Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 32



Panglima kerajaan langit menapaki daratan kerajaan dengan kaki bergetar hebat. Baru kali ini lagi ia melihat pemandangan yang menyesakkan usai ratusan tahun lamanya.


Tidak ada jasad hidup yang terendus. Bahkan, ketika mereka sampai di pusat kerajaan. Mereka mendapati tubuh Raja Alsatia tertancap di ujung menara yang terbuat dari kaca dengan sudut runcing. Darah sang raja itu pun, menetes dan melumuri ujung menara.


Pemimpin tertinggi kerajaan langit yang gemar bermain seruling itu menandaskan kedua lututnya ke lantai. Ia sungguh tidak sanggup menatap junjungannya yang selama ini bukan hanya menjadi raja tapi, juga teman.


“Kesenangan telah melalaikan kami. Kebahagiaan membuat kami lupa jika akan ada saatnya kami harus menangis,” tukas sang panglima di tengah tangis sendu.


Margaretha menepuk pelan panglima perang kerajaan langit itu. “Bahagia dan duka datang silih berganti, Tuan. Mungkin, Tuhan sedang menguji kalian setelah kebahagiaan bersama kalian dalam waktu yang cukup lama.” Margaretha menjeda ucapannya, ia berbalik dan menatap penuh ketegasan pada ratusan prajurit kerajaan langit.


Dengan suara kandangnya, Margaretha berteriak, ”Inilah saatnya untuk kembali berjuang dan tidak terus bersembunyi! Raja kalian telah mati! Tapi, jiwa penuh kobaran api di hati kalian jangan sampai mati!”


Seruan Margaretha itu membangkitkan semangat para prajurit kerajaan langit. Bahkan, tingginya rasa semangat mereka, membuat pakaian mereka yang awalnya putih berubah menjadi merah.


“Apakah setidaknya kita mengecek keberadaan bunga keramat? Mungkin saja Ratu Udaya tidak mendapatkan bunga tersebut setelah membuat kekacauan,” tukas Lynda setelah gadis itu mengamankan ketiga temannya.


Panglima berwajah tampan itu lengkap air di sudut mata dan di bawah lubang hidung dengan cepat. “Yah, itu bisa jadi. Akan sangat bahaya jika ratu durjana itu berhasil membawa bunga keramat.”


Ketiganya bergegas ke sebuah ruangan di bawah singgasana Raja Alsatia dengan bantuan mantra yang hanya panglima dan raja saja yang tahu. Kumpulan cahaya putih itu membuat singgasana raja terbelah dan menampilkan deretan anak tangga. Mereka menuruni anak tangga yang lebarnya se-lengan itu bergantian.


“Gawat! Wanita itu berhasil membawa bunga keramat dari tempatnya!” Gerakan berbalik Panglima yang spontan membuat dua gadis di belakangnya menarik mundur kakinya bersamaan.


“Kita harus mencegah wanita itu menggunakan bunga keramat sebagai sumber kekuatan! Dia bisa saja menggunakan kekuatannya untuk melawan dewa!” Kekhawatiran betul-betul tampil jelas di wajah panglima.


Margaretha berdecak kesal. Ia keluar pertama menuju tempat semula. Pikirannya betul-betul penuh dengan berbagai hal.


“Tuan Putri!” Bahkan karena terlalu sibuk dengan pikirannya, ia sampai lupa dengan kondisi Putri Elma serta kedua temannya yang lain.


***


Masih dengan kesadaran yang rendah, Aesira melawan diri untuk membuka matanya karena mendengar rintisan tangis seseorang.


“A-Aesira ....” Suara Lynda terdengar parau.


Aesira sendiri perlahan duduk yang menyempurnakan penglihatannya. Kedua matanya terbelalak, bahkan ia sampai menutup mulutnya yang setengah terbuka karena terlanjur terkejut dengan apa yang tengah tertera di hadapannya. Gadis itu merangkak ke sisi Lynda dengan tangan mengusap wajah sang putri yang membiru dengan gemetar.


Tetiba, tangis Aesira pecah di saat tenaganya belum pulih penuh.


“Maafkan aku, Putri. Aku terlambat menyelamatkanmu! Aku gagal melindungimu! Kau gadis yang baik, kau tidak boleh pergi sebelum kau menyaksikan kemenangan Arsh!” isakan tangis Aesira begitu menyayat perih.


“Apa gunanya aku memiliki kekuatan tapi, aku tidak mampu melindungi teman-temanku!” gerutunya menyalahkan diri.


“Perkataanmu hanya akan membuat para pejuang mundur dan memilih mati, Ae!” Sebuah kalimat balasan berhasil membuat Lynda dan Aesira menoleh bersamaan. Mereka terus menatap langkah kali Margaretha sampai gadis itu ikut duduk di sebelah tubuh sang putri yang telah terbujur kaku.


“Kita harus segera membawa Tuan Putri kembali ke Arsh. Juga Kay dan Isabella. Mereka akan dalam bahaya jika tidak mendapatkan penanganan cepat.”


Lynda dan Aesira mengangguk bersamaan.


***


“Kami menyesalkan peristiwa yang menimpa kerajaan langit ini, Panglima. Sebagai pejuang Arsh, kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas gugurnya Raja Alsatia dan para rakyat yang tidak berdosa. Kami akan menunggu kedatangan kalian setelah Panglima mengurus Kerajaan Langit. Kedatangan Panglima dan seluruh pasukan Panglima akan sangat membantu kami melawan Ratu Udaya.”


Margaretha membungkuk hormat setelah mengatakan itu.


“Terima kasih, niat baik kalian memberitahukan serangan Udaya sudah cukup membantu kami untuk bersiap. Meskipun, pada akhirnya kami tahu Ratu Udaya itu memiliki rencana di luar dugaan.”


Panglima Lew menarik pandangan ke peti putih di samping Margaretha.


“Kerajaan Langit sebaliknya, turut berduka cita atas kepergian pemimpin kalian yang gugur di tanah kami. Dia tahu dia tidak memiliki kekuatan lebih, tapi ia sangat gigih untuk meraih kemenangan. Semoga, kalian dapat mewujudkan impian Putri Elma kelak, membawa kemenangan untuk Arsh dan mengembalikan Arsh pada masa jayanya.


Terharu dengan perkataan Panglima Lew, Margaretha sampai tertunduk menahan tangis.


“Ya, Panglima benar. Kami akan membawa kemenangan untuk Arsh, itu janji kami.”


“Aku sangat yakin kalian pasti bisa melakukannya.” Panglima Lew tersenyum singkat, ia memutar badan dan mengerakkan tangannya ke depan. Pusaran berbentuk oval setinggi satu meter terbentuk.


“Kalian berhati-hatilah. Kami akan datang setelah menyelesaikan kekacauan ini.”


Empat prajurit kerajaan langit diperintahkan untuk memandu peti jenazah Putri Elma. Margaretha menggendong tubuh Kay sementara Lynda memapah Aesira yang masih lemas. Mereka bersamaan melewati gerbang portal yang dibuat Panglima Lew.


***


Ratu Udaya terluka parah setelah melawan habis-habisan Raja Alsatia. Keadaanya menurun setibanya ia di kerajaan. Namun, ia menutupi keadaannya yang memburuk dari semua orang agar mereka tidak menemukan titik celah untuk berusaha melawannya di kala ia tengah lengah seperti sekarang. Di kamarnya yang sangat luas bernuansakan hitam. Ia terus mengerang kesakitan menahan luka di sekujur tubuhnya akibat perlawanan Raja Alsatia yang tidak bisa ia anggap remeh. Tapi, meski begitu, kali ini keberuntungan tetap berada di tangannya. Ia berhasil merobek tubuh penguasa langit itu dan mengambil bunga keramat yang digadang-gadang memiliki sumber kekuatan melebihi dewa tertinggi.


“Aku harus menyembuhkan diriku dulu. Jika sekarang aku menggunakan bunga ini, bisa saja malah akan mati karena tidak mampu menahan efek kekuatannya.”


Jazira menyembunyikan bunga keramat itu dengan mantranya. Kemudian, ia memagari seluruh area kamar agar tidak ada yang bisa masuk dan mengganggunya memulihkan energi.


Tidak butuh waktu lama, bahkan sepasang sayapnya yang terpotong dapat tumbuh kembali ke bentuk semula hanya dengan bermeditasi. Jazira merasa staminanya kembali. Dengan begini, ia bisa cepat menggunakan bunga keramat untuk menambah kekuatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hello! Aesira kembali lagi, nih setelah lama menghilang? Hayo, siapa yang udah lama nunggu dan kesel sama author satu ini? Gimana-gimana, kelanjutan Aesira di bab ini? Seru kah, atau biasa aja? Wkwkwk. By the way, next apa enggak nih?