Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 10



Ini pertama kalinya, Aesira bisa melihat Kay tertawa lepas. Hanya gara-gara menaiki roller coaster, tawa laki-laki itu terdengar nyaring.


“Apa, sekurang bahagiakah hidupnya hingga hak kecil ini sampai membuatnya tertawa?”


“Kau tahu, orang didepanku tadi ketakutan dan berteriak lucu sekali, hahaha.”


Aesira tersenyum singkat.


“Mau beli es krim?” tawar Aesira mengalihkan topik. Kay mengangguk.


Mereka berjalan berdampingan di sepanjang trotoar dengan toko-toko berjajar di sepanjang tepinya.


“Ternyata yang tidak ternilai tidak begitu buruk ya?”


Aesira terkekeh. “Hidupmu itu terlalu sempurna. Banyak orang yang menginginkan posisimu. Banyaklah belajar dari orang-orang tanpa nilai, maka kamu akan tahu arti ketulusan dan keikhlasan.”


Kay mengangguk dengan antusias. Aesira kembali tersenyum, entah kenapa ia tak canggung lagi mengobrol pada anak laki-laki paling populer di sekolah. Besok, adalah hari yang rumit, bisa jadi ada masalah besar yang menunggunya karena berani berdekatan apalagi mengajak laki-laki di sampingnya ini jalan-jalan di taman hiburan kota.


Keadaan kembali canggung. Tidak ada topik yang muncul di pikiran Aesira untuk dibahas bersama Kay. Mereka terdiam bersamaan sambil melahap perlahan gula kapas di tangan masing-masing.


“Aku mau uang! Dasar orang tua tidak berguna!”


Kaki keduanya berhenti di depan sebuah toko aksesoris. Sebenarnya, Aesira tak ingin terlalu ikut campur urusan pemilik toko aksesoris tersebut bersama anaknya. Tapi, melihat betapa buruknya sikap laki-laki tidak tahu diuntung itu, rasanya sungguh membuat geram.


“Dia ayahku, baikkah kau bersikap seperti ini?!” bentak Aesira mengingatkan. Tangannya menahan pergelangan laki-laki itu yang bisa telat sebentar saja akan melukai pemilik toko aksesoris tersebut.


“Hei! Tidak usah ikut campur gadis asing!” timpal laki-laki dengan rambut ikal itu sembari menunjuk lurus Aesira dengan jari telunjuknya. Ia menghempaskan tangan Aesira dan diam-diam hendak merebut tas Aesira yang mengantung di pundak. Namun, Kay yang menyadari gerak-gerik laki-laki itu lantas saja menahan lalu, memberikan tatapan tajam dengan isyarat agar laki-laki itu pergi.


Setelah laki-laki itu pergi dengan titipan ancaman yang entahlah bersungguh-sungguh atau tidak. Mereka berdua bergantian menenangkan laki-laki pemilik toko aksesoris.


“Maafkan perilaku anak saya.”


“Tidak perlu berterima kasih, Pak. Dia memang perlu diberi pelajaran agar jera dan menyadari sikap buruknya,” tukas Aesira. Kay melirik singkat gadis di sebelahnya, entah kenapa gadis itu selalu membuatnya takjub. Ia tidak tahu sejak kapan mendapatkan perasaan semacam ini. Yang jelas, ini mempengaruhi pikirannya.


“Ya, itu karena aku terlalu memanjakannya. Aku janji akan mendidiknya lebih baik lagi.”


Untuk menghibur suasana hati pemilik toko aksesoris, Aesira memutuskan untuk membeli beberapa aksesoris di toko tersebut. Ia berjalan bersama Kay melihat-lihat gelang berbahagia warna dan model serta aksesoris lainnya yang memanjakan mata wanita.


Kay mengambil sebuah jepit rambut berlian imitasi berbentuk bunga lalu, menyematkannya ke rambut gadis di sebelahnya. Aesira yang sedang serius menimang-nimang pilihannya jatuh pada gelang yang mana, sontak kaget dan mengangkat wajah ke arah Kay yang dua puluh centi lebih tinggi darinya.


Aesira meraba kepalanya dan menarik jepit tersebut.


“Eh, jangan! Kau cantik memakai itu!” larang Kay yang seketika membuat Aesira membeku.


“Maksudku-maksudku, aku belum pernah melihatku memakai aksesoris seperti gadis-gadis lain di sekolah, tampaknya kau akan cantik jika sesekali memakai aksesoris? Bu-bukankah itu tidak buruk?” ungkap Kay dengan gugup setengah mati.


Aesira terkekeh dengan rona merah menyebar di pipinya.


“Ini tidak buruk.” Gadis itu mendengkus sambil menunduk. “Terlalu sibuk belajar, aku jadi lupa memperhatikan diriku sendiri sebagai seorang gadis.”


Kay merasa ada ucapannya yang tidak tepat. Kemudian, gadis itu kembali mengarahkan wajahnya ke arahnya dengan ekspresi berbinar.


“Terima kasih, aku akan mengajak jepit rambut pemberinmu ini,” kata Aesira diiringi senyuman.


Mereka kembali berjalan ke area aksesoris laki-laki.


“Besok adikku ulang tahun, mungkin kau bisa memilihkan hadiah untuknya?” tawar Kay.


“Dia adikmu, bukan adikku, Kay. Tentu kau lebih tahu apa seleranya.”


Kay menggaruk tengkuknya. “Betul juga.”


Setalah sekian menit, mereka berdua tak jua menemukan kado yang pas untuk adik Kay.


“Nanti kita ke toko lain saja.”


Aesira mengangguk.


Pemilik toko menghitung pembayaran belanjaan mereka di kasir. Saat Aesira hendak membayar, pemilik toko menolak.


“Tapi, saya membeli ini, Pak.”


“Tidak perlu, Nona sudah membantu saya. Dan …” Pemilik toko tersebut mengeluarkan sebuah kotak dari bawah etalase lalu, membesarkannya ke hadapan Aesira.


“Ini ada kenang-kenangan kecil untuk Nona.”


Aesira membuka kotak tersebut dan terpana dengan keindahan gelang merah itu.


“Tidak repot, Nona.”


200 meter dari melangkah keluar toko. Aesira mengulurkan kotak merah itu pada Kay.


“Itu punyamu.”


Aesira menggeleng.


“Ini hadiah dariku untuk ulang tahunmu. Maaf, saat itu saat semua orang di kelas bahkan hampir semua orang di sekolah memberimu hadiah, aku tidak bisa memberimu apa-apa. Dan, ini sepertinya bisa menjadi hadiahku untukmu meski sedikit terlambat.” Aesira tertawa kecil. “Maaf kadoku murahan. Kalau kau tidak suka, nanti kau bisa membuangnya,” ujarnya terbuka.


“Gadis baik memang selalu mengucapkan kata ‘maaf', ya?” Kay menghela napas. “Terima kasih. Kau bilang yang tak ternilai banyak mengajarkan banyak hal.” Kay memandang kotak itu.


“Ini akan menjadi hadiah terbaik yang pernah aku terima. Terima kasih, Ae.”


Aesira seketika terpana kala Kay tersenyum dengan lembut di depannya. Lagi-lagi, jantungnya seolah-olah tersengat aliran listrik.


...***


...


Aesira menghentikan tangannya mengaduk adonan di bowl.


“Aku tidak menyangka, tadi siang aku menghabiskan waktu cukup lama dengan Kay.”


Gadis itu terhenyak. Lalu, melanjutkan pekerjaannya membuat adonan kue untuk di jual besok.


Tiga jam bergelut membuat kue. Ia beralih ke kamar dan mengerjakan sedikit tuga sekolah. Tanpa menerima kesulitan berarti, ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Kakinya mengarah ke balkon, duduk di ayunan dengan menaikkan kaki.


“Bu, Ae rindu.” Ucapannya itu berhasil membuat matanya berlinang.


Dengan gesit, Aesira menghapus air matanya. “Ada apa denganku? Bukankah aku tidak boleh lemah?”


Tring!


Aesira menarik ponselnya dari atas nakas. Sebuah foto dari Kay membuatnya salah tingkah.


“Aku sudah memakai hadiah darimu. Ini sangat cocok. Aku menyukainya.”


“Ya, itu sangat cocok, Kay,” gimana Aesira.


Saat hendak kembali duduk di ayunan rotan itu, mendadak saja Kay menghubungi via video call. Sontak saja itu sangat mengejutkan Aesira dan ia sungguh gugup mengangkat.


“Hai!”


Aesira membuka matanya perlahan dan menyiapkan sikap sebiasa mungkin.


“Ha-hai, Kay,” jawab Aesira terbata-bata.


“Ada apa menghubungiku malam-malam, Kay?” tanyanya. Kay tampak sekali berpikir.


“Boleh aku memesan kue untuk ulang tahun adikku?”


Aesira mengalihkan pandang sejenak.


“Bisa-bisanya aku terlalu percaya diri kalau Kay menghubungiku untuk tahu keadaanku!”


“Bi-bisa. Tapi, apa tidak apa aku uang membuat kue untuk keluarga konglongmerat tersohor di kota ini?”


“Kau ini bicara apa? Ini tidak ada hubungannya dengan keluargaku, Ae. Lagi pula, kue buatanmu lebih enak dari koki keluarga ini.”


“Benarkah? Kau bercanda?”


“Aku …”


Wajah Aesira berubah cemas kala laki-laki di telepon itu terlihat menahan sakit.


“Kau baik-baik saja, Kay?”


Kay berusaha menjawab di tengah menahan rasa sakit. “E-entahlah, gelang ini seperti mencengkeramku.”


Tiba-tiba, sambungan video call berakhir tiba-tiba. Aesira berulang kali menghubungi balik Kay, namun tidak jua mendapat respon.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Kay? Lindungi dia Tuhan, semoga dia baik-baik saja.”