
Semalaman usai serangan berkecamuk. Tiga gadis kembar beda usia itu berjalan beriringan menuju bangunan istana dengan langkah cepat. Satu diantaranya yakni, Margaretha si sulung, menggendong tubuh sang putri yang terluka akibat sabetan pedang dari salah satu prajurit Udaya tanpa sepengetahuannya.
Kay dan Aesira berdiri bersamaan ketika dari jauh mereka melihat rombongan sang putri mendekat. Ketika ketiga orang itu menaiki tangga, seketika wajah Putri Elma yang memucat, membuat keduanya tercengang. Mereka mengikuti Margaretha yang membawa sang putri ke bangsal perawatan.
“Putri Elma mengeluarkan banyak darah, bagaimana ini bisa terjadi Kak Margaretha?” tanya Aesira di sela gadis itu menyiapkan alat medis seadanya.
“Seorang prajurit menyerang tiba-tiba di tengah putri sedang melakukan perlawanan. Beruntunglah Lynda berhasil melumpuhkan prajurit itu sebelum ia melukai putri lebih dalam.”
Aesira menelan ludahnya ketika melihat Margaretha membersihkan luka sang putri tanpa belas kasih.
“Kau biar menunggu keluar,” tukas Margaretha seolah menjawab keinginan gadis berambut pirang yang berdiri di belakangnya.
“Okey,” balas Aesira singkat. Ia menarik diri dan ikut menunggu di luar ruangan bersama Kay dan dua gadis satu rupa dengannya.
“Baru beberapa hari kemari, banyak sekali orang yang terluka dan pergi. Penderitaan, kesengsaraan, dan peperangan tak berhenti. Tidak mengingat siang ataupun malam. Rakyat hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Bahkan, di tempat asing ini, aku kehilangan sahabatku. Tuhan, harus berapa lama lagi, langit terbuka, menapakkan cahaya kemenangan Arsh yang didamba rakyatnya? Apakah benar aku adalah penentu akan takdir kemenangan ini? Tapi, apa yang bisa kuperbuat? Bahkan menghadirkan kekuatan di dalam diriku saja aku tidak tahu caranya.”
Aesira menatap Lynda, gadis termuda di kelompok ini terlihat tengah memeriksa luka di tangannya. Dan pemandangan luka semacam itu membuat Aesira lagi-lagi merasa ngilu. Bergantian, ia melihat Isabella yang tengah berusaha memindahkan sebuah batu dengan ayunan tangannya namun, tampak batu itu sama sekali tidak bergerak secenti pun. Isabella terus saja berdecak.
“Apa kau kehilangan kekuatanmu?” tanya Kay yang bersandar di samping pintu.
Tanpa menoleh gadis berambut merah itu menjawab,”tidak.”
“Hanya saja, setiap kali aku mengeluarkan kekuatan penuh, memang akan semacam ini jadinya,” sambung Isabella. Ia memutar badan sembari melipat tangan.
“Tapi, ini tidak akan berlangsung lama. Setelah aku beristirahat kekuatanku akan datang kembali.”
“Oh, begitu, ya?” ucap Kay. Isabella pun mengangguk.
“Maaf.” Satu kata dari Aesira itu membuat semua orang mengerutkan dahi. Lynda yang tengah menyobek kain putih dengan giginya untuk membalut luka ditangannya pun terhenti juga.
“Untuk?” tanya Isabella.
Aesira mengangkat wajahnya. “Untuk semua hal, karena aku tidak bisa membantu kalian.”
“Tenang saja, Ae. Kondisi semacam ini sudah bisa kami atasi. Kau jangan terus-terusan menyalahkan diri.” Isabella menempelkan tangannya ke bahu gadis itu.
“Aku pernah berada di posisimu, Ae. Posisi dimana, ketika semua orang sedang berusaha, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sampai dimana kita kehilangan sesuatu yang berharga, kita hanya bisa diam membiarkannya pergi,” lanjutnya dengan nada sedu.
Wajah Aesira naik menatap Isabella.
“Apa terjadi sesuatu?” tanyanya memastikan.
Gadis dihadapkannya mengusap cairan bening di sudut mata kanan.
“Tidak ada,” jawab Isabella sambil menggeleng.
Raut wajah Isabella kemudian berubah riang seketika. “Ayo berlatih bersama? Kita harus pulang ‘kan? Semua orang di rumah pasti merindukan kita,” katanya seraya tersenyum riang.
Dulu, Isabella datang setelah Lynda. Gadis itu mendarat di dermaga bersama kekasihnya yang bernama Christopher. Tak lama, mereka berdua juga memutuskan untuk Putri Elma berjuang untuk mempertahankan Arsh sama seperti Lynda. Namun hal nahas terjadi, Christopher harus tumbang di arena perang, jasadnya diculik oleh Ratu Udaya sebagai tempat pengisian nyawa Pangeran Eleazar agar bisa hidup kembali. Pertanyaan di benak Isabella kenapa harus kekasihnya diculik dengan kondisi mati terjawab oleh Putri Elma yang mengatakan bahwa Christopher miliki wajah yang mirip dengan Pangeran Eleazar. Putri Elma sendiri tahu jika kedua laki-laki itu berupa sama sebab pengasuhnya yang memberitahu. Pengasuh itu adalah pengasuh yang sama dengan pengasuh Pangeran Eleazar dan Putri Jazira, alias Ratu Udaya. Zaramama.
Zaramama sendiri telah tewas karena ketahuan menjadi mata-mata Udaya. Wanita paruh baya itu, adalah sosok yang menjadi penolong Putri Elma usai kedua orang tuanya dibunuh secara kejam. Saat itu, ketika Putri Jazira tengah membabi buta menyerang Raja Emir yang sudah lebih dulu menaikkan sumpah di langit, diam-diam ia meraih Putri Elma dan membawanya lari untuk diselamatkan. Meskipun sebelumnya ia merupakan mata-mata Udaya, bahkan membuat semua pasukan Udaya bebas dari portal yang dibuat Ratu Mina. Namun, berkat kebaikan orang-orang di kerajaan Arsh, hatinya luluh. Sebagai tebusan atas dosa-dosanya, ia bersumpah akan menjaga Putri Elma. Setelah keadaan kembali aman, Zaramama kembali ke istana. Dengan keadaan luka berat, Raja Emir berhasil mengusir Putri Jazira beserta pasukannya agar mundur. Lima belas tahun, Raja Emir memimpin Arsh di hari tuanya, merawat sang cucu, dan didera sakit yang cukup parah. Hingga akhirnya, sang raja agung itu wafat, tampuk kepemimpinan Arsh jatuh pada satu-satunya ahli waris yang ada. Namun, belum juga sang putri dilantik, serangan dari kerajaan Udaya menjadi-jadi. Separuh bangunan kerajaan Arsh hancur. Di usia yang masih sangat muda, Putri Elma memimpin untuk melawan penjajahan Udaya sampai sekarang.
“Apa kalian lapar? Akan dibuatkan sup,” tukas Margaretha usaha keluar dari pintu.
“Bisa-bisanya kakak membicarakan makanan di saat yang genting begini?” gurau Isabella, ia menambahi ucapannya,”bagaimana keadaan Putri Elma?”
“Hanya sabetan kecil, tidak terlalu dalam. Putri sedang beristirahat sekarang,” balas gadis tertua itu.
“Tapi kulihat darah di perut putri sangat banyak, apa itu tak apa?” tanya Aesira cemas.
Margaretha terkekeh. “Ya, kau bisa mempercayaiku.”
“Lyn, apa lukamu perlu kuobati dulu? Juga sebaiknya kau jangan banyak bermain panahan dulu, cidera di lenganmu itu belum sepenuhnya sembuh,” ujar Margaretha.
“Baik.”
Aesira tidak berselera makan. Gadis itu, meratap di ruangan tempat Putri Elma dirawat. Ia menunggu dengan kebisuan. Namun, tidak dengan pikirannya yang terus menyerang dengan berbagai prasangka masa depan yang mengerikan. Tanpa sadar, air matanya jatuh mengenai telapak tangan Putri Elma di pangkuannya.
“A … Aesira …”
Gadis dengan identitas rambut pirang itu menoleh cepat ke Putri Elma yang telah tersadar.
“Putri, jangan bergerak dulu. Lukamu belum kering.” Putri Elma tak menghiraukan saran Aesira, ia tetap ingin mengambil posisi duduk. Hati-hati, Aesira membantunya agar nyaman dan lukanya tidak terganggu.
“Terima kasih, Aesira.”
“Sama-sama, Putri Elma." Aesira kembali duduk di kursinya.
Sembari bersandar, Putri Elma mengamati Aesira yang ia dapat tebak tengah gundah hati.
“Putri …”
“Iya, Ae. Kau ingin mengatakan sesuatu?”
Aesira menunda ucapannya beberapa menit.
“Bagaimana ini bisa berakhir dengan penentu adalah aku? Aku … aku tidak bisa mengeluarkan kekuatanku untuk melindungi banyak orang. Aku takut, jika seperti ini, aku akan kehilangan banyak orang.”
“Kesedihan. Kesedihan adalah kelemahan para pejuang, Ae. Itu adalah kesimpulan yang aku dapat dari Margaretha, Isabella, dan Lynda. Kelemahan mereka sama, yakni kesedihan. Mungkin, karena kau sedang bersedih hati karena kehilangan Rui, maka dari itu kekuatanmu melemah.”
Aesira terdiam akan ucapan Putri Elma dan pernyataan tersebut membuatnya terpikir.