
Sejak kehadiran satu gadis baru yang tertakdir untuk menjemput kematiannya, Ratu Udaya menjadi tambah sensitif terhadap semua orang di kerajaannya. Semua orang harus terima bentakan, cacian, dan makian hanya kadang karena masalah kecil.
“Eleazar! Eleazar!” teriaknya dari singgasana.
Laki-laki bertubuh tegap dengan otot-otot terbentuk atletis itu berjalan tergesa-gesa menapaki karpet merah yang menjulur.
“Hamba menghadap, Ratu,” tukas Eleazar sembari berlutut.
“Kenapa kau lama sekali?! Aku sudah memanggilmu ribuan kali!”
“Maafkan hamba, Ratu. Hamba sedang sibuk mengurus pasukan untuk serangan nanti malam,” jelasnya. Mendengar itu, Ratu Jazira mendengkus singkat.
“Aku tidak ingin kalah lagi dari gadis peniru itu! Cepat kau carikan cara agar aku bisa menambah kekuatan melebihi gadis pencuri itu!” titah Jazira.
Eleazar berdiri. “Mohon ampun Ratu. Tapi, hamba betul-betul tidak tahu pergilah semacam itu. Semua rahasia kekuatan ayah saya sudah saya sampaikan kepada Ratu.”
Jazira berdecak. “Buka ramalan tentangku di masa depan!”
Eleazar membuat tangannya lalu,membuat pola acak. Tak lama, muncullah deretan kata di udara. Inilah alasan, kenapa Ratu Udaya menghidupkan kembali Eleazar. Laki-laki itu, adalah satu-satunya orang yang tersisa di iklan Udaya yang memiliki kemampuan meramal masa depan. Dengan menggunakan tubuh laki-laki yang berparas sama, ia mengganti inti jiwa laki-laki tersebut dengan jiwa Eleazar yang semula sudah mati. Kini, Eleazar takhluk di tangan Ratu Udaya. Ia tidak bisa berbuat banyak selain menuruti apapun permintaan wanita jahat itu. Ia tidak ingin kejadian mengenaskan terulang untuk kedua kalinya. Ia cukup lega karena gelang naga itu telah lepas darinya, namun sekarang ia sungguh tidak bisa lepas dari jeratan Ratu Udaya yang sangat mematikan. Selangkah saja ia berani berkhianat, ia akan menghilang dari dunia ini selamanya.
“Sampah! Ramalan macam apa itu?!” Jazira mengarahkan tangannya ke Eleazar. Pukulan kekuatan hitam itu membuat Eleazar mundur sambil memegang dadanya yang terkena sihir.
Jazira mengambil cermin di meja samping dan mengarahkannya tepat ke depan wajah. Ia mengelus wajahnya yang kini berubah menjadi sulur-sulur hitam pekat, bukan hanya wajah, tapi hampir seluruh tubuhnya berubah demikian. Itu terjadi, setelah Raja Emir yang mansyur mengucapkan sumpah untuk anak sulungnya tersebut. Namun, setelah berhasil menghabisi tiga duplikatnya, sepertiga wajahnya kembali pulih. Inilah kenapa bertahun-tahun, Jazira terus memburu tujuh duplikat yang datang.
“Wa … wajahku …” ujarnya dengan nada bergetar.
“AAA!” teriak Jazira penuh amarah sembari melempar cermin di tangannya ke lantai.
Jazira mengertakkan giginya dengan napas menderu. “Aku tidak mau tahu, kau harus membuatku tambah kuat apapun caranya!!!”
***
Aesira mengenakan kembali jaket yang ia bawa dari dunia asalnya. Udara di Arsh sungguh menusuk kulitnya. Sesi latihan kali ini ia kan didampingi Isabella.
Saat hendak keluar dari ruang ganti, Aesira terkejut ketika melihat Kay terduduk sembari mengerang kesakitan. Cahaya-cahaya merah menyelusup dari ukiran-ukiran gelang di tangan laki-laki itu.
“Kay!” Aesira berlari mendekati Kay. Namun, saat laki-laki itu menoleh, ia mendapati kedua mata Kay berubah merah pun dengan warna rambutnya yang perlahan menjadi warna serupa.
Aesira memundurkan langkah dengan ketidaktahuannya harus berbuat apa. Di depan matanya sendiri ia melihat laki-laki itu berubah wujud menjadi naga bertubuh hijau dengan kepala merah. Namun, sesaat, wujud naga itu Kay lawan hingga ia dapat berubah menjadi wujud manusia kembali. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Laki-laki itu berulang kali berubah-ubah wujud.
“Pe-pergi, Ae! Pergi!” teriak Kay sebelum bertranformasi menjadi wujud naga.
Bukannya mengindahkan perintah Kay, Aesira malah mengatakan kakinya maju. Saat sejengkal ia berdiri di hadapan naga yang bisa kapan saja menerkamnya, tangan Aesira naik dan mengusap lembut kepala naga. Air matanya menetes.
“Terlalu peduli pada diriku sendiri, aku sampai lupa jika kau harus melawan sakit ini sendiri. Maafkan aku, maafkan aku, Kay ….” Kepala Aesira merunduk.
Usapan tangan itu, balai penuh kasih dan iba, membawa tubuh Kay berubah ke bentuk semula. Kay mengenggam pergelangan tangan Aesira dan membuat gadis cepat mengangkat wajah. Seketika, gadis itu jatuh ke pelukan Kay.
“Maafkan aku. Aku berjanji akan mencari cara agar kau bisa lepas dari gelang terkutuk ini, Kay. Aku berjanji,” tukas Aesira di pundak Kay.
“Aku, aku tidak mau kau berubah menjadi naga selamanya. Aku sudah kehilangan ibuku dan Rui. Aku juga tidak mau kehilangan dirimu.”
Kay sekilas tersenyum mendengar perkataan Aesira barusan.
Kay memundurkan kedua pundak Aesira dan menghapus air mata yang tertinggal di pipi gadis itu.
Kembali Aesira mencondongkan kepalanya ke bawah lalu, menggelengkan kepala tegas.
“Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. Aku akan berjuang untuk setiap mimpi dan harapan semua orang di negeri ini, Kay!” kukuh Aesira.
Senyuman menyambut orasi Aesira, Kay mengangguk.
“Maaf menganggu kalian. Tapi Kay, bisakah kupinjam Aesira untuk ikut berlatih bersamaku?” ucap Isabella yang membuat keduanya mengubah sikap senetral mungkin.
Isabella mendekat dan menatap kedua orang di depannya bergantian.
“Kenapa setiap kali melihat mereka bersama, hatiku bergelut perih? Apa karena Kay memiliki wajah yang sama dengan Chris? Kenapa kau memilih perasaan seperti ini, Isabell? Cinta Kay hanya untuk Aesira. Ya! Secepatnya aku harus menghempaskan perasaan semacam ini!”
“Uff, maaf,” tutur Isabella merasa bersalah karena telah terlalu lama memandang wajah Kay.
Ditariknya tangan Aesira.
“Ayo!”
Dua gadis itu sempurna menghilang dari tangga. Kay melipat tangannya, tersenyum, dan masih menetapkan padangan pada jalur kedua gadis itu pergi
“Kekuatan cinta Aesira. Aku bisa merasakannya. Kekuatan itu, membawa aku kembali menjadi manusia. Apa cara yang dimaksudkan Putri Elma beberapa hari yang lalu ada kaitannya dengan Aesira?”
“Aku harus menemui Putri Elma untuk mencari tahu!”
Kay menemukan Putri Elma yang sedang membersihkan pedang andalannya yakni, pedang sang kakek.
“Bisakah kita bicara, Putri?”
“Ya, ayo bicara di luar.”
Berada di koridor dengan pagar sebagai pengaman, keduanya duduk.
“Kenapa kau malah tertawa Putri? Apa ada sesuatu yang salah dengan pertanyaanku?”
Putri mencoba mengontrol diri untuk tidak tertawa. “Tidak, tidak ada yang salah dengan pertanyaanmu. Hanya saja, kau percuma saja pertanyaan padaku karena sudah kubilang sebelumnya, jawaban ini hanya ada pada Pangeran Eleazar.”
Kay mendesis sambil mengalihkan pandangan ke samping.
“Putri, bertemu dengannya sama sama mencari mati.”
Sang putri tertawa kembali.
“Kau benar. Tapi kau jangan khawatir, aku akan memikirkan cara agar Pangeran Eleazar kemari.”
“Bagaimana caranya Putri?”
Putri Elma terdiam sesaat.
“Akan ada pertempuran dua hari lagi. Di sana mungkin Pangeran Eleazar akan ikut serta. Satu-satunya cara agar ia memberitahu adalah dengan mengalahkan Pangeran Eleazar dan menawannya. Lalu, kau bisa memaksanya buka mulut perihal cara pembebasan gelang naga,” terang Putri Elma dengan raut wajah berubah serius.
“Mengalahkannya, ya?” kata Kau sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.