
Keyla dan Senja duduk di kantin sambil menunggu Kyra dan Fely, kedua gadis itu mendapat hukuman karna tidak mengerjakan tugas.
Selang beberapa menit akhirnya kedua gadis itu datang dengan wajah masam, mereka tak henti-hentinya mengumpat pada guru yang memberi hukuman itu.
"Eh btw Rindu mana?" tanya Fely yang baru sadar jika mereka Hanya berempat.
"Dia ga hadir, ga ada yang tau dia kemana." jawab Senja sambil memakan cilok miliknya.
"Gue ngerasa kalo Rindu nyembunyiin sesuatu." ucap Kyra yang ikut memakan cilok Senja.
"Semalam gue liat dia nangis di belakang sekolah, sambil mandang foto gitu." ucapan Keyla berhasil membuat ketiga gadis itu menatap Keyla.
"Terus?"
"Ga tau, gue ga nyamperin." jawab Keyla acuh.
Ketiga gadis itu mendengus, kecewa dengan jawaban yang di berikan Keyla.
Mereka tak membahas tentang Rindu lagi, kini mereka fokus pada makanan, tak ingin membuang waktu karna waktu istirahat yang terbilang cukup singkat.
Namun mereka harus kembali menghentikan makan mereka karna tiba-tiba kakak kelas yang dikenal suka membully datang dengan circlenya sambil menggebrak meja, kini semua mata tertuju pada Dinda.
Dinda mengambil es jeruk yang ada di meja dan menyiram nya ke Keyla, Keyla tak merespon dia menatap Dinda dengan dahi berkerut.
"Dasar cewe murahan!" teriak Dinda dengan wajah memerah.
Keyla kembali diam, bukan dia takut tapi lebih tepat nya dia ingin tau alasan Dinda melakukan itu.
"Wait, apa-apaan nih main siram-siram aja." ucap Senja sambil menatap Dinda tajam.
"Udah Senja, biarin aja." ucap Keyla acuh.
"Ga usah sok muna lo, apa aja yang udah Lo kasih sampai Angkasa mau jalan sama cewe kaya Lo?!" ucap Dinda dengan senyum sinis nya.
Keyla tersenyum, kini dia tau alasan kenapa cewe aneh ini tiba-tiba marah padanya, Senja menatap Keyla meminta penjelasan apa benar dia jalan dengan Angkasa.
Keyla berdiri menatap Dinda dengan senyum manis nya,
"Emang kakak siapa nya kak Angkasa? bukan orang penting kan? jadi saya rasa kakak ga perlu tau apa yang saya kasih ke kak Angkasa." Ucap Keyla.
Plak.
Satu tamparan berhasil mengenai wajah mulus Keyla, Senja dkk langsung berdiri ingin membalas perlakuan Dinda.
"Dinda!" bentak Angkasa.
Dinda terkejut dengan kedatangan Angkasa, Dinda memang sudah menyiapkan mental untuk di marahin Angkasa, tapi dia tidak menyangka jika Angkasa akan semarah itu.
"Apa maksud lo? mau jadi orang yang sok berkuasa?" tanya Angkasa.
"A-angkasa, ini ga kaya apa yang Lo liat. Gadis ini, dia yang duluan mancing emosi gue." ucap Dinda sambil menunjuk Keyla.
"Bohong, jelas-jelas dia yang duluan kak." ucap Kyra tak terima.
"Ikut gue." Angkasa menarik tangan Dinda ke ruang OSIS, dia ingin bicara empat mata dengan wanita itu.
Setelah mereka pergi semua murid bubar dan kembali ke kegiatan mereka.
"Keyla, Lo kenapa diam aja sih? emang Lo mau di tindas gitu?" ucap Senja kesal.
"Kalo gue balas nampar dia, mungkin saat ini gue bakal ikut kak Angkasa ke ruang OSIS buat di ceramahin." ucap Keyla.
"Iya, emang kenapa sih? kenapa gue jadi seolah-olah salah banget jalan sama kak Angkasa, apa seburuk itu gue sampai ga boleh jalan sama kak Angkasa?" Ucap Keyla.
"Bukan gitu Key, Kak Angkasa dan Kak Alaskar itu cowo populer di sekolah ini udah pasti punya banyak fans salah satu nya kak Dinda, makanya dia langsung marah saat tau kak Angkasa jalan sama lo." jelas Kyra.
"Mending lo jangan terlalu dekat sama mereka deh, takutnya lo dapat masalah lagi." ucap Fely di angguki yang lain.
Keyla menghembuskan nafas nya, dan berlalu pergi tanpa mengatakan apapun.
-
"Aakkhh, kenapa jadi gini sih? kenapa hanya gue yang salah? bukannya kak Angkasa yang ngajak duluan." Keyla menatap dirinya dari cermin dia tersenyum kecut.
"Apa seburuk itu gue? huh~ gue sekolah buat belajar tapi kenapa malah harus dapat masalah sih?" gumam Keyla, Dia mencuci wajahnya dan berjalan keluar toilet.
Di depan toilet, Alaskar and circle nya menatap Keyla. Keyla hanya acuh dan berniat menjauh, dia benar-benar tak ingin mencari masalah saat ini.
"Woi cewe, gimana berhadapan sama Dinda? harusnya tadi Lo tarik aja tuh rambut." ucap Zidan heboh.
Keyla hanya melirik, dan melanjutkan langkahnya. tiba-tiba tangan kekar menghentikan langkah nya.
"Gue jadi penasaran kenapa Angkasa mau jalan sama cewe kaya Lo, setau gue tipe Angkasa itu cewe berkelas." ucap Alaskar sambil tersenyum sinis.
"..."
"Atau-"
"Atau apa? jadi maksudnya Lo gue murahan?! oke kalo di mata Lo gue adalah cewe murahan, silahkan menyingkir karna cewe murahan ini alergi terhadap cowo mahal kaya Lo!" Bentak Keyla dan berlalu pergi.
Alaskar terdiam, untuk kedua kalinya dia terdiam karna kata-kata yang keluar dari mulut Keyla, entah kenapa ini lebih menyakitkan saat Keyla mengatakan hal itu.
"Anjir ngeri-ngeri." gumam Zidan.
...*****...
"Keyla Lo dari mana aja? kenapa Lo ga masuk tadi?" tanya Senja dengan wajah khawatir.
"Gue ke taman." jawab Keyla.
Senja tak lagi bertanya, dia tau suasana hati Keyla sedang tidak baik, dia memutuskan kembali ke tempat duduknya memberi Keyla waktu untuk menenangkan diri.
Keyla berusaha menahan emosi nya, entahlah emosi nya benar-benar tidak stabil saat ini, dia takut jika perkataan nya menyakiti orang lain.
Dia ingin segera pulang ke rumah dan tidur, dia berharap hari esok akan lebih baik.
Tiba-tiba matanya tertuju pada meja Rindu, dia bahkan melupakan tentang gadis itu. Apa yang terjadi pada Rindu? kemana gadis itu pergi sampai membolos sekolah? hm, banyak pertanyaan yang muncul di kepala Keyla.
Andai Keyla tau dimana rumah Rindu, dia pasti akan pergi kesana mencari tau alasan Rindu tidak masuk sekolah.
-
Bel pulang berbunyi semua murid berhambur untuk pulang ke rumah masing-masing, Keyla kali ini berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu teman-teman nya.
"Pak ke cafe biasa ya." ucap Keyla pada supir pribadi milik keluarga nya.
"Baik neng."
Untungnya jalanan sedang tidak macet jadi dia tak perlu lama-lama untuk sampai di cafe, Keyla melangkah untuk memasuki cafe, belum sempat dia membuka pintu matanya menangkap sosok gadis yang sangat familiar, Keyla ragu karna gadis itu menghadap belakang, Keyla tidak bisa melihat wajah gadis itu tapi Keyla mengenal bentuk tubuh nya.
"Rindu?" gumam Keyla saat gadis itu menoleh ke arah pintu.