
Seorang gadis cantik masih tertidur dengan tenang di kamarnya yang bernuasa putih dan pink, Namun tidur cantik nya harus berakhir karna alarm yang terus berbunyi, dengan mata yang masih tertutup dia duduk. Mata nya mulai terbuka dan menatap ke arah jam dinding, mata yang awalnya masih mengantuk tiba-tiba menjadi segar, langkah nya dengan cepat menuju kamar mandi.
Selang 15 menit dia selesai berberes dan berniat turun ke bawah, sebelum turun dia kembali menatap jam dinding, sudah pukul 07:00.
"Bundaaaa, kenapa ga bangunin Keyla sih? kan jadi telat, ga usah sekolah aja ya?" ucap Keyla saat berada di meja makan.
"Siapa suruh begadang, bunda udah bangunin kamu tanya aja sama ayah." ucap Ratna sedikit tersenyum jahil.
Keyla menatap ayahnya yang sedang memakan roti, yang di tatap hanya mengangguk dan kemudian mengulurkan tangan ingin menyuapi Keyla.
"Ish, yaudah Keyla berangkat." Keyla pergi sambil menghentakkan kakinya, dia benar-benar kesal dengan sifat kedua orangtuanya.
"Pak, ngebut aja ya? biar cepat sampai sekolah." ucap Keyla saat sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Siap neng."
Beberapa menit berlalu, akhirnya Keyla sampai disekolah, tepat seperti yang dipikirkan gerbang sudah tertutup, namun terdapat satu murid yang sepertinya juga terlambat, senyuman terukir diwajahnya, tidak masalah jika dia harus dihukum yang penting dia tidak sendiri.
Dengan santai Keyla berjalan menuju gerbang, senyum nya semakin lebar saat tau siapa gadis yang juga terlambat sepertinya.
"Kak Rinai?" Sapa Keyla.
"Eh? terlambat juga?" tanya Rinai.
"Iya hehe, semalam habis begadang." Rinai membalas dengan senyuman singkat, dia kemudian kembali menatap gerbang dengan senyum masam.
Keyla menatap seseorang yang berjalan ke arah mereka, dia menghembuskan nafas kasar. Lagi dan lagi Keyla dengan terpaksa harus bertemu dengan lelaki gila itu.
"Rinai? kenapa Lo telat?" tanya Alaskar.
Keyla yang melihatnya terbelalak, bagaimana mungkin cowo dingin dan sadis berubah sangat lembut di depan gadis yang dia suka, sangat beruntung berada di posisi Rinai. Eh, tidak. Sama sekali tidak beruntung, untuk apa bangga di sukai cowo gila seperti Alaskar.
Keyla terus melamun, dia hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Keyla? Lo gapapa." tiba-tiba suara lembut yang sangat familiar menyadarkan Keyla dari lamunan nya, Keyla menatap ke depan, Alaskar menatap tajam Keyla seolah ingin memakan nya hidup-hidup.
"Ck, berdiri di bawah tiang bendera." perintah Alaskar.
Keyla mengangguk,
"Ayo kak." Keyla berniat menarik tangan Rinai untuk melaksanakan perintah cowo gila itu.
"Itu untuk lo, Rinai Lo boleh ke kelas." ucap Alaskar.
Rinai menatap Keyla, sebenarnya dia tak enak jika tidak melakukan hukuman, tapi Rinai tidak bisa berlama-lama di bawah sinar matahari. Dengan terpaksa dia berpamitan dan berlalu menuju kelas.
Keyla terdiam di tempat nya, dia menatap kepergian Rinai dengan kesal, apa-apaan sungguh tidak adil. Dia di hukum dibawah tiang bendera dengan cuaca panas, sedangka Rinai dibiarkan pergi tanpa diberi hukuman apapun.
Pandangan nya kini beralih menatap Alaskar yang juga sedang menatapnya, kebencian Keyla terhadap Alaskar bertambah. Ck, wakil yang tidak adil, bodoh, dan gila.
"Hanya orang bodoh yang memperlakukan seseorang dengan tidak adil." ucap Keyla sambil berlalu pergi, bisa gila dia jika harus berhadapan dengan Alaskar.
Alaskar mematung mendengar ucapan Keyla yang cukup menohok nya, ternyata gadis itu cukup berani mengatakan hal itu di depan nya.
Alaskar mengikuti langkah gadis didepan nya, dia tersenyum kecil memperhatikan cara berjalan gadis itu, lambat. Mungkin karna badan Keyla yang terbilang pendek jadi langkahnya juga tak bisa cepat.
Seperti sebelumnya, Alaskar duduk dibangku yang berada di seberang tiang bendera, dia memperhatikan gadis itu yang melakukan hukuman dalam diam.
"Bodoh." gumam Alaskar.
Keyla menatap Alaskar sinis, bisa-bisanya ada cowo sekejam dia.
Lagi dan lagi Keyla harus mendapat hukuman di saat dirinya belum memakan apapun, andai saja tadi dia tidak menolak roti yang diberikan ayahnya mungkin dia sedikit lebih bertenaga.
Keyla menyipitkan matanya untuk mencari Angkasa, dia berharap lelaki itu datang dan menolongnya dari orang gila, Namun dia tak melihat Angkasa sama sekali biasanya cowo itu selalu muncul tiba-tiba.
Kini matanya berganti menatap Rindu yang sedang berjalan menuju belakang sekolah. Tunggu, apa yang gadis itu lakukan?
Keyla terus menatap nya hingga dia menghilang di balik dinding, huh~ andai saja dirinya tidak sedang dihukum pasti dia bisa mengikuti Rindu.
"Hukuman selesai."
Keyla tersenyum senang, dia ingin berlari menuju belakang sekolah namun suara dingin itu kembali terdengar.
"Mau kemana lo?"
"Bukan urusan lo." jawab Keyla tanpa sadar.
Keyla berlari meninggalkan Alaskar yang menatap nya tajam.
Setelah sampai dia bersembunyi di balik dinding, untuk melihat apa yang di lakukan Rindu. Tunggu, gadis itu menangis? Keyla berniat menghampiri namun dia urungkan saat Rindu mengeluarkan sebuah foto yang terselip di antara lembaran buku.
Rasa penasaran Keyla semakin besar, dia yakin masalah yang dihadapin gadis itu cukup rumit, jika tidak mana mungkin Rindu menangis di belakang sekolah seorang diri.
"Mungkin ini ada hubungannya dengan perubahan sifat." gumam Keyla.
"Sifat apa?" tanya Angkasa berbisik, ya lelaki itu juga ikut mengintip.
Keyla terkejut dengan kehadiran Angkasa, untung saja dia tidak berteriak. Benar-benar gila, di saat Keyla membutuhkan nya dia malah menghilang dan akan muncul secara tiba-tiba di saat seperti ini.
"Kak Angkasa ngapain disini?" tanya Keyla.
"Harusnya gua yang nanya, ngapain Lo ngintip orang nangis?" Angkasa menatap Keyla penuh selidik.
Saat Keyla ingin menjawab, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat, tentu saja membuat kedua sejoli itu panik. Dan tak, Rindu menatap Keyla dan Angkasa secara bergantian.
"Eh Rindu? kok Lo ada disini?" tanya Keyla berusaha tersenyum.
"Ngapain Lo berdua disini?" tanya Rindu masih dengan wajah datarnya.
"Gue telat lagi, jadi kak Angkasa mau hukum gue buat bersihin belakang sekolah, iya kan kak?" Keyla menatap Angkasa berharap lelaki itu menjawab iya atau setidaknya mengangguk.
Angkasa terdiam, lebih tepatnya memikirkan sesuatu dan kemudian mengangguk.
Rindu tak menjawab, dia berlalu pergi tanpa sepatah kata. Keyla berniat mengikut Rindu namun tangannya di tarik oleh Angkasa.
"Kak!"
"Gue udah bantu lo, gue butuh bayaran." ucap Angkasa dengan senyum manisnya.
"Oke, mau berapa?" Keyla mengeluarkan hp nya dan menatap Angkasa.
"Gue ga butuh uang."
"Terus apa?"
Angkasa tersenyum, dia melangkah maju untuk mendekati Keyla. Refleks Keyla berjalan mundur hingga badannya menabrak dinding.
Angkasa semakin dekat, jarak mereka kini hanya selebar telapak tangan, namun sedetik kemudian wajahnya berpaling dan berbisik di telinga Keyla.
Setelah selesai Angkasa melangkah pergi dengan wajah tanpa dosa, Keyla mematung. Sungguh bodoh, apa yang dia pikirkan sampai berjalan mundur?