
Kabar meninggalnya Putri Elma membuat seluruh rakyat berkabung. Semua orang berbondong-bondong ke istana sembari membawa lilin di tangan masing-masing. Suasana kesedihan pekat di halaman depan istana. Doa terus terpanjat serentak dari rakyat, doa itu menggema syahdu malam ini. Aesira, Margaretha, Lynda, dan Isabella menunduk hormat saat iring-iringan peti sang putri yang terhias bunga melewati mereka menuju tempat pemakaman.
“Jika aku mati lebih dahulu, jangan biarkan aku pergi terlahap api. Aku ingin kembali pada tanah sesuai asal mulaku.”
Teringat jelas pesan Putri Elma dihadapan Lynda dan Margaretha sebelum berangkat ke arena perang. Dan, saat ini, mereka berdua menjalankan amanat sang putri dengan sebaik-baiknya meskipun di awal mendapatkan pertentangan oleh Havardur.
Rakyat dengan setia berjalan di belakang peti yang ditandu oleh prajurit melalui jalan setapak menuju bukit. Malam itu, jalan panjang berkelak-kelok tersebut penuh dengan manusia dengan lilin-lilin bercahaya.
Kepergian sang petunjuk utama membuat ruangan yang biasanya mereka buat untuk bercengkrama terdengar hening. Mereka ada di tempat yang sama, tapi mereka terbungkam dengan keadaan yang terjadi, seolah-olah kepergian sang putri hanyalah mimpi.
“Aku akan ke ruang perawatan melihat kondisi Kay dan Pangeran Eleazar, kalian mau ikut?” tawar Margaretha memecah keheningan.
Aesira dan Isabella beranjak dari kursinya. Sedangkan Lynda menggeleng penuh dan memilih tinggal.
Ketika ketiganya masuk, mereka terkejut karena melihat Kay yang terduduk sembari terus menatap tubuh laki-laki di sampingnya.
“Kay!” Aesira setengah berlari menghampiri laki-laki itu. Kay mengalihkan perhatiannya pada Aesira yang duduk di bawah tempat tidurnya.
“Kau sudah merasa baik?” Kay menjawab singkat dengan menganggukkan kepala kemudian ia mengalihkan pandangan ke laki-laki yang belum sadarkan diri di sebelah.
“Kenapa dia berwajah sama denganku? Siapa dia? Kenapa kalian membawanya kemari?” tanya Kay tanpa memindahkan tatapan.
Isabella duduk di tepi tempat tidur laki-laki yang dimaksud Kay barusan.
“Dia, Chris. Kekasihku. Sebenarnya dia sudah mati, tapi nyawanya diisi oleh nyawa Pangeran Eleazar,” tukas Isabella sambil menatap dalam kekasihnya.
“Ja-jadi, dia Pangeran Eleazar yang Putri Elma maksudkan?”
“Iya, Kay. Putri Elma tahu dia adalah satu-satunya orang yang tahu menyembuhkan kutukanmu. Maka dari itu kami membawanya,” jelas Aesira.
Kilatan ingatan ia yang melihat Putri Elma terhunus pedang waktu itu datang.
“Putri Elma, dia ...” Ucapan Kay menggantung setelah melihat dengan saksama raut wajah teman-temannya.
“Kita semua kehilangannya,” jawab Aesira yang lekas menunduk.
Kedua bahu Kay turun mendengar kabar buruk tersebut. Dalam diamnya, ia mengirim doa. Ia akan selalu mengingat kebaikan Putri Elma selama ini.
Atensi mereka berikutnya jatuh pada Pangeran Eleazar yang tetiba terbatuk dan perlahan-lahan membuka mata. Pangeran Udaya itu mengira sosok wanita di hadapannya adalah Jazira, namun mengingat-ingat betapa buruknya sifat wanita itu padanya sungguh tidak mungkin ia bisa ditunggu dengan begitu sabar saat ia bangun dari keadaan sekarat.
Samar-samar, ia dapat melihat sosok yang menyambut penglihatannya terbuka.
“Siapa wanita ini? Aku seperti ... pernah melihatnya. Tapi, dimana?”
Pangeran Eleazar berteriak keras setelah rasa sakit menjalar di kepalanya. Teriakan itu menciutkan nyali Aesira dan Kay bersamaan yang membuat mereka memundurkan posisi tubuh.
Margaretha merapat untuk memeriksa kondisi Pangeran Eleazar. Namun, laki-laki dengan luka hampir di sekujur tubuhnya itu menolak dengan keras tak mau disentuh.
“Tidak masalah, kau hanya akan merasakan rasa sakit itu sampai kau mati,” cecar Margaretha.
Pangeran Eleazar berdecak kesal dan mengumpat dalam hati karena tahu kaki dan kedua tangannya terikat mantra juga tubuhnya yang seperti dikuras habis seluruh energi.
Margaretha menumbuk obat-obatan dari tanaman-tanaman khusus kemudian menyenduhnya dengan air.
“Minumlah, ini akan meringankan nyeri di kepalamu.”
Mengingat kedua tangan laki-laki di depannya terikat mantra, Margaretha menaruh cawan kecil putih ke tangan Isabella.
“Berikan ini pada dia,” ucap Margaretha yang lekas saja pergi dari ruangan itu.
Perlahan, Isabella membantu Pangeran Eleazar meneguk obat yang dibuat Margaretha tadi. Keduanya adu tatap sekian menit. Meski sesingkat itu, tatapan mata Isabella seolah membawa sesuatu hal yang selama ini seakan menjadi jawaban atas rasa gundah yang menyertai kehidupan Pangeran Eleazar selama ini.
Menyadari jika ini adalah salah, Pangeran Eleazar membuang wajah ke samping dan melihat Kay yang membuatnya menjerit kaget tak percaya.
“Tidak usah sekaget itu. Sepertinya kita berdua memang ditakdirkan serupa,” ucap Kay santai.
“Di dunia ini hanya ada satu Pangeran Eleazar, dan itu hanya aku!” tandasnya dengan mimik kesal.
“Hei! Lebih baik kau tahu kalau ragamu itu sebenarnya adalah milik kekasih wanita di depanmu. Kau hanyalah isi seseorang yang sudah mati,” tukas Kay kembali.
“Apa kau bilang? Jangan beraninya kau menuduh! Bahkan aku tidak ingat siapa wanita berambut merah ini!”
Melihat Kay yang ingin melanjutkan perdebatan ditahan Aesira dengan memberikan gelengan.
“Memperdebatkan hal ini tidak akan ada habisnya Kay. Secepatnya kau harus pulih. Bulan purnama akan datang dua hari lagi, kita harus mencari cara agar Pangeran Eleazar memberitahu kita soal penghilang kutukanmu itu,” bisik Aesira.
Pangeran Eleazar memandang muak dua sejoli di sebelah. Pun dengan gadis yang tak beranjak dan baginya sangat menganggu.
“Bisakah kau entah dari pandanganku? Aku membuat kepalaku pusing!”
“Ya, aku akan pergi. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan sesuatu.”
Isabella mengeluarkan dua gelang dari saku bajunya. Satu gelang ia pakai di tangannya, sedangkan satu gelang lagi ia sematkan di pergelangan Pangeran Eleazar.
“Buang sampah itu dariku,” tukas Pangeran Eleazar dingin saat Isabella tengah menalikan gelang tersebut.
“Tidak, gelang itu tidak akan lepas darimu mulai dari sekarang. Kau akan terus memakainya.” Usai mengatakan itu, Isabella undur diri.
Ruangan tersebut kini terisi tiga orang.
“Apakah ini waktu yang tepat?” tanya Kay.
“Aku akan mencoba berbicara dengannya,” ucap Aesira pelan.
“Tidak, biar aku saja.”
“Kau yakin?”
Kay mengangguk mantap. Hati-hati, ia bangkit dibantu Aesira. Gadis berambut pirang itu memapahnya sampai di sisi kosong ranjang Pangeran Eleazar.
“Tidakkah kalian tahu kalau aku ingin sendiri?” tukas Pangeran Eleazar tanpa menatap wajah keduanya sekilas saja.
Kay menatap Aesira yang memberikan isyarat akan keluar menyusul Isabella dan yang lain. Kay mengiyakan.
Diam-diam, Aesira tetap mengawasi dua laki-laki di dalam sana di samping pintu sebagai bentuk antisipasi saja jika Pangeran Eleazar membuat hal buruk pada Kay.
“Aku tidak akan mengapa-apakan kekasihmu ini!” seruan dari Pangeran Eleazar itu seketika membuat Aesira kaget karena persembunyiannya diketahui.
Aesira melongok dari daun pintu mengecek keadaan Kay untuk terakhir kali.
“Kau akan tahu akibatnya jika kau berani melukai Kay seujung kuku pun!” ancam Aesira.
“Terserah!” jawab Eleazar yang membuat Kay tertawa kecil.
“Aku akan baik-baik saja, Ae. Kau pergilah menyusul Isabella.”
Dengan perasaan dilema, Aesira memutuskan hengkang dari ruangan itu sepenuhnya sembari membawa harap ada kabar baik soal pemecahan masalah kutukan gelang naga Kay. Sungguh, Aesira tidak ingin Kay berubah menjadi sosok naga merah seumur hidup. Itu adalah masalah besar.