
Rindu POV
Rindu gadis yang terlahir dari keluarga sederhana, gadis yang di kenal periang dan mudah bergaul, sifatnya yang random membuat orang yang berada di sekitarnya menjadi bahagia.
Rindu selalu bisa mencairkan suasana, dia adalah tipe setia kawan, di saat teman nya sedang susah dia akan membantu selagi dia bisa melakukan nya.
Ini adalah hari pertama nya menjadi murid SMA, dia sudah bersiap dari jam 5 pagi. Bahkan ibu dan bapa nya terkejut dengan semangat putri tunggal mereka.
Walau hidup serba sederhana, keluarga itu tetap bahagia dan tawa selalu memenuhi rumah yang tidak terlalu besar itu. Bagi mereka harta bukanlah segalanya, untuk apa banyak harta jika hanya keheningan yang memenuhi rumah.
"Pagi Bu, ibu masak apa?" tanya Senja sambil memeluk ibunya dari arah belakang.
"Ibu lagi masak singkong, sana kamu panggil bapa. Kita sarapan bareng." ucap Rina dengan senyuman.
Rindu berlari menuju kamar, dia berniat memanggil bapa nya untuk makan bersama, baru selangkah dia memasuki kamar, bapa nya langsung memeluk Rindu dan menggelitik Rindu membuat gadis itu berteriak karna geli.
"AAAAA, BAPA GELI, IBU BAPA JAHIL LAGI." teriak Senja di selingi tawa.
Rina berlari saat mendengar teriakan putri cantik nya, dia memukul Setya dengan centong namun masih dengan senyum nya.
"Ish, jangan jahil sama anak sendiri. Dia sudah bersiap dari jam 5 pagi, kamu bisa-bisanya merusak baju nya lagi." omel Rina.
Setya hanya tertawa melihat kedua wanita cantiknya, dia merangkul kedua wanita itu dan berjalan menuju meja makan.
"Ayo kita sarapan, bapa tidak sabar makan masakan ibu mu." ucap Setya sambil duduk.
"Ibu tidak masak hari ini, kita makan singkong saja dulu." ucap Rina sambil membawa singkong yang dia rebus tadi.
"Itu juga kamu yang masak kan? jadi itu juga masakan kamu." Setya berdiri dan mencium kening istrinya.
Rindu yang melihat itu hanya cemberut, bisa-bisanya mereka bermesraan didepan anak sendiri, tapi dari hati terdalam Rindu dia sangat bahagia memiliki orang tua yang saling menyayangi hingga tua dan memiliki anak.
"Rindu juga mau di cium." ucap Rindu sambil menunduk.
Kedua orang tua nya berjalan ke arah Rindu dan mencium gadis itu secara bersamaan, Rindu cukup terkejut namun kembali tersenyum bahagia.
"Putri bapa sudah besar sekarang, sudah saat nya bapa punya calon mantu." ucap Setya.
"Ibu juga ga sabar mau punya mantu, Rindu jangan lama-lama jomblo ga baik." sambung Rina.
Rindu hanya tersenyum menanggapi nya, begitulah keseharian Rindu dan keluarga nya, selalu ada hal sederhana yang membuat rumah itu terlihat hidup, Kebahagiaan itu seolah selalu mengiringi langkah mereka.
...*****...
Rindu terduduk di bangku yang berada di lapangan, dia menatap sekeliling. Seperti nya dia harus segera mencari teman.
"Hai Rindu, gue Rindu banget sama Lo." pekik gadis cantik sambil melambaikan tangannya kearah Rindu.
"Senja! gimana liburan lo?" tanya Rindu.
Senja melepaskan pelukan Rindu, dan menarik tangan gadis itu untuk duduk. Dia menceritakan tentang liburannya bersama keluarga, Senja juga menceritakan hal-hal lucu yang membuat kedua gadis itu tertawa bersama. Senja mengenalkan Rindu pada kedua teman baru nya, Fely dan Kyra.
Mereka berempat juga mendapat satu teman baru, Keyla. gadis cantik yang harus mendapat nasib sial di hari pertamanya, tak butuh waktu lama kelima gadis itu sudah sangat akrab bisa dibilang sudah menjadi sahabat.
3 Hari berlalu dengan sangat baik, Rindu berdiri di halte bus bersiap untuk pulang. 30 menit berlalu dia akhirnya sampai di depan gang rumahnya. Tunggu! apa ini? bendera kuning? siapa yang meninggal?
Perasaan Rindu menjadi gelisah, dia berlari menuju rumahnya. Deg, Rindu menatap banyak orang berdatangan ke rumah nya, tanpa melepas sepatu Rindu masuk kedalam. Disana dia melihat ibu nya sedang menangis tersedu-sedu, pandangan nya beralih menatap seseorang yang berbaring di tengah-tengah dengan ditutup kain.
Dengan langkah pelan Rindu berjalan menuju seseorang itu, tangannya gemetar dan perlahan membuka kain itu. Air mata nya saat itu juga turun dengan deras, dia tak menyangka jika bapanya sudah berbaring disana dengan wajah pucat dan mata tertutup rapat.
"Bapa kenapa pergi? bapa udah ga mau jaga Rindu sama ibu? Bapa... bapa yang tenang di sana ya, Rindu yakin bapa akan selalu ada di samping Rindu, bapa juga bakal selalu ada di hati Rindu." ucap Rindu sambil mencium kening bapa nya.
Rumah yang awalnya penuh tawaan, berubah menjadi tangis pilu. Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan bagi Rindu dan ibunya, Orang yang menjadi kepala rumah tangga kini sudah pergi menghadap yang maha kuasa.
Setelah selesai pemakaman mereka kembali ke rumah, Rindu mencoba menenangkan Rina agar tidak menangis, dia takut jika Rina jatuh sakit karna terlalu banyak menangis, Rindu sekuat mungkin menahan tangis nya dia harus menjadi kuat untuk ibunya, jika dia juga menangis siapa yang akan menenangkan ibunya.
Tiba-tiba Rina tak lagi menangis, dia terdiam lebih tepat nya pingsan. Rindu panik dan meminta pertolongan warga untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
-
Rindu duduk di bangku yang berada didepan ruang inap ibu nya, air mata nya terus turun. Dia mengetahui satu rahasia yang selama ini ibunya sembunyikan dari dirinya, ternyata selama ini ibu nya mengidap kanker paru-paru stadium lanjut, Rindu bingung mencari uang untuk biaya operasi ibunya, dia sudah menghubungi semua keluarga namun tak ada yang mau membantu mereka.
"Bapa, Rindu harus gimana? Rindu takut." gumam Rindu.
-
Rindu sengaja datang pagi-pagi ke sekolah, dia berharap dengan sekolah dapat sedikit meringankan pikiran. Rindu tak mengira jika Keyla juga datang sangat pagi, gadis itu tertidur di kelas mungkin efek bangun terlalu pagi.
Rindu memutuskan untuk pergi ke belakang sekolah, dia ingin sendiri saat ini. Rindu menangis sejadi-jadinya disana, dia tak ingin menangis didepan banyak orang dan berakhir merepotkan orang lain, lebih baik dia sendiri yang menanggung semua, toh itu masalah hidup dia.
Hari Selanjutnya Rindu kembali pergi ke belakang sekolah, dia mengeluarkan foto keluarga kecilnya, dimana ayah dan ibunya sedang tersenyum lebar sambil memeluk dirinya, tangis Rindu kembali pecah saat membayangkan kenangan mereka saat bersama.
Rindu menghapus air mata nya, dia meyakinkan diri nya setelah pulang sekolah nanti untuk mencari pekerjaan, dia tak ingin larut dalam kesedihan! ya dia harus menjadi gadis yang kuat, ibu nya sedang membutuhkan nya!
Rindu melangkah ingin kembali ke kelas, saat sampai di pintu menuju belakang sekolah dia bertemu dengan Keyla dan Angkasa, Rindu tak terlalu memperdulikan mereka. Memang Keyla bilang bahwa mereka di sana untuk memberi hukuman karna Keyla kembali datang terlambat, tapi Rindu tidak sebodoh itu untuk percaya, dia tau jika Angkasa tidak akan sekejam itu memberi hukuman pada murid untuk membersihkan belakang sekolah seorang diri, dia juga tau jika Keyla sedang mengintip nya.
Setelah pulang sekolah Rindu mencari pekerjaan paruh waktu, dia mampir ke toko-toko namun tidak menemukan toko yang sedang mencari karyawan, hanya ada satu, cafe. Tapi sayang cafe itu membutuhkan karyawan shift pagi, karna memang sangat perlu uang Rindu memutuskan untuk pergi bekerja dan membolos sekolah.
Keesokan harinya dia sudah mulai bekerja, sejauh ini semua berjalan lancar. Dia diminta untuk lembur karna ada karyawan yang tidak masuk, dengan antusias Rindu mengiyakan, lumayan dapat tambahan.
Namun siapa sangka jika dia harus bertemu Keyla, dia ingin menghindar tapi takdir justru mempertemukan mereka, dengan terpaksa Rindu mengantarkan pesanan Keyla, dan berakhir dia menceritakan semua masalahnya pada gadis itu.