
Rindu Pov
Rindu berjalan menulusuri lorong untuk sampai di kelas, dia membuka pintu kelas, Rindu kaget dengan kehadiran teman-teman nya yang ternyata datang sangat pagi hari ini. Ada apa ini? pikir Rindu.
Rindu berjalan menuju tempat duduk nya, dia merasa sangat canggung berhadapan dengan Keyla karna gadis itu sudah tau semua masalah nya, Keempat gadis lain langsung menghampiri Rindu dan mengelilingi gadis itu.
"Rindu..." ucap Senja lirih.
Rindu tak menjawab, dia hanya menatap Senja dengan dahi berkerut, pasalnya gadis itu selalu bahagia tapi kenapa sekarang terlihat sedih.
"Kenapa Lo ga jujur aja sih? kenapa Lo harus ngehindar?" ucap Kyra melanjutkan ucapan Senja.
"...."
"Kalo lo gini, kami sebagai teman Lo merasa ga ada gunanya." ucap Fely.
"Maaf."
Keempat gadis itu langsung memeluk Rindu, mereka menangis. Rindu tak kuasa menahan tangisnya, akhirnya kelima gadis itu menangis sambil berpelukan.
Setelah tenang mereka duduk dan kembali menghadap ke arah Rindu.
"Sekarang ceritain, gue mau dengar." ucap Senja sambil menghapus air matanya.
"Emang Keyla belum cerita?" tanya Rindu.
"Gue ga mau cerita apapun kecuali Lo sendiri yang cerita sama mereka, gue cuma bilang kalo bapa lo udah tenang." jawab Keyla.
Rindu menghembuskan nafas nya, dia mulai menceritakan semua masalah dari awal hingga dirinya yang memutuskan untuk bekerja di cafe, teman-teman nya terkejut dengan kisah Rindu, mereka tak menyangka gadis periang seperti Rindu harus menanggung masalah sepahit itu, mereka saling tatap dan kemudian mengangguk sepertinya mereka sepemikiran.
"Lo bilang Lo kerja di cafe? emang gaji Lo cukup?" tanya Senja.
"Gue juga ga tau, mungkin beberapa bulan cukup." jawab Rindu ragu.
"Gue punya ide, gimana kalo kita semua kerja paruh waktu dan gaji nya kita kumpulin buat biaya operasi ibunya Rindu?" Ucap Keyla, mata mereka berbinar dan mengangguk antusias.
"Jangan! gue ga mau ngerepotin siapapun, masa kalian harus cape-cape kerja buat gue, mending kalian tidur di rumah, lagian gue yakin uang gue bakal cukup." tolak Rindu.
"Rindu sayang, coba deh Lo pikir. Mungkin uang Lo bakal cukup tapi perlu waktu berbulan-bulan buat ngumpulin nya, ibu Lo ga mungkin selama itu buat nunggu. Tapi kalo ada 5 orang yang kerja pasti lebih cepat terkumpulnya, kami juga bisa minta sama orang tua kami buat bantuin." jelas Senja.
"Rindu jangan merasa ngerepotin, Lo sama sekali ga ngerepotin kami, kami ikhlas nolong Lo, jadi jangan nolak ya?" ucap Fely.
"Disini kita itu sahabat, susah senang bakal selalu bersama. Gunanya sahabat itu adalah ngedukung satu sama lain, jadi apapun yang terjadi jangan gengsi buat minta tolong atau cerita masalah, ini bukan cuma buat Rindu tapi buat kita semua. Jangan pernah ngerasa sendiri, dunia ini luas banyak orang yang tanpa kita sadari peduli sama kita, jadi belajar memandang dunia lebih luas lagi." Sambung Kyra.
Rindu tersenyum manis, dia benar-benar beruntung bisa memiliki teman yang sangat baik seperti mereka, kenapa ga dari dulu dia mengenal mereka? tapi Rindu tetap bersyukur di kenalkan dengan bidadari tak bersayap seperti mereka.
-
"Jadi Lo di serang sama kak Dinda?" tanya Rindu, kini Rindu sudah kembali menjadi periang walau kadang masih sering banyak melamun. Rindu merasa sangat bersalah dengan Keyla, dia terlalu sibuk dengan masalah nya sendiri sampai tak tau jika Keyla di bully oleh kakak kelas.
"Iya, udah gapapa." jawab Keyla santai.
"Gue kesel banget sama Keyla sumpah, masa gue mau bales dendam dicegah sama dia, alasannya udah ga usah, biarin aja dia, kejahatan di bales dengan kebaikan, kalo Lo bales dengan kejahatan juga Lo ga beda jauh sama dia." ucap Senja kesal.
Rindu terdiam, sepertinya Senja sangat ingin membalas perlakuan Dinda, dia mengetikan sesuatu dan mengirimnya ke Senja.
"Kan emang benar dodol, gue juga sebenarnya benci banget sama tuh ulet tapi yang di ucapin Keyla ada benarnya." ucap Kyra.
Senja tak menanggapi ucapan Kyra dia membuka hp nya saat ada satu pesan masuk, mata nya melirik ke arah Rindu dan tersenyum lebar.
...*****...
Bel berbunyi menandakan berakhirnya semua pelajaran dan waktunya untuk semua murid kembali ke rumah masing-masing. Rindu, Senja, Keyla berjalan beriringan menuju gerbang, Rindu dan Senja saling pandang dan kemudian mengangguk.
"Key, gue sama Rindu duluan ya." ucap Senja, Keyla mengangguk. Rindu dan Senja bernafas lega karna Keyla tak bertanya apapun, mereka bergegas menuju parkiran sekolah.
"Lo mau ngapain sama mobil nya kak Dinda?" tanya Senja sambil menatap Rindu.
"Adalah pokoknya, gue cuma minjam satu pisau jadi tugas Lo buat jaga-jaga siapa tau kak Dinda mau kesini." Titah Rindu, Senja menurut saja dan berbalik untuk berjaga-jaga.
Rindu mulai menjalankan aksinya, kurang lebih 20 menit dia bergulat dengan mobil milik Dinda.
"Rindu! kak Dinda datang." ucap Senja panik.
Dinda menyentuh ban itu, dia mematung di tempat dan mengangkat secara perlahan tangannya, di tangan itu sudah menempel sesuatu seperti kotoran.
Senja yang melihat itu ingin muntah namun langsung di cegah Rindu.
"Tenang aja, itu cuma cokelat." bisik Rindu
"AAKKKHHH, SIALAN SIAPA YANG BIKIN GINI!!" teriak Dinda dengan wajah memerah, dia berdiri dan duduk di bangku pengemudi untuk mengambil air putih.
Setelah selesai membersihkan tangannya, Dinda berniat kembali mencek ban mobil, wajah nya berubah masam.
Rindu menarik tangan Senja untuk menghampiri Dinda, Senja yang masih bingung dengan keadaan hanya mengikuti Rindu.
"Eh kak Dinda? ngapain disini kak?" tanya Rindu dengan wajah sok polosnya.
Dinda menatap kedua gadis itu sinis,
"Jangan sok bodoh, pasti kalian yang bocorin ban mobil gue kan?" tanya Dinda sarkas.
"Jelas-jelas kami baru datang main tuduh-tuduh aja, nih. Kata kakak ban mobilnya bocor, pake aja mobil Senja kami bisa naik angkot ko, mobilnya warna merah di parkir di parkiran khusus guru." ucap Rindu sambil memberikan kunci.
Dinda langsung mengambil kunci itu dan berlalu pergi tanpa mengucapkan terimakasih.
"Sejak kapan gue datang kesekolah naik mobil?" tanya Senja.
"Gue juga ga tau." jawab Rindu santai.
"What! jadi... mobil dan kunci yang Lo kasih punya siapa?" tanya Senja sambil menatap Rindu.
"Mobil itu punya Bu Sri, terus kunci nya gue dapat di kelas." jawab Rindu.
Senja tersenyum lebar, dia tak menyangka jika Rindu sudah menyiapkan semua itu. Kedua gadis itu pergi ke parkiran khusus guru untuk melihat Dinda.
Terlihat Dinda sedang mencoba memasukkan kunci, tiba-tiba Bu Sri datang sambil menatap Dinda tajam.
"Ngapain kamu disini? mau maling ya?!" tanya Bu Sri.
"Lah ibu yang apa-apaan, ini mobil punya teman saya." jawab Dinda.
"Teman kamu siapa, ini mobil saya. Sana minggir!" usir Bu Sri.
Dinda tetap kekeuh tidak ingin keluar dari mobil, itu membuat Bu Sri naik darah.
"Coba kamu nyalakan mobilnya kalo memang benar ini mobil milik teman kamu." ucap Bu Sri.
Dinda dengan percaya diri memasukkan kunci itu, tapi kuncinya tidak pas dan bahkan tidak bisa masuk.
"Ko ga bisa." gumam Dinda.
Bu Sri menghembuskan nafasnya,
"Jadi? silahkan menyingkirkan sebelum saya benar-benar marah." ucap Bu Sri.
Dinda dengan cepat keluar dari mobil, setelah Dinda keluar Bu Sri berlalu pergi dengan mobilnya.
"Sialan, gue di kerjain sama dua bocil bodoh itu." gumam Dinda.
Rindu dan Senja tak henti-hentinya tertawa membayangkan ekspresi Dinda saat di parkiran tadi, kini kedua gadis itu sedang menunggu bakso pesanan mereka.
...*****...
Rindu datang agak telat hari ini, untung saja gerbang belum di tutup. Dia berjalan menuju kelas dengan langkah santai, dahi nya berkerut saat melihat semua murid di kelas nya hanya berdiri di depan kelas.
Tiba-tiba Senja menarik tangan Rindu untuk sedikit menjauh dari kelas diikuti Keyla.
"Lo bilang kunci semalam Lo dapat dari kelas." ucap Senja.
"Iya, terus?"
"Dodol, itu kunci kelas astaga. Mati kita." ucap Senja.
Rindu berubah menjadi pucat, dia tak menyangka akan sebodoh itu. Keyla menatap keduanya dengan dahi berkerut, dia benar-benar tidak tahu apapun, dan apa saja yang di lakukan kedua teman nya itu.