Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 9



Pikiran Aesira tidak bisa jauh dari kejadian demi kejadian yang menimpa dirinya. Ia mencoba mencari jawaban dari setiap persoalan janggal tersebut namun, tak menemui titik temu. Gadis itu rapat menutup mulut tapi, pikirannya bergejolak hebat.


Rui yang merasa tidak nyaman dengan suasana hening, dan lihat Aesira yang tidak berperilaku biasanya menarik tangan Aesira saat dengan ceroboh hendak menyeberang tanpa melihat lampu lalu lintas yang masih berwarna merah.


“Apa yang sedang kau pikirkan?!” bentak Rui.


Dengan kaku bergetar usai berhasil selamat dari serempetan mobil yang melaju, Aesira menjawab,”Ma-maaf.”


Seusai mengucapkan kalimat selamat tinggal pada Rui, Aesira mengeratkan jaketnya. Ia sempat tersentak kaget karena listrik di seluruh area perumahan tersebut padam. Diambilnya ponsel dan menyalakan mode senter. Ia membuka pintu, menaruh sepatunya di sebelah pot bunga.


“Ibu aku pulang!” seru Aesira yang menggema hingga lantai dua.


Bruk!


Aesira mengira itu suara ibunya yang berada di dapur. Cahaya dari ponselnya cukup membantu untuknya berjalan ke arah sana.


“Ibu sedang apa? Apa senter rumah hilang lagi?”


Hening. Tidak ada jawaban.


“Ibu tidak perlu repot memasak. Aku tadi di traktir teman dan masih kenyang,” ucap Aesira sembari melangkah pelan.


Saat ia mengarahkan senter ponselnya sedikit keatas. Seorang laki-laki mengarahkan sebuah pistol ke bawah membuatnya tertegun. Apalagi, pistol tersebut tepat mengarah ke ibunya yang terduduk tak berdaya di lantai dengan menahan ketakutan.


“I-ibu?” ucap Aesira dengan bibir bergetar. Matanya berlinang, ponsel di tangannya jatuh begitu saja.


“Lari, Ae! Lari!!!” teriak Ibu namun, ia malah diberondong dengan peluru yang melesat ke kepalanya.


Napas Aesira tercekat, dengan segera ia mengambil ponselnya dan lari kalang kabut dari rumah.


Ia berteriak minta tolong tapi, tidak ada yang keluar membantunya. Ia terus berlari menghindari orang tak dikenal yang sudah biadab membunuh ibunya. Dengan membawa tangis, ia menjauh dari perumahan. Kakinya sudah terluka karena tak beralaskan apa-apa. Tapi, ia harus tetap hidup, ia harus terus berlari seperti apa yang ibunya perintahkan. Hidup untuk melihat dengan jelas dalang pembunuhan ibunya dan memberikan hukuman yang adil.


Kepala Aesira menoleh ke belakang dengan cepat. Orang itu menghilang dari sana. Ia mengatur napas perlahan untuk mengumpulkan energinya yang terkuras habis.


Bayangan seseorang di jalan yang diterangi cahaya rembulan membuat Aesira menegakkan tubuh. Dari kejauhan, orang bertopi hitam itu mendekat. Dengan cepat ia berbalik dan melarikan diri. Namun, detik ini ia kalah. Satu timah panah menembus punggungnya, tubuh gadis berseragam SMA itu terhuyung ke depan. Di sisa-sisa kesadarannya, ia melihat pembunuh itu mengatakan sesuatu yang samar-samar menghilang seiring matanya tertutup.


...----------------...


Duduk di kursi roda, Aesira menangis sedu di depan foto ibunya yang berhias bunga dan lilin. Gadis itu koma selama dua minggu dan harus merasakan kegetiran seusai bangun. Ia, harus kehilangan satu-satunya sayap pelindung yang ia punyai di dunia. Sekarang, ia yatim piatu. Aesira merasa hidupnya sudah tak berarti, ia seperti tak mampu melanjutkan hidupnya selanjutnya. Semua seakan pahit.


“Kabar perampokan di rumahmu sudah di publikasikan. Laki-laki itu akan mendapat hukumannya di penjara,” tukas Rui. Ia mendorong Aesira ke balkon rumah.


“Aku tidak baik-baik saja. Bisa biarkan aku di sini?”


Seorang diri di tengah suara lonceng angin yang mengalun serempak. Gadis itu, berusaha menjernihkan pikiran positifnya. Ia menyerap semua semangat yang harus ia hidupkan kembali. Ibunya tentu akan bersedih di atas sana jika ia berputus asa. Bukankah ia sudah berjanji akan lulus dengan nilai terbaik.


“Bagaimana jika nanti ibu sudah tidak da di sampingmu? Kau harus bisa menguasai semua hal agar kau bisa menjalani hidupmu dengan mudah. Maka dari itu, belajarlah mulai dari sekarang.”


“Ini tidak mudah ibu, urusan bisnis dan rumah tangga sangatlah rumit jika dilakukan secara bersamaan. Apa aku bisa, jika nanti harus meneruskan toko kue kita dan menjadi ibu seperti ibu?”


Sophia mengelus rambut putrinya.


“Bisa! Kamu pasti bisa, karena kamu anak ibu.”


Punggung tangan Aesira mengusap air di sudut matanya.


“Ya! Karena aku anak ibu, jadi aku harus bisa melewati ini semua! Aku harus belajar banyak hal, terutama belajar mengikhlaskan.”


...----------------...


Libur semester, Aesira belajar membuat semua kue yang dijajakan di toko. Ia memahami betul-betul resep peninggalan ibunya yang ditulis rapi di sebuah buku. Dibantu Rui, ia dengan telaten memilin adonan yang mulai mengembang.


“Tidak buruk, mungkin kurang manis sedikit saja,” komentar Rui.


“Kau benar.”


Mereka melahap kue yang setengah hangat itu sambil ditemani segelas cokelat panas.


“Rui! Ayo turun, kita berangkat.” Keduanya melirik ke bawah, tepat di sana ada ayah Rui.


“Aku akan pulang malam. Tapi, aku akan terus menghubungimu.” Rui menarik tisu dan mengelap area bibirnya.


“Kau mau titip apa?” tawarnya.


“Apa saja,” jawab Aesira.


“Okey. Sampai jumpa, Ae!” Gadis berbando itu berlari hingga, satu menit kemudian ia sudah berada di bawah.


“Ae! Jaga dirimu baik-baik!” tukas ayah Rui padanya, sementara ibu Rui melempar senyuman hangat.


“Siap, Paman! Nikmati waktu berlibur kalian!” seru Aesira dari atas.


Sepi, kini menjadi teman abadi Aesira. Ia membereskan kue dan dua gelas kosong tersebut dan membawanya ke dapur. Di anak tangga, kakinya berhenti ketika ia menatap tempat dimana ibunya dihabisi dengan begitu tragis. Suara tembakan juga wajah ibunya ketika itu seakan masih kental tersiar di ingatannya.


Ia menaruh nampan dengan lesu. Lalu, dering telepon memvuatnya bangkit.


“Baik, sana akan mengantar.”


Dua toples kue kering itu ia tata di sebuah box eksklusif berlogo toko kue ibunya. Ini adalah pesanan pertama setelah toko tutup selama tiga minggu.


Ia menaiki taksi dan mengatakan pada supir kemana tujuannya.


“Terima kasih sudah memesan di toko kami. Saya permisi.”


“Silakan.”


Ia menyimpan uang bayarannya ke tas selempangnya. Di tengah jalan, ia tak sengaja berpapasan dengan Kay yang duduk termenung di trotoar. Padahal, laki-laki itu anak konglongmerat terkenal di kota, tapi berani sekali duduk di trotoar berdebu semacam itu.


Aesira memberanikan duduk di sebelah Kay. Laki-laki itu menoleh ketika sadar ada yang duduk di sebelahnya.


“Memikirkan sesuatu yang mengganggu?”


Kay menegakkan punggung.


“Tidak. Hanya lelah dengan kehidupan. Istirahat sebentar tak apa kan?”


Aesira tersenyum. Ia meluruskan kakinya.


“Aku pernah berjanji akan balik mentraktir kau dan Rui. Berhubung Rui sedang berlibur dengan kedua orang tuanya. Bagaiman kalau au lebih dulu ku traktir?” Sebenarnya, Aesira hanya mencoba menghibur laki-laki itu. Dari kabar yang ia dengar, kehidupan Kay dengan keluarganya sungguh tidak baik. Orang tua Kay terus saja memaksa anak itu berada di level sempurna dalam semua sisi si sekolah. Kay melakukan itu, dan berada di tingkat organisasi tertinggi, menjadi kapten bidang keolahragaan, ketua kelas, dan juara kelas.


“Simpan saja uangmu untuk sekolah besok,” jawab Kay ketus.


“Masih cukup. Tapi maaf, aku tidak bisa mengajakmu makan di restoran mewah.”


Tiba-tiba Kay menarik tangan Aesira yang sontak membuat gadis itu kaget. “Kita mau kemana?”


Kay berbalik. “Katamu, kau mau mentraktirku.”


Aesira berubah antusias, ia berjalan ruang di sebelah Kay. Dan … jantungnya berdesir tak karuan.