
Nana ikut merebahkan tubuhnya namun tetap dengan bermain gawai sembari dicas.
20 menit berlalu, cuaca tiba-tiba berganti mendung pekat yang menandakan tidak lama lagi sepertinya akan turun hujan.
"Al..". Membangunkan Aldera pelan sembari menepuk pelan bahu Aldera.
"hmm. Iyaa..". Sahut Aldera
"Kayaknya mau hujan deh, pulang aja apa nunggu terang dulu". Tanya Nana.
"Haa. Emang iya Na". Tanya balik Aldera sembari bangun dan duduk untuk melihat langit guna memastikan
"Noh, liat sendiri aja". Jawab Nana
"Eh iya looh. Gimana dong... Menurutmu gimana enaknya". Sembari membenarkan posisi duduknya dan membernarkan kerudung yang tidak rapih lagi.
"Menurutku sih mending disini dulu aja sampai terang. Nanti kalau jalan percuma juga pasti kehujanan". Jawan Nana
"Iya juga sih,, sambil maghriban disini aja deh ya sekalian". Usul Aldera
"Naah,, boleh tuh. Biar sekalian baterei gawai ku penuh juga.. Hehe". Cengirnya
"Yaudah aku kabarin ibu dulu, takutnya nyariin". Jawab Aldera
"he'em..". Singkat Nana
Nana kembali ke posisinya, dan akhirnya hujan yang menjadi digunakan pun turun dengan deras tanpa merintikan airnya lebih dulu.
"Halo Bu, Assalamu'alaikum". Ucap Nana membuka percakapan melalui telepon genggam
"Iya halo sayang, waalaikumsalam. Kamu dimana Al, kok belum pulang sih. Udah mau maghrib loh ini". Ujar tante Ninda langsung ke intinya.
"Ini lagi ada di masjid jami'. Rencananya mau pulang, tapi malah mendung terus sekarang malah turun hujan deras banget. Jadi pikirku sekalian aja aku sama Nana sholat maghrib disini, sembari nunggu hujannya turun". Jelas Aldera.
"Bawa kok Bu. Kalau pun selesai sholat maghrib belum reda juga hujannya, nanti Aldera akan terobos aja pakai jas hujan". Tutur Alder
"Iya sayang, mmmmm.. Atau Ibu suruh Abinaf aja kali ya yang jemput kamu. Biar kamu gak nyetir sambil hujan-hujanan. Ibu khawatir nih". Ujar Tante Ninda yang sebenarnya itu membuat Aldera merasa tidak enak dengannya
"Ah,oh. Mmmmm ndak usah lah Bu, kasian mas Abi kan. Pasti beliau capek abis pulang kerja. Udah lah gak papa, biar aku sama Nana aja nyetir pakai sepeda, lagian sepedanya di gimanain coba". Elak Aldera dengan tenang takut terbaca sikapnya oleh tante Ninda
"Ih, mas Abi seharian di rumah kok gak kemana-mana. Lagian di rumah ada mas Faris sama bang Zul juga udah ih. Ibu gak mau kamu naik motor berduaan aja sama Nana anak gadis kok. Tunggu ibu akan bilang dulu ke mas Abi. Assalamualaikum". Ucap tante Ninda sembari mematikan telponnya sepihak.
"Yaah, bu bu bu.. Waalaikumsalam deh". Jawabnya lemas.
Karena kejadian itu Aldera memeluk lututnya untuk menambah kekuatan
"fiuuhhh". Menghela nafas di sela pikirannya yang kacau.
"Haa.. Kenapa Der". Tanya Nana kebingungan dengan sikap Aldera yang tiba-tiba berubah.
"Tante Ninda marah-marah. Apa gimana sih. Lu ngomong dong oneng. Jangan bikin gua khawatir dodol. Ihhhh". Kesel Nana
"Enggak ibu gak marah. Ibu malah nyuruh mas Abinaf buat jemput kita disini. Karena ibu gak mau kita cewek-cewek buat nyetir motor sendiri".
"Oalah, ya bagus dong berarti". Ucap Nana
"Dodol banget nih anak, kan aku lagi ngambek sama dia. Lu lupa apa yang sudah dia lakukan dibelakang aku, tanpa sepengetahuan ku. Hmmm... JALAN SAMA BELA". Ucap Aldera penuh penekanan.
"Eh bener juga ya.. Yasudah diemin aja kalau gitu nanti di dalem mobilnya". Jelas Nana
"huuuuftttt...". Balas Aldera hanya dengan menghela nafas panjang.
"Yasudah lah. Liat nanti aja". Jelas Nana sembari kembali merebahkan tubuhnya.
BERSAMBUNG