Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 27



Berkat kalung yang diberikan saudara kembarnya, Samuel. Isabella kini dengan mudah mengeluarkan kekuatannya tanpa batas. Ia tidak perlu banyak beristirahat guna mengembalikan titik kekuatan. Energi di dalam tubuhnya pun juga terasa semakin meningkat setelah pertemuan itu. Saat ini, Isabella tengah mencoba mengendalikan sayap dan juga pecut petir agar dapat beradaptasi dengan dirinya.


Sementara di tempat sebelah, ada Aesira yang menatap Isabella dengan raut lelah.


“Berkonsentrasilah, Ae. Kekuatanmu pasti muncul,” bilang Isabella sembari mengenggam tangkai pecut itu agar tidak lepas dari tangannya.


Aesira menghempaskan tangannya sembari mendengkus kesal. “Ini tidak bekerja, aku tidak tahu apa masalahnya!”


Kaki Aesira berputar ke arah undak-undakan menuju istana. Ia memutar ada seseorang mengarah ke tempatnya. Orang itu adalah, Kay.


“Aku baru sadar, apa aku bilang jikalau aku tidak ingin kehilangannya tadi itu? Ya ampun, bagaimana kalau Kay menangkap maksud yang lain atas ucapanku itu? Aku kan, hrg! Padahal aku tidak bermaksud begitu!”


Aesira mengangkat kedua tangan dan melihat dengan mata agak terbelalak.


“Kekuatanku … kekuatanku muncul!”


Kepala Aesira mendongak ke Kay yang masih berjalan. Laki-laki itu menyapa dengan mengangkat tangan. Aesira menunduk kembali, memasang tangannya yang bersinar oleh sekumpulan cahaya biru.


“Apa kekuatanku … muncul karena … jatuh cinta? Lebih tepatnya akan muncul karena cinta?! Cinta, cinta tidak terbatas menyukai lawan jenis saja, tapi cinta itu luas, ‘kan? Rasa ingin melindungi juga bagian dari cinta bukan?”


Kay menipuk pundak Aesira dan mengakibatkan gadis itu kaget.


“Apa ada waktu untuk bengong di tengah latihan?” tanya Kay.


“Hum?” Balik Aesira bertanya dengan wajah kebingungan.


“Lihat tanganmu bercahaya terang sekali! Akhirnya kekuatanmu kembali, Ae!” puji Kay sumringah.


Aesira memandang tangannya. “Oh, ini. Iya, aku akan berlatih. Bisakah kau menepi, aku tidak ingin kau terluka.” Sadar dengan kalimat terakhir, Aesira membungkam mulut dan berbalik badan.


“Jangan mengatakan hal yang membuat Kay terbawa perasaan Ae! Dia bisa saja menganggap ucapanmu dengan maksud lain lagi!”


Aesira menghadapkan wajahnya kembali ke Kay. “Maksudku, kekuatanku ini bahaya karena aku belum bisa mengendalikannya. Membuat orang lain terluka di sesi latihan, bukankah itu tidak lucu?”


Kay tertawa. “Ya, mau benar, Ae. Aku akan menepi dan berlatih memanah bersama Havardur. Kau tahu, sejak berada di sini, aku rindu ektrakulikuler memanah. Mungkin dengan giat berlatih, ini bisa menjadi tameng untuk mempertahankan diri.”


“Apa perlu atlet juara satu satu negara seperti dirimu berlatih? Kau ini sudah hebat, Kay,” tukas Aesira.


“Apa seorang atlet juara satu tidak boleh berlatih?” tanya Kay dengan membalikkan pernyataan.


“Kau bisa saja. Ya sudah, kau berhati-hatilah.”


“Kau juga,” jawab Kay. Tapi, hal yang membuat Aesira membeku seketika adalah saat Kay mengakhiri perkataannya sembari mengusap kepala dan tersenyum sangat manis untuknya.


Situasi ini sungguh membuat Aesira merasakan hatinya tidak karuan. Bahkan kini, dalam diamnya memerhatikan laki-laki berjalan meninggalkannya, ia bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang.


Splash!


Kedua kaki Aesira terjangkit saat sabetan cambuk petir Isabella tidak sengaja hampir mengenai kakinya.


“Maaf, Ae! Kau tak apa?” ujar Isabella sambil terus mengendalikan cambuknya.


“Ya, kau tidak perlu khawatir.”


Dada Aesira turun menekan udara keluar dari hidungnya. Ia menatap kedua tangannya yang masih bercahaya.


“Saatnya berlatih, Ae!”


Aesira memusatkan pikiran, hanya dengan mengerakkan satu telunjuk jarinya, ia bisa membelah batu di depan berkeping-keping.


“Wow! Ini menakjubkan!”


Aesira ketagihan mencoba fungsi kekuatannya yang lain. Mungkin aja selain bisa menghancurkan benda, ia juga dibekali ilmu terbang, dan menghilang.


“Gerakan sihir Ratu Udaya, aku masih mengingatkannya, kan? Bukankah waktu itu bahkan aku dapat berlari cepat? Aku harus mencobanya!”


Antusiasme Aesira naik pesat. Ia betul-betul memahami gerakan sihir Ratu Udaya dengan baik. Margaretha yang baru datang dan langsung menyerang dibuat “K-O" oleh serangan yang dilancarkan Aesira.


Margaretha mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya sembari mendekati Aesira.


“Maaf membuatmu terluka, Kak,” tukas Aesira sembari menundukkan setengah badan.


“Sudah sembuh ketika aku bisa melihat kekuatanmu datang. Ini hal yang menggembirakan, bukan?”


“Kau, Isabell! Jangan menaruh amarah pada cambuk itu, gunakan perasaanmu!” timpal Margaretha pada Isabella.


Saking kesal, akhirnya cambuk itu lepas dan terbang entah kemana. Isabella mendesis pelan.


...***


...


Jazira membongkar semua kitab-kitab tersembunyi peninggalan Raja Karhu, berharap ada sesuatu informasi yang dapat menbautmanya mendapati keluarnya yang lebih besar sesuai apa yang ia inginkan.


Namun, tindakan itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Satu per satu kitab tak bersalah itu terbanting keras ke lantai. Jazira mengerang penuh amarah.


Di tengah amarah yang membara, Ratu Udaya itu termenung.


“Menguasai kekuatan langit, apakah itu mustahil untukku gapai? Ini akan sedikit lebih sulit, tapi aku tidak ingin kalah dengan gadis itu. Aku harus menang dan mendapatkan wajahku kembali! Tapi, jika rencana ini gagal … kematian akan lebih dulu datang. Sial!”


Tangan Jazira menghempaskan ekor mantelnya sembari berbalik.


“Tidak. Tidak ada yang mustahil bagi Ratu Udaya! Ketakutan hanyalah sampah!”


Jazira duduk di singgasana agungnya. Ia memanggil seluruh panglima dan kesatria agar berkumpul di altar.


“Siapakan pasukan terbaik. Kita harus menyerang tahta langit untuk menyerap kekuatan lebih!”


“Maaf yang mulia. Hamba tidak bermaksud lancang, namun bukahkah tindakan ini akan berdampak tidak baik untuk Udaya? Udaya bisa saja terancam jikalau Ratu tetap bersikeras menguncang tahta langit.”


“Aku tidak peduli! Yang aku perlukan adalah menjadi kuat!”


Eleazar mengutuk tindakan keras kepala gadis yang pernah diselamatkannya dari lumpuh seumur hidup itu. Ketamakan sudah meracuni ini pikiran gadis tua itu sampai-sampai tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


“Beritahu semua panglima dari negara sekutu untuk bersiap ke kerajaan langit malam ini!”


Eleazar menaruh genggaman tangannya di dada, menunduk, lantas menjawab dengan suara nyaring. “Siap, Ratu.”


...***


...


Havardur menyela acara makan bersama di ruang makan.


Melihat ekspresi Havardur, Margaretha bertanya,”ada kabar apa?”


Seolah tahu Havardur membawa kabar penting, laki-laki itu menangguk lantas menjelaskan.


“Udaya dan para kesatria dari negara sekutunya akan berangkat melakukan penyerangan ke kerajaan langit.”


Putri Elma berdiri dari kursi. “Tindakan yang nekat! Untuk apa mereka mencari masalah dengan orang-orang langit? Ingin mencari mati?!”


Lynda menendokkan makanannya ke mulut. “Biarkan mereka semua mati, Putri. Jadi, kita tidak perlu repot-repot menghadapi mereka lagi.”


“Bukan begitu, Lyn. Jika meeka berhasil menguasai tahta langit, ini bukalah sesuatu yang baik untuk bumi. Mereka akan semakin semena-mena, mungkin bukan hanya ke Arsh tapi, seluruh dunia akan porak-poranda!”


“Kita tunggu saja bagaimana hasil permainan mereka, Putri,” kata Isabella menimbrung percakapan.


“Kita tidak bisa menunggu, aku takut mereka menang atas pertempuran itu. Kita tidak pernah tahu akhirnya bukan?” tutur Putri Elma dengan kentara sekali kecemasannya.


“Putri, tenangkanlah dirimu. Pasti ada cara untuk mengagalkan rencana Ratu Udaya ini. Mungkin dengan memberitahu kerajaan langit dan meminta mereka bersiap, juga menjadi barisan pejuang mereka, kita bisa mengalahkan Ratu Udaya?”


Putri Elma menggelengkan kepala. “Menuju ke kerajaan langit tidak semudah yang dibayangkan, Aesira. Hanya orang-orang yang menguasai ilmu membuka portal yang dapat ke sana. Hanya Jazira, atau kalian menyebutnya Ratu Udaya serta ibunya yang telah tiada yang bisa mengusai ilmu semacam itu di bumi,” terang Putri Elma membuat semuanya agak tercengang.


“Benarkah itu satu-satunya cara ke sana?” tanya Aesira kembali.


“Tentu saja, aku membaca banyak buku zaman dulu di perpustakaan bawah tanah kerajaan. Dan itu menjelaskan hal yang sama. Kecuali …”


“Kecuali apa, Putri?” tanya Margaretha.


“Kecuali ada orang dari keturunan dewa-dewi langit seperti Ratu Mina dan Jazira.”


Ruangan hening sesaat. Pokiran masing-masing orang di ruangan itu berpencar mencari jalan keluar.


“Bukankah kami berempat merupakan duplikat Ratu Udaya? Bisa jadi kami pun ada keturunan dewa-dewi langit seperti Ratu Udaya. Kami berempat merupakan pecahan jiwa Ratu Udaya kan?” tutur Aesira yang membuat semuanya termenung.