Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 30



Sebuah gerbang besar terbuka, membawa debutan angin yang menyirnakan kabut putih tebal. Para prajurit yang sempat mengejutkan Aesira tampak berjajar rapi dengan pakaian putih dengan lapisan baju besi berlumur emas serta mengenggam tegap tombak.


Mereka berjalan tergesa-gesa mengikuti seorang laki-laki dengan tubuh agak gempal dengan rambut panjang terikat ke belakang. Aesira memerhatikan sekitar, banyak sekali hal-hal baru yang ia dapati di kerajaan langit ini. Semua orang terasa lepas tanpa beban, mereka mengobrol di gubuk putih dengan banyak sekali bunga-bunga terhias, kebahagiaan mereka sangat kental terasa dan menjalar jua ke hati para tamu yang saat ini melewati mereka menuju istana tempat raja tinggal.


Terpana lagi ketika mereka semua melihat betapa agungnya istana langit yang hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari kristal dan ornamen mutiara. Perjalanan panjang tidak terasa sembari menengok keelokan kerajaan langit yang memesona.


Aesira dan yang lainnya ikut menundukkan setengah badan ketika memerhatikan Putri Elma.


“Mereka utusan dari Kerajaan Arsh yang tadi hamba maksud Yang Mulia,” tutur laki-laki bertubuh gempal pada paduka raja yang duduk di singgasananya.


“Bawa mereka ke ruang makan, aku ingin menjamu tamu agungku dengan baik,” titah sang raja yang terlihat memiliki umur belasan meski telah memerintah selama hampir setengah abad.


Keenam orang itu duduk di ruangan dengan kubah kaca raksasa dengan bunga-bunga beraneka warna yang tersusun rapi, membuat mata wanita girang tak terkira.


“Kita kemari tidak untuk makan kan, Putri?” tukas Isabella tidak sabaran.


Putri Elma mengulas senyum. “Tidak baik menolak kebaikan orang lain. Raja pasti tahu kedatangan kita tidak untuk main-main.”


“Tapi, waktu kita tidak banyak Putri. Ratu Udaya dengan ribuan pasukannya telah bersiap,” kata Kay yang sontak membuat semua orang di meja makan menoleh padanya.


“Kay? Sepertinya selain kau dapat berubah menjadi naga, semenjak kau datang kemari, Kau memiliki kemampuan melihat jarak jauh?” tukas Aesira yang duduk di depan Kay.


“Kau tidak menyadarinya?” tanya Aesira lagi sebelum Kay menjawab.


Kay menggeleng.


“Kekuatanmu itu akan sangat membantu, Kay,” tukas Putri Elma.


“Ya, Putri benar. Dengan kau bisa melihat jarak jauh, kita bisa memantau gerak-gerik Ratu Udaya dan segala siasatnya,” tambah Margaretha.


“Hanya saja, kelebihan ini muncul tiba-tiba dan di saat tertentu saja,” terang Kay dengan wajah sedikit lesu. Isabella yang duduk di sebelahnya, menempelkan satu tangan ke lengan laki-laki itu, lalu menundukkan kepalanya ke arah Kay.


“Kau akan menemukan cara mengendalikan kelebihanmu secepatnya, Kay.”


“Semoga saja,” jawab Kay sembari menghadapkan pandangan ke depan, pada Aesira yang sedang mati-matian menahan kecemburuan.


Kerja keras Aesira yang sedari tadi memacu diri agar terlihat baik-baik saja di tengah gempuran cemburu, teralihkan oleh kehadiran Raja Alsatia yang duduk dengan sangat anggun nan berwibawa. Tak berselang lama, para dayang yang sangat cantik parasnya menyajikan hidangan yang begitu banyak di atas meja. Hingga Aesira sendiri bingung harus menyantap yang mana dahulu sebagai pembuka. Sejak berada di Arsh, kondisi perutnya kurang ia perhatikan. Ia hanya memakan hidangan seadanya yang dibuat oleh Margaretha. Karena dari asalnya Margaretha merupakan seorang tenaga medis. Rasa makanan yang ia olah diatur sedemikian rupa.


Mereka dilayani dengan sangat baik. Bahkan bagi Aesira dan semuanya, ini adalah jamuan terbaik yang pernah mereka dapatkan hingga kini. Terkecuali Kay mungkin.


Selesai mendapatkan jamuan mewah, Raja Alsatia mengajak mereka ke sebuah ruangan dengan lantai dari gumpalan awan padat. Mereka bersama menaiki belasan tangga menuju sebuah panggung setengah lingkaran dengan meja meja lonjong di tangannya. Perlahan mereka mengisi kursi-kursi yang kosong ketika Raja Alsatia mempersilakan.


Putri Elma menudukknya kepala. “Benar Yang Mulia.” Dikeluarkannya stempel yang terbungkus kain biru kepada Raja Alsatia. Melihat keaslian stempel tersebut, Raja Alsatia yakin jikalau mereka benarlah utusan yang tidak boleh diragukan.


“Kami telah menutup semua portal ke kerajaan kami ratusan tahun yang lalu kecuali, keturunan dari kami yang dapat membukanya.”


“Tiga orang berparas sama yang bersamaku, mereka adalah bagian dari keturunan Dewi Mina yang kalian usir puluhan tahun yang lalu,” terang Putri Elma sembari menunduk kembali. Raja Alsatia memandang satu persatu orang-orang yang dimaksudkan Putri Elma.


“Kalian bertiga mewarisi setengah bagian wajah dari keturunan kami,” tukas sang raja.


“Jadi, Ratu Mina adalah seorang dewi dari kerajaan ini? Bagaimana bisa mereka mengusir Ratu Mina dahulunya? Apakah ini karena kisah-kisah yang sama dengan kisah romeo dan juliet?” batin Aesira.


“Terangkan apa maksud kedatangan kalian di kerajaanku.”


Isabella yang kurang sabar hampir membuka suara dan lekas saja di tahan oleh Margaretha. Karena ini masih menjadi bagian Putri Elma sebagai utusan resmi Arsh.


“Kami kemari membawa kabar yang sangat penting, jikalau Kerajaan Udaya akan melakukan penyerangan ke kerajaan langit untuk mencuri bunga keramat yang dilindungi kerajaan ini.”


Tidak ada reaksi lain yang dihadirkan Raja Alsatia usai mendengar penuturan Putri Elma barusan selain tertawa kencang. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benak orang-orang di ruangan itu.


“Itu tidak mungkin. Mereka tidak akan bisa sampai kembali semudah itu. Karena, memang tidak ada jalan kemari.” Raja Alsatia melanjutkan tawanya.


“Mungkin jika kalian yang membawa mereka kemari, aku akan percaya,” sambungnya di sela menahan tawa.


Puas dan lelah tertawa, Raja Alsatia mengembalikan sikapnya semormal mungkin.


“Semua orang di kerajaanku hidup dengan kebahagiaan di sepanjang usianya. Di sini, tidak ada tangis, kemarahan, kebencian, bahkan kalian pasti melihat sendiri di sini jikalau tidak ada satu pun rakyatnya yang nampak tua wajahnya. Kami hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian selama ini, itu semua karena kami telah lepas tangan dan menutup semua pintu dari urusan kehidupan manusia yang serakah. Jadi, jika pun mereka hendak menyerang kemari, mereka hanya akan mengarungi perjalanan tanpa ujung.” Raja Alsatia membenarkan lengan longgarnya ke atas meja.


“Pintu itu akan udah terbuka oleh satu lagi keturunan Ratu Mina, Raja. Dia, adalah Jazira, Ratu Udaya yang merupakan putri kandung dari Ratu Mina. Ketiga sahabatku ini adalah titisan Jazira yang tersebar ke dunia lain karena kutukan Raja Emir.”


Mendengar itu, Raja Alsatia menghentikan kegiatannya membenahi lengan pakaian kebesarannya.


“Kutukan?” tanya Raja Alsatia dengan nada lemah. Seketika, sang raja berdiri dan pergi dari ruangan tersebut menemui panglima yang tengah bersantai sembari memainkan seruling.


Kedatangan raja yang tak terduga itu, membuat panglima kalang kabut berdiri dan menyisipkan serulingnya di pinggang.


“Siapkan pasukan, kita akan diserang!”


“Siapa yang akan menyerang kita, Raja? Bukankah mantra pelindung menjaga Kerjaan Langit dengan sangat baik?”


Raja Alsatia menggeleng. “Jangan banyak bertanya! Siapakah pasukan sekarang!” serunya dengan nada tinggi. Membuat panglima acap mangkat kaki memenuhi perintah raja.