Aesira Destiny

Aesira Destiny
END



Kedua tangannya berayun. Bola cahaya tersebut melesat, dengan sekali kibas, bola cahaya tersebut terserap ke sela-sela tubuh Ratu Udaya dan menambah daya kekuatannya.


Terlalu banyak mengeluarkan energi, darah menyembul dari mulut Aesira. Tubuhnya turun tapi, dengan cepat ia tahan agar tidak jatuh.


Dari kejauhan, percikan air muncul ke permukaan. Ada banyak ledakan api di bagian kerajaan. Aesira tambah was-was.


“Kau akan menjadi yang terakhir, aku akan bermain-main dahulu dengan teman-temanmu. Hahaha ...”


Aesira benar-benar terluka parah, ia bahkan tak mampu berdiri sekarang. Saat ia melihat ke depan, satu bayangan Ratu Udaya membawa tubuh ketiga sahabatnya. Tangan kanan wanita iblis itu membawa kepala naga yang membuat Aesira merasakan kepiluan yang amat sangat. Dadanya sesak, hancur, dan ingin memberontak. Bercucuran air matanya, bertumpu pedang yang ia keluarkan, kakinya yang gemetar perlahan-lahan tegak menopang tubuh yang penuh luka.


Saat kepala naga itu dengan sengaja dijatuhkan, Aesira terbang cepat menangkap. Meletakkannya hati-hati ke atas tanah dengan tangan gemetar. Tangisnya pecah, ia memeluk kepala naga itu dengan perasaan porak-poranda.


“Kenapa sekali lagi aku tidak mampu menyelamatkan orang yang aku sayangi.”


“Aku gagal ... aku gagal!” Aesira terus merutuki dirinya untuk kesekian kali.


Tetiba, kepalanya melenggang melihat ke atas saat Margaretha, Isabella dan Lynda diserang habis-habisan ditengah keadaan mereka yang sekarat. Aesira menghapus air mata lekas, ia melesat naik hendak menyelamatkan ketiganya, namun semua orang tahu, kesedihan adalah kelemahan gadis itu. Kekuatannya bahkan merosot dan berakhir ditertawai Ratu Udaya yang berbangga. Dengan keadaan frustasi nan emosi, Aesira kalang kabut mengerahkan pedangnya, namun selalu meleset. Ia dipukul mundur, jatuh tapi, bayangan Ratu Udaya sigap menahan dengan mencengkeram tubuhnya dengan tali penuh api.


“Kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana kematianmu nanti akan datang!”


Ratu Udaya menjajarkan jasad tiga teman Aesira yang sudah tidak berkutik. Kedua tangan Ratu Udaya naik, Aesira menggeleng, gadis itu berteriak keras memohon untuk tidak melukai ketiga sahabatnya. Cahaya hitam berpadu merah keluar dari kedua telapak tangan Ratu Udaya, menarik jiwa ketiga tubuh di hadapannya hingga sedikit demi sedikit. Pedih melihat ketiga sahabatnya tampak kesakitan semacam itu.


“TIDAK!!! TOLONG HENTIKAN! TIDAK!!!”


Seberapa kencang ia bersuara, ia tetap tidak didengar. Karena, inilah tujuan Ratu Udaya inilah yang diinginkannya.


Aesira menjerit di tengah tangisnya yang menyesakkan sebab tak mampu melihat ketiga temannya terserap hilang ke tubuh wanita durjana yang haus akan kekuasaan.


Sulur-sulur hitam yang membentuk tubuh Ratu Udaya perlahan tertutup lapisan kulit manusia yang selama ini ia damba. Namun, ia sangat kesal ketika wajahnya tidak mengalami perubahan dan hanya terisi sebagian. Ukuran tubuhnya bertambah besar dengan sayap yang semakin melebar dan dalam satu keibaan saja mampu membuat jutaan orang berjatuhan.


Kemarahan, kesedihan, dan penyesalan bertumpuk. Ia memejamkan mata, mengatur napas sejenak dan berkonsentrasi penuh. Binar-binar cahaya yang sempat meredup kembali menyelimuti dirinya, bahkan cahaya besar dari langit tetiba menimpa tubuh gadis itu seperti mengisi kekuatannya kembali. Jerat tali api Ratu Udaya bahkan sampai terlepas. Saking besarnya cahaya yang menyelimuti, Ratu Udaya bahkan tak mampu menembus penglihatannya tentang apa yang terjadi pada gadis itu.


Cahaya itu meledak, dengan tangannya, Ratu Udaya menghalau cahaya yang menyilaukan matanya. Pertama kali yang terlihat di antara sayup-sayup cahaya itu adalah kedua mata Aesira yang berubah biru pekat yang tajam. Gaun biru yang dikenakan, berubah menjadi gaun putih dengan menjulur panjang. Rambutnya tidak lagi pirang, tapi berubah putih, setengah wajah gadis itu memiliki wajah yang sangat Ratu Udaya kenal. Wajah ibunya, Ratu Mina. Hal itu membuatnya tersentak kaget. Ia, tidak hanya seolah melawan dirinya sendiri tapi, juga ibu yang telah melahirkannya. Tapi, watak sepertinya tidaklah gentar. Ia tidak urus soal siapa yang dilawannya.


Pasukan yang tersisa dipanggilnya, tentara dari negara sekutu ikut membantu. Baru kali ini, ia merasakan kekhawatiran yang sangat besar saat menghadapi musuh. Neanderthal, negeri pengendali kekuatan angin, Oskandor negeri pengendali alam, Vandornia, negeri pengendali air, Ivor negeri pengendali tanah bertempur habis-habisan menyerang Aesira dengan segenap kekuatan. Tetapi sayangnya, kekuatan mereka tidak sebanding meskipun menang dalam hal jumlah. Aesira menjentikkan jari, seketika, semua pasukan jatuh ke daratan dan pingsan.


“Pertarungan ini hanya antara aku dan dirimu, tidak perlu melibatkan orang lain yang tidak tahu inti masalah ini ...” ucap Aesira dengan suara berat.


Genggaman tangan Jazira mengepal kuat dengan gigi bergemertak.


Secepat angin berhembus, keduanya bertarung dengan sangat sengit di langit. Guntur, api, air, dan percikan benturan pedang beradu.


Aesira berputar untuk menghindar dari tusukan pedang, ia berbalik menyerang dan menusukkan pedangnya hingga menembus dada Jazira yang kali ini lukanya tidak akan mengkhianati apa yang ia inginkan. Ratu bengis itu, tertumpah darahnya. Setempat kepala ratu itu menoleh untuk terakhir kali lalu, setelahnya ia jatuh dengan keras membentur tanah.


Semua orang yang pingsan terbangun. Aesira berubah ke ukuran aslinya dengan pakaian serba hitam yang selama ini menemaninya berjuang. Dalam keadaan terengah-engah. Ia perlahan mendarat di sisi Jazira. Tubuh ratu itu perlahan remuk seperti kayu yang hangus terbakar dan menyisakan sebuah belati.


Ia, teringat ucapan Ratu Mina saat terakhir kali meninggalkan tubuhnya. Ia mengangguk mantap, dan sebelum itu, ia menatap negeri Arsh. Orang-orang yang telah sadar dan dihilangkan sihir pengaruh Ratu Udaya mendekat untuk melihat apa yang akan gadis itu lakukan.


Aesira mengangkat belati dengan cahaya hijau di tengahnya itu. Ia mengambil napas sejenak lalu, menancapkan belati tersebut persis ke jantungnya. Semua orang terkejut melihat itu.


***


Saat Aesira membuka mata, ia terkejut ketika mendapati dirinya yang berada di dalam kelas. Ia sangat yakin jika semua itu bukanlah sekadar mimpi. Ia betul-betul bingung.


“Tidak, aku tahu itu bukan mimpi. Arsh ... apa yang terjadi pada Arsh sepeninggalku. Bagaimana kehidupan berlanjut di sana setelah pemimpin adilnya tiada?”


Melihat itu, Aesira mematung. Saat gadis itu tiba di sebelahnya, ia langsung menarik gadis itu ke pelukannya.


“Hei, apa yang kau lakukan?”


“A, a, aku merindukanmu, Rui,” ucap Aesira yang menurut Rui sangat aneh.


“Kita baru saja mengobrol sekitar lima belas menit yang lalu, dan kau bilang kau merindukanku?”


Aesira tidak peduli ia dianggap begitu, tapi yang jelas sekarang, ia dapat tahu jika teman baiknya tidak pergi dari sisinya.


Rui mendorong pelan kedua pundak Aesira.


“Apa kau ... menangis?”


Aesira mengusap ingusnya. “Tidak.”


“Kau berbohong! Sudahlah, lebih baik kita membereskan buku-bukumu dahulu baru pulang, apa kau tidak ingat kalau kita harus membeli bahan-bahan membuat kue?” Rui membereskan buku-buku Aesira yang tercecer di berbagai sudut. Dengan semangat, Aesira membantu mengumpulkannya bukunya.


“Hei! Lima belas menit, ini rekor terbaru kutukan putri tidur itu terjadi. Apa, kutukan itu sekarang sudah hilang. Maksudku, lima belas menit itu waktu rata-rata sedikitnya seseorang tertidur. Bukankah biasanya kau bisa tertidur sampai tiga jam lamanya? Whoa, ini kabar baik, Ae.” Rui berbahagia, ia mengajak Aesira melompat sembari bersorak.


Setelah menyimpan buku ke dalam tas, keduanya keluar dari kelas. Saat menuruni anak tangga, Aesira mematung saat melihat laki-laki bertubuh jangkung yang berdiri tepat di ujung tangga.


“Kay ...” lirih ia bersuara.


“Apa, Ae?” tanya Rui yang merasa mendengar jika Aesira mengatakan sesuatu.


“Tidak-tidak.”


“Jadi, kita kembali ke hari itu, ya?”


Aesira mendengkus.


“Ini jauh lebih baik dari pada menyaksikan kematian semua orang.”


Saat Kay melewati dirinya, ia menautkan jari kelingking ke tangan laki-laki itu. Ia salah mengira jika laki-laki itu akan mengacuhkannya, tautan jari kelingking itu digenggam erat oleh jari kelingking laki-laki itu. Sontak Aesira menoleh ke belakang dan mendapati Kay tersenyum padanya.


Bulir-bulir air mata berjatuhan seketika. Kay mundur satu langkah dan mendekap erat Aesira. Keduanya khidmat dalam tangis. Rui yang melihat itu kebingungan sendiri, setahunya, temannya itu sangat tidak dipedulikan laki-laki itu selama ini. Tapi, saat ini, melihat Kay memeluk Aesira seolah melepaskan kerinduan yang tertahankan, ia jadi sadar jika keduanya memiliki cinta yang besar.


Menuju rumah, Aesira dan Rui diantar Kay menggunakan mobil. Laki-laki itu bercerita jika ia tidak dilarang lagi berkendara sendiri dan bebas melakukan apa yang ia suka tanpa tuntutan.


“Kenapa hari ini kau merindukan semua orang, itu aneh sekali Ae,” tukas Rui.


Aesira memandang Kay, keduanya tersenyum.


“Kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Tidak ada, Rui.”


Rui menggaruk dahinya. Kay selesai memarkirkan mobil, Aesira antusias menyala pintu dan berlari menyambangi ibunya yang menunggu di depan toko lalu, memberikan pelukan erat.


“Hei, tidak biasanya kau memeluk ibu sepulang sekolah.”


Aesira menggeleng di bahu Sophia. Melihat Aesira seperti anak kecil semua orang tertawa.