Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 24



Aesira bangun lebih awal. Ia mengenakan mantelnya. Tak lupa menyelipkan sebilah pedang ke pinggangnya. Ia memang tidak selihai Lynda bermain, namun ia cukup tahu bagaimana menggunakan pedang untuk bertahan dari musuh.


Havardur yang tertidur di pos penjagaan terbangun karena merasa ada sesuatu yang melewati posnya. Ia berdiri dan mengambil pedang yang bersandar dinding. Hati-hati, ia mengekor di belakang sosok bermantel hitam itu.


Aesira yang merasa ada orang yang mengikutinya, berbalik badan. Namun, ia tidak mendapati siapapun di sana. Ketika ia memutar badan ke arah jalan, tetiba saja sebuah ujung pedang tertodong tepat di lehernya. Perlahan, jari-jarinya naik menjimpit penutup wajahnya turun.


“Aesira?” Mengetahui itu, Havardur menurunkan pedang dan menyimpannya.


Aesira menyibak tudung mantel.


“Maaf, aku harus pergi ke tempat abu di bukit,” tukasnya.


“Tapi, kenapa kau pergi diam-diam? Apa kau juga tidak memberitahukan yang lain?” tanya Havardur.


“Mereka terlihat kelelahan, bahkan juga terluka. Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun,” balas Aesira.


Havardur berdecak. “Apa kau tahu, kau bisa dalam bahaya jika bepergian sendirian! Apalagi kau ini bagian duplikat Ratu Udaya, dia menginginkanmu untuk mengembalikan wajahnya! Kau mau cari mati!” tandasnya dengan kesal.


Aesira menunduk dan berujar maaf sekali lagi.


Havardur melirik Aesira, ia memutar bola matanya malas. “Gadis ini, selalu saja meminta maaf.”


“Jika aku tidak boleh pergi sendirian, apa boleh kakak menemaniku pergi ke sana? Aku hanya ingin berdoa untuk temanku.”


“Jangan panggil aku kakak, aku tidak menyukainya! Panggil nama saja.”


“Baik.”


Kain hitam yang menutup sebagaian wajahnya itu Aesira naikkan kembali, juga tudung mantel agar membuatnya tidak kedinginan. Udara di Arsh padahal baru sehari menghangat saat kejadian ia berubah menjadi sosok manusia setengah dewi dengan kekuatan yang sangat besar. Tapi, lagi-lagi, Ratu Udaya tidak mau melihat binar hangat itu di langit Arsh dan mengirim pasukan berdarah serta kabut hitam yang menjadikan suhu udara menurun drastis.


Havardur memutuskan untuk menunggu gadis di luar bangunan dengan bentuk setengah lingkaran itu. Sementara Aesira sendiri dengan membawa obor yang awalnya tertempel di dinding batu.


Udara pengap seketika menyeruak sebab ketiadaan jendela. Aesira mengatur pernapasan untuk bertahan. Ia menyisipkanp tungkai obor ke lingkaran besi yang tertempel di dinding. Dengan cahaya dari obor itu, ia mencari-cari guci kecil berisi abu Rui.


“Ini dia!”


Aesira menarik guci itu lalu, memasukkannya ke dalam tas milik Putri Elma yang diam-diam ia bawa.


“Aku akan tenang jika kau bersamaku, Rui,” ujarnya sembari menepuk-nepuk tas itu pelan.


Saat hendak berbalik untuk mengambil obor, Aesira teralihkan dengan deretan guci-guci yang Putri Elma bilang adalah abu dari para leluhur dan raja-raja di Arsh. Gadis dengan rambut tergerai itu duduk bertumpu lutut dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada.


“Berkatilah perjuangan kami,” ujar Aesira lirih. Kemudian, ia bangkit, berjalan keluar bangunan tersebut untuk menjumpai Havardur kembali.


Havardur yang menyadari kedatangan Aesira acap berdiri.


“Aesira,” panggil Havardur yang membuat pemilik nama menoleh usai meletakkan obor ke tempatnya.


“Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu?”


Havardur sempat ragu. Namun hal ini sungguh menganggu pikirannya.


Karena menunggu, Aesira berucap,”tidak jadi saja. Ayo kita pulang,” ajaknya sembari melangkah mendahului.


Havardur mengikuti dan berjalan sejajar dengan gadis itu.


Aesira menatap Havardur penuh tanya namun, entah kenapa raut mimik bingungnya tersebut berubah ketika gadis itu mendadak tertawa.


“Kekuatan setengah dewi? Bahkan yang kubisa hanyalah menghancurkan sebuah gembok besi juga meniru gerakan mantra sihir Ratu Udaya.” Wajah Aesira melesu kemudian menyambung ucapannya dengan suara lirih. “Itupun aku hanya bisa mengeluarkannya sekali.”


“Ada-ada saja kau ini.” Aesira kembali melanjutkan langkah.


Havardur terkekeh singkat, mengaruk rambutnya dan berjalan kembali. “Kau memang tidak tahu kalau kau adalah orang yang udah mengusir Ratu Udaya saat temanmu tewas?”


Aesira menghentikan kaki dan menghadap Havardur sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Aku sendiri bahkan tidak tahu kalau itu adalah perbuatanku. Bagaimana kau bisa tahu?”


“Waktu itu aku sedang berlatih bersama prajurit Arsh di bukit ini. Kami yang melihat pasukan Udaya berkumpul di atas kerajaan Arsh bergegas ke sana karena keamanan di sana cukup tipis. Namun, ditengah perjalanan, kami melihat perempuan dengan cahaya biru tengah melawan Ratu Udaya dengan secepat kilat hingga dapat membuat ratu kejam itu tampak terluka dan kabur. Tak lama, sosok itu membentangkan kedua tangannya dengan mengeluarkan cahaya besar yang mampu membuat kabut hitam di langit Arsh menghilang.”


Aesira mendengar dengan saksama penjelasan Havardur sembari sesekali memerhatikan jalan.


“Hari itu, adalah satu hari dimana Arsh tersinari pelan kehangatan matahari setelah belasan tahu aku berada di sini. Dan itu sangat indah.”


Melihat bibir Havardur terdiam, Aesira acap memancing,”Lalu?”


“Lalu, aku berlari lebih dulu dari rombongan dan mendapati sosok perempuan bercahaya itu tak lain adalah kau.” Havardur menjatuhkan tatapannya ke wajah Aesira yang sedari tadi menyimak. Aesira seketika saja memalingkan wajahnya ke depan.


“Bahkan dengan kekuatan besar itu, kau membuat teman-temanmu yang tergeletak di tanah sembuh seketika. Emm, bukan hanya mereka, tapi orang-orang yang terluka di Arsh.”


Ucapan Havardur itu berhasil membuat Aesira tertegun.


“Aku sendiri bahkan tak ingat pasal itu. Apa benar apa yang dikatakan Havardur ini?”


“Menyembuhkan semua orang?” Kepala Aesira mengarah ke tas berisi guci itu.


“Tapi, kenapa tidak dengan Rui? Seharusnya jika waktu itu aku bisa menyembuhkan semua orang, pasti hal itu pun juga terjadi pada Rui.”


“Atau, mungkin untuk seseorang yang mati. Kekuatan itu tidak berfungsi?”


Aesira mengusap wajahnya gusar.


“Aku tidak tahu bagaimana caranya kekuatan itu muncul. Tapi, waktu itu …”


“Waktu itu Ratu Udaya seperti menyerap nyawaku. Aku tidak sadarkan diri dan … aku bertemu ibu, Rui, Kay, dan banyak sekali orang yang menarik tanganku agar bangkit. Apa … apa maksud bangkit disini mengarahkan aku untuk bangkit dari keterpurukan? Ya, aku harus bangkit, aku harus bisa mengalahkan Ratu Udaya itu. Aku tidak boleh lemah lagi, aku bukan Aesira yang mudah dan rela tertindas.”


Aesira mengepalkan tangan di samping. “Ya! Berjuanglah Aesira! Kau tidak boleh sedih lagi!”


Margaretha dan yang lainnya sempat dibuat kalut karena ketiadaan Aesira di tempat tidurnya. Setelah menyisir seluruh bangunan. Akhirnya mereka dapat bernapas lega ketika mendapati gadis itu yang tengah bersemangat berlatih pedang dibawah pelatihan Havardur.


Satu sisi kecemasannya luruh, namun di sisi lain hati Kay sedikit tidak nyaman melihat Aesira dan Havardur di bawah sana.


“Sejak kapan mareka menjadi dekat? Bahkan Alvin di kelas begitu membenci gadis itu dan selalu membulynya.”


“Heyyy, apa kau butuh teman untuk berlatih?” teriak Lynda dari atas yang sontak mengalihkan Aesira.


Lynda dan lainnya turun kecuali Putri Elma yang sedang beristirahat untuk pemulihan.


Dari kejauhan, Lynda mengeluarkan busur cahayanya dan melepaskan satu panah yang seketika langusng Aesira tepis dengan pedangnya. Melihat itu, keduanya tersenyum bangga satu sama lain.