
Pedang yang dilingkupi cahaya hitam dan ungu itu menembus tubuh Rui. Seketika, tubuh gadis itu ambruk.
“RUI!!!” teriak Aesira dengan frustasi. Napasnya seakan berhenti ketika melihat sahabatnya terhunus pedang bermantra itu. Ia sungguh, tidak tahu apakah Rui masih hidup atau tidak. Namun segenap hatinya, ia menginginkan Rui baik-baik saja. Meski, peluang itu tipis sekali ada. Aesira menangis keras, menyesali dan kecewa tak mampu berbuat sesuatu untuk menolong Rui.
“Oh, sayang sekali, pahlawanmu sudah mati,” cela Ratu Udaya pada Aesira.
“Menangislah! Karena ini akan menjadi tangis terakhirnya di dunia! Kau … harus mengembalikan wajahku, dan inilah saatnya!”
Tangan Ratu Udaya menyerap sari nyawa dari tubuh Aesira. Hal serupa yang dialami Margaretha terjadi pada Aesira, gadis itu mengerang kesakitan luar biasa dan perlahan asap hitam keluar dari mulutnya dan dengan cepat diserap oleh tangan Ratu Udaya.
Di setengah kesadarannya yang hilang. Ada tangan yang terulur padanya.
“I-ibu …”
Sophia tersenyum. Aesira menoleh ke samping ibunya.
“Rui …”
Rui memberikan ekspresi yang sama dengan Sophia dan ikut mengenggamkan tangan padanya.
“Kay …”
“Ayah …”
Lagi-lagi, orang-orang yang panggilnya itu tersenyum. Mereka semua mengeratkan tangan dan menarik Aesira untuk bangkit.
Ratu Udaya terkejut bukan main saat tubuh gadis yang hampir dapat ia kuasai itu menghilang. Saat ia menoleh ke atas, dijumpainya gadis itu yang melayang-layang dengan aura kekuatan biru yang tersebar di seluruh tubuhnya. Kedua mata gadis itu bersinar biru dengan pakaian yang semula berwarna hitam berubah menjadi gaun putih kebiru-biruan dengan hiasan kepala yang terbuat dari kristal.
Tidak mau kalah tanding, Ratu Udaya menyejajarkan posisinya dengan gadis itu di angkasa. Pertarungan berlangsung seru, Aesira memimpin. Ia berkali-kali memberikan serangan tak terkira hingga membuat Ratu Udaya kacau konsentrasinya. Aesira menghilang, lalu menyerang dengan tiba-tiba dan seperti itu seterusnya. Ratu Udaya menggunakan trik yang sama namun, selalu kalah cepat.
Aesira mengangkat pedang Raja Emir lalu, menghempaskannya ke arah Ratu Udaya. Tapi, Ratu Udaya sigap menghindar dan pedang itu hanya mampu menyabet lengannya. Melihat dirinya yang terluka, Ratu Udaya memutuskan untuk menarik diri dari tempat pertarungan seperti pengecut.
Aesira menyimpan pedang itu ke dalam tubuhnya. Ia merentangkan tangannya dan membuat kabut hitam yang selama ini menyelimuti Arsh tersingkap. Tak lama setelah itu, kedua mata Aesira meredup, binar cahaya yang menyelimuti tubuhnya juga perlahan sirna, gaun panjang tersebut pun berubah menjadi pakaian yang ia kenakan sebelumnya. Gadis itu, melayang-layang jatuh seperti daun yang terlepas dari tangkainya.
Kekuatan yang berasal dari Aesira tadi tidak hanya membuat kabut hitam hilang dari permukaan langit Arsh, namun juga membuat setiap orang yang terluka sembuh seketika.
Dengan hati-hati, Margaretha, Isabella, Lynda, dan Putri Elma menangkap tubuh Aesira. Lalu, meletakkan perlahan gadis itu di atas tanah. Tak lama, gadis itu tersadar. Namun, hal yang pertama kali ia tatap adalah gadis yabg terbujur kaku di tiga meter depannya.
Aesira berdiri dengan kaki bergetar, jika saja Putri Elma tidak menahan, gadis itu sudah dipastikan ambruk. Pelan, ia berjalan kemudian, ia terduduk di samping Rui dengan kepala menunduk.
Margaretha, Isabella, Lynda, dan Putri Elma yang melihat itu seketika merasakan iba yang mendalam.
Kay tiba menjadi penonton ending. Laki-laki itu berjalan dengan terseok-seok sembari memapah tangan kanannya yang terjebak oleh gelang naga yang sekarang menutup setengah lengannya. Melihat keadaan Rui dengan Aesira yang terduduk lemas di sebelah gadis itu, Kay berlari cepat dan ambruk di samping Aesira.
Gadis di samping yang awalnya menunduk mendadak menaruhkan pelukan erat padanya dan menagis kencang.
“Kita kehilangannya, Kay. Dia pergi …” ucap Aesira di sela-sela terisak.
Kay mengusap punggung gadis itu dan menaruh dagu di kepala Aesira.
“Ssttt, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Semuanya terakhir seperti ini, Ae.”
Kay menjauhkan Aesira darinya, memegang kepala gadis itu dan manatapnya.
“Dengarkan aku, Aesira. Kau kau sudah berusaha melakukan apa yang kau bisa. Lihat, kau bahkan telah mengubah Arsh yang gelap gulita menjadi bersinar kembali.”
Kay dan Aesira bersamaan memandang ke atas, pada langit dengan kehangatan sinar mentari.
Empat gadis di seberang mendekat, duduk di depan mereka berdua.
“Maaf untuk Rui, Ae. Ini di luar kendali kami semua,” tukas Putri Elma.
Aesira menurunkan pandangannya pada Rui. Ia mengenggam tangan berselimut salju itu dan berdoa pelan sembari menutup mata.
“Bagaimana nanti aku bisa menjelaskan ketiadaanmu di sampingku kepada kedua orang tuamu, sahabatku?”
“Siapa gerangan yang akan menemaniku tertawa dan mengukir cerita?”
“Bagaimana dengan mimpi-mimpi kita?”
“Bagaimana bisa anak-anak kita nanti bisa menjadi teman jika kau pergi begitu saja?”
Aesira melepaskan tangan Rui bertepatan itu pula tangisnya kembali pecah.
***
Aesira memeluk abu Rui. Ia berjalan dengan tatapan kosong. Gadis itu masih tidak percaya sahabat terdekatnya itu pergi dari sisinya. Rasanya, ia seperti masih bisa mendengar lamat-lamat suara Rui di setiap langkahnya menaiki anak tangga.
Melintas nyata di ingatannya di kala ia melihat dengan mata kepalanya sendiri pedang Ratu Udaya menembus tubuh Rui. Mengingat peristiwa itu kembali, hatinya bak tersayat ribuan kali.
Aesira menaruh abu itu di sebuah ruangan tempat abu para leluhur Arsh berada. Ia menatap cukup lama kendi berisi abu itu. Lalu, ia berbalik dan turun dari bangunan mirip gua tersebut. Saat tiba di depan, ia mendapati Kay, Putri Elma, beserta tiga duplikatnya menyambut.
“Rui akan baik-baik saja di sana,” tukas Putri Elma sambil memasukkan tangan ke pundak Aesira.
Di tengah perjalanan menuju bekas kerajaan Arsh. Aesira menyempatkan diri untuk melihat keadaan rakyat Arsh yang sengsara. Penduduk Arsh yang jumlahnya jutaan, kini hanya tersisa setengahnya saja. Itu akibat berkecamuknya peperangan yang tiada henti, mengakibatkan roda ekonomi menurun drastis, hal itu membuat rakyat hidup dalam kemiskinan juga mengakibatkan kematian masal.
“Ada apa Ae?” tanya Margaretha yang melihat Aesira tertegun setelah pulang.
“Sebenarnya, apa yang diinginkan Ratu Udaya dengan membuat rakyat tersiksa, Kak?”
Margaretha melepaskan sepatunya dan beralih duduk di samping Aesira.
“Dunia ini, terbagi menjadi enam benua. Neanderthal, negeri pengendali kekuatan angin, Oskandor negeri pengendali alam, Vandornia, negeri pengendali air, Ivor negeri pengendali tanah, Arsh negeri para manusia dengan keahlian berpedang dan memanah juga pemilik alat-alat berperang yang canggih, dan Udaya; negeri para penyihir hitam. Tapi dari kelima benua itu, hanya satu benua yang dibuat hancur oleh Ratu Udaya.” Margaretha tidak melanjutkan ucapannya.
“Arsh,” sambung Aesira. Margaretha mengangguk.
“Keempat negara benua itu bersekutu dengan kerajaan Udaya. Padahal, Putri Elma bilang, keempat negara benua itu dulu bekerjasama dengan Arsh melawan Udaya. Tapi kini, mereka membelot dengan alasan mengamankan diri. Sementara Arsh, bertahun-tahun berjuang mati-matian untuk melawan.”