Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 18



Ada sesuatu yang entah mengapa membuat hatinya perih jika melihat gadis itu terluka sedikit saja. Ia sangat takut kala tangis gadis itu hadir, kala gadis itu menjerit ketakutan, dan menjalani hidup sendirian. Kay, ingin selalu di samping Aesira meski ia tahu, apakah gadis itu menginginkan hal serupa atau tidak. Gadis itu, di matanya, selalu bersikap biasa bahkan terlalu biasa, tidak seperti gadis-gadis lain yang menggila mengemis cintanya setiap harinya saat di sekolah. Gadis itu, bagi Kay, sangat unik. Kesabarannya dalam menghadapi Keily selama ini patut ia acungi jempol, bagaimana tidak, selama ia berada satu kelas dengannya, gadis itu tidak pernah terlihat ingin marah dan melawan Keily dengan segala sikap bejatnya itu. Gadis itu, memiliki sisi yang istimewa. Jadi, tak heran mengapa kali ini Kay amat khawatir dengan keadaan gadis itu usai mendapatkan panahan dari jarak jauh. Berkeliaran di otaknya segala hal buruk tentang gadis itu, ia berharap, gadis itu bisa selamat dengan cara apapun.


“Ck!” Kay menggeleng untuk menghilangkan prasangka buruk itu. Ia menghela napas sejenak. Tiba di tangga paling ujung, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat, gadis yang terus-menerus tampil di pikirannya tengah tergeletak dengan satu panah tertancap tepat di dadanya.


Seketika, lutut Kay melemas, air matanya luruh. Ia melompat dan terduduk di sebelah gadis itu. Darah membekas kental di kaos krem yang dikenakan. Kay mengangkat wajah sambil mengusap air mata, ia berdiri dan membebaskan Rui dari tiang. Mereka berdua merapat ke sebelah Aesira yang terpejam.


Rui menangis keras. Sementara Kay, merasa sangat menyesal telah menerima tawaran Putri Elma tentang rencana gila ini.


“Maafkan aku, Ae … maafkan aku,” sesal Kay. Dalam bantinnya, ia terus saja merutuki diri.


Kay raih pergelangan Aesira dan memeriksa denyut nadinya. Rui menatapnya, namun ia hanya bisa menggeleng pelan sebagai jawaban.


“Ae! Bangun Ae! AESIRA!!!!” teriak Rui kencang. Di pundak sahabatnya, ia menangis pilu.


Panggilan dari sang sahabat itu membuat Aesira, gadis yang berada di antara hidup dan mati tersebut dihembuskan kembali napasnya yang awalnya menghilang.


Aesira membuka matanya perlahan dan mendengar dua sahabatnya menangis dengan menundukkan kepala seolah-olah bersiap mengantarkan kepergiannya. Dengan sekali tarik, ia mencabut panah itu dari dadanya tanpa terasa rasa sakit.


“Aesira?” Rui melotot tak percaya kala melihat sahabatnya itu tersenyum kepadanya.


Aesira bangun dan memeluk erat dua sahabatnya.


Setelah itu, ketiganya menuju tempat peristirahatan yang dahulu merupakan kamar Putri Jazira. Aesira duduk terlebih dahulu dipapah Rui dengan hati-hati, padahal ia sudah mengatakan jika ia sangat baik-baik saja hanya mungkin kakinya terasa keram akibat berlari panjang menuju menara.


“Kau baru saja terkena panah dan kau bilang kau baik-baik saja?” ucap Rui dengan geramnya. Ditaruhkanya segelas air di depan Aesira, ia pun ikut duduk setelahnya.


“Ku lihat gembok menuju menara hancur. Tidak mungkin kau bisa memecahkan gembok besi sebesar itu dengan sebuah alat kan, Ae?” tanya Kay.


Aesira meneguk habis air pemberian Rui. Ia menaruh gelasnya di meja hingga menimbulkan sebuah suara. Embusan udara menyembul keluar dari hidungnya. Lalu, pandangannya jatuh pada Kay dan memperlihatkan kedua telapak tangan pada laki-laki itu yang seketika berpikir.


“Tangan ini yang membantuku, Kay,” kata Aesira.


“Bagaimana bisa kau tidak terluka sama sekali setelah menghancurkan gembok itu?” Aesira berganti menoleh ka Rui.


“Tidak, maksudku, aku bisa mengeluarkan kekuatan dari tanganku, Rui. Itu membuatku bisa menghancurkan gembok itu dengan sekejap,” jelas Aesira.


“Tunggu, tunggu, tunggu. Ya, aku bisa percaya kalau dunia ini aneh, pun dengan kamu yang bertemu dengan tiga orang yang mirip denganmu aku bisa memakhlumi. Tapi, … kalau kamu yang memiliki kekuatan semacam film-film fantasy, kurasa itu sulit kuterima, Ae. Itu tidak mungkin,” sangkal Rui.


“Rui, dunia ini tidak sama dengan dunia yang kita tinggali. Dunia ini penuh teka-teki dan keanehan tersendiri. Jika Aesira memiliki kekuatan, di dunia ini adalah hal biasa. Mungkin, kau dan aku di sini juga memiliki kekuatan tersembunyi seperti Aesira,” simpul Kay menimpali ucapan Rui.


“Aku tidak bermaksud apa-apa, Kay. Aku hanya masih tidak percaya tentang apa yang Aesira tadi katakan. Sebuah kepercayaan membutuhkan pembuktian. Mungkin dengan hal itu cara pandangku bisa berubah.”


“Hei! Apa kau lupa? Aesira baru saja terkena panah tepat di dadanya dan tiba-tiba saja luka tusukan panah itu hilang tanpa bekas? Itu merupakan sebuah keajaiban, Rui! Keajaiban terjadi di Arsh!” Kay melipat tangannya, memberikan tatapan selidik ke gadis di seberang.


Mendapatkan pertanyaan itu, Rui menggerakkan tangannya ke meja dengan amarah yang tertara di matanya.


“Jaga mulutmu itu kulkas seribu pintu! Kenapa ini menjadi di besar-besarkan?! Aku hanya berpendapat tentang ketidakpercayaanku, tidak seharusnya kamu berkesimpulan kalau aku sedang iri pada Aesira! Dia sahabatku! Dan kami berteman sejak lama. Dan kau … !” Rui menunjuk lurus wajah Kay dengan jari telunjuknya. “Hanyalah orang baru dalam pertemanan kami!” sambungnya. Ia duduk kembali dengan memalingkan wajah.


“Sudah-sudah! Kenapa kalian selalu saja berdebat di saat yang tidak tepat?”


“Dia yang memulai, Ae,” tukas Rui.


“Hei, nona. Kau bilang siapa yang mencari gara-gara? Aku?” Kay menunjuk dirinya sendiri. “Yang bermasalah di sini adalah dirimu.”


***


Aesira duduk di antara Putri Elma dan ketiga kembarannya. Sementara Rui, gadis itu sedang menenangkan diri di sekitar tempat pelatihan. Sedangkan Kay, mencoba berbaur dengan beberapa prajurit penjaga.


Di meja bundar itu, Aesira menceritakan awal mula kenapa ia bisa mengeluarkan sekilas kekuatannya.


“Aku mendapatkan gerakan tangan itu dari mimpiku. Awalnya aku tidak yakin akan berhasil. Namun, setelah mencoba berkonsentrasi dan mengkhayalkan gembok itu hancur sembari memutarkan tangan, saat aku membuka mata, tiba-tiba saja gembok itu sudah hancur berkeping-keping.”


“Apa kau melihat sebuah cahaya di tanganmu saat kekuatan itu muncul?” tanya Margaretha.


“Ya, kurasa ada. Sebuah semburat cahaya biru tipis yang menyelimuti telapak tanganku, Kak.”


Lynda menoleh pada Putri Elma. “Sepertinya rencanamu berhasil, Putri.”


Putri Elma memandang Aesira dengan tatapan bangganya. “Kau harus terus berlatih Aesira. Inilah bagian keajaiban dari kekuatan tersembunyi dari dirimu. Saat kau ingin melindungi sesorang, di saat itulah kekuatanmu akan bertambah kuat. Pesanku, teruslah melindungi banyak hal agar kau tidak kehilangan banyak hal.”


Aesira mengangguk diiringi senyuman.


“Aku akan selalu mengingat pesan Tuan Putri ini.”


“O iya, soal terkena panah dariku itu?” tanya Lynda penasaran.


“Lukanya tiba-tiba saja hilang,” tutur Aesira.


“Hilang? Apa kau benar-benar terkena tertusuk panah Lynda? Dia tidak pernah meleset memburu lawannya?” tanya Isabella.


Margaretha berdecak. “Pakaiannya saja berlumuran darah bagaimana bisa kau bertanya dia terkena panah atau tidak, Isabel!” geramnya.


Aesira terkekeh. “Ya, panah itu tertancap tepat di dadaku. Bahkan Kay bilang denyut nadinya sempat hilang. Seingatku, aku mendengar suara Rui yang berteriak memanggilku dengan sangat keras, dan itu membuatku tetiba saja bangun. Aku mencabut panah itu dan seketika lukanya sembuh tanpa bekas,” jelas Aesira.