka.


"Eh Der, beli baju kembaran yuk". Ajak Nana sembari tersenyum menggoda Aldera.


"Ih, apaan sih Na. Gk mau ah geli Aku. Kamu aja tu sama Robbi". Ucap Aldera


"Iiih Bagus tau Der, nih yaa kalo kita pakai apapun yang serba samaan pasti nanti kita bakal jadi pusat perhatian temen-temen kita dikampus, dan kita akan menjadi Duta Best Friend terbaik dikampus. Hahaha..". Kata Nana menirukan gaya orang yang sedang berorasi.


"Haha.. Khayal lu tinggi Na.. Yok bangun yok". Kata Aldera memberinya jokes yang membangun.


"Hahahah".. Balasnya. Mereka tertawa sampai tidak menyadari bahwa sedikit lagi mereka akan sampai dikampus.


"Na nyebrang disini aja". Ajak Aldera


"Iya". Setuju Nana.


Belum sempat mereka melangkahkan kaki untuk menyebarangi jalan raya yang padat dengan lalu-lalangnya kendaraan. Nana terhenti karena dia merasa kalau Aldera lah yang sedang menahanya.


"Kenpa Der?". Tanya Nana kebingungan.


Nampak dengan jelas bagaimana raut wajah Alderra saat ini, dan itu membuatnya timbul rasa khawatir terhadap Aldera. Nana mencoba melihat kerarah sebrang jalan yang sedang dilihat oleh sahabatnya itu. Disitu Nana tahu apa yang membuat sahabatnya menjadi mematung dan tak berdaya seperti ini. Yapps.. Aldera melihat Abinaf lelaki yang ditunggunya sedang asik berbincang dan ketawa-ketiwi dengan wanita lain. Nana tahu betul bagaimana perasaan Aldera saat ini.


" Kamu tunggu sini, biar aku yang kasih pelajaran tu cowok brengsek". Ucap Nana kesal terdengar marah dan nafasnya yang tak beraturan.


"Gak perlu Na". Cegah Aldera saat Nana sedang akan melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan.


"Kenapa?, kamu takut". Cerca Nana yang terdengar tak terima dengan keputusan Aldera yang saat ini mencegahnya.


"Percuma, Kamu gk bakal ngerti". Dengan menahan air matanya yang mungkin sedikit lagi akan membasahi pipinya.


"Tapi ini udah keterlaluan Der, Mas Abinaf musti dikasih pelajaran. Biar dia gk terus-terusan sakit lo. Ngertikan maksudku". Serkah Nana yang ingin dimengerti oleh Aldera.


"Gak perlu Na. Mending sekarang kita masuk kampus aja. Kita ke kelas aja". Ucap Aldera sembari menghapus air mata yang hampir membasahi pipinya.


"Tapi Al..". Sambung Nana. Namun tak sempat meneruskan ucapannya Aldera lebih dulu menarik tangan Nana dan mengajaknya untuk menyebarang.


...


Sepanjang penyampaian materi oleh Dosen pengampuh, Alderra hanya diam dan sesekali memijat pelipis matanya dan kadang menidurkan kepalanya dibangku. Nana yang melihat Aldera merasa kasihan, Nana juga sesekali menawarinya untuk pergi ke toilet untuk sekedar cuci muka biar mendingan. Namun lagi-lagi tawaran itu ditolak oleh Aldera.


"Baiklah teman-teman, cukup sekian pertemuan kita kali ini. Jika ada penyampaian materi yang Bapak sampaikan kurang dimengerti, kalian bisa cari Bapak diruangan Bapak atau bisa juga e-mail atau kita bisa bahas ini lagi di WA grub. Baik selamat sore, dan sampai bertemu diminggu depan. Dan satu lagi pengumpulan makalahnya Bapak tunggu dimeja ruangan saya yaa. Terimaksasih Wassalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh". Ucap Dosen pengampuh, tanda kelas untuk pertemuan kali ini sudah selesai.


"Baik pak, Waalaikumsalam warrohmatullohi wabarokatuh". Jawaban serentak mahasiswa diruangan itu.


Nana dengan berjalan cepat menghampiri meja Aldera untuk memastikan bahwa keadaanya masih dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Der, are you oke". Tanya Nana dengan nada khawatirnya.


"Im oke kok,.. btw lu udan ucap istighfar belum, tadi kan lu udah ngomong kasar Na". Ucap Aldera yang terdengar mulai membaik.


"Kapan sih Der, kok aku lupa ya". Serkah Nana yang kebingungan dengan pernyataan Aldera.


"Yaa elu.. Giliran dosa sendiri gk inget, tapi kalau dosa orang lu inget. Waaah payah lu". Jawab Aldera sedikit mengejeknya


"Astaghfirulloh aku inget aku inget. Yang tadi ngatain Mas Abinaf brengsek itu kan". Serkahnya mulai mengingat kejadian yang terjadi dijalan raya.


"Iyaaa. Yaudah yuk pulang". Ajak Aldera. Nana pun mengekor dibelakang dan berusaha mensejajari Aldera.


"Kamu mau nginep dikosan ku lagi gk?". Tanya Nana memastikan.


"Kamu aja nginep dirumah ku yuk. Lagian kan besok jum'at kita gak ada matkul apa-apa kan?". Ajak Aldera


"Mmm, boleh deh. Aku juga udah kangen banget sama tante ninda. Tapi kekosan dulu yaa, mau cek-cek disana dulu biar enak pas ditinggalin". Pinta Nana


"Iya oke". Setuju Nana


...


Derra melempar kunci motor matic miliknya ke Nana.


"Yah Der, kok aku sih yang nyetir". Rengek Nana menuntut


"Iya Nana Atmaja yang cantik nan jelita baik hati dan tidak sombong ahahaha... ". Merayu sembari tertawa menandakan kemenangan


"Ih dasar lu yaa". Serka Nana tak terima karena dia tau itu bukan pujian baginya.


"Assalamu'alaikum Buu". Ucap salam Aldera dan sedikit berteriak karena mencari penghuni rumahnya.


"Waalaikumsalam". Jawab bang Zul.


"Loh.. bang Zul ada dirumah to. Ibu mana bang". Serkah Aldera sembari menyalimi Abang Zul


"Lagi keluar bentar ke warung. Kamu sama siapa?". Ucap bang Zul


"Oh itu, sama Nana. Tapi dia lagi markirin motor". Kata Aldera singkat.


"Ohh. Yaudah aku masuk kamar dulu ya. Kal...". Ucap bang Zul, namu perkataannya terputus saat melihat kemunculan Nana dari balik pintu.


"Eh bang Zul". Sapa Nana sembari menyalimi bang Zul.


"Iya Na". Ucap bang Zul


"Tadi abang mau ngomong apa ya. Ahh lupa lagi..". Sambung bang Zul sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena tapi karena kesal.


"Ya tua ah..ha..ha". Ejek Aldera


"Ya abis kepotong Nana sih yang tiba-tiba muncul dari balik pintu". Elak bang Zul membela dirinya sendiri.


"Ha..ha..ha". Mereka tertawa bareng-bareng.


"yaudah-yaudah. Abang ke masuk kamar dulu ya". Sambung bang Zul pamit.


"Iya bang..". Jawab Nana.


Aldera mengajak Nana menuju kamarnya. Nana pun nurut dan berjalan mengekor dibelakang Aldera.


"Masuk Na". Ajak Aldera setelah mereka sampai dikamar Aldera.


"Tumben rapih bener kamar lu". Ucap Nana memuji.


"Ibu paling yang rapihin, soalnya tadi pagi pas aku tinggal kekampus dalam keadaan berantakan nih kamar". Ucap Aldera enteng.


"Ih bener-bener lu yaa, durhaka lu sama orang tua der". Ucap Nana gemas.


"Ya lu tau kan, aku gk bisa bangun pagi-pagi banget. Apalagi kalo setelah selesai sholat subuh aku milih untuk tidur lagi hmm". Jelas Aldera kepada Nana.


"Ya tetep aja gak boleh Aldera Sarale. Badel nih kalau dibilangin". Serkah Nana yang semakin gemas dengan tingkah laku sahabatnya ini.


"Iya Naaaa didengerin". Ucap Aldera mengalah.


"Assalamualaikum". Suara Ibu yang terdengar dari luar.


"eh Ibu udah dateng tuh".


"Waalaikumsalam". Jawab mereka barengan


Nana dan Aldera segera berlari keluar kamar untuk menemui tante Aldera.


"Tante nindaaaa". Teriak Nana sembari memeluk tante Aldera.


Tante Ninda bukan Ibu kandung dari Aldera. Tante Ninda adalah kakak kandung dari Mama Aldera. Aldera menganggap tante Ninda sudah seperti ibunya sendiri. Tante Ninda yang meneruskan perjuangan Mama Aldera dan menjadikan Aldera seperti anaknya sendiri. Tantenya lah yang sudah merawatnya dari 10 tahun yang lalu. Yappss.. Aldera adalah anak yatim-piatu, semua orang tuanya meninggal. Mama meninggal waktu dia masih kecil banget sedangkan Papanya meninggal saat dia duduk dibangku SMP kelas 3. Jadi ya begitulah sepenggal profile Aldera si cewek ceria dan manis..


"Eeehhh Nana, sejak kapan kalian datang?". Tanya Tante Ninda sembari membalas pelukan hangat dari Nana


"Baru kok tante. Tante Ninda darimana aja sih?". Tanya Nana


"Ini belu telur dan mie buat kita makan malam nanti. Karena tadi ada yang bilang kalau dia sedang mengajak tamu spesial datang kerumah". Ujar tante Ninda dengan menyindir Aldera yang sedang duduk disofa dan menghadap televisi


"Haha dasar emang tu anak". Ucap Nana sembari ketawa.


"Lah kan benar sih Bu yang datang orang spesial?". Celetuk Aldera yang mendengar sindiran itu dari tantenya.


"Hahaha.. Iya iya Nana memang tamu spesial kita". Ucap tante Ninda


"Iihh Ibuuuu". Rengek Aldera


"Yaudah kalian lanjut, Ibu ke kamar dulu.. Eh kalian jangan lupa sholat asar ya". Ujar tante ninda sembari mengingatkan.


"Iyaaa". Jawab mereka berdua barengan..


...Bersambung ...