Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 25



Dicahayai remang-remang bola cahaya. Aesira melatih gerakan pedanganya agar lebih lincah dengan melawan Lynda yang sangat gesit dan hampir saja bisa melukainya jika ia tidak sigap menghindar. Pedang mereka terus beradu menciptakan suara bertumbukan.


Keajaiban selalu terjadi di Arsh, entah kenapa, Aesira yang hanya menguasai teknik berenang kini sangat handal memainkan pedang milik Havardur yang besar itu. Aesira sendiri pun juga heran kepada dirinya sendiri namun, ia yakin ini adalah bagian takdirnya.


Lynda menampik pedang di tangan Aesira dan membuat pedang itu melayang di udara. Cepat, Havardur di melopat dan menangkap pedang tersebut kemudian, mengarahkan ujung pedang di samping leher Lynda sedangkan gadis menahan bentangan pedanganya yang berada di depan dada Aesira.


Semua yang melihat sesi latihan itu bersorak sembari bertepuk tangan. Lynda mengembalikan pedang bercahaya emas itu ke dalam jiwa murninya, pun dengan Havardur.


Seluruh permukaan kepala Aesira banjir keringat. Namun, ia merasakan kelegaan yang membuatnya cukup untuk melupakan sejenak arti kesedihan dalam hidup. Itu juga berkat Havardur yang selama di perjalanan selalu memberikan nasihat-nasihat berarti agar hidupnya tidak boleh mati sekalipun orang-orang tersayang di sekitarnya mati.


“Ternyata kau ahli berpedang juga, ya?” puji Lynda.


“Seumur-umur baru ini aku memegang pedang dan memainkannya, Lyn.”


“Benarkah? Tapi, kulihat kau seperti orang yang sudah puluhan kali berlatih.”


Aesira tertawa kecil atas pujian Lynda barusan sampai ia terdiam saat mengetahui binar cahaya di tangannya. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan, memperhatikan sebuah tanda berbentuk bulan di sebelah kanan dan tanda bintang di tangan kiri. Kedua tanda itu berwarna biru dan dikelilingi cahaya.


“Ae …” Margaretha memandang Aesira ketika tiba. Ia menatap wajah gadis itu yang meminta jawaban.


Margaretha mengangkat tangannya dan menyejajarkan posisi di sebelah tangan Aesira. Tak lama, sebuah simbol kuning keemasan berbentuk matahari muncul. Lynda menyusul, memperlihatkan simbol dua pedang yang saling berhadap-hadapan dengan cahaya perak. Isabella berlari bersama dengan Kay. Ia terpana ketika melihat simbol-simbol cahaya di tangan teman-teman. Tanpa ragu, Isabella ikut memperlihatkan tangan kanannya dan perlahan tandatangan bentuk sepasang sayap berselimut cahaya putih hadir.


Tak lama berselang, cahaya-cahaya di tangan mereka meluas. Sebuah kekuatan besar muncul dari tangan-tangan mereka. Mereka memejamkan mata dan saling berpegang erat. Kekuatan itu membawa mereka ke dimensi dimana mereka bertemu tiga duplikat Ratu Udaya lainnya.


“Meski kami telah pergi. Tapi, kekuatan kami akan mengalir di setiap raga kalian,” tukas salah satu di antara mereka yang memiliki rambut berwarna biru.


Sesosok laki-laki dengan paras yang sama, menambahi,”Perjuangan kami memang telah selesai, tapi perjuangan kalian baru saja dimulai.”


Wanita dengan usia setengah abad namun tubuhnya sangat tegap dengan dua pedang terselip di punggungnya. Parasnya yang menua tapi, tetap saja terlihat jelas jika paras wanita itu serupa dengan mereka semua, mendekat ke arah Lynda dan menyerahkan pedang bentuk bulan sabit. Senyum wanita itu tertangkap oleh empat gadis itu sebelum wanita itu menghilang.


Kemudian, laki-laki duplikat Ratu Udaya bergantian maju. Ia mendekat ke Isabella. Laki-laki itu tersenyum dan menatap wajah gadis itu teliti. Laki-laki itu menggosok puncak kepala Isabella.


“Banyaklah makan, kau terlihat kurus.”


Diantara tawa dan tangis, Isabella menjatuhkan pelukannya ke laki-laki di hadapannya. Ia adalah Samuel, kembaran Isabella. Gadis itu menangis tersengal-sengal di pundak kembarannya.


“Waktuku tidak banyak, kau tidak ada peluang untuk menangis lebih lama.”


Samuel mendorong perlahan tubuh kembarannya. Lalu, memberikan sebuah kalung dengan simbol petir. Mereka berdua saling melempar senyuman hingga tubuh Samuel perlahan memudar.


Perempuan dengan warna rambut biru tiba di depan Margaretha. Menarik tangan kanan gadis itu dan meletakkan sebuah kalung dengan permata berwarna biru.


“Terima kasih.”


Perempuan berambut biru mengiyakan. Kemudian, ia beralih ke hadapan Aesira dan meletakkan satu tangannya di bahu Aesira.


“Kau yang ke tujuh. Kau adalah penentu. Jalan kemenangan ada di tanganmu. Yakinlah pada dirimu, karena di sana tersimpan kekuatan besar untuk mengalahkan kegelapan.”


“Aku …” Aesira menunduk, kala ingin melanjutkan ucapan, tubuh perempuan itu lebih dulu hilang secepat datangnya cahaya.


Mata mereka terbuka bersama dengan tangan yang masih berpegangan erat satu sama lain.


Lynda memadang tangannya yang terbalut kain putih yang lumayan agak kusam itu. Ia membuka lilitan kain itu tidak sabaran.


“Tanganku sudah tidak sakit lagi. Luka-lukanya pun juga hilang!” tuturnya.


Margaretha mengecek tangan Lynda tersebut. Gadis yang ahli dalam bidang medis di masanya itu membenarkan ucapan Lynda.


Margaretha dan Isabella memeriksa leher masing-masing. Dan di sana telah terpasang kalung yang mereka dapatkan dari perempuan berambut biru dan Samuel.


“Semua ini akan membantu kita,” ujar Isabella.


Kay dan Havardur mendekat setelah lama menunggu.


“Apa kalian baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kay beruntun.


“Kami baru saja bertemu dengan tiga bagian kami,” balas Aesira.


Empat gadis itu mengangguk bersamaan.


“Tapi, kenapa hanya kita bertiga yang mendapatkan sesuatu dari mereka, sedangkan Aesira tidak?” tukas Lynda.


Pernyataan Lynda barusan membuat mereka bertanya-tanya beberapa saat.


“Ah, itu tidak masalah. Kalian pantas mendapatkan itu, waktu perjuangan kalian lebih lama dari pada aku. Ini bentuk apresiasi untuk perjuangan kalian selama ini,” ujar Aesira.


“Sebentar, Aesira.” Margaretha menarik kedua tangan Aesira dan memperlihatkan telapak tangan gadis itu yang masih tertera simbol biru.


“Kau adalah satu-satunya orang di antara kami yang mendapatkan dua simbol sekaligus. Bulan di tangan kananmu dan bintang di tangan kirimu. Berbeda dengan kami yang hanya mendapat satu simbol di tangan kiri kami. Kau ingat apa perkataan perempuan tadi, kau penentu kemenangan. Seseorang yang telah terakhir begitu pastilah bukan orang sembarang. Kau memiliki kekuatan terbesar di dalam dirimu, Ae.”


Aesira memandang semua orang yang mengangguk setuju dengan penuturan Margaretha tersebut. Setelah mengumpulkan keyakinan penuh, ia berkata pada semua orang.


“Akan kutunaikan takdirku. Aku percaya pada diriku!” seru Aesira penuh semangat.


***


“Kalian bertemu mereka?” tanya Putri Elma.


Margaretha dan Isabella menaruh kalung ke hadapan Putri Elma. Putri Elma pun mengambil dua kalung dengan dua model berbeda tersebut.


“Wanita berambut biru itu namanya Claire. Kekuatannya adalah air,” terang Putri Elma.


“Kekuatan air? Bahkan kekuatan kami bertolak belakang, apa dia memilki maksud agar aku menguasai dua kekuatan yang saling bertolak belakang?”


Putri Elma mengeset kalung dengan permata biru ke depan meja Margaretha. “Mungkin saja.”


“Kau akan tahu cara mengendalikan kekuatan itu di saat waktu yang tepat.”


Kalung dengan liontin petir giliran Putri Elma berikan ke Isabella.


“Aku baru tahu kalau kau dan Samuel adalah saudara kembar.”


Isabella melingkarkan kalung itu ke lehernya dan menurutnya dengan syal kembali.


“Kami sekeluarga mengira dia sudah tewas saat perjalanan ke medan peperangan. Tapi, terbayar di menghilang kemari dan berjuang sampai ajal menjemput.”


Putri Elma mengusap punggung tangan Isabella sebagai tanda bela sungkawa.


“Dia adalah petarung yang handal. Dia memiliki sepasang sayap putih dengan cambuk petir. Sepertinya, dia menitipkan kekuatan itu padamu,” kata Putri Elma sedikit menghibur hati Isabella.


“Apa Lynda mendapatkan dua pedang pejuang tua berjiwa muda milik Nala?”


“Benar, Putri. Dia memberikannya padaku,” jawab Lynda.


“Dan, Aesira ….?” Putri Elma mengalihkan perhatian pada Aesira.


“Aku akan mendapatkan hadiahku di waktu yang tepat, Putri.”


Jawaban Aesira barusan berhasil membuat sang putri takjub.


“Ya, suatu hari nanti. Kau akan mendapatkannya, Aesira.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...**AWAS BANYAK TYPO!!! ...


...----------------...


...Mau lanjut gak, nih? ...


...Komen di kolom komentar, ya😆**...