
Langkah mereka tergesa-gesa menapaki ubin lorong menuju perpustakaan bawah tanah yang telah lama tak mendapatkan kunjungan. Terakhir kali, hanya Putri Elma yang ke tempat ini, itupun sudah dua tahun yang lalu.
Saat segel pintu itu berhasil terbuka, pengap dan berdebu menyambut. Tidak ada ventilasi yang dapat menerangi. Karena sebenarnya, dulunya tempat ini merupakan tempat para tahanan. Seluruh buku sengaja disembunyikan untuk penyelamatan dari perang besar agar catatan-catatan tentang leluhur Arsh tidak hilang.
Putri mendekatkan ujung obornya yang terlahap api itu ke beberapa obor yang terpasang di dinding. Perlahan, kegelapan sirna. Deretan buku menyambut mata mereka.
“Dulu, Raja Emir mengatakan jikalau Ratu Mina menyimpan sebuah buku yang sengaja ia tinggalkan untuk Putri Jazira. Buku itu berisi berbagai mantra yang hanya bisa dibuka dan dibaca oleh keturunan Ratu Mina, itu yang Zaramama katakan dulu. Setelah Putri Jazira menghilang, buku tersebut kembali ke asal tempatnya.” Putri Elma menjeda ucapannya sembari menyusuri punggung buku yang berjajar rapi di rak.
“Sungguh aku tidak tahu apakah buku itu ikut berada di sini atau tidak. Tapi, kita harus berusaha menemukannya,” lanjutnya.
“Baik, Putri.” Margaretha berbalik dan memberi komando agar setiap orang berpencar ke sisi perpustakaan dengan ratusan buku ini.
Setelah berjam-jam berjibaku memporak-porandakan perpustakaan, mereka hanya mendapati kesia-siaan yang tidak berarti.
“Ini konyol, bagaimana mungkin buku seistimewa itu berada di tempat semacam ini?” kata Putri Elma dengan nada lesu.
“Sudahlah, mungkin memang tidak ada cara lain untuk menghentikan rencana Ratu Udaya ini.”
Melihat semua orang berpasrah, Aesira menghela napas. Ia menundukkan kepala dengan jari-jari yang sibuk menata buku di lantai. Namun, aktivitasnya kemudian terhenti. Gadis itu berdiri dan membuat atensi semua orang mengarah kepadanya.
“Jika ini perpustakaan kota, dua puluh langkah arah barat daya dari sini ada pintu mengarah ke kamar mandi.” Aesira berjalan sembari menghitung jumlah langkah sampai angka yang disebutkannya.
Aesira meraba dinding di depannya dan mendorong sedikit permukaannya. Seketika bunyi ‘klik’ membuatnya terkejut. Ia menoleh ke teman-temannya dengan pertanyaan yang muncul di matanya. Semua orang mengangguk sembari beranjak. Mereka berada di belakang Aesira. Hati-hati, gadis berambut pirang dengan kepangan yang menghiasi tepi kepalanya itu mendorong pintu batu tersebut hingga menampakkan sebuah lorong dengan cahaya yang menyorot di area jauh sana.
Beberapa orang yang hendak mengikuti Aesira memasuki lorong yabg tingginya tidak lebih dari satu meter itu dihadang oleh tangan Putri Elma. Dengan isyarat gelengan kepala, ia memberitahu jikalau mereka harus membiarkan hanya Aesira sendiri yang memadukan tempat misterius tersebut.
“Tapi, Putri. Bagaimana kalau di sana ada sesuatu yang baik mengancam Aesira?” tukas Kay cemas.
“Dia akan baik-baik saja, “ jawab Putri Elma yakin.
Tidak ada banyak waktu untuk menoleh ke belakang. Aesira terus memantapkan kakinya menghabisi jarak lorong ke tempat sumber cahaya putih di seberang.
“Aku yakin, tempat ini dan perpustakaan kota saling berhubungan! Dan, saat aku memasuki ruang aneh saat ke kamar mandi, ini merupakan tempat yang sama!”
Aesira tiba di ujung lorong dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan bercahaya dengan lampu kristal dan ubin keramik yang maha indah. Atap ruangan ini terhias langit malam dengan bintang, bulan, dan semburat aurora berbagai warna.
“Buku … buku putih dengan ukiran emas, ya … itu buku yang pernah kulihat waktu itu! Bisa jadi, inilah buku yang kami cari! Buku Ratu Mina!”
Saat tangan Aesira mencoba meraih buku yang melayang-layang itu, tangannya mendapat serangan tidak terduga. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita yang menutupkan setengah wajahnya dengan kain bersiap menyerang kembali.
Perlawanan tidak terhindarkan antara mereka. Aesira menahan pukulan orang itu, hendak memberikan tinjauan tapi, orang itu lebih dulu menghindar. Aeir memutarkan badan dan memberikan satu kekuatan yang mengarah ke orang itu. Dengan lentiknya, punggung orang itu melengkung kebelakang menghindari kekuatan serangan Aesira.
Aesira menunduk, mengeret satu kakinya membentuk sudut seratus delapan puluh derajat untuk menjegal musuhnya. Namun, lagi-lagi ia meleset, orang itu main cantik dengan cara menerbangkan diri dan mendarat cepat di belakang Aesira lalu, gadis itu terjerembab jatuh karena pukulan mendadak ke punggungnya. Meski begitu, Aesira tetap bangkit, ia belum merasa kalah.
Aesira memutar badannya hingga membuat ekor mantelnya berkelebat naik mengikti arah putar. Dengan sigap, ia memainkan tangan mengikuti gerakan orang itu beberapa menit yang lalu lantas mengarahkan kumpulan kekuatan sekuat tenaga. Tak lama, orang itu menghilang.
Aesira mengira semaunya akan selesai. Pertarungan yang sungguh menguras energinya tidak akan mengganggunya mengambil buku itu, tapi mendadak saja ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Aesira membeku, telinganya bis mendengar jelas dari napas orang itu, juga merasakan pundaknya terelus oleh jari.
Aesira menoleh ke kanan perlahan. Orang misterius tersebut memanggil namanya yang sontak membuat kedua mata Aesira terbuka sempurna. Gesit Aesira berbalik dan merampas penutup wajah orang dibelakangnya.
“I, I, ibu?” tukas Aesira lirih dengan bulir air mata terkumpul di sudut. Dengan saksama ia memerhatikan orang yang mirip sekali wajahnya dengan mendiang ibunya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Sebuah kemenangan tidak akan ada tanpa ada proses perjuangan. Kau, tidak akan bisa mengambil tulisan di dalam sebuah buku sebelum di penulis mengizinkannya, Aesira.”
Mengetahui hak tersebut, Aesira mulut mengangga.
“Jadi, kau … Ratu Mina?”
“Bu-bukankah kau sudah …” Aesira tidak melanjutkan perkataannya.
“Mati,” sambung Ratu Mina.
Sang Ratu berjalan mengitari sisi penyangga bukunya. Dengan mudah, buku tersebut ia ambil lantas, ia mengembalikan diri berdiri di depan Aesira yang sedari tadi memerhatinannya.
“Aku memang sudah mati, tapi jiwaku akan tetap abadi,” tukas Ratu Mina sembari mengulurkan buku itu pada Aesira.
Pandangan Aesira jatuh ke buku yang mengarah kepadanya.
“Semudah inikah saya mendapatkannya?” tanya Aesira.
“Apa melawanku tadi kau mudah mengalahkanku? Itu bentuk perjuanganmu, dan ini hadiahmu. Terimalah.”
Dengan tangan bergetar sembari terus menatap wajah Ratu Mina yang membawa paras mendiang sang ibu, Aesira menarik buku itu perlahan. Tiba buku itu sempurna di tangan, tubuh Ratu Mina memudar, serpihan cahaya pudaran jiwa sang ratu terbang ke angkasa luar sana menuju alam ketenangan.
...***
...
Sementara di luar, semua orang tengah berusaha keras membuka pintu batu yang tak lama setelah perginya Aesira, pintu itu mendadak tertutup dengan sendirinya. Mereka semua dengan berbagai cara mencoba membuka, namun secenti saja tidak ada yang berhasil.
Kay mengacak rambutnya frustasi. “Seharusnya kita tidak membiarkan Aesira masuk sendirian!” Perkataan itu bermaksud menyindir Putri Elma yang tadi menahan mereka di ambang pintu.
Kay menempelkan punggungnya dan mendorong pintu itu berharap dengan energinya ia bisa mengeset celah. Namun, itu adalah usaha ke sekian yang tidak ada hasil sama sekali. Dengan kesal, Kay menonjok pintu itu sembari berteriak marah.