
Aesira dan lainnya sudah bersiap menuju arena pertempuran yang telah disiapkan. Awan putih membentang sebagai pijakan. Ribuan pasukan dari kerajaan langit berada di belakang mereka menanti komando dari panglima. Sedangkan Raja Alsatia sendiri tetap menetapkan badan di kerajaan untuk mempertahankan mantra pelindung dengan kekuatan bunga keramat yang agung.
Ditengah kegiatan dalam penantian yang mengerikan, Aesira menyadari satu hal yakni, Kay yang menghilang dari sisinya. Ia mengitarkan pandangannya, namun tak menjumpai sosok yang dicarinya. Decakan lirih keluar, merutuki sebab ia yang tidak bisa melangkah kemanapun saat ini.
“Ku harap kau baik-baik saja, Kay.”
Aesira mengeratkan genggaman tangkai pedangnya, matanya awas ke depan jika sewaktu-waktu musuh datang tanpa aba-aba.
Semua orang di tempat itu mendadak bingung dengan kehadiran asap abu-abu yang menembus putihnya awan. Tidak salah lagi, musuh yang ditunggu telah menunjukkan jari dirinya tak lama lagi.
“Siapkan senjata kalian!” seru panglima dengan lantang.
Aesira gemetar, ia meneguk air ludahnya sembari mendekus perlahan.
“Apakah pernah terbayangkan seorang siswi kelas sebelas ini akan beradu di peperangan sedini ini?”
Gelombang asap tambah menghitam dan semakin pekat. Geluduk dan petir mencipkatan suasana tambah mencekam. Belum pernah penghuni kerajaan langit merasakan hal semenakutkan ini. Selama ini, mereka larut dalam rasa suka, cinta, dan bahagia. Tapi, hanya dengan kedatangan kabut hitam ini saja, sungguh membuat dada mereka gentar.
Perlahan-lahan dari kejauhan, pasukan Udaya menampakkan diri usai melewati portal besar. Mereka terlihat sangat menakutkan. Derap langkah mereka seakan menguncang langit. Pasukan penyihir langit kompak mengeluarkan mantra penghancur yang seketika itu membuat barisan depan Udaya porak-poranda dalam sekelebat. Pasukan penyihir langit mundur, kemudian pasukan pemanah berlari ke depan dan mengarahkan satu anak panah berukuran besar dan ketika dilesatkan seketika itu anak panah tersebut beranak pinak tak terhitung jumlahnya. Pasukan Udaya seperti debu yang tersapu bersih karena lontaran panah tersebut. Pasukan langit mengira mereka telah melumpuhkan semua musuh, tapi entah kenapa, pasukan Udaya seperti tak habis dan bermunculan dengan jumlah yang lebih banyak.
Peperangan akhirnya pecah, semuanya saling beradu pedang dan senjata yang dimiliki untuk mempertahankan juga merebut. Aesira mengatur napasnya, wajah mulusnya itu kini ternodai oleh sabetan kecil pedang dari musuh yang tak ada habisnya.
“Apa aku akan mati di sini, Lyn? Mereka terlalu banyak!”
“Kau bicara apa, Kak? Kita pasti bisa mengalahkan mereka semua!”
Percakapan singkat terputus, Aesira memutar tubuhnya sembari menghunuskan pedang ke sana kemari. Ia mengumpulkan energi, mengarahkan kekuatannya untuk membunuh musuh. Dengan secepat kilat, ia berhasil menumbangkan tentara Udaya yang jumlahnya tidak bisa ia perkirakan. Melihat Putri Elma yang kewalahan, ia berinisiatif merapatkan diri di samping putri dengan melawan pasukan Udaya yang menghalangi. Namun, belum juga kakinya sampai, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sebuah pedang berangkat menghunus perut sang putri hingga menembus punggungnya. Aesira tercekat dengan satu tangannya yang mengambang di udara.
“Putri!!!”
Tubuh sang putri ambruk bersamaan dengan tercabutnya pedang dari tubuhnya. Aesira bergerak cepat, ia menahan pedang dari musuh yang hendak terarah kembali ke tubuh sang putri yang sudah tidak berdaya.
Dengan mata yang berlinangan air mata, tangan Aesira mendorong pedang musuh yang ukurannya lebih besar dari pedangnya. Ia menatap kedua mata musuhnya yang bersembunyi dibalik topeng pelindung. Satu kaki Aesira dibelakang bergerak mundur akibat dorongan pedang yang ditahannya.
“Ini tidak bisa dibiarkan!”
Aesira melepaskan tahannnya dan menghilang lantas muncul kembali di belakang satu tentara Udaya dengan tubuh tinggi tadi. Ia melewatkan satu kekuatan yang langsung ditempatkan oleh tentara itu dengan begitu mudah.
“Agaknya, dia bukan berasal dari pasukan biasa.”
Melihat Isabella yang telah mengamankan tubuh sang putri ke tempat yang lebih aman, Aesira berkonsentrasi penuh untuk mengalahkan satu musuhnya ini. Berkali-kali ia mengerluarkan kekuatan penghancur pada laki-laki bertopeng tersebut namun, selalu saja kena tepis. Ia menarik pedangnya dari pinggang kembali, dan berusaha sekuat mungkin beradu pedang. Lalu, karena terlihat tampak kewalahan, Lynda memajukan diri meladeni laki-laki yang tak lain adalah Pangeran Eleazar tersebut.
“Aku serahkan kepadamu,” tukas Aesira yang langsung diiyakan oleh Lynda.
Seekor naga bertubuh panjang meliak-liuk di atas arena pertempuran. Aesira menodongkan wajah.
“Kay?” ucapnya lirih.
Naga penjelmaan Kay itu dengan gesit melumpuhkan musuh dengan sangat cepat. Satu semburan api dari mulutnya bahkan langusng bisa menghabisi ratusan pasukan musuh dengan sekejap. Aesira cukup lega namun, ia sangat tahu mungkin ketiadaan Kay tadi membuatnya berpikir saat ia menanti, Kay sedang menahan rasa sakit yang ia sembunyikan seorang diri.
Pangeran Eleazar yang memerhatikan pasukannya terdesak, memilih pergi dari serangan Lynda yang menurutnya terlalu amatir. Sebelum hengkang, ia membalikkan tiga panah ke arah Lynda. Beruntungnya, Lynda berhasil melompat untuk menghindar. Pangeran Eleazar terbang sejajar dengan Isabella yang sedang melakukan penyerangan dari atas.
Pangeran mengenakan gelang naga pemberian Ratu Udaya. Dan skeetik, ia berubah menjadi naga serupa dengan Kay hanya saja naga penjelmaan Pangeran Eleazar berwarna hitam. Dua naga itu saling bertumbukan di atas.
Aesira di bawah terlihat ketar-petir ketika Kay mendapati musuh yang sebanding.
“Kau pasti bisa, Kay!”
Disaat pasukan langit cukup bisa bernapas lega karena kemenangan seperti dipihak mereka, Aesira menempatkan diri di sebelah tubuh putri yang tengah mendapatkan pengobatan dari Margaretha.
“Ini sulit, kita tidak bisa menyelamatkan putri.” Perkataan Margaretha itu sukses membuat dada Aesira mencelos.
Aesira menatap wajah Putri Elma dengan pandangan nanar. Ia menunduk dengan perasaan menyesal. Seharusnya ia bergerak lebih cepat agar bisa melindungi gadis yang kini terbaring tak bernyawa di depannya.
Suara erangan dari angkasa membuat Aesira menoleh ke atas. Naga Kay terlihat kewalahan mendapatkan serangan tanpa henti dari naga hitam itu.
Aesira menghapus air mata yang melintasi luka di pipinya. Ia mengambim perlahan pedang Raja Emir di sisi jasad putri. Bertumpu satu lututnya ia berdiri.
Lynda berlari mendekat usai kemenangan betul-betul berada di genggaman mereka. Para musuh tumbang, tersisa satu naga di atas sana yang tidak memberikan ruang bagi Kay menghindar sejenak. Isabella yang mencoba membantu dengan pecut petirnya malah terkena sabetan ekor naga hitam itu hingga jatuh keras dengan satu sayapnya patah.
Pasukan kerajaan langit membombardir naga hitam tersebut dengan melempar senjata mereka serta pasukan penyihir mengunakan mantra mereka guna menghentikan naga hitam tersebut. Namun, mereka malah diberi hadiah berupa semburan api yang membuat mereka luluh lantah seketika. Naga Kay yang tidak mampu bertahan, timbang dan ikut jatuh dengan keadaan mengenaskan.
Dalam keadaan genting tanpa arah. Aesira menunduk, ia menatap kedua telapak tangannya dengan simbol bulan bintang yang mendadak saja mengeluarkan cahaya. Margaretha berdiri di sebelahnya, Pun dengan Lynda. Ketiganya saling bersitatap dan berpegangan erat.
“Ayo, kita selesaikan ini,” tukas Margaretha disambung senyuman pahit.
Aesira dan Lynda mengangguk pasrah. Kemudian, ketiganya berpencar ke berbagai titik. Margaretha menekan sumber kekuatan barunya, yaitu kekuatan air yang seketika membuat naga hitam itu bergulung-gulung di dalam ombak air dari tangannya. Lynda menarik pedang kembar bulan sabitnya berlari dan terbang mengibaskan pedangnya ke tubuh naga itu sampai mengerang keras. Naga itu mengeluarkan iri dari gulungan ombak Margaretha dan masih bertahan meski mendapatkan sabetan pedang Lynda yang berhasil memutus ekornya. Perlahan, ekor itu tubuh ke bentuk sempurna dan membuat Lynda tercengang.
Kepala naga itu berada tepat di hadapan mereka dengan ekspresi merendahkan. Membuat ketiga gadis itu bersungut marah. Dan kemarahan itu, membangkitkan kekuatan besar di tangan Aesira. Kedua mata gadis itu berubah menjadi biru. Tubuhnya perlahan terangkat dengan cahaya biru melingkupi seluruh tubuhnya. Hiasan bunga di kepalanya berubah menjadi mahkota dengan permata biru safir. Hitam rambutnya kembali ke rupa pirang, Pun dengan gaun yang bertrasnformasi menjadi biru.
Naga hitam itu terus melontarkan serangan bertubi-tubi pada Aesira, namun serangan itu sama sekali tidak mengenai tubuh gadis yang tengah termasuk kekuatan maha dahsyat itu.
Tepat tangan Aesira menangkup kepala sang naga, naga itu seketika melunak dan jatuh dengan sendirinya lalu, berubah ke wujud asli. Aesira mengibaskan tangannya, membuat pasukan kerajaan langit yang terluka sembuh seketika.
Dalam hitungan singkat, Aesira tersadar dari pengaruh kekuatannya sendiri. Gadis itu menjadi lemas karena telah mengeluarkan banyak sekali energi. Tubuhnya yang semula mengangkat, kini melayang-layang bak daun jatuh dari batang. Margaretha menangkap tubuh Aesira dengan kekuatan airnya. Mereka berdua mendekat setibanya Aesira di bawah.
“Syukurlah dia hanya pingsan. Kita harus segera kembali ke kerajaan. Sepertinya, pertempuran ini bukanlah pertempuran yang sebenarnya, ini hanyalah jebakan! Pengalihan!”
“Bagaimana kau bisa tahu, Kak?”
“Karena, tidak mungkin Ratu Udaya tidak ikut serta dalam peperangan ini. Dia seharusnya berada di sini dan bertarung dengan kita. Kebanyakan pasukan yang kita hadapi merupakan pasukan dari sekutu Udaya. Bisa jadi, Ratu Udaya memecah pasukan untuk mengelabuhi kita. Kita harus bergegas, kerajaan langit dalam bahaya.”
Lynda mengangguk.
“Panglima, kita harus segera merapatkan barusan ke kerajaan sekarang juga,” ucap Margaretha pada panglima langit.
“Baik!”
Semua orang yang tersisa menaiki naga merah penjelmaan Kay untuk menuju kerajaan langit. Setibanya mereka ke tujuan, betapa terkejutnya ketika melihat kerajaan langit yang sudah porak-poranda dengan seluruh penghuninya habis tanpa sisa. Darah tumpah di kerajaan langit yang suci nan putih. Rakyat tanpa dosa mati sia-sia. Bahagia di tanah ini berlumpur tangis dari para pejuang di atas punggung naga. Menyaksikan betapa buruknya keadaan langit saat ini. Awan putih tanah kelahiran mereka berubah memerah akibat pertumbuhan darah di kerajaan langit, membuat para penghuni bumi keheranan tentang apa yang terjadi di atas sana.