
Lekat, Aesira menatap naga Kay yang tengah tertidur dengan posisi tubuh melingkar. Matanya terlapis embun yang menetes bergantian. Tanpa mengeluarkan suara isakkan sedikit pun, ia menghabiskan waktu menangis di tempat yang dibangun dari tanah tersebut. Tak berselang lama, Havardur yang berkeliling mengecek keamanan, melihat pemandangan yang menyesakkan. Aesira, gadis berambut pirang itu tertidur bersandar tubuh naga dengan pulas. Sempat, ia ingin membangunkan Aesira agar gadis itu masuk saja karena udara di sini begitu dingin. Namun, setelah melihat betapa gadis itu sangat pulas dengan tidurnya, ia membiarkan saja.
Aesira yang merasakan suara gerakan tubuh naga seketika memaksa membuka mata. Naga merah jelmaan Kay mengambil sikap waspada. Naga itu mendobrak bangunan berbentuk kubus dengan satu permukaan terbuka tersebut dan terbang ke udara. Aesira yang tadi cekatan naik ke punggung naga dapat melihat dengan jelas kedatangan Ratu Udaya dengan cahaya merah yang menyala.
“Sialan! Tidak bisakah dia menyerang besok saja? Semua orang tengah beristirahat setelah latihan.”
“Kau, kita harus mengalihkan perhatian Ratu Udaya agar tidak kemari.”
Naga Kay terbang dengan cepat. Tiba di depan Ratu Udaya nyali naga itu menciut.
“Ya Tuhan, Ratu durjana ini semakin menyeramkan setelah merebut kekuatan bunga keramat. Sekarang, dia tampak tidak terkalahkan.”
“Kau mendatangi sendiri hari kematianmu anak manis.”
Serak suara Ratu Udaya menggetarkan dada Aesira. Ia sampai betul-betul tidak tahu harus bersikap apa selain berpasrah jika nantinya ia tidak mampu melawan kekuatan Ratu Udaya yang bahkan energi negatifnya sangatlah kental terasa.
Naga Kay berkelok ke samping. Mereka memancing Ratu Udaya ke tempat lain. Tepat di atas hutan tempat Kay mengasingkan diri selama persembunyian, Aesira siap bertarung hidup dan mati.
“Tidak boleh takut, tidak boleh gentar! Lihat, Ae, dia ... dia yang sudah menghabisi Rui, sahabatmu. Dia juga yang mengakibatkan Putri Elma tewas. Enyahkan dia demi semua orang yang selama ini menderita karena ulahnya! Kau pasti bisa mengakhiri ini, kau penentu game ini, Aesira! Kau!”
Aesira memejamkan mata, ia menarik semua energi positif dati alam. Cahaya dari berbagai arah merasuk ke tangannya. Ia berubah penampilan dengan gaun biru dan mahkota yang terhiasi cahaya dan aura mendalam. Di dahinya, simbol bintang dan bulan tercetak jelas karena memancarkan cahaya.
Buku catatan Ratu Mina itu mengabarkan padanya bagaimana membangkitkan kekuatan dewi. Selain mendapatkan cara menghilangkan kutukan Kay, Aesira juga menemukan cara untuk mengeluarkan kekuatan tersebut.
“Kau pikir aku akan kalah kali ini? Kau tahu, sekarang kita imbang, anak manis. Mari kita lihat, siapakah yang akan tetap hidup.”
Dalam satu waktu, ratu bengis itu dapat menghadapi dua lawan sekaligus dengan membelah diri. Aesira terkejut, ia tidak menyangka Ratu Udaya memiliki kemampuan semacam ini. Naga Kay memburu bayangan Ratu Udaya yang bergerak ke kerajaan Arsh.
Aesira mengeluarkan pedang, dengan gerakan kilat ia menyerang tanpa henti. Lalu, pedang itu berganti menjadi anak panah. Belum juga menyentuh tubuh Ratu Udaya, ratusan anak panah tersebut meleleh ketika mendekati fatamorgana dari cahaya api yang menyelimuti Ratu Udaya.
Setiap serangan dari Aesira selalu saja ditangkis dengan mudahnya.
“Dia benar-benar berkembang pesat karena bunga itu. Ini berbahaya, bahkan setelah membelah diri kekuatannya sama sekali tidak berkurang. Aku sangat khawatir, semoga Kay dapat mencegah bayangan Ratu Udaya itu.”
Tanpa jeda, Aesira terus demikian serangan bertubi-tubi. Namun, tanpa banyak bergerak, Ratu Udaya mampu menahan selama serangan. Hanya dengan menjentikkan jari, Ratu Udaya memberikan serangan yang membuat tubuh Aesira terpelanting jauh hingga membuat cekungan cukup dalam di dinding gunung. Darah keluar dari sudut bibir gadis itu.
Pedang api dengan kilatan merah muncul dari tangan Ratu Udaya. Ia terbang dengan cepat dalam hitungan detik lalu, menancapkan pedang itu tepat di dada kiri Aesira yang belum sempat menghindar. Pedang yang terselimuti kekuatan kegelapan itu menembus tubuh Aesira. Gadis itu tidak berkutik.
Jazira berbalik ke belakang sembari mencabut pedangnya dari tubuh gadis itu. Pedang itu terayun menebas musuh yang ternyata melakukan pembelahan diri.
“Dasar peniru!”
Aesira palsu itu seketika lenyap. Sementara Aesira yang asli sedang bertahan selesai mendapatkan serangan di bawah sana. Ia menarik napas kuat-kuat, dikeluarkannya pedang biru, bertumpu kakinya yang serasa sudah tidak mampu bergerak, ia berdiri pelan. Terbang dengan cepat dan memunculkan diri, ia tidak ingin terus menerus disebut pengecut.
Di tengah ketakutan yang melanda, Aesira memutar kedua telapak tangan, cahaya biru berkumpul membentuk bola, lalu ia menaikkan tangannya, bola itu perlahan membesar bahkan ia harus mengeluarkan separuh kekuatan agar bola cahaya itu mampu menembus pertahanan Ratu Udaya.
Angin berhembus kencang, kekuatan dari segala penjuru terserap bola cahaya di tangannya.
“Tuhan, bantu aku, aku mohon Tuhan. Kini, hanya Engkau satu-satunya harapanku. Kau tentu tidak akan membiarkan kebiadaban bertengger di dunia ini selamanya ... dalam segala kisah, kebaikan akan selalu menang. Izinkan aku untuk menenangkan ini.”