Aesira Destiny

Aesira Destiny
Part 29



Dengan penuh takjub, Aesira memandangi buku di tangannya. Ia memeluk erat buku tersebut, saat ia hendak melangkah keluar, mendadak semua cahaya di ruangan tersebut padam dan hanya menyisakan kegelapan yang menyiksa. Aesira betul-betul tidak tahu arah jalan, dadanya juga sesak akibat kondisi semacam ini. Kegelapan sejalan mencekik pernapasannya.


Kepayahan, Aesira menelan ludahnya. Mengatur napas juga pikirannya agar tenang.


Ia memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh. Perlahan, semburat cahaya hidup di tangannya, dengan cahaya itu, ia dapat melihat ke sekeliling pun jalan yang akan membawanya keluar.


“Semuanya berubah menjadi dinding batu,” tukasnya sambil melihat ke sekitar.


Aesira bergegas, ia berjalan cepat dengan tetap memeluk buku bersampul putih itu di dada. Ketika sadar pintu di depan tertutup rapat, ia pun mengarahkan kekuatan birunya dan ajaibnya pintu batu itu hancur seketika dibarengi dengan dentuman yang cukup kencang.


Orang-orang yang masih setia menunggu dengan harapan tipis, tetiba saja terbangun dari lamunan masing-masing dan berdiri serentak. Mereka berlari menghampiri sosok yang dinanti. Beberapa pun terlihat memeluk.


“Kau baik-baik saja? Kami semua mengkhawatirkanmu,” ucap Putri Elma sambil mengenyam kedua bahu Aesira.


“Kalian semua tampak sangat cemas? Apa ada sesuatu?”


“Ya, pintu batu itu tidak bisa terbuka setelah kau pergi. Itulah mengapa kami terlihat sangat mencemaskanmu,” jawab Putri Elma.


Aesira tersenyum singkat, ia menarik buku di pelukannya lalu menyerahkannya ke hadapan sang putri.


“Bisa jadi inilah buku yang kita cari,” kata Aesira.


Telapak tangan Putri Elma mengusap pelan sampul depan buku tersebut. Ia memandang wajah gadis di depannya dan mengangguk. Sang putri mengembalikan buku tersebut pada sang pembawa sebelumnya.


“Zaramama memberitahuku, buku ini hanya bisa dibaca oleh keturunan Ratu Mina. Untuk itu, hanya kalian berempat lah yang bisa membaca isinya,” terang Putri Elma.


Keempat duplikat Jazira itu duduk melingkar. Diletakkannya buku tersebut di tengah-tengah. Aesira membuka lembar pertama dan mendapati kilauan yang sungguh menyengat mata. Akibat terangnya cahaya itu, ruangan tersebut terang benderang dan terlihat jelas sisi tersembunyinya. Bahkan beberapa pintu tidak diketahui pun nampak di beberapa dinding.


Cahaya mereda, deretan kata bertinta emas perlahan terukir di kertas. Sebuah cara untuk mengetahui cara membuka portal. Seolah-olah buku itu tahu apa yang mereka butuhkan padahal mereka belum mengucapkan apapun.


Mereka saling bersitatap.


“Kita tidak akan tahu jika tidak mencoba,” ulas Aesira menjawab semua pertanyaan di benak teman-temannya.


Bersamaan mereka mengangguk lantas, berdiri serentak.


“Kita harus menuju tempat pelatihan, Putri,” ucap Margaretha.


“Baik, ayo!”


Dengan langkah tergesa-gesa, kaki mereka menderu menapaki ubin lorong. Mereka bersamaan menuruni tangga dan undak-undakan menuju pelataran pelatihan yang sangat luas itu.


Putri Elma dan Kay berhenti di tepi, membiarkan empat gadis itu melakukan apa yang mereka mau.


Isabella mengambil sebilah kayu, ia membuat lingkaran besar dan lingkaran tepi di luar. Di anatara du lingkaran itu ia mengambar masing-masing tanda di tangan para duplikat Jazira. Pun dengan tiga duplikat lain yang telah tiada. Margaretha meletakkan kalungnya di simbol tetesan air, Lynda mengeluarkan dua pedang sabit kembar ke simbol pedang, dan Isabella sendiri meletakkan kalungnya ke simbol petir. Kemudian, mereka berdiri di simbol yang sama seperti simbol yang ada di tangan mereka. Bersamaan, mereka mengerakkan tangan sesuai yang tergambar di buku sembari berkonsentrasi tinggi.


Perlahan, satu per satu simbol itu bercahaya dengan warna yang berbeda-beda. Lingkaran yang mengapit berbagai aneka simbol itu juga bersinar terang.


Bersama-sama, mereka menarik tangan ke depan. Bersamaan itu pula, kekuatan mereka mengarah tepat ke tengah-tengah lingkaran. Pedang sabit, dua kalung dengan liontin berbeda juga ikut memancarkan kekuatannya. Mereka mundur perlahan ketika di tengah-tengah lingkaran itu samar-samar terbentuk lubang hitam dengan rerintik cahaya mirip bintang serta kabut ungu bercampur biru.


Meeka semua terperangah karena keindahan lubang dengan diameter satu meter itu.


“Kalian berhasil!” tutur Putri Elma dengan ekspresi bangga.


“Kita tidak boleh membuang waktu. Kita bisa saja didahului Ratu Udaya.”


“Baik, Putri,” jawab semuanya serempak.


“Sebentar, aku melupakan sesuatu!” Putri Elma berlari ke dalam. Ia menggeledah lemari kayu yang sudah lapuk dan membawa peti berukuran bunga teratai tersebut


Putri kembali dengan napas terengah-engah.


“Ayo,” ajak Putri tanpa mau menjelaskan apa gerangan benda yang berada di tangannya itu pada semua orang.


Kay menoleh pada Aesira, hadis itu menanggapi,”Kau takut?” tanya Aesira.


Kay menghembuskan napas berat. “Tidak, aku hanya gugup. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, rasanya banyak sekali hal-hal menghantui pikiranku.”


Aesira berjinjit dan mengusap kepala Kay sembari berkata,”hal-hal buruk, enyahlah dari kepala Kay.”


Kay tersenyum dengan cara konyol yang Aesira tujukan padanya. Tatapannya tidak bisa lepas dari wajah Aesira yang tampak manis. Ia raih tangan di kepalanya dan menempelkannya tepat ke dada.


Aesira yang tersadar tangannya digenggam oleh Kay menarik cepat tangannya itu.


“A, ayo, semuanya sudah masuk ke portal,” tukas Aesira terbata-bata. Gadis itu melompat saja ke dalam portal kemudian diikuti Kay.


Aesira melihat tiga punggung wanita dengan gaun yang menawan. Masing-masing rambut wanita itu juga tersanggul rapi dengan menyisakan setengah bagian bawah rambut tergerai, juga masing-masing dari mereka mengenakan hiasan kepala dengan bentuk beraneka yang menambahi kecantikan mereka.


Karena penasaran, Aesira mengulurkan tangannya dan mengetuk satu pundak di antara satu wanita di depan yang membelakanginya.


Satu wajah menoleh.


“K-Kak Margaretha?”


Margaretha menempelkan jari telunjuknya di depan bibit sambil berdesis.


“Mereka bertiga bertranformasi setelan secantik ini? Bahkan wajah mereka juga terolesi make up yang menawan. Mereka seperti gadis-gadis di drama fantasi China!”


“Jika mereka berganti pakaian setelah tiba di sini, bisa jadi aku …”


Aesira melihat dirinya, dan benar saja, pakaian ketat yang membungkus seluruh tubuhnya berganti dengan gaun putih bersemu biru. Ia meraba atas kepalanya dan ia terkejut ketika mendapati hiasan berbentuk bunga-bunga kecil yang melingkar dengan sangat cantik. Tangan Aesira beralih ke belakang dan menarik sisa rambutnya yang saat ia letakkan di depan terlihat sangat panjang. Lebih mengherankan lagi, rambut berwarna pirang miliknya berubah menjadi warna hitam pekat. Pun dengan Isabella. Tak ayal mengapa tadi ia sangat pangling dengan Isabella.


Aesira menoleh ketika tiba-tiba Kay mendarat di sampingnya dan hampir kehilangan keseimbangan. Namun, bukan hal kehilangan keseimbangan yang membuat Aesira menahan tawa, melainkan dengan penampilan baru Kay yang menurutnya sangat lucu.


Kay melihat tubuhnya yang sudah berbalut pakaian mirip gaun tapi tidak begitu mekar dengan mantel biru yang menjuntai ke bawah. Matanya melirik ke samping dan mendapati rambutnya berubah panjang dengan setengah bagiannya terikat ke belakang.


Melihat kebingungan di wajah Kay itu, Aesira tidak mampu lagi menahan tawa.


“Ae, jaga suaramu,” bisik Margaretha.


“Sorry, Kak.”


Akibat tawa itu, salah satu penjaga mendadak muncul dari kabut putih di samping Aesira dan membuatnya kaget setengah mati. Gadis itu melompat ke sisi Kay. Penjaga itu mengarahkan pedang tepat di lehernya, dengan hati-hati, Aesira menggeser ujung pedang tersebut dengan jarinya agar menepi. Setelahnya, penjaga itu kembali hilang di antara kabut putih itu.


“Kita diterima untuk masih ke kerajaan,” ucap Putri Elma setelah sebaliknya dari dalam istana yang masih belum nampak akibat tertutup kabut putih.