
Aesira duduk ditengah-tengah pelataran latihan. Ia menatap langit yang kini bukan hanya berwarna hitam tapi, ada guratan warna merah dikarenakan pertumpahan darah di kerajaan langit.
Ia masih tidak menyangka, semencekam itu keadaan kerajaan langit waktu itu. Banyak wanita dan anak terpenggal dengan darah membanjiri awan putih kerajaan langit. Rasanya, menghilangkan kengerian waktu itu cukup sulit baginya. Ditambah, di depan matanya sendiri, ia melihat Putri Elma menghembuskan napas terakhir setelah terhunus pedang oleh Pangeran Eleazar yang kini sedang berkompromi dengan Kay.
Aesira baru tersadar jikalau telah mengalami banyak hal baru yang tidak mengenakan selama berada di Arsh. Ia tidak tahu nantinya bagaimana ia bisa mengalahkan Ratu Udaya yang bahkan kini memegang kekuatan besar yakni, bunga keramat yang digadang-gadang membuat seseorang memiliki kekuatan sekelas dewa.
Gelang di pergelangan tangan itu ia pandangi. Gelang itu adalah gelang persahabatannya bersama Rui. Jujur, ia sangat merindukan hari-hari kebersamaannya bercanda dengan gadis itu.
“Rui, apa setelah aku berhasil keluar dari tempat ini, aku mampu mengatakan kebenaran soal dirimu kepada kedua orang tuamu?”
Aesira menghembuskan napas berat, seberat pikirannya sekarang yang agaknya dijejali banyak sekali tanggung jawab. Ramalan jikalau ia sebagai penentu bak menjadi sebuah beban yang amat menyudutkannya. Ia sangat takut jika ia gagal dan mengakibatkan kekacauan yang lebih besar. Juga, sebuah kehilangan.
“Ae!”
Aesira memutar sebagian tubuh atasnya ke belakang, tepat menghadap Kay yang baru datang dengan berlari lalu, duduk di sampingnya.
“Bagaimana? Aku berhasil bernegoisasi dengan Pangeran Eleazar tentang pemecahan kutukan itu?” tanya Aesira dengan kembali menegakkan badan ke depan.
“Kita harus menikah,” seloroh Kay.
“Kau bercanda? Kita masih SMA, tidak mungkin kita menikah sedini ini, Kay,” tukas Aesira yang mengira jikalau ajakan Kay barusan hanyalah gurauan.
“Tidak, Ae. Aku tidak bercanda. Kutukan itu akan hilang kalau aku menikahimu!” tandas Kay yang seketika membuat Aesira kaget.
“A-apa?! Jadi, kau tidak bercanda?”
Kay menggeleng.
“Me-me-menikah denganmu?” ucap Aesira terbata-bata. “Kenapa harus denganku?”
“Kau bagian dari Ratu Udaya yang merupakan keturunan dari Ratu Mina yang asalnya dari kerajaan langit, kebanyakan penghuni kerajaan langit adalah titisan dewa-dewi. Pangeran Eleazar bilang, saat kita berdua ke toko aksesoris dan mendapatkan gelang ini, itu bukanlah suatu kebetulan. Itu takdir yang telah tertulis, Ae. Kau, tertakdir menjadi penghapus kutukan gelangmu ini, seperti Ratu Udaya yang tertakdir melepas gelang Pangeran Eleazar.”
“Tunggu, kau bilang Ratu Udaya menjadi pelepas gelang kutukan bagi Pangeran Eleazar? Jadi, apa selama ini mereka sudah ... menikah?”
“Tidak. Ratu Udaya menggunakan cara lain, yaitu membunuh Pangeran Eleazar dan gelang itu berhasil terlepas. Tak lama, karena Ratu Udaya tahu jika Pangeran Eleazar adalah satu-satunya orang yang memegang buku ramalan yang salah satunya berisikan tentang takdirnya, maka Ratu Udaya menghidupkan Pangeran Eleazar kembali dengan cara menjadikan tubuh Chris sebagai wadah. Dan Ratu Udaya menyematkan setengah kekuatan naga pada Pangeran Eleazar agar ia dapat membantunya dalam banyak pertempuran.”
Mendengar kisah itu, Aesira merasakan keibaan pada Pangeran Eleazar yang bengis itu. Ternyata, dibalik kegelapan sikapnya, ia menyimpan banyak luka dalam hidup. Putri Elma pernah bercerita kalau Pangeran Eleazar ini hidup sebatang kara, kedua orang tuanya meninggal dalam tragedi penyerangan Arsh pada Udaya. Ia diselamatkan Zaramama dan bersembunyi di dalam cermin selama belasan tahun.
“Aku tidak mungkin menggunakan cara lain yang Ratu Udaya lakukan pada Pangeran Eleazar, Kay. Aku tidak mungkin membunuh temanku sendiri.”
Ucapan Aesira barusan membuat Kay menunduk. “Jadi ... teman, ya?” lirihnya yang sekilas terdengar oleh Aesira.
“Kau mengatakan apa, Kay?”
Kay menampilkan wajahnya kembali menghadap Aesira. “Tidak, kau hanya salah dengar saja.”
Ketika mereka saling diam, suasana canggung terasa di antara keduanya.
Aesira tidak lekas menjawab dan memikirkan baik-baik keputusannya.
“Aku tidak terlalu mengerti tentang arti cinta yang sebenarnya. Bahkan aku sulit membedakan perasaan cinta dan obsesi semata. Kurasa, dulu, aku hanya terobsesi padamu karena kau terkenal sebagai siswa paling tampan di seantero sekolah, pandai bermain basket, selalu menang di kejuaraan memanah, dan pandai di kelas. Tapi, ketika kita tiba di Arsh dan banyak melewati banyak hal bersama, aku selalu merasakan kenyamanan dan kekuatanku dapat bertambah jika berada bersamamu.”
Aesira menjeda ucapannya. Ia menetapkan kedua telapak tangannya ke belakang menyentuh tanah dengan wajah menghadap ke langit.
“Apa artinya, inilah cinta yang sebenarnya?” Aesira menoleh pada Kay yang sedari tadi memerhatikan.
Mendadak saja, Kay menjadi gugup.
“Yah, itu bagian dari perasaan cinta,” jawabnya.
“Jadi ... apa selama ini kita saling menyimpan perasaan satu sama lain?” Lanjut Kay bertanya.
“Sepertinya memang begitu.”
“Lalu ... kau maukah kau menerima bagian takdirku, Ae?”
Kedua tangan Aesira beralih ke depan. “Tidak ada waktu. Ini adalah hari terakhir. Aku tidak ingin naga itu menguasai dirimu. Aku ... akan menerima takdirmu untuk menikah denganmu.”
Kalimat terakhir yang diucapkan gadis di sebelahnya seketika membuat jantung Kay yang tadinya tak karuan mencelos begitu saja.
“Terima kasih, Ae.”
***
Ratu Udaya mengeluarkan bunga keramat yang bercahaya itu dengan sihirnya. Bunga itu melayang-layang di udara mengikuti langkah Ratu Udaya ke tempat persemediannya yang terletak tepat di bawah naungan sinar bulan purnama yang menyorotkan cahyanya ke tempat duduk dari batu hitam keunguan tersebut.
Ratu Udaya itu duduk dan memulai ritual penambahan kekuatan maha dahsyat ke tubuhnya. Dengan tangannya yang terangkai dari sulur-sulur hitam, ia menancapkan tangkai bunga keramat itu tepat ke dadanya. Suara teriakan Ratu Udaya yang mengerikan menguncang penghuni istana dan membuat semua orang bergetar ketakutan. Bahkan, naga-naga di tempat pengurangan bangun dengan mata mendelik.
Ratu Udaya mengira ia akan mati karena merasakan rasa sakit liar biasa akibat bunga keramat yang menancap ke dadanya. Namun ia salah, rasa sakit itu hanya sementara. Bunga keramat itu perlahan-lahan terbenam oleh sulur-sulur di tubuh. Mata ungu Ratu Udaya itu terpejam. Ruas-ruas sayapnya membuka lebar. Bahkan tubuhnya mengeluarkan cahaya merah dari sela-sela tubuh yang terbentuk dari sulur hitam. Sayapnya mengembang lebar dan perlahan berubah lebih besar dengan duri-duri tumbuh di pundak sayap. Bukan hanya sayap, wajah dan tubuh Ratu Udaya bermetamorfosis menjadi mengerikan bak monster.
Di lain tempat, acara pernikahan Aesira dan Kay berlangsung di bawah sinar bulan yang malam ini datang menyirnakan kabut yang selama ini menyelimuti langit Arsh. Melalui panduan Pangeran Eleazar, keduanya resmi menikah dengan adat pernikahan Udaya untuk memutus kutukan.
Kala dua titik darah terkumpul pada satu cawan kecil di tangan Pangeran Eleazar, cahaya menyembul kuat dari cawan tersebut. Lama kelamaan, cahaya itu meredup, titikkan darah Aesira dan Kay tersebut berubah menjadi pil merah.
Diluar dugaan semua orang, pil itu ditelan cepat oleh Pangeran Eleazar tanpa dicegah karena tindakan Pangeran Eleazar yang terbilang gesit.
“Keluarkan pil itu! Cepat keluarkan!” titah Aesira berteriak di depan wajah Pangeran Eleazar yang tidak merasa bersalah sama sekali.
Gigi Kay bergetar, tangannya mengepal lalu, tanpa aba-aba ia tunjukkan ke arah Pangeran Eleazar yang sigap menahan dengan tangannya.
“Kalian terlalu bodoh! Tidak mungkin sama sekali aku membantu musuh, bukan?” ucap Pangeran Eleazar diakhiri tawa membahana.
Bibir Pangeran Eleazar tersenyum miring. Ia melakukan serangan ke dada Kay mendadak dan membuat Kay terdorong mundur.