
Untuk pertama kalinya, setelah seminggu berada di Arsh, Aesira diperlihatkan momen agung dimana bulan bersinar terang di langit. Juga, milyaran kerlap-kerlip bintang menambahi kesan cantik malam ini. Itu, membuatnya rindu, pada bumi tempat kelahirannya. Namun, bagaimanapun, inilah jalan yang tertorehkan untuknya. Memenangkan pertandingan dengan ratu bengis tak berhati.
Duduk di tengah-tengah tempat pelatihan sendirian. Aesira memeluk dirinya, merasakan perih yang berkecamuk. Ia menaruh kedua telapak tangannya di depan.
“Rui, seharusnya tangan ini bisa menyelamatkanmu. Maafkan aku.” Tangis gadis berambut pirang itu luruh seketika. Rasa bersalah tak kunjung jua terlempar dari hatinya.
Datang-datang, Kay meletakkan mantel tebalnya ke punggung Aesira. Lalu, duduk di depan gadis yang menunduk menyembunyikan bukti kesedihan.
“Semua orang datang dan pergi, Ae. Tangis tak akan membawa yang pergi kembali. Kini, kau harus menata dirimu, ada hal besar menatimu. Jika kau kuat, kau bisa menghadapi segalanya.”
Tangan kanan Aesira naik mengusap pipinya. Ia mengangkat wajah.
“Kau benar, Kay. Kau benar.” Aesira menghapus bekas air di pipinya kasar.
Kay merubah posisi duduk di sebelah Aesira dengan pandangan mengarah ke angkasa. Mengamati bulan yang tampak lebih besar dari bulan di buminya.
Aesira sekilas melihat tangan Kay yang terselubung gelang naga yang menyelimuti setengah lengan Kay. Ia menarik tangan Kay dan bertanya,”Apa ini masih sakit?”
Kay menoleh kemudian tataoanya jatuh pada tangannya yang berada di pangkuan Aesira.
“Sedikit.”
“Sebenarnya tidak, Ae. Ini sangat sakit tapi, aku terus menyembunyikan rasa sakit ini dari semua orang. Tapi, entah kenapa, setiap berada di dekatmu, rasa sakit ini bak perlahan memudar.”
Kay memandangi Aesira dengan senyuman penuh cinta tanpa gadis itu sadari. Hal itu, membuat ukiran di gelangnya mengeluarkan cahaya yang membuat Aesira terkejut.
“Kay, gelangmu bercahaya,” tukas Aesira membuat lamunan Kay buyar. Cepat, laki-laki itu me Lihat sendiri gelangnya, dan benar gelangnya bersinar.
“Apa ini pertanda sesuatu, Kay?” tanya Aesira.
“Pertanda aku mencintaimu, Ae. Mungkin.”
Kay kelaparan tertawa kecil, hal itu mengundang kebingungan Aesira.
“Kenapa kau malah tertawa? Kau baik-baik saja kan, Kay? Aku takut kau kerasukan atau apa.”
“Kau bicara apa, Ae. Aku hanya senang saja. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, kini aku bisa merasakan arti kebebasan dalam hidup, tidak dikekang aturan dan tuntutan. Inilah impianku, dan Tuhan mengabulkan ini dengan cara yang tidak kusangka-sangka sebelumnya.”
Aesira terkekeh dan menatap wajah laki-laki itu. Tetiba saja, Kay memegang daun telinganya.
“Ada apa, Kay?”
“Orang,orang itu … mereka, berteriak meminta tolong.”
“Siapa, Kay? Siapa yang meminta pertolongan?”
Kemudian, kebersamaan mereka berdua itu terusik ketika sebuah anak panah berubah menjadi belasan meluncur di langit mengarah pemukiman warga. Pandangan keduanya tertuju pada Lynda yang berada di titik tertinggi bangunan kerajaan.
“Sesuatu pasti terjadi,” kata Kay. Ia menarik tangan Aesira dan membawa gadis itu masuk.
Dengan tergesa-gesa, keduanya merapat ke markas. Kedatangan mereka mengundang tatapan Margaretha, Isabella, dan Putri Elma.
“Ada ada sesuatu terjadi?” tanya Aesira cemas. Ia berdiri di sebelah Margaretha.
“Pasukan bernaga Udaya membakar wilayah selatan Arsh,” terang Putri Elma.
Beberapa detik berselang, semua orang di ruangan itu teralihkan dengan kedatangan seseorang yang membuka pintu seenaknya. Mereka mengira itu adalah Lynda, tapi tebakan mereka meleset, ternyata itu adalah Havardur, kepala pelatih prajurit Arsh. Laki-laki dengan tatapan setajam elang itu membuka tudung kepalanya.
“Prajurit kita tidak banyak. Api lontar kita sudah dihancurkan. Aku sudah meminta semua pasukan mundur dan mengamankan penduduk.”
Dahi Kay mengkerut. Ia menarik bahu Havardur, menempatkan kedua telapak tangannya ke pipi laki-laki itu. “Alvin? Apa ini benar kau?” tukasnya yang langsung mendapat tatapan dingin. Havardur melepas tangan di pipinya.
“Siapa kau?”
Havardur memandang Aesira dan Kay bergantian.
“Ratu Udaya baru dan …” Havardur menyipitkan penglihatannya lalu, tertawa.
“Ada-ada saja, bahkan dia mirip seperti Pangeran Eleazar,” sambungnya yang kemudian beralih ke peta di meja.
Lynda datang dan meletakkan busurnya ke nakas.
“Kabut hitamnya menyelimuti Arsh kembali,” ujar Lynda yang sontak membuat semua orang kaget.
“Pasang dan jaga bola cahaya di menara, sementara yang lain bersiap melakukan serangan,” titah Putri Elma. Lynda mengangguk, ia berlari ke sudut ruangan dan membuka peti lalu, mengambil bola cahaya.
“Kalian berhati-hatilah,” pesan Lynda sebelum lari keluar menuju menara timur.
Semua orang berpencar seperti arahan Putri Elma. Aesira hendak keluar mengikuti yang laun, namun ia berhenti dan melihat Kay yang masih berdiam diri.
“Kau tidak ikut?” tanya Aesira.
“Apa yang bisa aku lakukan, Ae? Aku tidak memiliki apapun. Aku hanya akan merepotkan kalian.”
Aesira menggeleng. Ia menarik tangan Kay dan membawa laki-laki itu ikut bersamanya.
“Sepengamatanku, semenjak kau tiba di Arsh, pendengaranmu bertambah tajam. Kau juga bisa melihat hal-hal yang tidak tampak di depan matamu, Kay. Apa kau tidak menyadari itu?” ucap Aesira di sela-sela mereka menuruni anak tangga.
“Bahkan sadar atau tidak, aku tidak tahu apakah kemampuan ini akan membantu, Ae.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Isabella menerbangkan Margaretha untuk menyerang naga-naga namun, tangan satunya tetap berjaga guna menyerang.
Havardur yang berasal dari Ivor, negeri pengendali tanah. Laki-laki itu membelot ke Arsh atas jiwa kemanusiaannya. Ia tidak peduli di tempat kelahirannya sendiri dicap sebagai pengkhianat. Tapi yang pasti, ia bangga melakukan ini semua. Ia berjanji pada para pejuang Arsh akan setia berperang sampai akhirnya Arsh terbebaskan dari belenggu Udaya.
Kepalan tangan Havardur menonjok tanah. Seketika, bergerak dari bawah, tanah naik dan membentuk benteng di sekitar pengungsian penduduk.
Lynda menyusul padahal gadis muda itu ditugaskan untuk menjaga bola cahaya.
“Kenapa kau kemari?! Jaga bola cahaya!” teriak Isabella.
“Kulihat naga-naga bertambah banyak, aku kira kalian akan kewalahan. Jadi, aku kemari. Tapi, Aesira dan Kay yang menjaga.”
Isabella mendengkus pelan. “Baik, mari kita selesaikan ini secepatnya.”
Lynda mengangguk mantap.
Sementara di menara timur kerajaan, Aesira terus-menerus mencoba kekuatannya. Ia melakukan berbagai gerakan yang ia ingat namun, tetap tidak berhasil menyalakan sumber cahaya kekuatan di tangannya.
“Ayolah, aku membutuhkanmu,” geram Aesira pada dirinya sendiri.
“Kau mungkin membutuhkan umpan untuk menarik kekuatanmu muncul, Ae,” saran Kay.
“Umpan?”
“Coba ingat-ingat kembali, kau bisa mengeluarkan kekuatanmu saat kau sedang terdesak, sedang ingin melindungi orang lain, dan ….” Kay menjeda ucapannya. “Kau bisa mengisi lebih banyak bukan?”
“Ya! Kemarahan dan cinta …,” nada Aesira melandai di akhir kata, bahkan nyaris tidak terdengar.
“Tapi, saat ini aku juga sedang ingin melindungi orang lain, terdesak, dan marah. Tapi, … tapi kenapa kekuatanku tetap tidak keluar?”
Aesira menghela napasnya. “Aku bingung dengan diriku sendiri.”