Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 36



Nasib sial diberikan pada Pangeran Eleazar. Ketahuan kekuatan namanya hilang, ia dianggap tidak berguna dan dipenjara oleh Ratu Udaya. Namun, menurutnya, duduk dipenjara lebih baik dari baik dari pada hidup melihat wajah Ratu Udaya yang makin mengerikan.


Ia sangat tahu, ratu durjana itu masih akan membiarkannya hidup, karena ialah yang memegang semua ramalan tentang wanita buruk rupa itu.


Di lain tempat, pasukan kerajaan langit berbondong-bondong turun ke Arsh dan bergabung dengan pasukan Arsh yang tersisa. Panglima langit dan Havardur mengatur siasat bersama Lynda dan Aesira. Bersama, mereka saling bahu membahu membuat alat-alat tempur seperti meriam, persenjataan, pakaian pelindung, dan tameng yang baru.


Dengan kekuatan manusia dari langit, pekerjaan yang memakan waktu berbulan-bulan itu dapat diwujudkan dengan cepat hanya dengan mengerahkan kekuatan.


Di lain sisi, Margaretha dan Isabella masih menyusuri hutan yang bahkan belum pernah mereka jejaki seumur-umur. Hutan itu sangat gelap karena ditumbuhi pepohonan dengan ukuran raksasa yang menjulang tinggi. Akibat hal itu, mereka hampir tak mendapatkan pasokan cahaya. Namun, dengan kekuatan api di tangan Margaretha, mereka mampu untuk terus melangkah.


Di perjalanan, banyak sekali halang rintang menyertai. Hewan-hewan buas dengan beraneka bentuk yang belum mereka temui menyerang dengan sangat ganas.


Margaretha berteriak keras sembari melompat dan mengarahkan energi apinya yang membentuk tombak yang seketika membelah tubuh hewan berbulu dengan duri-duri di sepanjang punggungnya, juga bergigi sangat panjang nan tajam.


Berjalan kembali, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak. Namun, siapa sangka, sulur-sulur yang awalnya mereka kira adalah akar pohon, ternyata merupakan setumpuk ular yang sedang bermeditasi. Mulanya mereka tidak ingin melakukan perlawanan, namun ketika induk ular datang dengan menunjukkan tubuh raksasanya, berlanjut saja mereka berdua menghajar induk ular tersebut tanpa ampun.


Tidak tahu sudah berapa hari mereka berjelajah menemukan keberadaan naga penjelmaan Kay. Namun, setelah tanpa sengaja Isabella menemukan kepingan sisik dengan ukuran cukup besar dan Margaretha membenarkan jika bisa jadi itu adalah sosok tubuh naga yang mereka cari, akhirnya tujuan mereka mengarah pada gua yang terletak di puncak gunung bersalju.


Badai salju yang datang tanpa memberi tahu sempat menghentikan pendakian mereka. Bahkan, kini mereka berdua harus membiarkan seluruh badan mereka terkubur salju yang entah kapan reda. Isabella tidak dapat melakukan penerbangan lagi dikarenakan sayapnya yang patah dan Margaretha tidak bisa berbuat banyak dengan cuaca seekstrem ini. Hingga melihat tanda-tanda badai mereka. Keduanya membangun tenda dan beristirahat sejenak dengan tak lupa membuat api unggun.


“Perjalanan ini lebih melelahkan dari pada menghadapi pasukan Udaya yang menyerang,” eluh Isabella.


“Kita sudah berjalan terlampau jauh, mengeluh tidak akan berguna sekarang,” jawab Margaretha.


Setelah mengisi energi dengan melahap sepotong roti. Mereka memutuskan untuk tertidur sejenak kemudian, melanjutkan pendakian. Namun, perkiraan mereka salah jika mereka hanya sementara tertidur salah, rupanya mereka tertidur sampai esok paginya. Hikmah dari itu, tenaga mereka terasa terisi kembali. Dengan penuh semangat, mereka berjalan di atas tumpukan salju dan menciptakan jejak panjang di belakang. Tiba di puncak dengan mulut gua cukup lebar, mereka tidak mendapati apa yang mereka cari.


“Apa kita sedang membohongi diri kita sendiri?” ketus Isabella yang merasa kecewa.


“Kau tunggu di sini. Aku akan memeriksa ke dalam. Mungkin ada petunjuk yang bisa membantu kita.”


Isabella menjatuhkan tas dan tubuhnya dengan duduk bersila.


“Terserah kau saja, aku lelah, Margaretha.”


“Kau boleh beristirahat, tapi di sini kau ku bertugas mengawasi.”


Isabella mengangkat jari jempol untuk menjawab ucapan Margaretha itu. Ia ingat, Aesira pernah mengajarinya menjawab tanpa harus berucap. Yakni, hanya dengan mengangkat jempol sebagai jawaban ‘iya'.


Margaretha menyalakan api di tangannya. Membuat kegelapan sirna. Terlihat di sekitar, ia menemukan bercak darah yang membuat lorong gua itu tercium bau anyir yang menyengat. Ia yang mengira itu adalah darah manusia terkalahkan ketika ia masuk lebih dalam menemukan bangkai hewan yang sepertinya baru saja di tangkap. Terlihat dari ukurannya, tidak mungkin manusia yang membawa hewan sebesar dan semengerikan itu sebagai santapan.


Dilihatnya ke bawah, di sana ia tidak sengaja menemukan kembali kepingan sisik berwarna merah permisi seperti yang Isabella temukan di lereng tadi.


“Mungkin saja Kay sedang berburu saat kami tertidur di tenda.”


Di luar, Isabella melakukan tugas yang diberikan Margaretha. Di sela beristirahat, ia memantau sekitar. Tiba ia melihat ke arah kanan, dati kejauhan ia melihat sesosok makhluk yang terbang dengan cepat menuju tempatnya sekarang. Dengan cekatan, Isabella berlari ke dalam gua untuk memperingatkan Margaretha jikalau mereka harus pergi untuk menyelamatkan diri. Ketika mereka hendak ancang-ancang keluar. Badan naga raksasa itu mendadak mengisi lorong gua yang membuat mereka mematung seketika.


Tidak ada celah sedikit pun yang tampak. Mereka terhimpit. Mungkin saja setelah ini keberadaan mereka diketahui oleh naga merah yang mereka yakini adalah Kay. Melihat sisa-sisa buruan yang dilahap naga itu, sungguh tidak mungkin mereka juga kan menjadi bagian santapan lezat naga itu.


Naga yang sedang melingkarkan tubuh sembari memejamkan mata itu sedikit mengangkat kepala setelah mengendus aroma aneh. Namun, naga itu tidak bersemangat mencari tahu dan tertidur kembali dengan air mata yang berderai.


Melihat betapa terciptanya naga itu karena isakan dan tangis, Margaretha mengeluarkan diri dari belakang bangkai hewan tempat mereka bersembunyi. Ia dengan berani menaiki tubuh naga hingga berdiri tegap di depan kepala naga.


Mengetahui ada sosok uang stang menyadap. Kedua mata naga itu terbuka. Margaretha menyiapkan energi untuk melawan. Namun, untuk sekarang, ia ingin bernegosiasi dengan cara yang baik-baik.


“Jika ia bisa meneteskan air mata dalam wujud naga, bisa saja Kay dapat mengerti apapun ucapanku.”


“Kay.”


Kepala naga itu mundur dan bersiap untuk menyemburkan api. Tapi, melihat Margaretha yang duduk santai di tubuh naganya itu, Kay menghentikan niat.


“Maukah kau menerima takdir ini dan kembali pada Aesira?”


Kepala naga itu mengalihkan pandang ke samping.


“Kau tahu, Kay. Aesira tidak bisa berjuang tanpa kehadiranmu. Di saat kau berada di sisinya, kutukan putri tidur itu tidak pernah mendatanginya. Tapi, sat kau pergi, kutukan itu datang kembali. Dan kupikir, kau lah obat uang selama ini Aesira butuhkan untuk menghilangkan kutukan tersebut. Hanya dengan kau berada di sisinya.”


Margaretha melipat kedua tangan.


“Apalagi, setelah kalian melewati tiga tradisi pernikahan itu. Kalian sudah saya bersatu. Kalian bukan lagi berstatus sebagai teman. Hubungan kalian lebih dari itu.”


“Dengarkan sekali lagi ucapanku, Kay. Kembalilah ... Aesira membutuhkanmu. Aesira tidak akan pernah mempermasalahkan apa yang terjadi padamu sekarang. Dia adalah gadis penuh cinta. Dia menerima semua orang tanpa memandang kekurangan.”


Beralih, Margaretha berdiri kembali.


“Pilihan ada di tanganmu. Sebentar lagi Arsh akan mendapat serangan terbesar yang tidak pernah kami bayangkan seberapa mengerikan itu sebelumnya. Kekuatan terbesar kami ada pada Aesira. Jika kutukan putri tidur itu berhasil menguasainya di waktu yang tidak tepat. Kami akan kalah, kami semua akan mati. Pun dengan Aesira. Dan aku tidak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya.”