Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 35



Suasana berubah menjadi mencekam setelah Pangeran Eleazar dengan terang-terangan menyatakan pengkhianatannya. Saat empat gadis di ruangan itu hendak menyerang serentak, mereka melihat bayangan naga hitam terpisah dari raga Pangeran Eleazar. Sempat kehabisan tenaga dan jatuh bertumpu satu kaki, laki-laki itu dengan cepat berdiri kembali dan merasakan kebebasan yang selama ini memenjarakannya. Setengah gelang di tangannya itu muncul dan terlepas, gelang itu tiba di tanah lalu hancur berkeping-keping.


Pangeran Eleazar tersenyum picik ke arah Aesira dan Kay yang masih menahan rasa sakit di dadanya.


“Ku ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa lepas dari naga terkutuk ini. Selamat tinggal!”


Gumpalan awan hitam membawa Pangeran Eleazar menghilang.


“Hei! Kembali kau! Dasar pengecut!” cecar Aesira dengan nada tinggi.


Isabella menepuk pundak Aesira. Gadis itu menoleh, Isabella pun berucap “maaf" dengan nada lirih.


Aesira berdecak. “Dia bukan Crish, Isabel, dia Eleazar! Jadi kau tidak perlu repot-repot meminta maaf untuknya!” jawab dengan sentimental. Aesira menepi dari hadapan Isabella dan mendekati Kay. Ia mengambil alih Kay dari Margaretha untuk memapah. Dibawanya Kay menuju ruang peristirahatan.


Lynda yang berniat menyusul keduanya ditahan oleh Margaretha.


“Kita biarkan Aesira menurunkan emosinya. Ini adalah keadaan yang tidak mudah baginya.”


Lynda memundurkan kakinya dan menuruti perintah Margaretha.


Ditengah-tengah perjalanan menaiki tangga. Kedua mata Aesira melihat sendiri tangan Kay perlahan bersisik dengan kuku berganti tajam nan besar.


Langkah Kay terhenti. Dengan napas terengah-engah, ia mengatakan sesuatu.


“Tinggalkan aku, Ae.” Keduanya saling bersitatap ketika Kay mengucapkan itu. Mata Aesira berlinang, ia menggelengkan kepala penuh penolakan.


“Tidak, Kay! Kau mendapat kutukan ini karenaku. Kau ke tempat ini juga karenaku. Aku tidak akan meninggalkanmu!” Tegas Aesira.


Kay bergantian menggeleng. “Ini semua takdir, Ae. Kau tidak salah.” Kay meringis, tubuhnya sepeti dihancurkan perlahan oleh jelmaan naga di tubuhnya.


Tangan kirinya ia lepas dari pundak Aesira. Lalu, mundur ke dua amat tangga ke belakang. Aesira menatap kedua mata Kay untuk terakhir kali. Kay tersenyum kepadanya, namun, senyuman itu terasa sangat menyakiti hatinya.


Dengan waktu singkat, Kay berubah seutuhnya menjadi naga merah yang sangat besar. Naga itu meliak-liukkan tubuhnya di depan Aesira yang kini membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar. Naga itu tak lama pergi melalui celah besar yang berada di langit-langit bangunan kerajaan.


Aesira dibuat tak berdaya. Kakinya lemas, ia ambruk dengan menahan tangan di pembatas tangga.


“KAYYY!!!” teriaknya mengiringi kepergian laki-laki yang kini sudah menjauh tanpa arah tujuan.


***


Aesira terdiam dengan pandangan kosong. Terlihat jelas gadis itu telah menumpahkan air mata dengan sangat banyak.


“Ae.” Panggilan dari Margaretha itu tidak mengalihkan perhatian gadis yang dipanggilnya.


Ketiganya merapat duduk di sekitar Aesira.


“Kesedihan ini bisa melemahkanmu, Ae. Kau tahu itu ‘kan? Aku percaya, Kay akan kembali dan pasti ada cara lain yang bisa membuat Kay kembali memiliki tubuhnya.”


Aesira menunduk mendengar nasihat Margaretha dan membuat air matanya turun. Ia menarik wajahnya menghadap depan lagi lalu, mengusapnya kasar.


“Aku benci pada takdir ini! Takdir ini membuatku kehilangan kebahagiaanku. Teman, keluarga, dan cinta, kenapa semuanya harus hilang dariku? Kenapa takdir tidak memberiku celah untuk bernapas? Rasanya hidup tiada guna lagi!”


“Jangan berkata seperti itu, Ae. Sekarang tidak ada waktu untuk menggerutu. Semuanya sudah terjadi. Sekarang, menyerah pun tidak ada gunanya. Kita harus tetap melawan Ratu Udaya atau mati tanpa hormat,” Imbuh Lynda.


“Ayo, Ae. Kita semua harus menyelesaikan takdir ini dan kembali melanjutkan hidup ke asal masing-masing. Di sana, ada banyak orang yang mengkhawatirkan kita, merindukan kita, mengharapkan kemustahilan menjadi kenyataan.”


Aesira menarik napas panjang, ia mencoba memasukkan semua nasihat teman-temannya itu dan menimbangnya.


Di raup wajahnya untuk menyeka kepenatan di wajah.


“Beri aku waktu untuk menerima ini sebentar,” tukas Aesira yang kemudian berdiri dan melanjutkan perjalanan menaiki tangga.


Gadis berambut pirang itu duduk di lantai menara sambil memeluk kedua lutut sembari menatap langit yang menampilkan bulan purnama. Pada bulan itu ia dapat melihat jelas seekor naga mengitari bulan tanpa tujuan. Aesira yakin, naga itu adalah Kay.


Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja tubuh Aesira terhuyung ke belakang dengan mata tertutup rapat.


Dia tidak pingsan, tapi kutukan putri tidur kembali datang dikarenakan terpisahnya ia dengan sang penawar. Dalam mimpinya, Aesira berlari kencang tanpa ia sendiri tahu apa yang mengejarnya.


Dari depan, ia mendapatkan serangan yang membuatnya terpental dengan darah mengalir ke sudut bibirnya. Belum sempat menghindar, tubuhnya kembali dihantam serangan. Ia mencoba mengeluarkan kekuatan, tapi ia tidak berhasil. Dalam keadaan terpojok itu, ia melihat sosok merah raksasa yang sangat mengerikan mendekat.


“Bersiaplah menghadapi kematian!” Suara sosok itu membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.


“Rupanya Aesira kembali didatangi kutukan putri tidur,” ucap Margaretha sembari mengusap peluh di dahi Aesira dengan handuk.


“Bukankah sudah lama kutukan itu tidak muncul?” tanya Lynda.


“Ya, aku baru menyadari itu. Tapi, kenapa itu muncul kembali aku tidak tahu apa penyebabnya,” ujar Margaretha.


Isabella yang awalnya berdiri berganti duduk di sebelah Aesira yang terbaring. Ia mengenggam tangan gadis itu dengan perasaan bersalahnya.


“Kurasa, itu karena ia dipisahkan oleh Kay. Kita semua tahu kisah putri tidur yang sembuh dari kutukannya ketika bertemu sang pangeran bukan?”


“Aku tidak tahu kisah itu?” tukas Lynda.


“Ya Tuhan. Kau tidak tahu? O iya, aku lupa, kau berasal dari masa peperangan awal.”


“Ya, begitulah. Tapi, mungkin yang kau katakan tadi ada benarnya, Isabel.”


“Kalau begitu, kita harus segera membawa Kay kembali. Kondisi ini akan merepotkan kita jika sewaktu-waktu musuh datang.” Margaretha menatap wajah Aesira. “Kita semua tahu, dialah pemilik kekuatan terbesar di antara kita.”


Isabella dan Lynda mengangguk bersamaan.


***


“Kau sudah bangun?”


Aesira masih berusaha memahami suasana sekitar seusai tenggelam dalam mimpi yang panjang.


Lynda mengulurkan segelas air. Lekas ia meneguknya perlahan.


“Ada apa, Ae? Aku tampak seperti orang bingung.”


Aesira mengembalikan gelas ke tangan Lynda.


“Kukira, aku sudah berada di rumah.”


Sekilas Lynda tersenyum mendengar ucapan Aesira.


“Kau sudah tertidur tiga hari lamanya. Mungkin dalam tidurmu, kau banyak bermimpi sedang beraktivitas di rumah.” Gelas itu Lynda taruh di nakas.


“Mau ku ambilkan makanan?” tawar Lynda.


“Dimana Kak Margaretha dan Isabella?”


“Mereka sedang mencari Kay. Aku tidak tahu persis kemana mereka mencari,” balas Lynda sembari menata makanan di piring lalu, menaruhnya di pangkuan Aesira.


“Mencari Kay?” tanya Aesira.


“Apa kau tidak ingat apa yang terjadi?”


Aesira terdiam dan mengingat waktu sebelum ia tertidur. Semua ingatan yang dibutuhkannya berurutan hadir dan membuat dadanya sesak.


“Kau baik-baik saja?” tanya Lynda khawatir karena mendadak Aesira memegang dadanya dengan napas tidak stabil.