
Gabungan pasukan kerajaan langit dan pasukan sukarelawan Arsh melatih gerakan pedang, panahan, dan tombak. Beberapa lain yang memiliki ilmu sihir murni pun ikut berlatih di tempat yang berbeda. Aesira, Lynda, dan Havardur saling serang untuk mengasah kemampuan masing-masing. Sayangnya, pada sesi latihan yang sangat penting ini, Aesira kurang bertenaga, membuat gadis terus menerus mundur karena terkena serangan.
“Mimpi banyak orang ada di tanganmu, Aesira. Kesedihan ini adalah kelemahanmu, kau tidak akan bertahan jika terus seperti ini,” ucap Lynda memberi nasihat.
“Ini di luar kapasitasku, Lynda. Perasaanku serupa dengan manusia biasa, dapat terluka kapan saja. Sekalipun aku memiliki kekuatan besar, tapi di dasar sana aku merasa tidak berguna. Aku menyebabkan Rui dan Kay meninggalkanku.”
Havardur mendekat sembari menepuk-nepukkan kedua tangan untuk menghilangkan butiran tanah di tangannya.
“Apakah kau merasa bersalah atas semua yang terjadi?” tanya Havardur, ia melipat kedua tangan.
Dengan jujur, Aesira menjawab,”Ya!”
“Oh, Ae. Cobalah untuk menyingkirkan kesedihan dan kehilangan ini sejenak. Anggaplah saat ini kau sedang berada di dunia permainan dimana ada pemain yang mati, dan kau satu-satunya pemain yang harus bertahan untuk menyelesaikan misi. Bukankah kau sudah berjanji untuk menang, ha?” sambung Lynda.
“Tapi ... Tapi, semuanya tidak semudah itu, teman.”
“Semuanya mudah, itu tergantung bagaimana kau memikirkannya,” cetus Havardur sembari menunjuk kepala Aesira.
Perkataan Havardur barusan membungkam Aesira sesaat. Ia memikirkan baik-baik semua hal yang mengusik latihan untuk perang besar ini.
Semua orang di kerajaan dengan banyak reruntuhan di berbagai sisi itu mendongak ke langit ketika mendengar seekor naga raksasa menggeram sambil menyemburkan api. Di atas punggung naga itu, ada dua gadis yang bersorak sambil melambaikan tangan. Naga merah itu mendarat mulus di pelataran kerajaan setelah pasukan menepi.
Margaretha dan Isabella berlari memeluk Aesira dan Lynda. Mereka saling melepas rindu.
“Bagaimana petualangan kalian?” tanya Lynda.
“Sangat menyenangkan, bukan begitu Isabell?” Margaretha menoleh pada Isabella yang hanya mengangguk dengan senyuman singkat.
Aesira mengenggam tangan Margaretha dan Isabella. Ia menatap kedua hadis itu bergantian.
“Terima kasih, terima kasih sudah membawanya kembali.”
Margaretha menepuk pundak Aesira. “Dia tidak pantas pergi. Dia akan bersamamu.”
Aesira mengusap kepala naga itu, menepuk pelan agar naga itu lebih tenang.
“Terima kasih sudah kembali. Ini pasti tidak akan mudah untuk kau terima, tapi aku yakin, ini adalah yang terbaik. Di depan sana, kita akan tahu, ada hadiah terbaik di siapkan untuk kamu yang mau menerima diri kamu apa adanya.”
“Tidak masalah bagiku kau tidak tampan lagi dan suka menyemburkan api, tapi satu hal yang harus kau tahu. Kau tetaplah Kay yang aku kenal, siswa paling populer di sekolah, putra pengusaha sukses di kota, dan ... laki-laki yang diam-diam melindungiku. Definisi tentangmu itu tidak akan berubah.”
Berjam-jam latihan, seluruh pasukan diminta untuk beristirahat. Naga Kay secara khusus dibuatkan ruangan tersendiri dengan ukuran besar di lapangan pelatihan yang dibangun dengan kekuatan Havardur.
Di saat semua orang tertidur, Aesira berpikir keras mencari cara lain untuk membebaskan kutukan abadi Kay. Ia sangat yakin, setiap kutukan pasti ada penghancur. Meskipun cara itu sudah terlaksana. Namun, hal itu gagal karena ulah Pangeran Eleazar yang berkhianat.
Aesira begitu gelisah dengan pikirannya sendiri. Ia menyibak selimut, berjalan hati-hati ke luar kamar agar tidak ketahuan teman-temannya. Menghirup udara segar agaknya dapat memberi sedikit ruang di otaknya yang rasanya akan meledak.
“Buku ajaib Ratu Mina!” tukasnya bersemangat.
“Ya! Mungkin buku itu bisa memberiku petunjuk!”
Aesira bergegas ke bagian perpustakaan. Di sudut rak, ada sebuah kotak berukuran sedang. Di sana lah mereka menyimpan buku itu sesudah kembali dari kerajaan langit tempo hari.
Aesira memejamkan makanannya, menghirup napas dalam-dalam dan berkata,”berilah aku petunjuk.”
Buku itu mengeluarkan cahaya dan terbuka dengan sendirinya. Tepat di tengah-tengah halaman, deretan kata perlahan terukir.
Pengorbanan
“Pengorbanan? Apa yang di maksudkan ini? Apa yang harus dikorbankan, dan siapa yang harus berkorban? Tidakkah kau menjelaskan ini?”
Buku itu tiba-tiba tertutup kembali beriringan cahayanya yang meredup.
Petunjuk buku itu semakin membuat kepala Aesira semakin pusing. Ini sebuah teka-teki besar tentang hal yang sama besar. Di titik ia tidak mampu lagi memikirkan semuanya, Aesira pasrah terduduk di lantai. Buku di tangannya jatuh begitu saja dan dibiarkan.
Gadis itu benar-benar putus asa tentang keadaan yang mencekik ini.